Putri bodoh yang satu ini berubah total dalam waktu semalam! Setelah ini dia bertekad untuk membalaskan semua rasa sakitnya satu-persatu. Lalu ditakdirkan hidup sebagai permaisuri? oh, tidak masalah karena ada pria tampan berkuasa yang akan membantunya sampai akhir.
NO PLAGIAT!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelangizigzag, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Second Mikayla
Di luar, salju berangsur-angsur turun menggantikan warna cokelat tanah menjadi putih bersih tak bertepi. Burung-burung yang biasanya bersi.leweran kesana-kemari telah kembali menuju sarang masing-masing dikarenakan dingin yang cukup membekukan sayap mereka. Badai salju diinformasikan akan menerjang Aldergo sekitar dua atau tiga hari ke depan agar semua penduduk bisa berantisipasi terlebih dulu.
Aidenloz tak mengalihkan sedikit pun tatapan sedalam samudera itu dari pemandangan di luar balkon kamarnya. Meski napas pria itu kini telah mengepulkan uap akibat suhu yang dibawah rata-rata, namun ia tetap kekeuh berdiri di sana, menatap sesuatu yang telah lama menjadi perhatiannya. Mikayla dengan jubah hangatnya sedang tersenyum cerah saat dirinya sibuk menempa bola-bola salju yang berukuran hanya sebesar kedua telapak tangannya yang kecil.
Seorang pengawal berpakaian lengkap meminta izin untuk memasuki peraduan sang Kaisar. Setelah diberikan izin, dengan kepala tertunduk ia berucap, "Lapor, Paduka Kaisar. Kepala permusikan istana ingin menemui Anda."
"Suruh dia masuk."
Lagi, pengawal tersebut menundukkan kepalanya dalam-dalam lalu keluar dari peraduan Kaisar dengan jalan mundur. Berjalan membelakangi Kaisar secara sengaja juga termasuk kejahatan dan mungkin bisa saja terjerat hukuman.
"Yang Mulia?"
Aidenloz tentu mengenal suara itu sejak beberapa hari terakhir. Suara lantang dan keras yang selalu dilontarkan padanya itu kini berubah menjadi suara yang begitu lembut dan penuh kehati-hatian, siapa lagi jika bukan Nyonya Sheryn, Elf tua yang menanggap remeh Kaisar nya sendiri.
Tiba-tiba wanita tersebut jatuh bersimpuh di samping Aidenloz yang masih betah berdiri di ujung balkon. Air mata merebak dari pelupuk matanya tanpa henti dan dicegah, rasa bersalah, takut, dan tak berdaya lah yang mendominasi wanita itu saat ini, tidak ada pilihan lain selain meminta ampunan kepada sang Kaisar.
"A-ampuni hamba, Yang Mulia. Hamba pantas mati!"
Aidenloz bergeming. Tatapannya masih tertarik pada sesuatu di bawah sana dibandingkan wanita Elf disampingnya yang tengah menangis tersedu sendat. Anggaplah Aidenloz tergolong Kaisar yang kejam karena nyatanya memang demikian dan akan tetap seperti itu sampai kapan pun demi benua-nya. Menjadi Kaisar bukanlah perkara mudah seperti yang ditilik dari arah pandang rakyat-rakyatnya atau bukan juga untung-untungan seperti mendapatkan lotre. Tidak, menjadi Kaisar sama artinya mengemban seluruh kekuatan lima benua besar Erosh. Sejak kecil Aidenloz tak pernah diajarkan mengasihi atau menatap iba seseorang yang meminta ampunan. Tidak peduli itu pria atau wanita. Jika itu orang lain, mungkin mereka akan merengkuh tubuh Sheryn dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi ini adalah Aidenloz. Dia ... berbeda.
Aidenloz adalah Kaisar yang dicontoh oleh semua raja. Maka untuk itu ia haruslah berhati keras demi kedudukannya.
Setelah sekian lama, akhirnya Aidenloz mau membuka suara, "Apakah kau sudah menyadari kesalahanmu?"
Sheryn mengangguk cepat masih dalam keadaan tertunduk dalam tanpa berani menatap junjungannya. "Hamba telah berani meremehkan Paduka, lancang, dan selalu melontarkan kata-kata yang tidak seharusnya Hamba ucapkan."
"Aku harap kau belajar dari hal tersebut. Aku tak ingin kau akan berperilaku sama pada rakyatku yang lain," peringat Aidenloz, tajam. "Sebagai hukuman dari tindakanmu ... aku akan menurunkan jabatan yang kau emban sekarang."
"Terima kasih banyak, Paduka. Hamba tak pantas menerima kemurahan hati Anda!" Sheryn segera menundukkan kepalanya hingga dahi yang hampir berbenturan dengan lantai. Jika berjalan membelakangi Kaisar sama dengan kejahatan, maka apakah arti dari perbuatan Sheryn sekarang. Seharusnya ia tak mendapatkan semua ini.
"Jangan terlalu bersenang hati sebab hukuman dari Raja Eliot belum termasuk ke dalamnya."
Sheryn mengangguk lalu menundukkan kepala dalam-dalam tanpa bisa mencegah senyuman yang menghiasi bibirnya saat ini. Kaisar Javier bukanlah orang tak berhati, dan Sheryn sangatlah yakin dengan hal tersebut. Wanita elf itu dapat merasakan rona hangat menghiasi pipinya yang pucat, degup jantungnya juga berirama tak sesuai, cenderung lebih cepat namun Sheryn sangat menikmatinya.
