Kalandra Wiranata adalah seorang Petugas Pemadam Kebakaran yang bertugas di sebuah Kota kecil.
Kota tempat tinggalnya itu terletak cukup strategis karena tepat berada di tengah - tengah dari lima Kabupaten di Provinsi itu.
Karena tempatnya yang strategis, Timnya kerap kali di perbantukan di luar dari Kotanya.
Timnya, bukan hanya sekedar rekan kerja. Mereka sudah seperti keluarga kedua yang di miliki oleh Kalandra.
Karna sebuah kejadian, Kalandra pun di pertemukan dengan seorang wanita yang ternyata merupakan jodohnya.
Selain perjalanan karir dan cinta, ada sebuah rahasia yang akhirnya terungkap setelah selama ini selalu membuatnya penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Terasa Nyata
"Kamu cuma bawa jaket ini?" Tanya Kalandra.
"Ada satu lagi kok, Bang, yang lebih tebal." Jawab Naina.
"Kalau musim hujan gini, bawa long coat juga, Na. Jadi bagian paha sampai lutut bisa ke cover." Kata Kalandra yang di jawab anggukan oleh Naina.
Posisi keduanya masih sama, duduk berhadapan dengan kedua tangan Naina yang masih berada di dalam kantung long coat Kalandra.
"Abang biasa mendaki sama cewek?" Celetuk Naina tiba - tiba.
"Gak pernah. Baru sama kamu aja." Jawab Kalandra.
"Temen - temen Abang?" Tanya Naina yang seolah tak percaya dengan ucapan Kalandra.
"Gak ada. Baru kali ini aja, sama kamu. Kalau sama teman - teman laki, ya lumayan sering." Jawab Kalandra.
Blussh!
Pipi Naina terasa memanas. Pasti sekarang sudah memerah karena tersipu. Naina pun hanya bisa menunduk untuk menutupi pipinya yang memerah.
"Kamu, kalau mendaki sama siapa aja?" Tanya Kalandra.
"Paling sering sama Paman dan teman - temannya. Cuma tiga atau empat kali bareng teman kampus." Jawab Naina.
"Laki - laki semua?" Tanya Kalandra.
"Ya ada perempuan hanya dua atau tiga orang termasuk aku." Jawab Naina.
"Kalau gak pergi mendaki sama Paman, pergi sama Abang aja. Gak usah sama teman - teman. Bilang sama Abang kalau pingin muncak." Kata Kalandra.
Naina hanya bisa bengong menatap pria di hadapannya. Ucapannya cenderung datar dan terkesan biasa saja. Tapi tentu berbeda bagi Naina.
"Kenapa?" Tanya Kalandra yang juga menatap netra cantik gadis di depannya.
"Gak apa - apa." Jawab Naina yang berusaha mengemas kebingungannya agar tak menimbulkan kecanggungan di antara mereka berdua.
"Nanti aku bilang sama Abang, kalau pingin muncak." Kata Naina sambil tersenyum.
"Bang, aku pingin pipis, deh." Lirih Naina.
"Ayo, Abang antar." Kata Kalandra yang kemudian mengeluarkan tangan Naina dan melepaskannya.
Mereka berdua kemudian berjalan bersama menuju ke semak - semak tak jauh dari tenda karena tak ada wc di pos ini.
"Abang..." Lirih Naina yang merasa seperti sedang di awasi dari balik semak lain.
"Iya. Abang di sini." Jawab Kal sambil menggerakkan senternya.
Naina pun mempercepat kegiatannya dan segera menghampiri Kalandra.
"Kenapa?" Tanya Kalandra yang melihat ekspresi takut di wajah Naina.
"Ada yang ngintip kamu?" Tanya Kalandra sembari mengarahkan senter untuk memindai sekitarnya.
"Enggak, Bang. Gak ada apa - apa." Jawab Naina.
"Ayo ke tenda." Ajak Naina.
Sesampainya di tenda, Naina pun mencuci wajahnya dan di lanjut menyikat gigi. Kalandra sendiri hanya memperhatikan kegiatan Naina dari pintu tenda.
"Dingin banget airnya!" Kata Naina yang bergidik sendiri setelah mencuci wajah dan sikat gigi dengan air tampungan hujan.
Kalandra sendiri hanya tersenyum dan memperhatikan setiap gerak Naina.
"Sudah selesai? Tidur lah, sudah jam sepuluh." Kata Kalandra yang di jawab anggukan oleh Naina.
Gadis cantik itu pun membuka sleeping bagnya dan masuk kedalamnya.
"Abang belum mau tidur?" Tanya Naina yang melihat Kalandra masih berada di bawah flysheet.
"Belum. Tidurlah duluan." Kata Kalandra yang di jawab anggukan oleh Naina karena ia juga sudah merasa mengantuk.
Perlahan, Naina mulai terlelap setelah membaca doa. Sementara Kalandra, masih setia duduk di dekat pintu tenda sembari membaca komik yang ia bawa. Sesekali, ia melihat ke arah Naina yang nampak sudah lelap.
