Han Chuan adalah seorang anak desa yang ceria dan penuh semangat. Ia menghabiskan hari-harinya dengan melukis pemandangan dan bermain bersama teman-temannya di bukit kecil dekat desa. Hidupnya sederhana dan bahagia hingga suatu hari, segalanya berubah menjadi mimpi buruk. Saat sedang bermain bola bersama teman-temannya, langit tiba-tiba menggelap. Suara raungan aneh menggema dari hutan, dan makhluk-makhluk iblis menyerang desa tanpa ampun. Anak-anak yang bermain bersamanya menghilang satu per satu, ditelan oleh iblis saat di bersama ibunya. Ketika Han Chuan turun dari bukit, yang tersisa hanyalah pemandangan mengerikan desa hancur, dan jasad para penduduk berserakan. Dalam keputusasaan, ia juga menyaksikan ibunya yang ternyata seorang dewa yang turun tangan melawan para iblis. Namun malang, sang dewa tewas ditusuk dari belakang dan tubuhnya dilahap utuh oleh iblis. Rasa sakit dan amarah yang tak tertahankan membangkitkan kekuatan tersembunyi di dalam diri Han Chuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FAUZAL LAZI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 sumsum dewa
“Benda ini,” lanjut sang pelayan dengan nada tegas, “ditemukan langsung oleh Penguasa Istana di sebuah gurun pasir kuno yang terlarang. Sumsum Dewa dipercaya mampu memperkuat tubuh, memurnikan darah, dan membuka jalur energi spiritual yang tertutup. Hadiah ini hanya akan diberikan kepada pemenang sejati!”
Kerumunan langsung meledak dalam hiruk-pikuk.
“Apa dia bilang tadi… Sumsum Dewa?” seru salah satu peserta dengan mata membelalak.
“Benar! Itu barang langka, bahkan sekte besar pun jarang memilikinya!” jawab peserta lain dengan nada kagum.
“Hadiah sebesar itu... berarti mereka benar-benar serius kali ini!” ucap seorang peserta lainnya dengan nada bergetar, wajahnya dipenuhi semangat dan sedikit ketakutan.
Sorakan keras menggema di halaman istana. Para peserta tampak tak sabar ingin segera memulai kompetisi.
“Harap tenang! Harap tenang semuanya!” seru pelayan Yun Ruan dengan suara lantang, disertai tekanan energi spiritual yang membuat udara bergetar halus. Suara riuh pun perlahan mereda.
“Untuk menentukan pemenang, perhitungannya akan berdasarkan jumlah inti iblis yang kalian kumpulkan dari iblis yang berhasil kalian bunuh,” lanjutnya tegas. “Semakin banyak inti iblis yang kalian dapatkan, semakin besar peluang kalian menjadi juara. Inti-inti itu bisa kalian tukarkan kepada anggota yang sudah ditugaskan di sana.”
Ia menarik napas sejenak, lalu menatap seluruh peserta dengan ekspresi serius. “Maka dari itu, aku tidak akan berlama-lama lagi.”
Pelayan itu kemudian melempar sebuah gulungan kecil ke udara. Dalam sekejap, gulungan itu membesar berkali-kali lipat, mengeluarkan cahaya biru yang berputar di udara sebelum akhirnya terbentang lebar. Di permukaannya tertulis nama-nama semua peserta dengan huruf bercahaya.
“Silakan tanda tangani Kontrak Hidup dan Mati sesuai dengan nama kalian masing-masing!” ucapnya lantang.
Suasana yang tadinya penuh semangat seketika berubah tegang. Banyak peserta menelan ludah, sebagian lain bahkan terlihat gemetar. Beberapa wajah pucat, menyadari arti sesungguhnya dari kontrak itu bahwa siapapun yang marintidak ada tangung jawab dari istana.
Namun di antara mereka, Ling Shura melangkah maju dengan langkah mantap. “Kalau begitu, biar aku dulu,” ucapnya tenang. Ia menggigit jempolnya hingga setetes darah menetes, lalu menempelkan sidik jarinya ke namanya sendiri di gulungan besar itu. Dalam sekejap, cahaya merah menyala dari tempat ia menandatangani, lalu menghilang ke dalam gulungan.
“Aku yang kedua,” ujar Xue Lin, dengan semangat yang tak kalah. Ia meniru tindakan Ling Shura, menggigit jempolnya dan menorehkan darahnya di gulungan.
