S 1.Rahim 500 Juta
S 2. Cinta Untuk Kanaya
Tania Lorenza, gadis muda yang berprofesi sebagai cleaning service di sebuah perusahaan, dan juga memiliki pekerjaan sampingan menjadi pelayan cafe saat malam hari. Dua pekerjaan itu ia lakoni untuk mengumpulkan uang buat biaya pasang ring jantung ayahnya.
Suatu hari Tania mendapat tawaran oleh direktur utama perusahaan tempatnya bekerja, untuk digunakan rahimnya sebagai bahan percobaan mengandung anak sang direktur tersebut.
Vino Erlangga, seorang direktur utama yang terpaksa mencari seseorang untuk ia sewa rahimnya sebagai percobaan dan pembuktian kepada istrinya yang selalu mengklaim dirinya tidak bisa memiliki keturunan.
Akankah Tania menerima tawaran tersebut, lantaran butuh biaya banyak untuk ayahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAHIM 500 JUTA~ BAB 29
"Selamat datang." ucap Vino setelah ia dan Tania sampai rumah utama.
ART yang memang sudah berada di rumah itu, dengan antusias menyambut kedatangan kedua majikannya.
Tania terhenyak dengan menyapu pandangan nya ke seluruh sisi ruangan yang begitu luas. Ini bukan rumah, tapi istana ucap nya dalam hati. Ia merasa tidak pantas berada di sini, langkahnya terasa berat melangkah lebih dalam.
Vino sedari tadi memperlihatkan Tania, ia tahu apa yang ada di dalam fikiran wanita itu. "Jangan seperti itu, Tania. Lama-lama kamu juga akan terbiasa tinggal di sini karena kamu akan," Vino menjeda kalimat nya lalu tersenyum.
"Ayo, kita lihat kamar kita." ajak nya mengalihkan ucapan sebelumnya.
Vino menuntun Tania menaiki anak tangga menuju kamar mereka, ia memeluk pinggang wanita hamil itu untuk melindunginya.
Sesampainya di kamar utama, Vino tersenyum melihat tidak ada satu pun lagi barang-barang Elza di kamar nya. Sementara Tania terpaku melihat luas kamar itu sebesar rumah orangtua nya.
"Ini kamar kita." ucap Vino yang membuat lamunan Tania buyar.
Vino merangkul pinggang Tania dan membawa menuju ranjang yang lebih besar dari ranjang yang ada di apartemen.
"Aku pastikan kamu akan merasa nyaman tinggal di sini," ucap Vino sambil mendudukkan tubuh Tania di tepi ranjang. "Kalau kamu butuh sesuatu kamu tinggal bilang saja pada Bibi. Aku juga akan memanggil ART yang sebelumnya bekerja di sini tapi dia tidak pernah datang lagi, mungkin Elza yang sudah memecat nya."
Tania hanya diam, apalagi yang akan ia butuhkan di rumah sebesar ini, semuanya sudah serba ada bagi orang kecil seperti diri nya.
Tania terus melamun hingga ia dikagetkan oleh Vino yang tiba-tiba mencium perut buncitnya. "Anak Papa sedang apa? Kenapa tidak menendang lagi? Oh Papa tahu, pasti kamu mendengar kan ucapan Papa kan waktu itu untuk tidak menjadi pemain bola. Tapi kamu harus menjadi pemimpin yang akan menggantikan Papa di perusahaan." Vino terkekeh karena kekonyolan nya itu.
Vino mengecup perut buncit Tania lagi, namun kali ini raut wajah nya terlihat sedih. 'Lihat lah, Ma. Sebentar lagi anak Vino akan lahir. Apa Mama akan pulang jika tahu kalau Mama akan segera punya cucu. Maaf kan Vino, Ma. Karena Vino baru mengetahui apa penyebab Mama pergi. Dan Vino sudah menyingkirkan orang yang sudah membuat Mama pergi, dari hidup Vino.' ucap nya dalam hati.
Ingin sekali ia menghubungi Mama nya, namun ia takut kecewa jika sang Mama terus menolak panggilan nya seperti yang sudah-sudah. Setiap kali ia menghubungi Mama nya, panggilan nya terus di tolak. Dulu ia tidak tahu kenapa Mama nya terus menghindarinya, dan sekarang ia tahu jika Elza lah penyebab nya. Sang Mama ternyata tidak merestui hubungannya dengan Elza.
Satu-satu nya cara agar bisa menghubungi Mama nya adalah dengan mengganti nomor telephone. Ah, Vino mendengus kesal pada diri nya sendiri saat baru terpirkirkan cara itu.
'Sayang, semoga Nenek mu akan pulang setelah mengetahui kehadiran mu.'
Vino berdiri lalu ia duduk di samping Tania.
"Pak, Bu Elza sebenarnya ada di mana? Kenapa Pak Vino memindahkan semua barang-barang Bu Elza?" tanya Tania.
"Elza dan teman-temannya sudah berada di tempat yang seharusnya." jawab Vino.
"Bu Elza dan teman-temannya? Apa maksud Pak Vino?" tanya Tania lagi.
"Wanita-Wanita yang menyerang mu itu adalah teman-temannya Elza. Dan sekarang mereka semua sudah berada di kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka. Aku juga akan menceraikan Elza." ucap Vino yang membuat Tania terkejut.
"Apa? Tapi Pak Vino tidak perlu sampai menceraikan Bu Elza hanya karena masalah ini. Aku sudah memaafkan mereka, jadi sebaiknya Pak Vino juga segera bebaskan mereka."
"Tidak, Tania. Yang bersalah harus tetap di hukum. Dan aku menceraikan Elza bukan karena masalah ini, tapi karena suatu hal yang tidak bisa aku ceritakan pada mu."
kasian amet liat pemandangan romantis Mulu
sayang Ama kegantengan nya🤣