NovelToon NovelToon
Affair With My Bos

Affair With My Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kuswara

Dahlia seorang istri yang sangat dikecewakan suami yang sangat dicintainya. Namun Dahlia tetap memilih untuk bertahan mempertahankan rumah tangganya. Dahlia tidak mau seperti ibu dan kakaknya yang menyandang status janda juga. Dahlia pun lebih memilih melampiaskan kekecewaan dan rasa sakit hatinya dengan menjalin hubungan terlarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Tiga

"Luka cakaran di pinguin kamu, Mas, itu siapa..."

"Itu kerjaannya suami istri gila, sayang, Susan dan Arfan."

Ryan melihat cakaran itu dari pantulan punggungnya di dalam cermin.

"Mereka yang membantu pekerjaanku, tapi aku dikerjain juga. Pendingin di office rusak jadi kita kegerahan jadinya aku dan Arfan melepas kemeja. Nah di situ mereka iseng menggores punggungku dengan ujung penggaris besi."

"Nggak sakit, mas?."

"Perih, sayang, tapi nggak apa-apa karena mereka udah bantu aku."

Dahlia tidak lagi bertanya walau hatinya masih meragu dengan adanya noda. Tapi dia juga tahu kedekatan Ryan dan pasangan suami istri itu.

Rasa kantuk menyerang keduanya, mereka tidak lagi melanjutkan obrolan dan lebih memilih mengistirahatkan tubuh mereka di atas kasur yang sama tanpa keributan.

Keesokan harinya.

Jika beberapa hari kemarin Dahlia bisa menghindari Pak Adnan baik itu di kantor atau di luar kantor tapi tidak dengan hari ini. Malah Dahlia sudah berada di ruang kerja Pak Adnan karena pekerjaan. Bukan kerjaan Dahlia yang bermasalah tapi lebih tepatnya Pak Adnan meminta bantuan kepada Dahlia.

Di atas meja yang berhadapan dengan Pak Adnan, Dahlia sibuk dengan berkas yang harus disusun lalu dibuat laporannya. Di tengah fokus pikiran dan tenaga Dahlia yang tertuju pada pekerjaan. Pak Adnan memulai obrolan di dalam diamnya mereka.

"Bagaimana kabarmu, Dahlia?."

Sejenak Dahlia mengangkat wajahnya menatap bosnya yang ternyata sibuk dengan layar monitornya.

"Saya, baik, Pak."

Lalu fokusnya kembali lagi pada pekerjaannya.

"Emmm, aku kira kamu sakit sampai harus menghindariku."

"Hah?."

Kembali Dahlia mengangkat wajah, menatap Pak Adnan yang tetap fokus pada layar monitornya. Setelah beberapa detik menatap bosnya itu barulah Pak Adnan balik menatapnya.

"Kamu merasa nggak menghindariku?."

"Saya nggak enak aja selalu merepotkan Pak Adnan. Saya juga nggak mau membuat orang lain salah paham jadi memang lebih baik saya menjaga jarak."

"Siapa yang akan salah paham?. Pegawaiku kah? Suamimu kah? Atau siapa?."

"Ya, semuanya, Pak."

Kemudian Pak Adnan tersenyum.

"Itu hanya pikiranmu aja, Dahlia. Terlihat wajar aja interaksi antara atasan dan bawahan."

"Sebenarnya iya juga sih, itu hal yang wajar tapi tetap aja saya nggak mau orang lain salah paham."

"Oke, aku paham."

Lalu kemudian tidak ada obrolan lagi di antara mereka, mereka sama-sama kembali fokus lagi pada pekerjaan. Saking banyaknya pekerjaan, kedua orang itu sampai makan siang di meja masing-masing.

Menjelang sore hujan mengguyur deras, terlihat dari jendela kaca yang terbuka di ruangan itu. Hawa ruangan itu semakin dingin saja membuat Dahlia cukup kedinginan.

Suara lirih Dahlia yang menandakan dia kedinginan terdengar oleh telinga Pak Adnan. Pak Adnan bangkit keluar dari meja kerjanya sambil melepaskan jas lalu menaruhnya menutupi tubuh Dahlia.

"Aku harap kamu nggak kedinginan lagi."

Dahlia menoleh, dia terkejut dengan kedua tangan Pak Adnan yang sudah berada di kedua pundaknya dan wajah Pak Adnan sangat dekat sekali dengannya.

Tatapan mereka bertemu, menatap mata satu sama lain. Tidak ada yang menghindar untuk beberapa menit sampai terdengar suara dering ponsel Dahlia.

"Suamimu yang telepon."

Lalu Pak Adnan menjauh dan kembali duduk di kursinya.

Dahlia memegangi jas Pak Adnan yang akan lepas dari tubuhnya sambil menjawab panggilan telepon dari suaminya.

"Halo, mas."

"Maaf, sayang, aku nggak jadi jemput. Aku masih harus lembur tapi sekarang bantuin Arfan. Nggak apa-apa 'kan kau nggak jemput."

