Warning!! Hanya untuk pembaca 21 tahun ke atas.
Lyra menjadi wanita yang haus akan kasih sayang setelah kepergian suaminya. Usia pernikahannya baru berjalan 2 bulan, namun harus berakhir dengan menyandang status janda di tinggal mati. Bertemu Dika seorang lelaki yang bekerja di daerah tempat tinggalnya. Membuat mereka terlibat dengan hubungan cinta yang penuh dosa.Tapi siapa sangka, ternyata Dika sudah menikah, dan terobsesi kepada Lyra.
Lyra akhirnya memutuskan untuk sendiri menjalani sisa hidupnya. Namun ia bertemu Fandi, rekan kerjanya yang ternyata memendam rasa padanya.
Bagaimana kisah kehidupan dan cinta Lyra selanjutnya?
Yuk simak kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Berkunjung Ke Rumah Mertua
Bab 15
Berkunjung Ke Rumah Mertua
"Assalamualaikum..."
Salam dan sapaan hangat dari Novia menghentikan kegiatan wanita yang usianya sudah melewati setengah abad yang sedang merapikan tatanan benda pajangan di ruang tamu. Mata lelahnya cukup lama melihat siapa yang berdiri di depan pintu rumahnya. Namun sekejap ia langsung sadar, dan bergerak dengan cepat menghampiri mereka.
"Wa'alaikumsalam.... Ya Allah, Novia, Ibra, Dika..., anak cucu ibu...!"
Marina yang merupakan satu-satunya orang tua Dika yang tersisa begitu terkejut dengan kedatangan anak, cucu dan menantunya yang tiba-tiba tanpa pemberitahuan. Rasa haru dan bahagia begitu jelas terpancar di wajahnya. Sampai-sampai ia memeluk semua satu persatu dengan air mata haru yang menggenang di pelupuk mata.
"Ayo, masuk. Kok nggak ngabarin ibu dulu sih?" Protes Marina meski tidak benar-benar protes karena terlalu bahagia. Ia hanya tidak menyiapkan apa-apa untuk menyambut kedatangan mereka.
Mereka melangkah masuk ke dalam rumah. Lalu duduk di sofa ruang tamu yang sudah mulai usang dengan suara derit ketika menerima beban.
"Sengaja kasih kejutan Bu. Kalau ngabari dulu, bukan kejutan dong namanya." Jawab Dika.
"Kamu nih Dik, paling bisa ngejawab."
"Iya lah Bu. Punya mulut kan harus di gunakan sebaik-baiknya."
"Berdebat sama kamu, ibu nggak akan pernah menang."
Dika dan Novia terkekeh, begitu pula Marina yang hanya bercanda saja tidak masuk ke dalam hati. Lalu tatapan mereka kembali menghangat pada pertemuan mereka saat ini.
"Ibu sehat?" Tanya Novia dengan senyum lembutnya sambil meraih tangan ibu mertuanya dan menggenggamnya dengan lembut.
"Alhamdulillah, sehat sayang. Kalian sehat?"
"Alhamdulillah, kami semua juga sehat Bu."
"Kalau kalian ngabarin lebih dulu, ibu bisa masakin kalian makanan kesukaan kalian."
Novia tertawa kecil. "Ibu ini, masih saja itu yang di bahas. Justru kami nggak mau bilang supaya ibu nggak kerepotan."
"Bener Bu. Kita makan di luar saja nanti. Sudah lama kan nggak kumpul keluarga?" Dika menimpali. "Oh ya, Iqbal Mana Bu?"
Dika sekali memperhatikan ke bagian dalam rumah, tidak melihat kehadiran adiknya disana.
"Tadi keluar sebentar, katanya mau ke mini market depan. Nah, itu dia!"
Semua orang melihat ke arah pintu yang menampakkan seorang laki-laki bertubuh tegap dan kulitnya sedikit lebih gelap dari Dika. Dia Iqbal, satu-satunya adik Dika yang hanya berjarak 2 tahun darinya.
