Lucane Kyle Alexander CEO muda yang membangun kerajaan bisnis raksasa dan memiliki pengaruh mengerikan di dunia bawah. Dingin, tak tersentuh, dan membuat banyak orang berlutut hanya dengan satu perintah.
Tidak ada yang berani menentangnya.
Di sisi lain, ada Jema Elodie Moreau mantan pembunuh bayaran elit yang telah meninggalkan dunia senjata.
Cantik, barbar, elegan, dan berbahaya.
Keduanya hidup di dunia berbeda, hingga sebuah rahasia masa lalu menghantam mereka:
kedua orang tua mereka pernah menandatangani perjanjian pernikahan ketika Lucane dan Jema masih kecil. Perjanjian yang tak bisa dibatalkan tanpa menghancurkan reputasi dan nyawa banyak pihak.
Tanpa pilihan lain, mereka terjerat dalam ikatan yang tidak mereka inginkan.
Namun pernikahan itu memaksa mereka menghadapi lebih dari sekadar ego dan luka masa lalu.
Dalam ikatan tanpa cinta ini, hanya ada dua jalan, bersatu melawan dunia... atau saling menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Handayani Sr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Tak lama kemudian, seorang pria tampan dengan jas abu-abu mendekat. Wajahnya ramah, tapi ada sesuatu di sorot matanya terlalu perhatian.
“Jema,” sapa pria itu hangat.
“Tuan James” jawab Jema ramah
“Akhirnya saya melihat mu lagi Jema, bagaimanaa dengan Cuti mu apa kamu...”
"Hehe, saya akan mempertimbangkan lagi Tuan" jawab Jema
James menoleh ke arah Lucane, menilai dengan cepat.
“Dan ini…?” tanyanya.
“Suami saya,” jawab Jema singkat.
Lucane mengangguk kecil.
Deg... James buru buru menormalkan ekspresi nya.
“James,” katanya datar.
Tidak ada senyum. Tidak ada basa-basi.
James tersenyum tipis, namun matanya kembali ke Jema.
“Saya senang kamu bahagia,” ucapnya tulus.
“Meski harus saya akui… cukup mengejutkan.”
“Saya juga,” jawab Jema ringan.
“Hidup memang penuh kejutan.”
Lucane berdiri sedikit lebih dekat ke Jema gerakan kecil, nyaris tak terlihat.
Namun James melihatnya.
Lucane juga melihat sesuatu yang lain.
Cara James menatap Jema.
Bukan sekadar atasan pada bawahan.
Ada ketertarikan yang terlalu lama disembunyikan.
Lucane menilai cepat. Dingin. Presisi.
Dia menyukainya.
James menghela napas kecil.
“Kalau begitu,” katanya akhirnya,
“saya doakan yang terbaik untuk kalian.”
“Terima kasih,” jawab Lucane kali ini singkat, tegas, dan penuh penekanan.
James mengangguk, lalu pamit.
Begitu pria itu pergi, Eve mendekat sambil berbisik,
“Bos kita kelihatan… sedikit patah hati.”
Jema mengangkat bahu santai.
“Masalah dia, bukan aku.”
Lucane menoleh ke Jema.
“Kau tidak menyadarinya?”
“Apa?” Jema mengerutkan kening.
“Bahwa dia menyukaimu.”
Jema terdiam sejenak… lalu tertawa kecil.
“Serius?”
“Ah. Kupikir dia cuma bos yang terlalu perhatian.”
Lucane menatap ke arah James yang menjauh.
“Sekarang tidak lagi.”
Nada suaranya datar.
Tapi entah kenapa
ada sesuatu yang tidak sepenuhnya profesional dalam caranya berdiri di sisi Jema malam itu.
Dan untuk pertama kalinya,
Lucane menyadari satu hal yang tidak tercantum di kontrak.
* * * *
Di mobil saat pulang, Jema menyandarkan kepala ke kursi.
“Terima kasih sudah ikut,” ucapnya pelan.
Lucane menatap jalan.
“Kau menjaga citra,” katanya singkat.
“Aku menghargainya.”
Jema tersenyum kecil.
“Berarti kita impas.”
Mobil melaju, membawa mereka kembali ke mansion.
Dan hari itu kontrak pernikahan mereka tidak lagi terasa sekadar formalitas.
* * * *
Malam itu hujan turun tanpa suara, seolah dunia menahan napas.
Di sebuah ruangan gelap berlampu temaram, Kapten Reiner berdiri membelakangi jendela. Bayangannya memanjang di lantai beton, kaku dan dingin. Di hadapannya, tiga sosok berdiri tegap wajah mereka tak asing, tapi nama mereka sudah lama dihapus dari catatan resmi.
“Spectre tidak boleh dibiarkan hidup,” ucap Reiner akhirnya. Suaranya datar, tanpa emosi.
“Sekarang dia bukan hanya mantan aset. Dia ancaman.”
Salah satu pria mengangkat kepala. “Karena Alexander?”
Reiner berbalik perlahan. Tatapannya tajam, menusuk.
“Karena Jema,” jawabnya pelan.
“Alexander hanya mempercepat bencana.”
Ia berjalan mendekat, menekan meja logam dengan telapak tangannya.
“Kalian tahu aturannya. Tidak ada peringatan. Tidak ada keraguan. Di mana ada kesempatan di situlah dia dibersihkan.”
Hening.
“Dia sudah keluar dari organisasi,” lanjut Reiner. “Tapi dia tahu terlalu banyak. Pola kita. Nama kita. Wajah kita. Dan sekarang…”
Senyumnya tipis, nyaris tak terlihat.
“…dia dilindungi oleh nama yang membuat banyak orang gemetar.”
Pria kedua mengepalkan tangan. “Spectre tidak mudah.”
“Aku tidak menyuruh kalian membunuh perempuan biasa,” potong Reiner dingin.
“Aku menyuruh kalian menghapus legenda.”
* * * *