Nayla Faranisa, gadis cantik yang masih duduk di bangku SMA kelas 12, Ia tinggal berdua dengan Abang nya yang merupakan seorang pengusaha kaya raya, sejak kematian kedua orang tua mereka delapan tahun silam, Gerald sang kakak adalah orang yang selalu melindungi adik satu-satunya yang kini telah menginjak dewasa, siapa sangka Gerald mulai menyukai Nayla yang kini bertransformasi menjadi seorang gadis yang sangat cantik, Ia tak rela jika sang adik dekat dengan laki-laki lain selain dirinya. Hingga akhirnya Gerald benar-benar jatuh cinta kepada adiknya. Dan ia bertekad untuk menjadikan adiknya sebagai miliknya agar tidak ada pria yang coba-coba mendekati Nayla.
Nayla pun tak terima dengan perlakuan sang Kakak, tapi Gerald tetap meyakinkan kepada Nayla jika dirinya benar-benar mencintai gadis itu.
Akankah Gerald berhasil meluluhkan hati Adiknya? Rahasia apa yang membuat Gerald yakin jika Nayla akan menjadi miliknya untuk selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LichaLika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 HTA
Sementara itu, Nayla mulai masuk ke dalam kamar mandi, pun sama Gerald juga mulai masuk ke dalam kamar mandi, keduanya membersihkan diri mereka masing-masing, setelah aktivitas yang membahagiakan di dalam mobil tadi saat mereka menikmati pemandangan indah di danau.
Nayla tersenyum ketika mengingat saat dirinya bersama Gerald menikmati indahnya percintaan, semua kesedihan Nayla hilang seketika saat Gerald berada di dalam pelukannya. Nayla yang sudah mengetahui sifat dan karakter Gerald, tentu saja membuat Nayla mudah menerima kenyataan jika Gerald adalah suaminya, sedari kecil Nayla selalu mendapatkan pembelaan dari Gerald saat Nayla diganggu oleh teman-temannya, bahkan Gerald rela menghajar siapa saja yang berani menggoda Nayla, dan ternyata semua yang Gerald lakukan karena dirinya benar-benar sayang dan cinta kepada Nayla.
Setelah Nayla cukup lama membersihkan dirinya, Ia pun mulai keluar dari kamar mandi dan mengganti bajunya dengan piyama tidur, dengan rambut yang masih terbungkus oleh handuk, Nayla membuka pintu lemari dan mengambil satu piyama tidur.
Setelah itu Ia meletakkan baju tidurnya di atas ranjang, Nayla beranjak pergi di depan kaca rias, Ia melepaskan handuk yang melilit pada rambutnya, dan kemudian Ia mengeringkannya dengan menepuk rambutnya pelan-pelan. Sesaat Nayla tersenyum ketika melihat begitu banyak tanda cinta yang Gerald berikan pada bagian tubuhnya yang vital. Belum lagi tanda yang masih baru yang Gerald berikan saat mereka berada di danau tadi yang terletak di pangkal leher Nayla.
"Ya ampun, Abang! Kok naruhnya di sini, sih! Mana kelihatan banget, gimana besok Aku nutupi ini?" Nayla terlihat melihat lehernya yang ada tanda merah yang jelas itu adalah tanda cinta dari Gerald.
Nayla segera memakai piyama tidurnya, setelah itu Ia segera beranjak untuk tidur, Nayla terlihat mematikan lampu meja sebelum dirinya memejamkan mata, hari ini Ia sangat kelelahan, namun rasa lelah itu berganti senyuman yang terukir pada bibir Nayla.
"Abang! Kamu memang hebat!" ucapnya sebelum Ia benar-benar memejamkan matanya.
Sementara di kamar lain, Gerald tak juga memejamkan matanya, seolah dirinya menghabiskan beberapa gelas kopi, kedua mata itu benar-benar tidak bisa diajak kompilasi, sementara ia melihat jam sudah menunjukkan pukul satu malam.
