NovelToon NovelToon
Sajadah Cinta Untuk Hannah

Sajadah Cinta Untuk Hannah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

"Saya tidak menuntutmu untuk langsung mencintai saya, Hannah. Saya hanya memintamu mengizinkan saya menjadi imammu."

Hannah Humaira (20) baru saja ingin menikmati masa mudanya usai lepas dari asrama pesantren. Sayangnya, skenario hidupnya berubah total saat ia dijodohkan dengan Muhammad Akbar (28).

Akbar itu kaku, dewasa, dan terlalu serius. Sangat berbeda dengan Hannah yang ceria dan masih ingin bebas. Tapi, siapa sangka di balik sikap tenangnya, Akbar menyimpan berjuta cara manis untuk memuliakan istrinya.

Ini bukan tentang cinta pada pandangan pertama. Ini kisah tentang Hannah yang belajar menerima, dan Akbar yang tak lelah menunggu. Akankah hati Hannah luluh oleh kesabaran suaminya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Maaf Yang Diterima, Luka Yang Tersisa

Angin sore di taman kota berhembus semakin kencang, membawa aroma tanah basah dan dedaunan kering. Namun, dinginnya angin itu tidak mampu menembus kehangatan pelukan Muhammad Akbar yang merengkuh tubuh mungil Hannah di bangku taman.

Hannah masih sesenggukan, namun tangisnya mulai mereda, menyisakan isakan kecil yang terdengar pilu. Wajahnya disembunyikan di dada bidang suaminya, enggan menatap dunia, enggan menatap mata Akbar yang ia yakini penuh rasa bersalah.

"Maaf..." bisik Akbar lagi, tangannya mengusap punggung Hannah dengan ritme yang menenangkan. "Mas minta maaf, Dek. Mas benar-benar bodoh. Mas nggak peka."

Perlahan, Akbar melonggarkan pelukannya. Ia menangkup wajah Hannah dengan kedua tangannya yang besar dan hangat. Ibu jarinya menyeka sisa air mata yang membasahi pipi istrinya. Mata Hannah bengkak, hidungnya merah, jilbabnya sedikit berantakan. Namun di mata Akbar, gadis ini tetaplah pemandangan paling indah sekaligus paling menyakitkan hatinya saat ini.

"Kenapa lari?" tanya Akbar lembut, suaranya parau. "Kenapa nggak masuk ke ruangan Mas dan marah-marah? Kenapa malah pergi sendirian ke sini?"

Hannah menunduk, memainkan kancing kemeja Akbar dengan gugup.

"Hannah... Hannah lihat Mas makan lahap banget," cicit Hannah dengan suara serak. "Mas kelihatan seneng makan masakan Mbak Annisa. Hannah pikir... Hannah pikir bekal Hannah cuma bakal jadi sampah. Cuma bakal ngerusak selera makan Mas yang udah enak."

"Demi Allah, enggak, Dek," bantah Akbar cepat.

Akbar meraih tas bekal kosong yang tergeletak di bangku taman. Ia membuka kotak makan tingkat dua itu, memperlihatkannya pada Hannah.

"Lihat," kata Akbar. "Kosong, kan?"

Mata Hannah membelalak sedikit. Benar. Kotaknya bersih.

"Mas makan semuanya," lanjut Akbar sungguh-sungguh. "Tadi, setelah Yuni bilang kamu datang, Mas makan bekal kamu sampai habis, padahal perut Mas rasanya mau meledak karena kekenyangan. Tapi Mas paksa masuk, Dek. Karena Mas tahu, kamu masak ini pakai cinta."

Hannah menatap kotak kosong itu, lalu menatap mata Akbar. Ada kejujuran yang telanjang di sana.

"Masakan kamu enak. Cumi asinnya pedesnya pas. Kangkungnya juga sedap. Mas jauh lebih menikmati makan bekal kamu yang sederhana ini daripada nasi liwet selengkap apapun punya Annisa," tegas Akbar.

"Mas bohong..." gumam Hannah pelan, rasa tidak percaya dirinya masih mendominasi. "Masakan Mbak Annisa pasti lebih enak. Hannah cuma belajar dari YouTube."