Setelah itu, satu per satu peserta lainnya ikut maju dan melakukan hal yang sama. Namun tidak semuanya memiliki keberanian yang sama beberapa peserta memilih mundur. Mereka saling berbisik ketakutan, lalu berbalik meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi.
Di akhir giliran, Han Chuan melangkah maju. Tatapannya tenang namun tajam. Ia menggigit jempolnya dan menempelkan darahnya pada namanya sendiri di gulungan itu. Saat melakukannya, matanya sekilas tertuju pada seseorang di sisi kiri.
Seorang peserta membawa dua pedang,satu besar dan satu kecil. Pedang besar di punggungnya berwarna hitam legam, sedangkan pedang kecil di pinggangnya berwarna perak kebiruan yang berkilau.
“Dia menggunakan dua pedang sekaligus? Apa tidak kelelahan membawa pedang sebesar itu?” batin Han Chuan sambil memperhatikan nama orang itu yang tercantum di gulungan di depannya"nama nya long Shen ya , sepertinya pemuda yg menarik"gumam Han Chuan sambil melihat long Shen pergi.
Setelah semua peserta selesai menandatangani, pelayan Yun Ruan kembali berbicara.
“Apakah semuanya sudah menandatangani kontraknya? Kalau sudah, silakan berkumpul di tengah-tengah halaman!” serunya lantang.
Ia mengangkat tangannya, dan gulungan besar itu menyusut perlahan hingga kembali sekecil semula, lalu melayang ke arahnya dengan kilatan cahaya biru sebelum menghilang ke dalam kantong ruang di pinggangnya.
Pelayan itu melangkah maju ke tengah balkon, lalu mengeluarkan sebuah bola aneh berukiran simbol-simbol kuno dari dalam kantong ruangnya. Bola itu tampak terbuat dari logam hitam keperakan dengan garis ukiran bercahaya samar.
Tanpa banyak bicara, pelayan itu melempar bola tersebut ke udara. Bola itu langsung melayang di depan dirinya, memancarkan aura spiritual yang kuat. Ia segera membentuk segel tangan dengan cepat, dan dalam sekejap, bola itu memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan.
Beberapa saat kemudian bola tersebut terpisah menjadi beberapa bagian, membentuk pusaran energi yang berputar cepat di atas halaman istana. Dalam hitungan detik, satu per satu peserta mulai menghilang diselimuti cahaya keemasan, seolah tersedot ke dalam pusaran itu.
Suasana berubah hening ketika semua peserta telah berpindah tempat, meninggalkan halaman yang kini hanya berisi para pelayan dan beberapa tetua istana.
Tak lama kemudian, sejumlah balok batu besar muncul dari tanah, masing-masing memancarkan sinar biru dengan nama-nama para peserta terukir di permukaannya.
“Apa gunanya balok-balok dengan nama ini?” tanya Bai Mo, pemimpin keluarga Bai dan dia bertanya kepada pelayanan yang berdiri di depan nya.
Pelayan itu menjawab dengan tenang, “Fungsi balok-balok ini adalah untuk mengetahui jumlah inti iblis yang berhasil dikumpulkan oleh setiap peserta. Semakin banyak inti yang mereka dapatkan, semakin tinggi pula balok mereka akan naik.”
Bai Mo mengangguk paham sambil memperhatikan balok-balok tersebut.
Sementara itu, di sebuah hutan belantara yang menjadi lokasi ujian, suasana benar-benar kacau. Pepohonan tinggi menjulang, suara raungan iblis terdengar dari segala arah, dan aura mencekam memenuhi udara.
Para peserta yang baru saja tiba langsung berpencar. Ada yang segera memburu iblis-iblis kecil untuk mengumpulkan inti, ada pula yang justru lari pontang-panting dikejar oleh kawanan makhluk buas yang menyerang tanpa ampun.
Di antara mereka, Han Chuan berdiri di tengah kawanan iblis serigala yang mengepungnya dari segala arah. Mata merah para iblis itu bersinar garang di balik kabut tebal, taring mereka meneteskan air liur hitam pekat.
Han Chuan tersenyum tipis. “Aku tidak tahu ini keberuntungan atau kesialan,” ucapnya sambil menurunkan kuda-kuda dan mencabut pedangnya. “Tapi jumlah mereka cukup banyak untuk mengumpulkan semua inti iblis yang aku butuhkan. Lagipula,inti ini juga cocok untuk penempaan Fondasi Dewaku.” gumam nya dan menggenggam gagang pedangnya