"Satu malam untuk nyawa ibuku. Itu saja."
Bagi Kalea, cinta adalah sebuah kebohongan besar yang menghancurkan keluarganya. Ia tumbuh dengan kebencian pada pria setelah melihat ibunya ditinggalkan sang ayah demi kekuasaan. Namun, saat ibunya butuh operasi darurat dengan biaya yang mustahil ia jangkau, Kalea terpaksa menjual satu-satunya hal yang tersisa: kehormatannya.
Ia menyerahkan segalanya kepada Liam Jionel, sang penguasa bisnis berdarah dingin yang memandang manusia tak lebih dari sekadar angka dan aset.
Kalea mengira ia hanya menjual satu malam, namun ternyata ia telah menyerahkan seluruh sisa hidupnya ke tangan seorang iblis berwajah malaikat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
...
..
Malam di mansion Jionel selalu terasa sunyi, sebuah kesunyian yang mewah namun mematikan. Kalea berdiri di balkon kamarnya, menatap hamparan taman yang diterangi lampu-lampu temaram. Angin malam yang membawa aroma tanah basah menerpa wajahnya, namun pikirannya kosong. Di jarinya, berlian pemberian Liam berkilau—sebuah tanda kepemilikan yang tak pernah ia pertanyakan.
Ting.
Ponselnya yang tergeletak di meja rias berdenting. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk. Kalea melangkah malas, mengambil benda pipih itu, dan membukanya.
Matanya tertuju pada sebuah foto lama yang tampak sedikit buram. Di sana, Liam Jionel sepuluh tahun lalu tampak sedang tertawa—sesuatu yang tak pernah ia lihat secara langsung—sambil merangkul seorang wanita. Kalea tertegun sejenak. Bukan karena melihat Liam, tapi karena wanita di sampingnya. Wanita itu... memiliki mata sayu yang sama, struktur wajah yang sama, bahkan cara tersenyum yang hampir identik dengan dirinya.
Pesan di bawahnya menyusul: "Kau hanya sebuah nisan hidup, Kalea. Namanya Andini. Dia mati di tangan pria yang kau sebut pelindung itu. Kau hanyalah replika mayat untuk menenangkan rasa bersalahnya. - C"
Kalea menatap foto itu cukup lama. Clarissa pasti mengira berita ini akan menghancurkan dunianya. Clarissa pasti berharap Kalea akan meraung, menangis, atau melabrak Liam malam ini juga. Namun, Kalea justru meletakkan ponselnya kembali dengan gerakan yang sangat tenang.
Ia tidak merasa sakit hati. Ia tidak merasa dikhianati.
Bagi Kalea, kenyataan ini justru masuk akal. Itu menjelaskan mengapa Liam membelinya dengan harga yang tak masuk akal. Itu menjelaskan mengapa Liam menatapnya dengan intensitas yang mengerikan, seolah sedang mencari sesuatu yang hilang di balik jiwanya.
"Hanya sebuah pengganti," gumam Kalea datar pada pantulan dirinya di cermin. "Setidaknya, wajah ini berguna untuk menyelamatkan nyawa Ibu, meski terlambat."
Pintu penghubung terbuka. Liam masuk tanpa mengetuk, auranya yang dominan seketika memenuhi ruangan. Ia hanya mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung, wajahnya tampak lelah namun matanya tetap setajam elang.
"Kenapa belum tidur?" tanya Liam, suaranya berat dan rendah.
Kalea tidak berbalik. Ia tetap menatap cermin, memperhatikan Liam yang berjalan mendekat hingga berdiri di belakangnya. "Hanya sedang berpikir, Liam. Tentang seberapa besar nilai sebuah kemiripan."
Liam terdiam. Langkahnya terhenti tepat satu jengkal di belakang Kalea. Ia menatap pantulan Kalea di cermin, dan untuk sesaat, matanya berkabut. Di sana, ia tidak melihat Kalea sang gadis kantor; ia melihat bayang-bayang Andini yang menghantuinya selama satu dekade.
Liam melingkarkan tangannya di pinggang Kalea, menarik punggung gadis itu merapat ke dadanya. Cengkeramannya kuat, seolah-olah ia sedang memegang sesuatu yang sangat rapuh. Ia membenamkan wajahnya di leher Kalea, menghirup aromanya dengan rakus.
Kalea tetap diam, tubuhnya kaku namun ia tidak menolak. Ia membiarkan Liam melakukan apa pun yang ia mau. "Clarissa mengirimiku foto, Liam," ucap Kalea pelan, suaranya sedingin es. "Tentang wanita bernama Andini."
Tubuh Liam menegang seketika. Napasnya tertahan di ceruk leher Kalea. Ia perlahan mendongak, matanya menatap Kalea melalui cermin dengan tatapan yang sangat gelap. "Lalu? Kau ingin menangis? Ingin pergi?"
Kalea memutar tubuhnya perlahan, berhadapan langsung dengan Liam. Ia menatap mata pria itu tanpa rasa takut, tanpa rasa benci. Hanya ada kekosongan. "Kenapa aku harus pergi? Kau sudah membeliku, Liam. Kau membayar satu miliar untuk raga ini. Jika raga ini mengingatkanmu pada seseorang yang sudah mati, itu bukan urusanku. Itu urusanmu dengan hantumu sendiri."
Liam tertegun. Ia mengharapkan drama, kemarahan, atau setidaknya ketakutan. Tapi Kalea hanya menatapnya seolah ia adalah klien bisnis yang baru saja membeli barang yang sesuai spesifikasi.