"Nggak apa-apa, mas, aku naik bus aja. Aku ada payung ini."

"Oke, sayang, kamu hati-hati. Kabarin aku kalau ada apa-apa."

"Iya, mas."

Dahlia menaruh lagi ponselnya di atas meja lalu mengeratkan jas Pak Adnan pada tubuhnya karena hawa dingin yang mulai menyentuh tulang.

Waktu pulang kantor sudah tiba, pekerjaannya Dahlia pun sudah selesai tepat waktu. Lalu dia pamit dari ruangan Pak Adnan.

Dahlia sudah duduk di kursi kerjanya, Lusi datang menghampiri.

"Padahal bisa aja Pak Adnan menyuruh asistennya untuk membantunya. Lalu kenapa kamu yang dimintai tolong mengerjakan pekerjaannya kalau bukan dia suka sama kamu?."

Dahlia menarik napas dalam.

"Itu kan menurut kamu, Lus, tapi nggak menurutku. Kamu lupa semua orang tahu kesetiaan Pak Adnan. Ada juga kan beberapa perempuan yang coba mendekati Pak Adnan tapi Pak Adnan tetap setia. Lalu kenapa Pak Adnan bisa suka padaku yang hanya bawahannya aja? Kenapa nggak salah satu perempuan yang selevel dengannya?. Lebih masuk akal 'kan?."

Sekarang Lusi diam dengan kalimat panjang kali lebar dari Dahlia. Lalu keduanya meninggalkan kantor dan Lusi di jemput pacarnya naik mobil sedangkan Dahlia masih menunggu karena payungnya tidak cukup kuat untuk menahan angin yang kencang.

Sudah hampir lima belas menit Dahlia menungu tapi anginnya masih kencang saja walau hujan sudah tidak sederas tadi.

Sebuah mobil mewah berwarna putih berhenti tepat di depan Dahlia. Dahlia sedikit menundukkan tubuhnya untuk melihat dari kaca yang terbuka karena orang yang ada di dalam mobil memanggilnya.

"Pak Adnan?."

"Masuklah!."

"Tapi, Pak..."

"Masuklah, Dahlia!. Jangan biarkan antrean panjang terjadi."

Dahlia pun segera membuka pintu mobil lalu duduk di samping Pak Adnan setelah melihat ada lima atau enam mobil di belakang mobil bosnya. Kemudian Pak Adnan mulai tancap gas dan mengurai antrean.

"Seneng banget, ya, lihat antrean?."

Dahlia tersenyum tipis dengan sindiran halus Pak Adnan.

"Saya nggak mau merepotkan bapak."

"Ya, udah kamu mau turun di sini?."

Dengan pandangan masih fokus kemudi.

"Di sini nggak ada angkutan umum yang lewat rumah saya, Pak."

"Makanya duduk manis aja di situ, ini jalan udah paling aman karena jalanan ke rumah kamu sudah langganan banjir 'kan?."

"Kok Pak Adnan tahu sih?."

Dahlia tersenyum lebar dan suasana tegang sudah mulai cair.

"Semua orang kantor juga tahu kali, Dahlia.

"Ya, tapi kan Pak Adnan tahu. Tahu dari mana?."

"Siapa lagi kalau bukan dari teman-teman kamu yang suka godain kamu kalau musim hujan begini."

Tawa Dahlia mulai terdengar kencang.

"Seru tahu, Pak, terkadang itu bisa menjadi hiburan tersendiri padahal saya juga ikut banjir-banjiran. Tidak sedikit juga dari mereka bisa tertawa dan menikmati musim banjir bila udah tiba."

Pak Adnan menatap cukup lama karena terjadi kemacetan di depan pintu gerbang tol. Dia ikut tertawa walau pelan.

"Kamu nggak mau pindah dari situ?."

"Mau sih, Pak, tapi suami saya sudah sangat cinta dengan lingkungan rumah itu. Tetangganya baik-baik, gotong royong, aman juga, orang-orangnya ramah."

"Kalau begitu kamu aja yang pindah."

Walau dikatakan lirih tapi Dahlia masih bisa mendengarnya dengan jelas.

"Maksudnya, Pak?."

Bukan jawaban yang Dahlia dapatkan tapi genggaman tangan yang dilakukan Pak Adnan.

"Pindah lah ke rumahku, Dahlia, tinggal bersamaku?."

Dahlia segera menarik tangannya namun tidak bisa. Situasinya kembali menegangkan saat tatapan itu terjadi.

Pandangan Dahlia segera berpaling saat melihat mobil suaminya melintas.

"Tolong ikuti mobil itu, Pak."

1
Yanti Gunawan
gak adil banget buat dahlia😫😭😭
Siti Sarifah
keren
Siti Sarifah
ceritanya selalu bagus, gk pernah gagal untuk membuat pembaca ikut larut dlm emosi dr cerita
Linda Yohana
Bagus novelnya
Yanti Gunawan
mbok yo d banyakin thor thor jangan pelit" up😫
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!