Gerald kelihatan sangat gelisah, saat ingin memejamkan mata Ia teringat akan ekspresi wajah Nayla saat mereka sedang berduaan, "Ah sial! Kenapa Aku tidak bisa tidur. Nayla Nayla! Sepertinya Aku bisa tidur jika dia berada di samping ku."
Gerald memutuskan untuk pergi ke kamar Nayla yang letaknya tidak jauh dari kamarnya, hanya saja kamar sama-sama mereka bersebalahan dengan kamar Hera.
Gerald keluar dari kamar dan berjalan menuju ke kamar Nayla, sejenak Ia berhenti saat pintu kamar Hera terbuka. "Shiiit! Ngapain sih Oma pakai bangun segala!" batin Gerald saat dirinya bersembunyi agar Hera tidak melihatnya, Hera keluar dari kamar nya dan Ia terlihat berjalan menuruni anak tangga.
Gerald melihat Hera yang mulai turun dari lantai atas, kemudian dengan cepat Ia berlari kecil menuju ke kamar Nayla.
"Ceklek."
Kamar itu terlihat temaram, Gerald hanya bisa melihat bayangan Nayla yang sedang tertidur pulas di atas ranjang nya, setelah mengunci pintu, Gerald segera menghampiri istrinya yang sedang masih belum mengerti jika Gerald sudah masuk ke dalam kamar nya.
Setelah tiba di tempat tidur Nayla, Gerald mulai bersembunyi di dalam selimut yang pakai Nayla, Gerald menyusup ke dalam selimut sembari memeluk istrinya dari belakang.
Dengan mencium wangi tubuh Nayla, Gerald mulai memejamkan matanya dan tidur dengan melingkarkan tangannya pada perut Nayla.
"Nah ... gini kan Aku bisa tenang, Aku bisa tidur dengan nyenyak!" batinnya sembari memejamkan matanya untuk tidur. Namun, ada yang berbeda dengan Nayla, Ia mulai membuka matanya, Nayla merasakan ada sesuatu yang aneh, sejenak Ia merasa perutnya ada yang menindihnya, dengan cepat Nayla melepaskan tangan Gerald dan segera bangun dari tidurnya.
"Siapa kamu?" Nayla terlihat begitu takut, sementara Gerald langsung menarik tangan Nayla dan kembali merebahkan tubuh Nayla di sampingnya. Tentu saja Nayla panik dan mencoba berontak, suasana gelap dalam kamar itu membuat Nayla tidak bisa melihat wajah orang yang sedang masuk ke dalam kamarnya.
Untuk sesaat Nayla tidak bisa konsentrasi dan panik, namun setelah Ia mendengar deru nafas yang menyapu telinga nya, barulah Ia sadar jika itu adalah Sang suami, Gerald.
"Abang! Ngapain Abang di sini? Bikin Nay kaget aja deh!" seru Nayla sembari menghadap ke arah Gerald, wajah Gerald yang terlihat samar itu tampak sedang tersenyum kepadanya.
"Hmm ... Abang nggak bisa tidur jika ngga memeluk Istriku, Abang mau tidur sama kamu disini," jawaban sembari memeluk Nayla.
"Bahaya, Bang! Nanti Oma tahu gimana coba? Pasti Nay yang kena marah lagi."
"Nggak bakal! Oma ngga bakalan datang ke kamar mu, pintu nya udah Abang kunci, nih kuncinya Abang cabut sekalian!" ucap Gerald sembari menunjuk kunci pintu yang Ia letakkan di atas nakas.
"Sudah! Sebaiknya kita tidur, Abang ngantuk banget nih!" pungkas Gerald sembari menutupkan selimut pada tubuh mereka berdua.
"Awas jangan macam-macam, Nay ngga mau terlambat sekolah!" ucap Nayla kepada Gerald agar pria itu.
"Enggak! Abang ngga bakalan ngapa-ngapain, paling cuma nempel aja, ngga apa-apa, kan?" seketika Nayla membulatkan matanya dan menatap bola mata Gerald yang terlihat bercahaya pada suasana temaram itu.