"Masalah rasa itu relatif, Humaira," Akbar meraih tangan Hannah, menggenggamnya erat. "Tapi masalah siapa yang masak, itu mutlak. Lidah Mas mungkin bisa bilang masakan Annisa enak, tapi hati Mas cuma cari masakan kamu. Mas sudah bilang sama Annisa, mulai besok jangan pernah bawa makanan lagi buat Mas. Mas cuma mau makan masakan istri Mas."

Mendengar ketegasan itu bahwa Akbar berani menegur Annisa demi menjaga perasaannya hati Hannah bergetar. Dinding es yang membekukan hatinya sejak siang tadi mulai mencair.

"Mas beneran bilang gitu ke Mbak Annisa?"

"Iya. Mas tegaskan batasannya. Mas nggak mau ada salah paham lagi."

Hannah menghela napas panjang, mencoba melepaskan beban di dadanya. Ia tahu Akbar tulus. Akbar sudah berusaha keras mengejarnya, mencarinya, dan memakan masakannya sampai habis. Sebagai istri, ia harusnya bersyukur memiliki suami yang mau berjuang seperti ini.

"Hannah maafin Mas," ucap Hannah akhirnya, suaranya lirih.

Akbar menghembuskan napas lega yang luar biasa. Ia menarik Hannah kembali ke dalam pelukannya, mencium puncak kepala istrinya berkali-kali. "Alhamdulillah. Terima kasih, Sayang. Terima kasih."

Namun, saat Hannah bersandar di dada Akbar, matanya menatap kosong ke arah danau.

Mulutnya memaafkan, tapi hatinya masih terasa... mengganjal.

Ada satu duri kecil yang masih tertancap.

Hannah memaafkan ketidaktahuan Akbar. Tapi Hannah belum bisa memaafkan dirinya sendiri.

Ia merasa menang hari ini bukan karena kualitas dirinya, melainkan karena "status"-nya. Akbar memilih bekalnya karena dia adalah istri, bukan karena masakannya memang lebih enak. Akbar menegur Annisa karena takut Hannah marah, bukan karena Annisa salah.

Kalau aku bukan istrinya... apa Mas Akbar akan tetap memilih cumi asinku yang alot dibanding nasi liwet Annisa yang sempurna? pertanyaan itu berputar di kepala Hannah, meracuni momen rekonsiliasi ini.

Hannah merasa kemenangannya adalah kemenangan "jalur ordal" (orang dalam). Ia merasa posisinya aman hanya karena selembar buku nikah, bukan karena ia memang wanita yang setara dengan Akbar. Rasa insecure bahwa Annisa lebih baik dalam segala hal karier, kedewasaan, bahkan memasak masih menghantui.

"Ayo pulang," ajak Akbar, membuyarkan lamunan Hannah. "Mendungnya makin gelap. Kita beli martabak manis dulu ya buat netralin mulut?"

Hannah mengangguk, memaksakan seulas senyum tipis. "Iya, Mas."

Mereka berjalan menuju mobil dengan bergandengan tangan.

Di dalam mobil, saat Akbar fokus menyetir, Hannah menatap profil samping suaminya. Pria ini terlalu sempurna. Terlalu sabar. Terlalu baik. Dan Hannah merasa semakin kecil.

Mas Akbar minta maaf karena dia baik. Tapi akarnya tetap sama: aku yang terlalu baperan. Aku yang terlalu kekanak-kanakan, rutuk Hannah dalam hati. Coba kalau aku dewasa kayak Mbak Annisa, aku pasti nggak akan lari nangis-nangis cuma gara-gara masalah makan siang. Aku pasti bakal masuk, ikut makan bareng, dan bersikap elegan.

Perasaan "tidak cukup baik" itu menggerogoti kebahagiaan Hannah. Ia merasa menjadi beban emosional bagi Akbar. Suaminya sudah lelah bekerja, sekarang harus lelah mengurus perasaannya yang labil.