Ketenangannya sedikit terusik ketika Naina yang tampak gelisah dalam tidurnya. Tak langsung menghampiri, Kalandra masih memantau gadis itu dari tempatnya.
Semakin lama, tampak Naina yang semakin gelisah. Suara gumaman yang tak jelas pun terdengar lirih. Merasa khawatir, Kalandra pun masuk ke dalam tenda dan menghampiri Naina. Tak lupa, ia juga menutup pintu tenda agar udara dingin tak masuk.
Kalandra cukup terkejut saat melihat dahi Naina yang berpeluh. Mungkin gadis itu sedang mengalami mimpi buruk hingga tidurnya pun gelisah.
"Na... Na..." Kalandra berusaha membangunkan Naina.
"To.. Tolong." Lirih Naina dengan suara tercekat seperti sedang tercekik. Nafasnya pun tampak tersengal - sengal.
"Na.. Naina... Bangun, Na! Kamu kenapa?" Kalandra lebih kencang mengguncang tubuh Naina. Kekhawatiran pun menyergapnya. Ia terus berusaha membangunkan gadis yang nampak kesulitan bernafas itu.
"Astaghfirullah." Lirih Kalandra yang kemudian terus berdzikir dalam hati sambil berusaha membangunkan Naina.
Hampir lima menit ia berusaha membangunkan Naina yang kelojotan seperti sedang tercekik itu.
"Astaghfirullah!" Seru Naina yang seketika langsung terduduk sambil memegangi lehernya.
"Na! Kamu kenapa, ha?" Tanya Kalandra dengan wajah panik.
Melihat Kalandra ada di hadapannya, Naina pun langsung memeluk Kalandra dan menangis di pelukan pria itu.
"Abaang..." Lirih Naina. Tubuhnya sedikit gemetar saat memeluk Kalandra.
"Ya Allah..." Kalandra pun mengusap - usap punggung Naina yang terisak di dalam pelukannya.
Ia merasa lega karena Naina akhirnya terbangun dari tidurnya. Kalandra berusaha menenangkan Naina dan menyimpan pertanyaannya. Ia akan menanyakan apa yang terjadi pada Naina setelah gadis itu tenang.
"Datook! Makasih udah nolong Nana." Lirih Naina yang nampak mulai tenang sekarang.
"Sst... Tenang ya." Kata Kalandra sambil mengusap - usap kepala Naina.
"Kenapa? Ada apa, hm? Kamu mimpi?" Tanya Kalandra dengan lembut sambil menangkup wajah Naina yang kini sudah tenang. Kalandra pun mengusap jejak air mata di pipi Naina dengan ibu jarinya.
"Aku gak tau itu mimpi atau nyata. Tapi, terlalu nyata kalau hanya mimpi." Jawab Naina.
"Minum dulu, ya. Setelah itu bicara pelan - pelan." Kata Kalandra sambil memberikan sebotol air mineral pada Naina.
"Tadi aku lihat laki - laki menyeramkan, Bang." Kata Naina yang memulai ceritanya setelah menandaskan setengah botol air mineral.
"Waktu aku pipis tadi, aku merasa kayak di awasi, bahkan rasanya sampai aku tidur pun masih di awasi. Sampai tiba - tiba ada laki - laki besar dan hitam yang narik kakiku kuat banget. Gak cuma itu, aku rasanya juga kayak di banting - banting sampai nafasku sesak. Setelah itu, laki - laki itu nyekik aku." Kata Naina sambil memegangi lehernya. Bahkan cekikan itu masih terasa sampai sekarang.
"Lalu?" Tanya Kalandra yang mendengarkan cerita Naina dengan seksama.
"Dia bilang, dia marah karena Abang dekat sama aku. Dia bilang, dia gak suka dan dia ngancam bakal nahan aku di sini biar gak bisa pulang sama Abang." Kata Naina yang bercerita dengan wajah resah.
"Astagfirullah." Lirih Kalandra.
"Tapi, waktu dia nyekik aku, Datok datang, Bang. Datok yang selamatin aku. Datok juga yang menghajar laki - laki itu." Kata Naina.
"Datok?" Tanya Kalandra yang di jawab anggukan oleh Naina. Tentu, Datok yang di maksud Naina adalah sosok yang katanya selalu menjaga Kalandra.
"Gak usah takut, ya. Ada Allah yang akan selalu menjaga kita. Terlepas siapapun perantaranya, semua karena kehendak Allah. Banyak - banyak berdoa dan zikir, karena kita memang berada di tempat yang rawan." Kata Kalandra yang di jawab anggukan oleh Naina.
"Tidurlah lagi." Titah Kalandra kemudian.
"Abang mau kemana?" Tanya Naina sambil memegangi tangan Kalandra.
"Ambil sleeping bag. Abang temani di sini." Jawab Kalandra.
Naina kembali merebahkan tubuhnya yang tiba - tiba terasa lelah dan sakit. Perlahan ia kembali memejamkan mata. Meski begitu, tangannya tetap terus memegangi tangan Kalandra, seolah takut jika Kalandra meninggalkannya.