NovelToon NovelToon
KEKASIH GELAP WALI KOTA

KEKASIH GELAP WALI KOTA

Status: sedang berlangsung
Genre:POV Pelakor / Selingkuh / Percintaan Konglomerat / Cinta Terlarang / Konflik etika / Balas Dendam
Popularitas:284
Nilai: 5
Nama Author: Wen Cassia

Dalam setiap imaji tentang masa depan, Summer tidak menemukan gambaran selain Denver dan mata cokelat gelapnya yang hangat. Hidupnya dijejali dengan fantasi manis bahwa kehidupan tentram, jauh dari carut-marut dan kutukan, hanya bisa ia dapatkan jika Denver bersamanya.

Namun, Summer lupa satu hal: Obsesi selalu berkelindan erat dengan kemuakan. Denver akhirnya menemukan cara untuk lepas dari tali kekang Summer, mengesampingkan harga yang harus perempuan itu tanggung agar Denver bisa bernapas dengan leluasa.

Sayangnya, kalkulasi Denver agak meleset kali ini. Summer memang terperosok ke penjara lembap dan dingin, namun di tempat itu pula ia menjelma menjadi iblis yang melafalkan syair pembalasan dendam setiap malam. Dan agar bisa berdiri di podium pemenang, tersenyum congkak layaknya mimpi buruk, Summer harus bisa memenangkan hati Archilles Meridian, sang wali kota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wen Cassia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 | MALAM BERBAHAYA

Sepasang sepatu hitam itu bergerak dengan ketukan ringan, membelah embusan angin malam dengan cara paling santun, lalu berhenti dengan mengambil jarak sekitar dua meter dari tempat Summer berdiri. Sang pemilik dengan ekspresi tanpa riak mempertemukan tatapan mereka dalam segaris lurus, membiarkan kelengangan berdetak semakin panjang.

Aroma petrikor yang bercampur dengan wangi jasmine menelusup menyegarkan, menutupi kekosongan jalan raya yang tidak lagi dipenuhi bising deru kendaraan dan riuh rendah pejalan kaki. Mereka praktis terasing dari atensi siapa pun, dunia mereka bersinggungan dengan ganjil. Keramahan di pertemuan empat bulan lalu amblas oleh perkataan tajam pria itu. Setidaknya, sekarang Summer masih punya cukup harga diri untuk tidak membuka suara terlebih dahulu.

“Saya terlambat.”

Pertarungan kali ini telak dimenangkan Summer. Dua patah kata yang diucapkan Archilles nyaris tanpa nada itu membuat Summer menyeringai samar, pendar mata cokelat keemasannya menerakan sedikit keangkuhan.

“Beberapa rekan saya bilang, steik sirloin di sini mengingatkan akan rasa steik di Hawksmoor. Tapi sepertinya rasa penasaran saya baru bisa terbayar besok,” Archilles berbicara dengan suara tenang, seolah-olah tidak ada yang pernah terjadi di antara mereka. “Kalau begitu, selamat malam. Saya permisi.”

Bertepatan dengan Archilles yang hendak balik badan, Summer nyaris tidak bisa memercayai apa yang ia lihat. Dengusan tawa tanpa suara menyusul tanpa bisa ia cegah. “Anda akan terus bertingkah seperti orang suci begini? Bukankah ada yang perlu kita bicarakan?”

Gerakan Archilles sepenuhnya terhenti, satu alisnya sedikit terangkat. “Anda ingin saya meminta maaf?”

“Bukankah itu artinya Anda mengakui jika Anda bersalah?”

“Tidak ….” Archilles menyunggingkan senyum tipis, jenis senyuman yang terkesan geli alih-alih mencemooh. “Saya tidak mengubah pendapat saya tentang pertemuan janggal itu. Anda jelas punya motif tersendiri. Tapi, malam ini saya hanya ingin berperan sebagai pelanggan.”

Umpatan bertubi-tubi Summer layangkan dalam hati, separuh frustrasi karena sampai detik ini ia masih tidak bisa membaca Archilles dari ekspresi dan bahasa tubuh. Pelanggan? Oh, jelas itu gurauan yang tidak lucu. Archilles pasti memiliki tujuan melakukan semua ini.

“Karena sudah tutup, saya tidak memiliki alasan untuk tetap di sini—”

“Daging untuk steik baru akan tiba besok,” Summer sudah lebih dulu menyela, matanya terkatup jengkel. “Tapi nasi goreng … saya mungkin bisa membuatkannya untuk Anda. Itu pun jika Pak Wali Kota tidak keberatan.”

Tidak langsung ada jawaban dari Archilles. Derak ranting yang samar terdengar menjadi orkestra pengiring ketika garis pandang Archilles dan Summer bertaut. Di atas sana, awan kelabu mereguk cahaya rembulan, seolah ingin menggambarkan suasana kelam yang tercipta di antara mereka berdua.

“Baiklah.” Suara ringan Archilles memburai hening. “Asal Anda tidak merasa kerepotan.”

Bibir Summer terlipat sejenak seiring ia yang mengambil napas untuk menenangkan gemuruh kekesalan di dadanya. “Silakan masuk.”

