melanjutkan perjalanan Lucyfer setelah kekalahan nya dengan Toma.
kini Lucyfer bergabung dengan kelompok Toma dan akan masuk ke ujian high magnus tapi memerlukan 2 orang tambahan.
setelah 2 slot itu di isi mereka kini menghadapi satu masalah akademi odler adalah musuh yang sulit dan tidak mudah di lawan.
arc ini juga memperkuat beberapa character
dan pertarungan masa lalu sang penyihir kegelapan yang bebas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakuho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kekalahan sang penyihir terkuat
Kai mengangkat tubuh Vigo ke udara.
Darah makhluk kuno itu menetes dari lubang-lubang di tubuhnya, jatuh perlahan ke tanah.
Mulut Kai terbentuk.
Senyum bengis.
Kejam.
“Luar biasa…” ucapnya pelan.
“Akhirnya aku mendapatkanmu.”
Ia mulai menyedot keberadaan Vigo.
Makhluk itu tak mampu memberontak.
Cahaya tubuhnya meredup, perlahan lenyap.
Kai turun ke tanah dengan langkah ringan.
Sementara itu—
“Hah… hah…”
Napas Elice terengah-engah.
Darah mengalir dari wajahnya, namun kipas emas itu masih tergenggam erat di tangannya.
Kai menoleh.
“Oh? Kau masih berdiri?” katanya ringan.
“Baiklah.”
"Nampak nya kau harus ku bunuh dulu..."
"Iglesias Elice."
Ia hendak melanjutkan mantra.
“Sihir makhluk kuno—Vi—”
Ucapannya terputus.
Darah menyembur dari mulutnya.
Suhu tubuhnya melonjak tajam.
Pandangan berputar. Kepalanya terasa seperti dihantam dari dalam.
Adam yang tergeletak menatapnya dengan napas lemah.
“Kai…” ucap Adam.
“Makhluk yang kau serap itu memiliki aturan mutlak.”
“Kecuali darah keluarga Zapata mengalir di tubuhmu…”
“Vigo akan mengamuk dan menghancurkan seluruh sihirmu dari dalam.”
Di Dalam Tubuh Kai
Ruang itu berkilau seperti aurora.
Kai berlutut, muntah darah tanpa henti.
Dari kejauhan—
“RROOOAAARRR!!”
Raungan mengguncang ruang batinnya.
Sosok raksasa mendekat.
Vigo.
Makhluk kuno itu menghantam, mencabik, dan merusak banyak struktur sihir Kai dari dalam.
Dunia Nyata
Tubuh Kai bergetar hebat.
Crack—crack—crack.
Seolah ada sesuatu yang pecah di dalam dirinya.
Ia kejang tanpa mampu melawan.
Elice menatapnya.
Kesempatan itu…
tak akan datang dua kali.
Ia berlari.
Adam mengangkat kepala dengan sisa tenaganya.
“Kalahkan dia, Elice.”
Lalu semua anggota tim elice yang tergeletak pelan pelan mereka bertujuh bangun.
Seraphina memainkan biwa sihir nya mempercepat langkah Elice dan tersenyum kecil.
Ignavia melempar sebuah cakram api ke pundak Elice dan membantu Elice untuk menghancurkan semua halangan.
Nerissa melempar sebuah guci ikan pemakan sihir dan ikan ikan itu membantu elice membuka jalan.
Vermila mengangkat jari nya dan sebuah tombak darah raksasa melesat dan menusuk kai.
Violet memaksakan diri nya dan memukul boneka berbentuk kai yang sudah tertancap paku dan memukul nya dengan palu nya.
Julian mengangkat tangan nya dan bola bola sihir kuning menghancurkan serangan kai.
daziel mengangkat satu tongkat sihir nya yang patah dan menciptakan parade kubah pasir.
Mereka bertujuh berteriak
"KALAHKAN DIA...KAPTEN"
Elice mengangguk tipis.
“Sihir es—”
“Tebasan Kipas Es Alaska.”
Cahaya dingin menyelimuti kipas emasnya.
Kai tak bisa bergerak.
Tubuhnya hanya bergetar, dan organ jantung nya seperti di tusuk paku oleh sihir violet
“TIDAAAK— ELICEEEE!!”
Teriakannya menggema.
SRRAK—! SRRAK—! SRRAK—!
Tebasan itu menghantam.
Es membungkus tubuh Kai, membekukannya sepenuhnya.
Sang penyihir kegelapan pun tumbang.
Elice terhuyung… lalu jatuh pingsan.
Adam tersenyum lemah.
“Kau menang…”
Namun—
Di balik lapisan es, satu mata Kai terbentuk.
Menatap sosok Elice dengan kebencian yang pekat.
ELICE…
Jika suatu hari aku bebas…
aku akan memisahkan tubuhmu.
Kai akhirnya disegel oleh bala bantuan yang datang kemudian.
Masa Kini
Elice Iglesias duduk diam, menyesap teh hangat.
Tatapan datarnya mengarah ke jendela.
"Kalau begitu, ini adalah pertarungan yang tak dapat di hindarkan,"
"Kai sang penyihir kegelapan yang akan menghancurkan dunia sihir,"
"kini kembali..."
Namun di balik ketenangan itu—
tersimpan kekhawatiran besar.
Tentang Kai.
Tentang dunia sihir.
Tentang masa depan yang rapuh.
Akademi Odler
Di sebuah asrama akademi lain, delapan murid berkumpul.
Aura mereka kuat—terlatih.
Salah satu dari mereka berbicara tegas.
“Walau lawan kita banyak, ingat.”
“Kita bertarung sportif. Tanpa kecurangan.”
Mereka berjalan menyusuri pemukiman.
“Lawan kita dari Akademi Agreta, ya?” ucap seseorang datar.
Yang lain tertawa kecil, nada provokatif.
“Akademi bangsawan itu?”
“Katanya ada Lucyfer—pangeran manja Kerajaan Vantier.”
“Terlalu lemah untuk jadi lawan.”
Mereka semua adalah murid Akademi Odler.
Akademi elit.
Dan merekalah yang akan berhadapan dengan akademi Agreta
dalam ujian High Magnus yang akan segera dimulai.