"Kau tidak peduli aku menjadikanmu pengganti mayat?" desis Liam, rahangnya mengeras.
"Aku tidak peduli," balas Kalea tegas. "Aku tidak punya perasaan padamu, Liam. Jadi, apa pun alasanmu memilikiku—entah karena cinta, obsesi, atau rasa bersalah—itu tidak mengubah fakta bahwa aku adalah tawanan di sini. Kau pemiliknya, kau bebas menggunakannya untuk apa pun. Termasuk untuk menipu dirimu sendiri bahwa dia masih hidup."
Liam mencengkeram rahang Kalea dengan kasar, memaksa gadis itu menatapnya lebih dekat. Ada kemarahan yang meluap di mata Liam, bukan karena Kalea tahu rahasianya, tapi karena Kalea sama sekali tidak terpengaruh olehnya. Ia ingin Kalea merasakan sesuatu—benci atau cinta—tapi tidak dengan keterasingan ini.
"Kau benar-benar gadis yang dingin, Kalea," bisik Liam penuh penekanan.
"Aku belajar dari ahlinya," sahut Kalea. "Jangan khawatir, Liam. Aku akan tetap menjadi 'Andini'-mu di depan publik. Aku akan tetap menjadi tamengmu. Tapi jangan pernah berharap aku akan ikut campur dalam neraka yang kau bangun di kepalamu sendiri. Simpan saja rasa bersalahmu. Aku hanya butuh sangkar ini tetap aman."
Liam tidak menjawab. Ia justru menarik Kalea ke tempat tidur, menjatuhkannya dengan kasar lalu mengurung tubuh gadis itu di bawah dominasinya. Ia mencium Kalea dengan penuh amarah dan tuntutan, seolah ingin membuktikan bahwa raga di bawahnya ini nyata, bukan sekadar bayangan.
Kalea memejamkan mata. Ia membiarkan Liam mengambil apa yang telah ia bayar. Di tengah gairah yang menyesakkan itu, Kalea menyadari satu hal: di mansion yang mewah ini, ada dua orang yang sedang berpura-pura. Liam berpura-pura bahwa masa lalunya belum mati, dan Kalea berpura-pura bahwa jiwanya masih ada di sana.
Malam itu, rahasia Clarissa gagal meledak. Bukan karena tidak berharga, tapi karena korbannya sudah terlalu hancur untuk bisa merasa sakit lagi. Perang sesungguhnya baru saja dimulai, bukan antara Kalea dan Liam, melainkan antara Liam dan kenyataan bahwa barang yang ia beli ternyata memiliki hati yang jauh lebih beku daripada dirinya sendiri.
Di sisi lain kota, di dalam penthouse mewahnya yang serba putih, Clarissa melemparkan ponselnya ke atas sofa beludru dengan kasar. Ia telah menunggu selama tiga jam. Tiga jam yang menyiksa, membayangkan Kalea akan berlari keluar dari mansion dengan tangis histeris, atau setidaknya ada laporan keributan besar dari orang suruhannya di sana.
Namun, sunyi. Tidak ada ledakan. Tidak ada perpisahan yang ia nantikan.
"Kenapa dia tidak bereaksi?!" desis Clarissa, jemarinya mencengkeram gelas kristal berisi wine hingga buku jarinya memutih. "Aku sudah memberinya bukti kematian! Aku sudah memberitahunya bahwa dia hanyalah bangkai pengganti! Kenapa pelacur kecil itu tetap diam di sana?!"
Clarissa berjalan mondar-mandir di depan jendela besar yang menampilkan gemerlap Jakarta. Wajahnya yang biasanya dipoles sempurna kini tampak mengerikan karena amarah yang meluap. Ia tidak menyangka bahwa Kalea jauh lebih rusak dari yang ia bayangkan. Ia mengira harga diri Kalea akan terusik, namun ia lupa bahwa seseorang yang sudah kehilangan nyawa ibunya tidak akan lagi peduli pada selembar foto masa lalu.
"Kau pikir kau menang, Kalea?" Clarissa tertawa sinis, sebuah tawa kering yang menggema di ruangan yang hampa. "Jika kau tidak peduli menjadi bayangan mayat, maka aku akan memastikan kau benar-benar menjadi mayat. Jika Liam tidak mau membuangmu, maka aku yang akan melenyapkanmu dari muka bumi ini."
Ia meraih kembali ponselnya, mencari sebuah nomor kontak yang selama ini ia simpan untuk keadaan paling darurat. Nomor milik seseorang dari dunia bawah yang tidak mengenal kata ampun.
"Halo?" suara Clarissa terdengar sangat tenang, namun mematikan. "Targetnya tetap sama. Tapi aku ingin cara yang lebih kasar. Jika dia ingin tetap berada di dalam sangkar emas itu, maka bakarlah sangkarnya bersama dia di dalamnya."
Malam itu, di saat Kalea pasrah di bawah dominasi Liam, dan Liam tenggelam dalam rasa bersalah yang akut, Clarissa baru saja menabuh genderang perang yang sesungguhnya. Perang yang tidak lagi menggunakan kata-kata atau foto lama, melainkan darah dan nyawa.
Di bawah langit Jakarta yang mendung, tiga jiwa itu terjerat dalam jaring obsesi yang sama, tanpa menyadari bahwa fajar esok mungkin tidak akan pernah membawa cahaya bagi mereka yang sudah memilih untuk tinggal di dalam kegelapan.