Haruskah cinta dan pernikahan yang diberikan sahabatnya, ia kembalikan?
Ini gila!
cinta dan pernikahan yang Elea jaga untuk Radjendra dan demi amanah yang diberikan sahabatnya, Erika. justru malah dihancurkan oleh Erika sendiri.
Apa yang harus Elea lakukan?
Haruskah ia kembalikan cinta dan pernikahan itu?
Atau ia harus mempertahankannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saidah_noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyadari sesuatu.
Selepas kepergian ibu mertuanya, Elea mengajak anak-anaknya untuk makan malam. Nasinya sudah agak dingin namun mereka tetap menikmati makanannya. Kehadiran si kembar membuat rumah ini terasa ramai, dibumbui dengan canda tawa yang membuat keluarga ini lengkap.
Rajendra bahkan lupa ia akan menghubungi Erika, ia janji akan menemuinya tapi karena si kembar pulang semua rencananya berubah. Ponselnya berdering dibawah ranjang yang berada dikamar kenangan, kamar milik Elea.
Lelaki itu melupakan benda tersebut, saat ia jatuh tadi dan terburu-buru karena putrinya akhirnya pulang. Ia tak tahu jika disebrang sana, Erika mengamuk karena merasa diabaikan. Wanita itu bahkan melempar asal perangkat telepon miliknya, hingga terbelah menjadi dua.
Wajah cantiknya memerah, merasakan amarah yang meledak-ledak dihatinya. Bagaimana tidak, Rajendra sudah janji akan datang ke rumah baru mereka. Namun sudah menunjukan angka 9 malam, lelaki itu belum menampakkan hidungnya.
"Elea, awas kamu. Aku gak akan diam lagi, Rajendra milikku dari awal," geram Erika menghapus air matanya yang menetes membasahi pipinya.
Ia lupa bahwa semuanya berawal dari dirinya sendiri.
^
Lalu bagaimana dengan malam ini?
Anak kembar mereka ingin tidur bersama dalam satu ranjang. Memang ranjang dikamar Rajendra sangat luas, sehingga cukup untuk berempat. Dulu pun mereka sering tidur bersama kalau si kembar mau, itulah kenapa lelaki itu membeli ranjang besar tersebut.
Dua anak mereka tidur ditengah, sedangkan pasangan itu mengapitnya disisi ranjang mengusap kepala mereka sambil dibacakan dongeng.
Elea membaca buku cerita yang Eliza inginkan, sebagai dongeng sebelum tidur yang melelapkan keduanya. Namun bukan hanya anaknya yang tidur, suaminya pun ikut terlelap.
Wanita itu beranjak dari tempatnya, ia melangkah untuk pergi dari kamar tersebut. Namun baru saja sampai pertengahan kamar, tangannya ditarik tiba-tiba.
Terkejut, Elea membalikkan badannya.
"Kamu mau kemana?" tanya Rajendra dengan suara pelan, takut dua putrinya terbangun.
"Aku tidur dikamarku," jawab Elea singkat, ia memalingkan mukanya enggan menatap suaminya dan menghempaskan tangannya dengan kasar
"Ini kamarmu juga, kenapa kamu pindah kamar?" tanya Rajendra lagi tapi sekarang dengan nada kesal.
"Hanya gak mau saja," ngeles Elea, ia melanjutkan langkahnya menuju pintu.
Rajendra diam, ia berkacak pinggang sambil melihat istrinya yang hendak pergi dari kamarnya. Kesal tapi mau bagaimana lagi dari pada ribut ditengah malam begini, ia juga harus memikirkan dua putrinya yang sudah terbawa mimpi.
Seketika Elea terlihat bingung, ia memutar knop pintunya namun ia kesulitan. Pintu itu tak mau terbuka, saat ia melihat lubang kuncinya tak ada kunci yang menggantung disana.
Wanita itu kembali menghampiri suaminya, ia membuka telapak tangannya pada Rajendra, ingin meminta sesuatu.
"Apa?" tanya Rajendra mengerutkan keningnya, ia tahu Elea meminta sesuatu tapi entah apa yang istrinya minta.
"Kuncinya, pintunya dikunci," ujar Elea menjawabnya dengan sebal.
"Mana aku tahu, yang terakhir tutup pintu kan anak-anak. Kamu lupa?" elak Rajendra yang mengubah posisi kedua tangannya menjadi bersidekap.
"Bohong!" geram Elea merasa dipermainkan, emosinya mulai tersulut oleh sikap kekanak-kanakan suaminya.
"Husst! Pelankan suara kamu, kamu mau anak-anak bangun?" bungkam Rajendra.
"Terus kuncinya dimana?" tanya Elea keukeuh ingin keluar dari kamar suaminya.
"Mana aku tahu," jawab Rajendra mengedikkan kedua bahunya, ia membalikkan badannya hendak kembali ke tempat tidur.
Bibir Rajendra tersenyum samar, ia sudah berusaha tutup mulut. Semua itu memang idenya yang menyuruh anaknya untuk mengunci pintu dan menyembunyikan kuncinya.
Ia merasa sunyi untuk tidur sendirian, walau tak ada rasa tapi ia perlahan menyadari sesuatu. Ada yang hilang kalau tidur terpisah dari istrinya, namun ia tak tahu kenapa. Apa mungkin karena ia sudah terbiasa oleh kehadiran Elea?
Entahlah, Rajendra sendiri belum tahu jawabannya.
"Sudah, tidur saja disini. Apa susahnya? Biasanya juga kita tidur sekamar dan sekasur," ujar Rajendra membuyarkan kekesalan istrinya yang serba salah.
Mau tak mau, Elea pun memilih tidur dikamar tersebut. Ia tidur ditepi ranjang tadi, dimana ditengah mereka ada si kembar.
