"Tugasmu sederhana: seduh kopi hitamku tepat pukul tujuh pagi, dan pastikan aku tidak mati hari ini."
Bagi Adinda Elizabeth (23), William Bagaskara adalah tiket keluar dari kemiskinan. Pria itu arogan, dingin, dan menyebalkan. Namun, Adinda tahu bagaimana cara mematahkan leher lawan secepat ia menyeduh kopi.
Bagi William (28), Adinda adalah anomali. Seorang gadis kecil yang berani menatap matanya tanpa rasa takut, sekaligus satu-satunya orang yang rela berdarah demi melindunginya.
Di tengah intrik bisnis yang kejam dan teror yang mengintai, sebuah kontrak kerja berubah menjadi pertaruhan hati. Bisakah sang CEO angkuh luluh pada gadis yang dibayarnya untuk terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Tanpa Bayangan
Adinda berdiri di tengah ruang tamu apartemen The Peak lantai 30 itu untuk terakhir kalinya.
Ruangan itu kosong. Bersih. Dingin.
Semua barang pribadinya sudah masuk ke dalam tiga kardus besar dan satu koper. Ternyata, selama tinggal di tempat semewah ini, jejak yang ia tinggalkan sangat sedikit.
Adinda berjalan menuju jendela kaca raksasa yang menampilkan pemandangan langit Jakarta. Dulu, pemandangan ini membuatnya merasa seperti elang yang mengawasi mangsa. Namun sekarang, ketinggian ini hanya membuatnya merasa kesepian.
Apartemen ini adalah pemberian William. Fasilitas dari kantor untuk "Kepala Keamanan". Meskipun William sudah memecatnya secara lisan dan memintanya hidup normal, Adinda masih menempati tempat ini karena belum sempat pindah.
Tapi setelah kejadian pengeroyokan itu, Adinda sadar.
Tinggal di sini berarti ia masih berlindung di bawah ketiak William Bagaskara.
Tinggal di sini berarti ia masih "disimpan" dalam sangkar emas.
Dan selama ia masih menikmati fasilitas ini, ia tidak akan pernah bisa melupakan pria itu.
"Cukup," gumam Adinda.
Ia berbalik badan, memunggungi pemandangan kota yang angkuh itu. Ia mengambil kartu akses apartemen dari saku celananya, lalu meletakkannya di atas meja marmer dapur.
Tidak ada surat perpisahan. Tidak ada pesan dramatis. Hanya kartu akses yang tergeletak bisu.
Adinda mengangkat kardus terakhirnya, lalu melangkah keluar.
Bunyi klik pintu yang terkunci otomatis terdengar seperti suara palu hakim yang mengetuk meja. Keputusan sudah final. Adinda Elizabeth tidak lagi bernaung di bawah atap Bagaskara.
Dua jam kemudian, suasana berubah drastis.
Sebuah truk engkel kecil berhenti di depan sebuah rumah tua di kawasan Cipete, Jakarta Selatan. Bukan kawasan elit, tapi kawasan pemukiman yang asri dan tenang.
Rumah itu bergaya klasik tahun 80-an. Halamannya cukup luas dengan rumput yang agak tinggi, dan ada pohon mangga besar di depannya. Cat dindingnya putih gading yang mulai mengelupas sedikit, dan lantainya masih menggunakan tegel kunci zaman dulu yang dingin.
Ini bukan apartemen mewah dengan kolam renang dan gym. Ini adalah rumah kontrakan tua.
Adinda memilih rumah ini karena satu alasan: ukurannya.
Ruang tengahnya sangat luas dan plafonnya tinggi. Tidak ada sekat. Sangat sempurna untuk dijadikan studio seni. Adinda butuh ruang besar untuk menumpahkan segala kekacauannya ke dalam kanvas dan tanah liat.
"Gila, Din. Lo yakin ngontrak rumah segede ini sendirian?" tanya Arthur sambil menurunkan kardus dari truk. Napasnya ngos-ngosan. "Ini sih bisa buat main futsal di dalem."