Ah, bagaimana mungkin ia menyukai sang Kaisar?
Karena perasaan yang begitu lancang akan menjerumuskannya ke dalam lubang petaka.
Sementara itu, saat Aidenloz memalingkan kepalanya lagi untuk mengamati kegiatan Mikayla, gadis itu justru telah lenyap. Tak berbekas. Manik emasnya telah menyapu ke segala penjuru istana, namun nihil. Tak ada tanda-tanda keberadaan Mikayla yang belum mencapai dua menit lalu sejak terakhir Aidenloz memperhatikannya.
Aidenloz berbalik, "Panggilkan pelayan yang berbuat onar kemarin!" perintahnya pada salah satu pengawal.
"Maafkan saya, tuan. Apakah Anda tengah mencari keberadaan saya?"
Mikayla menampakkan diri tepat setelah beberapa pelayan serta pengawal tersebut disuruh keluar. Aidenloz menatap curiga, seperti ada sesuatu yang berbeda.
"Ya, aku hanya menawarkan minum teh bersama. Apa kau keberatan?"
Mikayla menggeleng dengan senyum tipis, "Mana berani saya menolak," sergahnya kalem. "Mari saya tuangkan secangkir teh hangat untuk Anda."
Aidenloz memutuskan untuk duduk di salah satu sisi dari meja bundar dari kayu Domania yang terletak di tengah-tengah ruangan. Sementara Mikayla menuangkan secangkir teh untuknya, Aidenloz menatap gadis itu lamat-lamat.
Mikayla duduk di seberangnya. Menyesap pelan teh yang berada di dalam cangkir dengan gerakan anggun, "Teh olahan kerajaan memang nikmat,"
Aidenloz menarik sebelah alisnya seolah heran, "Bukankah teh ini buatan mu?"
Gadis itu mengerjap-ngerjap, seolah menyadari kesalahannya, ia cepat-cepat menutup mulut dengan sapu tangannya, "Ah, maaf. Saya tidak menyangka jika buatan saya bisa seenak ini," ucapnya disertai senyum malu-malu.
Sebenarnya teh tersebut memang buatan Aldergo dan Aidenloz hanya mengetes wanita didepannya. Tapi nol besar, keyakinan Aidenloz bahwa dia bukanlah Mikayla semakin yakin dengan bukti tersebut. Mikayla sudah menjelajahi isi dapur istana, itu yang gadis itu katakan padanya tempo hari yang lalu. Tak mungkin ia tiba-tiba lupa siapa yang bertugas untuk membuat teh khusus untuk keluarga kekaisaran yang berhadir.
"Bawakan buah anggur untuk kami!" Seorang pelayan menunduk dalam, lalu kembali keluar dari peraduan Kaisar. Tak berapa lama, ia membawa dua keranjang penuh dengan anggur yang diminta Aidenloz.
"Kau suka anggur, kan. Silakan ambil sesukamu," ucap Aidenloz dingin. Ia juga mengambil sebutir anggur untuk dirinya sendiri.
Mikayla memerhatikan Kaisar. Ragu-ragu diambilnya juga sebutir anggur seperti yang diperintahkan padanya.
"Bagaimana dengan kabar keluargamu, apakah mereka baik-baik saja?" tanya Aidenloz membuka pembicaraan.
"Keluarga?" beo Mikayla heran, namun sedetik kemudian ia berhasil menguasai dirinya sendiri, "Syukurnya mereka baik-baik saja selama saya bersama Anda," sahut Mikayla lalu menggigit kecil buah anggurnya.
Setelah itu kejadian yang tak pernah gadis itu harapkan dalam hidupnya benar-benar terjadi. Begitu nyata. Aidenloz segera berdiri, menarik pedangnya yang tadi tersarung rapi dibalik jubah. Menodong Mikayla dengan pedang tersebut hingga menyisakan beberapa senti lagi untuk mengiris kulit leher wanita itu.
"Berani sekali kau menggunakan sihir murahan seperti ini!" Hardik Aidenloz dengan mata yang menggelap, "Katakan dimana Mikayla?!"
Mikayla palsu itu terduduk di atas lantai dengan mengatupkan kedua tangannya, air mata langsung bercucuran deras, "Maafkan saya, Paduka. Hamba bersalah karena menipu Anda."
"Apakah ada hukuman yang ringan selain kematian untuk pengkhianat?!" Aidenloz marah besar, "Atau kau memang menginginkan hukuman yang lebih dariku?!" Dalam hitungan dua detik rupa Mikayla luntur dari wajahnya, tergantikan oleh wajah seorang Lady bermata hijau yang selalu menyakiti Mikayla. Siapa lagi kalau bukan cucu tunggal Earl of Magnotta, Lady Gabriela yang kini hanya dipandang tak lebih seperti sayap lalat di mata Aidenloz. Ia tak lebih dari pengkhianat licik.
Aidenloz mengarahkan ujung pedang di bawah wajahnya untuk membuat dagu gadis sialan itu mendongak, "Sekarang katakan dimana Mikayla atau kau akan merasakan hal yang lebih menderita dari yang seharusnya," tandas Aidenloz tajam dan mutlak. Tidak ada satupun yang bisa menentangnya bahkan dewa Erosh sekalipun.