Rajendra terus tersenyum melihat tingkah istrinya sekarang, walau mudah ngambekan ia tetap berusaha baik-baik saja didepan anak-anak.
"Besok bikin drama apa lagi, ya?" benak Rajendra bergumam, ia melirik Elea yang sudah memejamkan matanya dengan tidur miring memeluk anak keduanya, sehingga Rajendra bisa melihat wajah istrinya itu.
Ia sendiri berusaha untuk tidur, namun malam ini begitu susah. Susah karena kepala atas dan bawahnya berdenyut-denyut, apalagi ia mulai merasakan debaran jantungnya yang tak biasa lagi.
"Ah sialan! Kenapa Ele selalu terlihat cantik?" geram Rajendra memuji kecantikan istrinya, ia sudah benar-benar lupa soal Erika.
Tanpa sadar tangannya terulur ingin menepikan ramput yang menghalangi wajah istrinya, namun terhalang dua anak diantara mereka. Jarak mereka tak cukup satu tangannya, ia harus berpindah posisi agar bisa dekat dengan istrinya.
"Papah," igau anak sulungnya, memeluknya erat dalam keadaan mata terpejam.
"Kakak, pengen punya adek laki-laki," lanjut si kakak yang makin membuat Rajendra menautkan dua alisnya.
"Sabar, ya. Papah lagi usaha," jawab Rajendra seakan Aliza bisa mendengarnya, namun saat ia melirik pada Elea mulutnya langsung diam kembali.
Ia melihat Elea yang menatap padanya, ia telan ludahnya kala mendapat tatapan mata istrinya yang tajam. Tak lama istrinya langsung membalikkan badan membelakanginya dan anaknya, membuat Rajendra bingung dengan sikap Elea.
"Apa aku sudah terlalu kejam padanya?" batin Rajendra, ia ingat saat Elea meminta jatah dan ia malah menolaknya dengan kasar.
Keterlaluan memang, ia sungguh munafik saat itu padahal hasratnya ikut bergelora.
"Ia pasti terluka," sambung lelaki itu menyadari kesalahan fatalnya, ia meluruskan pandangannya pada atap putih langit-langit itu. Pikirannya mulai menerka-nerka, betapa kejamnya ia pada Elea.
Padahal, apa salah Elea padanya?
Namun mendadak kata-kata Erika muncul mengingatkannya.
"Elea yang minta aku menjodohkan kamu dengannya, dia menyukai kamu diam-diam. Ia ingin merebut kamu dari aku," ujar Erika saat pertama kali mereka bertemu, saat itu juga hatinya merasa marah pada Elea.
"Apa mungkin Erika bohong?" gumam Rajendra berprasangka buruk, ia kenal betul siapa Erika dan Elea bukan wanita yang seperti disebutkan oleh kekasihnya itu.
Elea justru bersikap sebaliknya.
Kembali Rajendra melirik pada Elea, walau hanya punggungnya ia yakin ada luka yang menggerayangi istrinya itu.
"Maafin aku Ele," gumam Rajendra merasa bersalah mengingatnya.
Malam yang hening itu, hanya ada suara nafas yang tak tenang dengan perasaan yang berkecamuk penuh kebimbangan. Dua manusia yang terikat pernikahan tanpa cinta pada awalnya, hanya ada rasa yang menggantung tak jelas.
Mereka diam tak ada yang sanggup berbicara, hati yang sama-sama kalut terus merayapi bersamaan dengan tusukan luka yang tak tahu kapan sembuhnya.
*
Pagi hari yang cerah, silau mentari menusuk menembus kain penghalang jendela kamar pasangan itu. Sayup-sayup suara ribut terdengar memanaskan telinga, membuat Elea terbangun.
Saat mata Elea terbuka, tubuhnya sulit untuk bergerak. Dadanya sesak merasakan sesuatu yang menghimpit tubuhnya, ia melebarkan matanya dan makin melebarkannya karena yang menghimpitnya adalah tubuh suaminya. Entah sejak kapan posisi mereka sedekat itu.
Elea mencoba menyingkirkan tangan besar Rajendra, namun bukannya terlepas ia malah makin dipeluk erat dan makin kesulitan untuk melepaskan diri.
Sementara dua bocil, tak tahu dimana sekarang. Suaranya pun tak terdengar sama sekali.
Elea menatap muka suaminya yang memang tampan, ia akui itu bahkan jantungnya berdebar cepat sekarang. Bagaikan tengah maraton, begitu jelas ia rasakan.
Tangannya bergerak merapikan anak rambut Rajendra, namun belum sempat mata lelaki itu sudah terbuka. Mereka saling tatap dengan diam, hanya suara nafas yang tenang.
Sadar akan posisi mereka, Elea segera memalingkan mukanya ia ingat bahwa hati suaminya hanya milik sahabatnya. Tapi lelaki itu menangkup dagunya agar mereka kembali saling tatap, apa yang Rajendra inginkan? Elea pun tak tahu.
Perlahan wajah Rajendra mendekat, makin dekat, kini kian dekat. Mata Elea terpejam tanpa sadar, sebuah benda menyatu membasahi bibirnya yang kering. Begitu pelan tapi mulai mendalam, Elea lupa tentang sakitnya luka. Ia luluh oleh sentuhan yang sudah lama tak ia rasakan.
Rajendra menghentikan aksinya, ia biarkan Elea meraup nafas yang banyak agar bisa kembali memagutnya. Selanjutnya ia menautkan kedua tangan mereka, ia dekatkan lagi bibirnya dengan mata terpejam dan kembali memagut membasahi bibir istrinya.
Kali ini Elea membalasnya, sehingga membuatnya makin tersulut gairah yang membakarnya perlahan.
Kemudian ...