Pemuda itu mengamati mobil yang terparkir rapi di halaman rumahnya. Tanpa bertanya pun, ia tahu siapa yang sedang bertamu karena dia hafal, siapa pemilik SUV hitam dengan melihat plat yang tertera. Senyumnya segera terbit. Dengan cepat, ia pun segera melangkah mendekati pintu rumahnya.
"Eh, ada siapa ini? Mana jagoan Om?"
"Om Iqbal... !"
Ibra segera bangun dari duduknya dan berlari menghampiri Ibra. Ibra segera di tangkap Iqbal dan di angkat tinggi ke atas. Tawa kekehan gembira menyambut keduanya. Kedekatan yang begitu senang untuk dilihat, antara Om dan keponakannya. Ibra menyayangi Omnya, begitu pula Iqbal yang menyayangi keponakannya.
"Hahaha, waduh beratnya. Udah makin gede kamu sekarang ya. Om nggak sanggup lagi angkat kamu."
"Hehehe, iya dong Om."
Iqbal menurunkan Ibra secara perlahan. Anak itu berjalan dan kembali duduk di tempatnya. Sedangkan Iqbal mendekat, menyalami Dika dan juga Novia.
"Bang..."
"Hmm. Makin hitam aja kamu." Ucap Dika saat Iqbal mengalaminya.
"Hehehe." Iqbal yang merespon dengan kekehan kecil. Lalu bergantian menyalami Novia yang berada di seberang Dika, tepatnya duduk di samping ibunya. "Apa kabar?" Tanyanya pada Novia.
"Baik. Kamu sehat Iq?" Tanya Novia tanpa canggung karena mereka sudah terbiasa.
"Alhamdulillah, seperti yang di lihat." Jawab Iqbal lalu menjatuhkan dirinya duduk di samping Ibra, sehingga posisi mereka seperti huruf U. Dika di sebelah kiri Iqbal. Novia dan Ibunya di sebelah kanannya.
"Hehehe, iya... iya. Memang bisa di lihat."
Dika memandang Novia dan Iqbal. Ada sedikit ketidaksukaan Dika terhadap interaksi adiknya dan istrinya itu.
"Bagaimana pekerjaan mu Iq?" Tanya Dika agar Iqbal dan Novia tidak berbicara lebih banyak.
"Alhamdulillah Bang, lancar aja. Bulan depan rencananya peresmian pengangkatan ku jadi PNS."
"Alhamdulillah..." Novia sedikit terkejut namun bahagia mendengar kabar itu. "Jadi kamu nggak honor lagi Iq?" Tanya Novia.
"Alhamdulillah nggak lagi, tapi mulai bulan depan. Hehehe..."
"Nggak apa-apa lah, bulan depan juga nggak lama lagi."
"Nov, ambilin minum. Mas haus." Perintah Dika tiba-tiba.
Dika kembali menyela obrolan Novia dan Iqbal. Novia melihat ke arah Dika dan menurut dengan sedikit anggukan kepala dan senyum.
"Iya Mas."
Baru saja Novia hendak beranjak berdiri, Iqbal mencegah dengan mengangkat sedikit tangannya kepada Novia.
"Biar aku aja, kalian kan baru aja datang." Ujar Iqbal.
"Nggak apa-apa Iq, kamu santai aja."
"Nggak apa, sekalian aku juga ada yang mau di ambil di kamar."
Tanpa menunggu respon Novia, Iqbal segera bangkit berdiri dan menuju ke dapur.
Dika memperhatikan Iqbal yang masuk el dalam rumah lebih dalam.
"Dik, kamu kok akhir-akhir ini jarang banget nelpon? Ibu kan jadi khawatir." Tanya Marina.
Pertanyaan ibunya mengalihkan pandangan Dika dan kembali pada suasana saat itu.
"Aku sibuk Bu..., akhir-akhir ini banyak tambang baru buka. Jadi banyak juga turun ke lokasi, untuk pengecekan." Jawab Dika santai.
"Tapi jangan lupa ngabarin Ibu ya Nak. Mau hubungi kamu juga susah sekarang."