Summer mendahului masuk, menghidupkan lampu-lampu utama yang berdenyar cepat menghabisi bayang-bayang remang. Archilles menempatkan diri di salah satu kursi yang berada di tengah ruangan setelah dipersilakan duduk oleh Summer.

“Anda memiliki alergi terhadap bahan makanan tertentu?” tanya Summer.

“Tidak.”

“Baik. Silakan nikmati waktu Anda.” Summer berbalik, berjalan menuju dapur.

Jaraknya dan Archilles yang kian melebar, membawa gumpalan-gumpalan pertanyaan menyerang pikiran Summer dari segala arah, napasnya berangsur memberat ketika jantung pertanyaan mendesak untuk mendapat jawaban: Agenda tersembunyi macam apa yang mendasari tindakan pria itu mendatanginya tengah malam?

Ingin main-main? Orang super serius sepertinya mana mungkin bertingkah serampangan macam itu. Pria itu terlihat seperti tipe yang tidak akan melakukan sesuatu yang tidak membawa keuntungan untuknya. Kendati menunjukkan beberapa sifat idealis, tetap saja Archilles adalah seorang politisi. Di kepalanya pasti bersarang banyak rencana yang telah dipikirkan masak-masak … demi keuntungan pribadi.

Begitu tiba di dapur, langkah Summer melambat. Selarik pemikiran merangsek tanpa bisa ia cegah, sendi-sendinya mendadak menegang, jantungnya berpacu hebat.

Dari penjelasan Archilles tentang “bakat” dan “kerja keras”, setelah mencoba memikirkannya dengan serius, Summer sampai pada satu kesimpulan yang lebih dominan: Pria itu adalah bagian dari “bakat”. Orang sehebat itu, yang telah membawa kota di bawah kepemimpinannya masuk dalam kategori ‘makmur’ tertinggi nomor tiga—sebelumnya peringkat tujuh—di negara ini sesuai City Prosperity Index, mana mungkin hanya berdiam diri melihat kejanggalan yang dia rasakan tentang kehadiran mendadak Summer dalam hidupnya.

Archilles pasti sudah mencari tahu tentangnya. Kemungkinan, ia juga sudah menemukan benang merah antara dirinya dan Allura. Dan sekarang pria itu mungkin saja sedang mencoba menyingkirkannya. Bagaimanapun, kehadiran Summer mengancam posisinya sebagai wali kota, pun ayahnya—Dimitri Meridian—yang menjabat sebagai Menteri Perhubungan, sekaligus ketua umum sebuah partai politik.

“Ini gila. Aku pasti sudah tidak waras.”

...****...

Uap masih membungkus nasi goreng udang, menguarkan aroma rempah yang menggugah, ketika Summer menyajikannya bersama air putih di depan Archilles. Mati-matian ia mencoba menyembunyikan kekhawatirannya, meskipun sekelebat sorot waspada tidak bisa ia enyahkan dari matanya.

“Semoga sesuai dengan selera Anda.”

Summer baru hendak kembali ke dapur, membiarkan “pelanggan”-nya menikmati makanan dengan tenang, ketika Archilles sudah lebih dulu menyela, “Maaf mengatakan ini. Bisakah Anda menemani saya sebentar? Rasanya terlalu canggung makan sendirian di tempat luas seperti ini.”

Summer berhitung, menerka kiranya apa yang akan Archilles lakukan atau katakan. Lima detik, ia menempatkan diri di seberang kursi Archilles, hanya dibatasi meja bulat ukuran sedang. Baiklah, ia akan menanggung semua risikonya. Lagi pula Archilles tidak akan membunuhnya secara langsung di restorannya sendiri. Risikonya terlalu tinggi dan reputasinya dipertaruhkan. Kalau benar-benar ingin membunuhnya, Summer yakin Archilles akan menggunakan cara yang lebih berkelas dan bersih.

“Sepertinya Anda memang berbakat,” komentar Archilles setelah menyuapkan nasi goreng.

“Terlalu dini menilai kemampuan memasak seseorang hanya karena sepiring nasi goreng. Semua orang bisa memasaknya, pun tidak ada teknik khusus yang membuatnya spesial. Bahkan, bumbu instan bisa menghasilkan rasa serupa dengan nasi goreng yang sedang Anda nikmati, Pak Wali Kota.” Summer menyadari betul jika suaranya menyelipkan sekelumit nada ketus.

Tanpa diduga, Archilles sedikit menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman tipis. “Saya tidak tahu Anda sedang merendah atau merendahkan diri sendiri. Saya hanya mencoba mengikuti etika dasar, memuji ketika seseorang sudah susah payah membuatkan sesuatu untuk saya.”

Oh, dan Summer bisa saja menyambar air putih di depannya, menyiramkannya tepat ke wajah Archilles, lalu bilang itu sebagai ucapan selamat datang di Ethereal Blue. Semakin lama berbicara dengan Archilles, darahnya terasa naik.

