Diana harus menerima kenyataan pahit, kalau suami yang dia nikahi selama dua tahun ini sebenarnya telah menyembunyikan banyak rahasia darinya.
Di depan Diana, Rafli bersikap seolah dia suami yang baik dan setia. Tapi di belakang Rafli itu tukang selingkuh dan suka berjudi.
Hingga suatu ketika, Rafli kalah judi dan menjadikan Diana sebagai pelunas hutangnya. Diana di serahkan pada seorang pengusaha yang bersedia membayar hutang judinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Novi di hampiri oleh seorang gadis yang terlihat sedang menangis. Gadis itu berpura-pura mabuk. Dan jatuh ke dekat Novi.
"Aduh!" kata gadis muda itu.
Gadis muda itu adalah salah satu pelayan yang bekerja di klub malam itu. Dia adalah gadis yang di perintahkan oleh Novi untuk menaruh sesuatu yang sangat berbahaya ke dalam minuman Novi.
Novi yang terkejut, dia pikir gadis itu memang benar-benar gadis mabuk yang sedang dalam masalah. Karena dia terlihat menangis sesenggukan.
"Ya ampun, kamu siapa? kenapa kamu menangis?" tanya Novi yang lantas membantu gadis itu untuk berdiri dengan benar kemudian menuntunnya ke kursi yang ada di samping kursi Novi.
"Kamu siapa? sudah jangan pedulikan aku! hidupku sudah tidak ada artinya lagi!" kata gadis itu benar-benar sangat mendramatisir, dia aktris yang berbakat.
Kalau wajahnya cantik dan badannya lebih bagus dari itu, mungkin saja gadis itu benar-benar akan menjadi seorang aktris yang terkenal.
"Kenapa bicara begitu, ya ampun kamu mabuk ya? sudah jangan menangis lagi!" kata Novi yang terlihat kasihan kepada gadis itu.
Novi memang pada dasarnya baik, hanya saja saat ini dia sedang patah hati dan sedikit membenci kakak iparnya. Hal itu yang membuat Novi yang notabene adalah wanita baik pergi ke klub seperti itu untuk menghilangkan segala penat di kepalanya untuk sejenak.
"Lalu aku harus apa kak, aku harus apa? kekasihku meninggalkan aku, dia memilih pergi bersama wanita lain. Jadi untuk apalagi aku hidup di dunia ini?" kata gadis itu dengan suara yang terkesan sangat lirih. Dan ekspresi wajahnya benar-benar sangat sedih.
"Setidaknya kamu pernah di cintai dan mencintai nya kan? ada orang yang tidak seberuntung kamu, ada orang yang hanya bisa memendam perasaannya saja tanpa berani mengungkapkan. Kamu masih beruntung!" kata Novi.
Sebenarnya sedikit banyak dari ucapannya itu dia juga seperti curhat kepada gadis yang ada di depannya itu.
"Kakak tidak mengerti, ya ampun ponselku. Ponselku mana, aku tidak bisa menghubungi supirku!" kata gadis itu yang sudah memulai aksinya untuk menjebak Novi agar jatuh di dalam perangkap Jonathan dan Sintya.
"Ponsel? tadi kamu letakkan di mana?" tanya Novi.
"Kak, ada di lantai dua. Barisan kursi merah. Aku tidak sanggup lagi naik anak tangga menuju ke lantai 2. Bagaimana ini?" mana garis itu dengan wajah yang menyedihkan.
Novi pun menjadi tidak tega, dia lantas menawarkan bantuan kepada gadis itu. Novi bahkan minta gadis itu untuk duduk saja di situ dan tidak kemana-mana karena kondisinya yang sempoyongan saat berjalan.
Padahal semua itu hanya akting, hanya saja Navya memang tidak pernah mencium bau minuman dari orang-orang terdekatnya. Tidak bisa membedakan mana bau orang yang benar-benar mabuk dan bawa orang yang mabuk pura-pura karena tidak tercium alkohol dari dan mulutnya saat dia bicara.
"Ya sudah, kamu tunggu di sini. Biar aku yang ambil. Di lantai dua, barisan kursi merah kan?" kata Novi.