"Apa, Bang?"
"Sudah! Nggak apa-apa." Gerald berusaha meyakinkan Nayla untuk tenang.
"Abang Pliss! Jangan sekarang? Aduh Nay bisa-bisa telat besok!" Nayla merasa tangan Gerald sudah berhasil mencari tempat favoritnya, dan Ia membuka pelindung tempat itu, meskipun tak sampai terlepas semua nya, Nayla merasa ada sesuatu yang ingin masuk.
"Abang!"
"Sssttt! Sudah tidak apa-apa, tidurlah!" ucapnya saat berada di belakang istrinya, sementara Nayla, bagaimana dirinya bisa tidur jika Ia merasakan sebuah benda bergerak-gerak nikmat di sana.
"Abang ... kamu!"
Gerald tersenyum smirk saat dirinya berhasil bersarang lagi di tempat favoritnya.
"Aku nggak bisa tidur sebelum bersenang-senang dengan istri ku." bisik pria itu pada telinga Nayla. Nayla hanya bisa menggigit bibir bawahnya, tak dipungkiri Gerald selalu berhasil membuat gairah Nayla membara Kembali.
Dalam suasana romantis nan temaram itu, Gerald tidur dengan memeluk Nayla dari belakang, sembari menyelam minum air, tentu saja Gerald tidak menyia-nyiakan kesempatan.
Setelah keduanya sampai pada puncak nya, Gerald tinggal mencabut kembali milik nya dan Ia merapikan kembali celana Nayla, seolah tidak terjadi apa-apa, keduanya saling melempar senyuman dan setelah itu mereka tertidur. Malam ini adalah malam dimana mereka berdua tidur dalam satu ranjang.
*
*
*
Pagi ini, Hera bangun lebih awal, dirinya membuka pintu kamar nya, sejenak Ia terkejut melihat pintu kamar Gerald yang sedikit terbuka, karena penasaran, Ia pun mencoba melihat dan sekaligus membangunkan Gerald.
Sesampainya di depan pintu kamar Gerald, kemudian Hera membuka pintu yang sudah terbuka itu, Ia masuk ke dalam, dan alangkah terkejutnya saat Ia melihat tidak ada sang cucu di dalam kamar nya, di kamar mandi pun Hera tak menemukan nya.
"Gerald! Kamu dimana? Ya ampun! Nih anak kemana sih?"
Kemudian Hera pergi keluar untuk mencari keberadaan Gerald, mungkin saja sang cucu berada di luar kamar nya. Namun, saat Hera sampai di depan kamar Nayla, Ia pun berhenti sejenak.
"Sudah jam segini, kenapa Nayla belum bangun juga, setahuku Nayla tidak pernah bangun di jam seperti ini, dia selalu bangun pagi sekali. Hmm mencurigakan, jangan-jangan ...." Hera mencoba membuka pintu kamar Nayla, tapi sayang pintu kamar Nayla terkunci dari dalam. Ia pun semakin curiga. Hera segera pergi untuk mengambil kunci cadangan kamar Nayla. Ia menanyakan kepada Bi Jum dimana kunci cadangan kamar Nayla, Bi Jum pun menunjukkan bahwa kunci cadangan berada di sebuah laci dekat ruang tengah. Berharap dugaannya salah, Hera ingin membuktikan jika Gerald tidak ada di kamar Nayla.
"Aku berharap Gerald tidak bersama Nayla! Bisa gawat kalau sampai seperti ini!" sambil mengoceh, Hera membuka pintu kamar Nayla di dampingi Bi Jum yang membuka kamar Nayla.
"Ceklek." setelah pintu itu terbuka, Hera dan Bi Jum langsung masuk ke dalam kamar Nayla, seketika Hera dan Bi Jum membulatkan matanya saat melihat pemandangan di depan mata.
"Geraaaaarld!!!! ... Nayla!!!!"
...BERSAMBUNG...
Mampir thor,Kayaknya seru nih...