Adinda menyeka keringat di dahinya sambil tersenyum puas melihat rumah itu. "Gue butuh space, Thur. Di apartemen sempit, gue nggak bisa bikin patung ukuran besar. Di sini gue bebas."
"Tapi serem nggak sih malem-malem? Luas banget," komentar Siska yang ikut bantu-bantu bersih-bersih.
"Tenang," Adinda menepuk dinding rumah itu. "Setan aja takut sama gue."
Adinda bohong. Dia tidak menyewa rumah besar ini untuk patung semata.
Dia menyewanya agar rasa sepi di hatinya punya tempat untuk bergaung. Dia ingin menyibukkan diri membersihkan rumah besar ini, mengecat ulang dindingnya, dan merawat kebunnya, supaya dia terlalu lelah untuk memikirkan William sebelum tidur.
Uang tabungannya selama menjadi bodyguard yang jumlahnya lumayan besar karena dia jarang jajan cukup untuk membayar sewa rumah ini selama dua tahun ke depan.
"Yuk, kita beresin barang," ajak Adinda semangat.
Sore itu, mereka bertiga sibuk menata "markas" baru Adinda.
Kamar tidur Adinda terletak di bagian belakang, menghadap taman kecil. Sangat sederhana. Hanya ada kasur di lantai (tanpa dipan), lemari baju plastik, dan meja kecil.
Berbeda jauh dengan kasur King Koil di apartemen William. Tapi saat Adinda merebahkan punggungnya di kasur lantai itu sejenak, ia merasakan sesuatu yang sudah lama hilang: rasa menapak di bumi.
Di sini, dia bukan "aset perusahaan".
Di sini, dia bukan "ancaman bagi keluarga Bagaskara".
Di sini, dia adalah Adinda Elizabeth, penyewa rumah nomor 18 yang sah.
Menjelang maghrib, teman-temannya pamit pulang.
"Kalau ada apa-apa telepon ya, Din. Jangan sungkan," pesan Arthur.
"Siap. Makasih ya udah bantuin," Adinda melambaikan tangan sampai motor teman-temannya hilang di tikungan.
Malam pun turun.
Rumah besar itu mendadak sunyi. Suara jangkrik dari kebun belakang terdengar jelas. Angin malam menyelinap masuk dari ventilasi kayu di atas jendela.
Adinda duduk di lantai ruang tengah yang masih kosong melompong. Hanya ada satu lampu bohlam kuning yang menyala di tengah ruangan, menciptakan bayangan panjang.
Ia membuka sekaleng soda, meneguknya pelan.
Matanya menatap dinding putih yang luas di hadapannya.
"Rumah baru," bisiknya pada keheningan. "Hidup baru."
Di saku celananya, ia meraba kotak kecil berisi pensil 2B dan sketsa wajah William. Ia sempat berpikir untuk membuangnya saat pindahan tadi, tapi ia tidak sanggup.
Adinda bangkit, berjalan ke sudut ruangan, dan menyembunyikan kotak kecil itu di bawah ubin lantai yang sedikit longgar di pojok ruangan. Menimbunnya.
"Kamu tetap di situ," ucap Adinda pada kotak itu. "Jangan keluar-keluar lagi."
Malam itu, Adinda tidur di rumah kontrakan tuanya. Tanpa AC, hanya ditemani kipas angin besi yang berputar berisik.
Panas, nyamuk, dan suara bising tetangga. Semuanya terasa nyata. Dan rasa sakit karena merindukan William perlahan tersamarkan oleh rasa pegal-pegal di badannya karena mengangkat lemari.
Adinda tersenyum miris sebelum terlelap. Ternyata benar, cara terbaik melupakan rasa sakit di hati adalah dengan memberi rasa sakit pada fisik.
Dia telah berhasil kabur. Dia telah berhasil menjauh. Dan di rumah besar yang kosong ini, dia berjanji akan mengisi setiap sudutnya dengan karya seni, sampai tidak ada lagi ruang tersisa untuk kenangan tentang William Bagaskara.
lanjut thor
lanjuuut