Novi yang hanya berniat baik kepada gadis itu pun pergi dari mejanya. Dia mengambil tasnya dan berjalan menuju anak tangga yang mengarah ke lantai 2. Di sana, dia mencari sejenak ke kanan dan ke kiri. Hingga pada akhirnya dia benar-benar melihat barisan kursi merah ada di sebelah kanan dari tangga yang dia naiki tadi.
Sementara gadis itu, game meraih sesuatu dari sakuranya kemudian membuka bungkusan putih dan menuangkannya ke dalam minuman jus yang ada di atas meja. Jus itu adalah minuman Novi, meski dia pergi ke klub malam seperti ini Novi tidak meminum minuman beralkohol. Dia datang kemari hanya untuk menghilangkan penat di kepalanya, dia ingin mendengarkan suara musik yang keras yang bisa membuat dirinya tidak lagi bersedih karena harus terpisah jauh dari Farhat. Pria yang sangat dia cintai sejak beberapa tahun yang lalu.
Setelah menuangkan bubuk di jus yang merupakan minuman milik Novi. Gadis itu lantas membuang bungkusan itu ke bawah dan berpura-pura mabuk lagi. Dia meletakkan kepalanya benar-benar di atas meja tanpa alas tangan nya. Benar-benar menunjukkan kalau dia sangat-sangat tidak bisa mengangkat kepalanya sendiri.
Novi yang sudah berada di barisan sofa merah yang ada di lantai 2 tersebut langsung mencari ponsel milik gadis yang tidak dia kenal itu. Dan benar saja, karena memang sudah direncanakan dengan baik oleh Jonathan dan Sintya, sebuah ponsel memang ada di ujung sofa tersebut.
Novi menghela nafas lega, karena dia sangat bersyukur ponsel milih gadis itu tidak hilang meskipun di sini banyak orang. Bagaimana mau hilang, kan memang diawasi dari jauh olah Jonathan dan Sintya.
Begitu Novi mengambil ponsel itu dan langsung menuju ke lantai 1, terlihat Jonathan dan Sintya saling pandang dan menunjukkan ekspresi wajah yang begitu senang.
"Bagus, dia masuk dalam perangkap!" kata Sintya yang begitu senang.
Sintya benar-benar puas melihat Novi akan masuk perangkapnya. Dan itu akan dia lakukan, untuk membuat hidup Andre kembali berada di dalam masalah ke depannya.
Sintya masih sangat dendam kepada Andre. Dia benar-benar nyaris bangkrut. Untung saja, ada beberapa tabungan dan perhiasan yang dia beli atas nama orang lain. Jika tidak, semua itu pasti disita dan harus membayar ganti rugi atas kerugian negara akibat ulah ayahnya yang di laporkan oleh orang atau anak buah Andre.
Sintya sedang mengumpulkan kekuatan dan kekuasaan, sama seperti Andre dulu saat ya mau makan kekuatan dan kekuasaan untuk menghancurkan Bernando. Kali ini Sintya dan sepupunya, juga sudah mengumpulkan kekuatan dan kekuasaan untuk balas menghancurkan Andre.
Novi lantas menghampiri gadis itu dan melihat gadis itu tergeletak begitu saja kepalanya di atas meja.
"Ya ampun, mabuk berat dia!" gumam Novi.
"Hei, ini ponsel mu!" lanjut kata Novi.
Gadis itu yang mendengar Novi sudah datang pun langsung mengangkat kepalanya dan meraih ponselnya dari tangan Novi.
"Terimakasih kak, aku pergi dulu!" katanya dan langsung meninggalkan meja Novi begitu saja sambil jalan sempoyongan menuju ke arah pintu keluar.
"Ada-ada saja!" kata Novi yang lekas meraih gelas jusnya dan meminumnya.
Karena memang, dari arah mejanya menuju lantai 2 ke tempat yang tadi gadis itu sebutkan perjalanannya cukup jauh dan membuat Novi kehausan.
Tapi pada akhirnya Novi merasakan sesuatu yang tidak enak di tubuhnya. Matanya juga berkunang-kunang, pemandangannya jadi kabur dan tidak jelas. Hingga saat dia akan berdiri dan berniat menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya, tiba-tiba saja.
Brukkk
Novi tidak sadarkan diri.
***
Bersambung...
terimakasih author
👍👍👍👍