Lu Mingyu adalah seorang gadis muda yang bergabung di kelompok dunia bawah, tugasnya sebagai mata mata di kelompoknya, Mingyu sudah terbiasa mendapat luka tembak ataupun benda tajam di tubuhnya, bagi Mingyu itu adalah simbol dari sosoknya yang pemberani dan tidak takut pada apapun, selain itu Mingyu juga memiliki sifat yang babar dan juga suka ceplas ceplos saat berbicara, menurut Mingyu yang paling menakutkan bukanlah musuh yang ingin membunuhnya, melainkan jika tidak punya uang, karna Mingyu gadis yang sangat matrealistis.
Dan suatu hari Mingyu tidak pernah terpikirkan kalau dirinya akan masuk ke jebakan lawan, mobil Mingyu berhasil di sabotase, yang menyebabkan remnya blong dan menabrak pembatas jalan hingga meledak, dan api besar itu melalalap habis tubuh Mingyu yang terkunci di dalam mobil.
Dan saat membuka matanya Mingyu berfikir kalau dia sudah berpindah ke alam baka, karna melihat bangunan sekelilingnya di penuhi dengan warna kuning keemasan, di tambah saat dia melihat tam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zakiya el Fahira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Usai insiden itu Pangeran Duan meminta Lu Lu untuk menginap di istana karna malam juga sudah sangat larut, dan awalnya Permaisuri sempat tidak setuju, namun Pangeran Duan tidak memperdulikannya, dengan alasan tanggung jawabnya sebagai putra mahkota, karna Lu Lu terluka di dalam kawasan istananya.
Pagi harinya Lu Lu terbangun, saat sinar matahari yang masuk melalui jendela mengenai wajahnya.
''Ugh, ternyata sudah pagi'' gumamnya sembari menyibakkan selimut yang di pakainya, lalu dia bangun dan menurunkan kedua kakinya ke lantai dan berdiri lalu berjalan ke arah meja untuk menuangkan air putih ke dalam gelas, dan meneguknya hingga tandas, karna sudah terlalu haus.
Dan saat meletakkan kembali gelas bekas minumnya, sama samar Qin Lu mendengar suara orang yang sedang mengobrol di depan pintu kamarnya.
''Siapa yang sudah bergosip pagi pagi'' gumamnya sembari melangkah ke depan pintu untuk menguping.
"Pangeran hamba minta maaf, karna hamba belum berhasil menemukan penyusup yang membawa selir kedua'' ucap seseorang yang suaranya sangat Qin Lu kenali.
Qin Lu tersenyum senang karna usahanya untuk membawa kabur Gu Nian tidak sia sia, Pengawal Zu dan bawahannya tidak berhasil mengejar Gu Nian yang sudah melarikan diri melewati hutan.
''Sebaiknya sekarang aku pura pura merasa bersalah'' gumam Qin Lu.
Dia mulai mengatur nafasnya, dan setelah itu dia membuka pintu kamarnya, tapi sebelum itu Qin Lu melakukan hal gila lagi dengan menyolok kedua matanya hingga memerah.
Krekkk
''Lu Lu''
Brukk
Pangeran Duan terkejut karna Lu Lu tiba tiba bersujud di depannya.
''Pangeran maafkan saya, karna saya tidak bisa mencegah penyusup itu, hingga dia berhasil membawa pergi selir kedua'' ucap Lu Lu dramatis sembari bersujud.
"Sial, seumur umur baru kali ini aku bersujud di depan manusia, hanya demi memuluskan sandiwara" batin Qin Lu.
Pangeran Duan buru buru membungkukkan badannya, dan memegang kedua bahu Qin Lu.
''Lu Lu apa yang kamu lakukan?", ayo berdiri" ucapnya sembari membantu Qin Lu berdiri.
Pangeran Duan terkejut melihat mata Qin Lu yang memerah seperti akan menangis, dan Pangeran Duan buru buru menenangkannya.
" Lu Lu kamu tidak perlu minta maaf, kamu sama sekali tidak salah, bahkan seharusnya aku yang minta maaf, karna kejadian ini membuatmu harus terluka oleh penyusup itu" ucap Pangeran Duan.
Qin Lu menundukkan kepalanya, namun diam diam dia mengulum senyum.
"Hais, ternyata di zaman kuno atau di zaman moderen, tipu daya wanita memang sangat hebat, cukup pura pura sedih saja, sudah berhasil membuat pria luluh" batin Qin Lu tertawa.
Menjelang siang Qin Yu baru membawa Qin Lu pulang ke rumah dengan menggunakan kereta yang dia sewa, awalnya Pangeran Duan meminta Qin Yu agar membawa pulang Qin Lu menggunakan kereta kuda miliknya, tapi Qin Yu ataupun Qin Lu sama sama menolak dengan tegas, karna tidak mau menjadi perbincangan orang, sama saja dengan cari masalah pikir mereka, dan akhirnya Pangeran Duan tidak memaksa, karna yang di katakan Qin Yu ada benarnya, Pangeran Duan juga tidak ingin mendatangkan masalah lagi untuk Qin Lu.
''Lu Lu, ingatlah untuk istirahat yang cukup, dan satu lagi, kamu jangan terus merasa bersalah, kejadian ini sama sekali tidak ada hubungannya denganmu'' tukas Pangeran Duan yang di angguki oleh Qin Lu.
''Pangeran, kalau begitu kami pamit dulu'' pamit Qin Yu.
''Hem, kalian hati hati, kamu jaga adikmu dengan baik'' pesan Pangeran Duan yang di angguki oleh Qin Yu.
Kereta yang membawa Qin Yu dan Qin Lu kini perlahan meninggalkan halaman istana Pangeran Duan.