"Nggak ada sinyal Bu?" Tanya Novia.
Ibu mertuanya menggeleng. "Nggak di angkat."
Novia melihat ke arah Dika. Meski tidak terlihat jelas, tapi sesaat ada raut kegugupan di wajah suaminya. Ada perasaan mengusik yang pelan-pelan menelusup karena tidak menyangka, Dika sampai mengabaikan ibunya yang sangat di sayanginya. Novia jadi ingat kejanggalan yang ia rasakan. Ia pun jadi memikirkan apa mungkin ini disebabkan oleh hal yang sama?
"Iya, nanti Dika sering telepon Ibu." Ujar Dika mencoba menenangkan suasana.
Iqbal datang membawa nampan berisi beberapa gelas dan teko. Lalu meletakkannya di atas meja.
"Bang, minumannya." Lalu ia memberikan sebuah kotak kepada Ibra. "Nih, buat Ibra."
Kotak yang terlihat jelas isinya bahwa itu mainan mobil-mobilan membuat mata Ibra berbinar menerimanya. "Wih! Tamiya Om?!" Ibra pun berseru kegirangan. "Tapi Ibra nggak punya track nya Om," Ucap Ibra kemudian sedikit bersedih.
"Nanti kita beli. Mau?"
"Mau dong!"
Ibra kembali bersemangat.
"Jangan boros-boros Iq, mainan Ibra sudah banyak di rumah." Ujar Novia mengingatkan, agar tidak terlalu memanjakan Ibra karena takut anaknya nanti malah ketagihan.
"Nggak apa-apa. Cuma kali ini aja. Itung-itung traktiran dari Om yang di angkat jadi PNS ya, Ibra?" Iqbal menjawab, namun matanya tidak melihat ke arah Novia melainkan ke Ibra.
Bocah kecil itu hanya menganggukkan kepala, senang.
"Ya sudah. Pasti kalian lelah. Kamar Dika masih sama seperti dulu. Kalian bisa istirahat disana. Ibra biar sama Iqbal. Tapi, apa kalian akan pulang hari ini juga?" Tanya Marina memastikan, karena biasanya Dika memang jarang menginap.
"Iya Bu, nanti selepas Isya kami pulang. Soalnya besok malam, Dika harus kembali lagi ke rumah Dinas."
Marina menghembus napas pelan. Rasa rindu belum juga pudar, tetapi ia harus merelakan anak, cucu dan menantunya kembali ke rumah mereka. Seperti biasa, ia harus menerima keadaan dan hanya mendoakan, semua keluarganya selalu diberi kesehatan dan umur yang panjang.
Ibra mengikuti Iqbal menuju kamar adik Papanya itu. Sedangkan Novia mengambil oleh-oleh dan diberikan kepada mertuanya. Lalu ia hendak menuju kamar, tetapi langkahnya terhenti sesaat karena Dika terlihat masih enggan beranjak dari ruang tamu.
"Mas, nggak ke kamar?"
"Nanti saja." Jawab Dika sekenanya sambil memainkan benda pipih di tangannya.
Novia hanya mengamati sesaat, kemudian memilih untuk masuk ke kamar sendirian. Karena entah kenapa, tubuhnya lelah setelah perjalanan padahal sebelumnya ia tidak seperti ini. Mungkin tidak hanya tubuhnya saja yang lelah. Pikiran Novia yang belakangan terus bekerja di dalam kepalanya rasanya menguras energinya lebih cepat dan banyak sehingga ia membiarkan saja Dika yang termenung menatap layar handphonenya.
Lyra, ada apa? Kenapa sejak tadi malam pesan ku kamu abaikan?
-
-
-
Bersambung...
Jangan lupa dukung Author dengan like dan komen ya, terima kasih 🙏😊
pas pulang lyra udah pergi.. kayaknya bakalan nambah Maslah deh Novia.. mending ber3 bicaranya..klo sepihak gitu nantinya badan dika dikamu tapi hati dan jiwanya di lyra