“Kalau begitu, saya terpaksa harus menolak pujian Anda. Pujian hanya akan membuat saya terbuai dan merasa superior. Lebih baik saya merendahkan diri sendiri, merasa tidak tahu apa-apa. Dengan begitu saya akan terus merasa haus untuk belajar.”

Archilles menyesap air putih, kembali meletakkan gelas hampir tanpa suara. “Saya menyukai pemikiran itu,” ucapnya kemudian. “Tapi, bukankah itu terlalu naif? Bahkan meskipun Anda tidak menginginkannya, pujian semacam ini akan berdatangan karena Anda sudah menjadi bagian mata rantai dalam kehidupan sosial, terlebih dengan adanya restoran ini. Meskipun menyangkalnya, pada dasarnya manusia membutuhkan apresiasi atas apa yang dia lakukan, atas eksistensinya. Reinforcement; penguatan, juga motivasi. Sekarang, tergantung opsi mana yang ingin Anda pilih. Pujian sebagai pengukuh posisi superior, atau pijakan untuk melompat ke anak tangga berikutnya.”

Tentu saja seorang politisi akan pandai berbicara, Summer yakin Archilles sudah membual di banyak tempat, sehingga menang berdebat dengan orang yang terbiasa bicara licin adalah hal yang mustahil. Yang membuat Summer semakin jengkel, tidak ada yang salah dari perkataan Archilles.

“Apa saya membuat Anda kesal?”

Pertanyaan itu dilontarkan bertepatan dengan Summer yang masih memasang ekspresi masam. Ia melirik sebentar wajah Archilles yang tampan, lalu teringat bahwa Ted Bundy yang bertampang menawan juga ternyata pembunuh berantai sadis. Apa Archilles akan membunuhnya dan membuang jasadnya ke kolam buaya untuk menghilangkan jejak? Summer menggeleng oleh pemikirannya yang menyimpang jauh.

“Tidak, tentu saja tidak. Saya tidak merasa ada yang salah dari perkataan Anda.” Summer tersenyum dibuat-buat.

“Anda kesal rupanya.” Archilles tertawa kecil.

Seharusnya Summer terkesima dengan tawa pertama yang Archilles tunjukkan padanya, karena Summer berani bersumpah wajahnya menjadi lebih mengesankan. Namun, kesal bercampur khawatir yang telah membelenggunya membuat Summer merasa tawa itu seperti cemoohan.

“Ethereal Blue … apa ada makna khusus di balik nama restoran ini?” Archilles kembali menyuapkan nasi goreng, bertanya tenang.

Meski enggan, Summer mengubah air mukanya menjadi lebih baik, sebelum menjawab, “Bagi Anda ini mungkin akan terdengar konyol dan berlebihan. Saya ingin orang-orang yang makan di sini merasakan keindahan menawan melalui sajian kami, hingga mereka seolah tidak lagi berada dalam naungan langit biru, seolah hidup di dunia lain.”

“Sama sekali tidak konyol dan berlebihan,” Archilles menimpali tanpa nada menyinggung. “Makna yang bagus akan membuat penjenamaan kuat, melekat di memori banyak orang bahkan hingga ke tahun-tahun mendatang. Mengaitkan nama Ethereal Blue dengan sensasi yang tercipta dari cita rasa … itu permulaan yang cemerlang.”

“Sudah cukup basa-basinya. Saya benar-benar akan merasa terhina jika Anda ‘menyanjung’ lagi.”

Archilles tertawa—sekali lagi. “Saya mengatakannya dengan tulus.” Ia kemudian meletakkan sendok dengan gerakan halus yang luwes, memaparkan statusnya yang terhormat beserta etika yang melekat bersamanya. “Anda mungkin akan menganggap saya membual lagi, tapi saya merasa nama itu cukup berhasil. Saya merasa memasuki dunia yang berbeda setelah berada di sini.”

Dalam sekejap, sorot mata Archilles menanggalkan kesan ramahnya, menghadirkan gigil yang merambat di punggung Summer saat memori di lorong rumah sakit mengemuka secara serentak. Yang Summer temukan saat ini adalah jenis tatapan yang jauh lebih dalam dari sebelumnya, lebih pekat, namun di saat bersamaan memancarkan pendar aneh yang tidak bisa Summer pahami secara utuh.

Hingga ucapan Archilles selanjutnya seketika membuat Summer merasa seperti tengah tenggelam di bawah laut yang dingin dan gulita, dadanya sesak oleh oksigen yang tidak mau mengisi paru-parunya. Ia terperangkap, dikepung tekanan air yang mencabik dari segala arah, sehingga tidak bisa bergerak. Dalam situasi ini, Summer hanya punya satu pilihan: membeku.

“Kalau saya memutuskan untuk menjadi pelanggan tetap di sini, apa Anda mau memasak, menyiapkan makanan, dan menemani saya seperti ini?”

...****...

1
Amaya Fania
jujur paling suka kalo kian muncul. ketawa mulu kalo lagi berantem sama summer, saling ejek, tapi diem diem sayang adek
Amaya Fania
penasaran lanjutannya, ayo lanjut kak
aspidiske ☆: okaii 😳
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!