Pengawal Zu yang sejak tadi berada di sisi Pangeran Duan, terus memperhatikan cara Pangeran Duan saat menatap adik sahabatnya itu.
"Di lihat dari betapa paniknya Pangeran saat mendengar Qin Lu terluka, sepertinya Pangeran menyimpan perasaan pada Qin Lu, bahkan Pangeran tidak sepanik itu saat penyusup membawa pergi selir kedua" batin Pengawal Zu.
"Zu Heng, apa yang sedang kau lamunkan?" tegur Pangeran Duan.
Pengawal Zu seketika tersadar, dan buru buru menundukkan kepalanya.
"Tidak ada Pangeran" ucapnya.
Berita hilangnya Selir kedua yang di bawa pergi oleh penyusup sudah sampai ke telinga Raja dan Ratu, lebih tepatnya orang tua Pangeran Duan, membuat penguasa kerajaan timur itu sedikit di hantui rasa khawatir, bukan karna hilangnya selir kedua melainkan dia takut kalau Jendral Kekaisaran dan bawahannya tiba tiba datang menyerang kerjaan timur, karna orang yang di jadikan sebagai kelemahan Kekaisaran sudah berhasil kabur, sedangkan saat ini anggota militer kerjaan timur masih belum cukup stabil.
''Cepat, panggil putra mahkota ke sini'' perintah Raja pada pengawal pribadinya.
''Baik baginda''
Pengawal pribadi raja itu langsung bergegas menuju istana Pangeran Duan, yang terletak berada satu kilo meter di sisi barat istana Raja.
Beberapa saat kemudian Pangeran Duan sudah sampai di istana Raja bersama pengawal Zu, dan langsung menemui sang Ayah yang sudah menunggunya di ruang bacanya.
''Ada apa Ayah memanggil saya ke sini?'' tanya Pangeran Duan tanpa basa basi.
Pangeran Duan sudah menebak kalau Ayahnya pasti sudah mendengar prihal penyusup yang berhasil membawa kabur selir kedua.
''Bagaimana para murid yang ada di sekolah kerajaan?, apa mereka sudah bersiap untuk bertempur?'' tanya Ayahnya.
Pangeran Duan sedikit kaget, dia pikir Ayahnya akan menanyakan Gu Nian ternyata tidak sama sekali.
''Mereka masih tahap memperdalami ilmu pedangnya, dan ada beberapa yang sudah siap untuk bergabung dengan militer kerjaan'' jelas Pangeran Duan.
Selama ini militer kerjaan timur ada di bawah pimpinan Raja langsung dan ada beberapa petinggi militer yang mengontrolnya, sedangkan para murid di sekolah kerajaan yang masih dalam tahap belajar ilmu beladiri ada di bawah naungan Pangeran Duan.
Ayah Pangeran Duan merasa tidak puas dengan apa yang di katakan oleh putranya.
''Ayah minta dalam dua minggu kedepan, kamu sudah bisa mengirim lima puluh murid ke markas militer'' perintah Ayahnya.
''Akan saya usahakan'' sahut Pangeran Duan.
''Kalau tidak ada yang ingin Ayah bicarakan lagi, saya pamit pulang, karna masih banyak tugas yang harus saya selesaikan'' ucap Pangeran Duan dan berbalik pergi, namun saat hendak membuka pintu, langkahnya terhenti saat mendengar pertanyaan sang Ayah, dan tiba tiba tubuhnya menegang.
''Apa benar kamu sedang dekat dengan adik pengawalmu itu?''.
Pangeran Duan diam saja tidak menyahut.
''Ayah harap kabar itu tidak benar, ingat, kamu seorang putra mahkota, jangan sampai kamu menyukai wanita dari rakyat biasa'' pesan Raja dengan tegas.
Pangeran Duan seketika mengepalkan tangannya.
''Sebaiknya Ayah tidak usah ikut campur urusan pribadi saya'' ucapnya dingin dan berlalu pergi meninggalkan ruang belajar Raja begitu saja, tidak perduli dengan tanggapan atau reaksi Ayahnya seperti apa.
Tiga hari kemudian di sebuah kamp militer terlihat seorang pria tengah duduk di ruang kerjanya, tatapannya saat membaca buku terlihat sangat serius, sejak kehilangan istrinya beberapa bulan yang lalu sikap pria itu semakin bertambah dingin, dan hampir tidak ada satu orang pun yang bernai duduk satu ruangan dengannya terlalu lama, karna aura dingin yang terpancar darinya mampu membuat di sekitarnya seperti akan membeku, namun hanya ada satu orang yang sampai detik ini tetap setia dan berani berhadapan langsung dengannya, dan itu pengawal sekaligus orang kepercayaannya, karna hanya dia satu satunya orang yang tahu serapuh apa pria itu saat di malam hari, pria itu akan meringkuk di atas ranjang dan menangis memanggil nama istrinya yang sudah meninggalkannya untuk selama lamanya.
Tok
Tok
''Masuk!''
Pria yang mengetuk pintu itu langsung masuk ke dalam saat Tuannya sudah memberi izin.
''Ada apa?'' tanya pria itu.
'' Pangeran, Nona Gu sudah kembali'' jawabnya pria itu, seketika buku yang di baca oleh Tuannya lepas dari genggamannya.
Prakkk
suka mengejek lelaki giliran disindir telak langsung erosii
dulu saja sering nyindir nyindir karna merasa dekat dgn JendrAl rong
sekarang tau kan udah kena imbasnya
selain jendral rong
pengawal hanbin dan Xiao Fei harus bisa main senjata pintol juga🤔🤔