"Dek, kok diam lagi?" tanya Akbar, tangan kirinya mengelus punggung tangan Hannah. "Masih marah?"

Hannah tersentak, lalu menggeleng cepat. Ia mengeratkan genggamannya di tangan Akbar.

"Enggak, Mas. Hannah udah nggak marah kok," jawab Hannah. "Hannah cuma... cuma capek aja habis nangis."

"Ya sudah, tidur dulu gih. Nanti Mas bangunin kalau sudah sampai rumah."

Hannah memejamkan mata, pura-pura tidur. Di balik kelopak matanya yang terpejam, bayangan Annisa yang tersenyum percaya diri saat menyajikan makanan kembali muncul.

Sesampainya di rumah, hari sudah menjelang maghrib.

Rumah yang tadi ditinggalkan dalam keadaan kosong dan gelap, kini kembali dinyalakan lampunya oleh Akbar. Kehangatan fisik kembali hadir, tapi atmosfer di antara mereka sedikit berubah. Ada kehati-hatian.

Akbar sangat menjaga sikapnya, memperlakukan Hannah seperti barang pecah belah yang baru saja direkatkan kembali. Ia mengambilkan air minum, memijat bahu Hannah sebentar, dan tidak henti-hentinya bertanya, "Kamu butuh apa?"

Sikap Akbar yang over-caring ini justru membuat Hannah semakin merasa bersalah.

Malam itu, setelah sholat maghrib berjamaah di mana doa Akbar terdengar lebih panjang dan khusyuk dari biasanya mereka duduk di ruang tengah menonton TV.

Hannah menyandarkan kepalanya di bahu Akbar.

"Mas..."

"Ya, Sayang?"

"Kalau... kalau suatu hari nanti Hannah masak nggak enak, Mas bakal tetep makan?" tanya Hannah tiba-tiba.

Akbar menoleh, tersenyum geli. "Pertanyaan macam apa itu? Ya dimakan dong. Kan mubazir kalau dibuang."

"Bukan karena mubazir," Hannah mendongak, menatap mata suaminya serius. "Tapi karena Mas mau?"

Akbar terdiam sejenak, menyadari bahwa pertanyaan ini bukan soal makanan, tapi soal validasi.

"Hannah," ucap Akbar lembut. "Mas menikahi kamu satu paket. Paket cantiknya, paket manjanya, paket pinter masaknya, sampai paket masakan gosongnya. Mas terima semua. Jadi mau enak atau enggak, selama itu dari tangan kamu, bagi Mas itu rezeki."

Jawaban itu sempurna. Sangat suami idaman.

Hannah tersenyum dan memeluk pinggang suaminya erat. "Makasih, Mas."

Namun, di dalam hati, ganjalan itu masih ada. Hannah merasa jawaban Akbar terlalu idealis. Realitas tidak seindah itu. Hannah bertekad, ia tidak mau hanya dikasihani. Ia tidak mau hanya diterima apa adanya. Ia ingin menjadi lebih.

Ia ingin menjadi istri yang kualitasnya membuat Akbar tidak perlu melirik masakan atau wanita lain, bukan karena terpaksa oleh status pernikahan, tapi karena Hannah memang yang terbaik.

"Besok Hannah mau belajar masak Nasi Liwet," batin Hannah bertekad, sebuah ambisi yang lahir dari rasa cemburu yang belum tuntas. "Harus lebih enak dari punya Mbak Annisa."

Malam itu, Hannah memaafkan Akbar sepenuhnya. Tapi ia belum berdamai dengan bayang-bayang Annisa yang ia ciptakan sendiri sebagai standar kesempurnaan yang harus ia kalahkan. Permintaan maaf telah diterima, tapi kompetisi sunyi di kepala Hannah baru saja dimulai.

1
Juwitha Arianty Ibrahim
ko ga up. lagi sih thor, ceritanya lagi seru ini, jngn bikin penasaran dong
melda melta: ceritanya bagus Thor...kasih bumbu2 pelakor dong biar tambah sedep n greget 🤭
total 1 replies
Adnan
kapan update lagi kaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!