Ye Fan adalah seorang psikopat yang menjadikan orang-orang jahat sebagai target eksekusinya. Ia menikmati perburuan tersebut tanpa rasa bersalah.
Sebelum kematiannya, Ye Fan menghabiskan waktu dengan sebuah game kultivasi yang menurutnya sangat menarik, karena di dalamnya ia bisa memburu dan membunuh para penjahat tanpa batas.
Namun, hidupnya berakhir ketika ia tewas ditembak polisi. Saat membuka mata kembali, Ye Fan mendapati dirinya telah bereinkarnasi ke dalam dunia kultivasi—dunia yang persis seperti game yang pernah ia mainkan, tempat hasrat lamanya kini dapat terwujud sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Turnamen Naga Langit (Bagian 3 – Teknik Terlarang dan Pedang Dingin)
Hari ini adalah babak delapan besar. Lawan yang dihadapi Sekte Pemburu Bayangan bukan lagi sekadar pemukul otot, melainkan Sekte Pedang Langit, sekte yang terkenal memiliki murid dengan kecepatan tercepat di seluruh wilayah.
Ye Fan duduk di tribun peserta, matanya tertuju pada muridnya, Han. Han adalah seorang pemuda pendiam dengan luka parut di wajahnya, seorang ahli pedang yang pernah menjadi algojo paksa bagi tuan tanah jahat sebelum diselamatkan Ye Fan.
"Han," panggil Ye Fan.
Han berdiri, memegang gagang pedang hitam pemberian Ye Fan yang masih terbungkus kain. "Ya, Guru."
"Lawanmu adalah Jian, murid nomor satu Sekte Pedang Langit. Dia berada di ranah Inti Qi Level 2. Secara level, dia di atasmu," Ye Fan menatap Han dalam-dalam. "Tapi ingat, dia belajar pedang untuk kehormatan. Kau belajar pedang untuk bertahan hidup di antara tumpukan mayat. Tunjukkan padanya perbedaan antara seni dan pembantaian."
Ye Fan kemudian memberikan sebuah kristal kecil kepada Han. "Jika kau terdesak, hancurkan ini. Itu berisi sedikit niat membunuhku yang telah kukompres."
Han melangkah ke tengah arena. Lawannya, Jian, sudah menanti. Jian terlihat sangat tenang, jubah putihnya berkibar rapi, kontras dengan pakaian hitam Han yang tampak berat.
"Aku tidak seperti Chen dari Awan Putih yang banyak bicara," ucap Jian sambil menghunuskan pedang tipisnya yang bersinar perak. "Aku akan menyelesaikan ini dalam tiga tarikan napas."
TENG!
Begitu lonceng berbunyi, Jian menghilang. Secara harfiah menghilang dari penglihatan penonton. Ia menggunakan teknik "Langkah Cahaya Surgawi".
Sret! Sret! Sret!
Dalam sekejap, jubah Han robek di tiga titik berbeda. Darah mulai merembes keluar. Kecepatan Jian benar-benar luar biasa. Namun, Han tidak panik. Ia berdiri diam, menutup matanya, dan hanya mengandalkan pendengarannya.
"Hanya itu?" desis Han.
Han menarik pedang hitamnya. Saat Jian menyerang dari belakang dengan tusukan mematikan ke arah jantung, Han melakukan putaran tubuh yang sangat tidak wajar—tulang-tulangnya berderak seolah berpindah posisi.
KLANG!
Pedang hitam Han menahan ujung pedang perak Jian. Benturan energi Qi membuat lantai arena di bawah mereka retak seribu.
"Apa?! Kau bisa mengikuti gerakanku?!" Jian terkejut.
Han tidak menjawab. Ia mulai melepaskan teknik yang diajarkan Ye Fan: "Tarian Bayangan Algojo". Gerakan Han tidak indah; gerakannya sangat efisien, brutal, dan bertujuan untuk memotong bagian vital sesingkat mungkin.
Pertarungan itu berubah menjadi kilatan hitam dan perak yang saling beradu di udara. Penonton bahkan tidak bisa berkedip karena takut tertinggal satu gerakan pun. Namun, Jian mulai merasa tertekan. Setiap kali pedang mereka beradu, ia merasakan aura dingin yang menusuk jiwanya, seolah ia sedang bertarung melawan maut itu sendiri.
"Jangan sombong, rakyat jelata!" teriak Jian. Ia melepaskan teknik terlarangnya: "Hujan Pedang Penembus Langit". Ratusan bayangan pedang muncul di langit, mengincar Han dari segala arah.
Han menyadari bahwa ia tidak bisa menghindari ribuan pedang itu sendirian. Ia teringat pesan Ye Fan. Dengan tenang, Han menghancurkan kristal pemberian gurunya.
BOOOOOOMM!!!
Aura merah darah yang sangat pekat meledak dari tubuh Han. Itu adalah sisa energi Jiwa Sejati milik Ye Fan yang tersimpan di kristal tersebut. Seluruh stadion mendadak sunyi. Para tetua di tribun kehormatan berdiri dengan wajah pucat, merasakan kehadiran aura yang jauh melampaui level mereka.
Di mata Han, segalanya melambat. Ribuan pedang Jian terlihat seperti ranting pohon yang jatuh pelan. Han melesat maju, pedang hitamnya mengeluarkan raungan seperti naga yang kelaparan.
SLASH!
Han melewati Jian dengan satu tebasan bersih.
Beberapa detik keheningan menyelimuti arena. Tiba-tiba, ratusan bayangan pedang di langit hancur menjadi debu. Jian berdiri mematung, pedang peraknya patah menjadi dua, dan luka sayatan besar melintang di dadanya, nyaris membelah jantungnya.
Jian ambruk bersimbah darah.
Han menyarungkan pedangnya kembali ke dalam bungkus kain, wajahnya tetap datar seolah baru saja menyelesaikan tugas rutin. "Guru berkata... pedangmu terlalu ringan. Karena kau tidak pernah memikul beban kematian di punggungmu."
[DING!]
[Misi Progres: 3/5 Kemenangan Tercapai!]
[Hadiah: Peningkatan Skill Murid "Niat Membunuh Dasar" ➔ "Aura Kematian Pemula"]
[Poin Reputasi Gelap +1.000]
Ye Fan berdiri dari tempat duduknya dan bertepuk tangan pelan. Aksinya diikuti oleh gemuruh tepuk tangan penonton yang kini benar-benar terpesona sekaligus ketakutan.
Di saat pertandingan Han berlangsung, Xiao Mei yang ingin melihat pertandingan ternyata menyusul Ye Fan.
Namun, di kegelapan koridor stadion, sekelompok orang berjubah merah tua dengan lambang Lembah Api Suci (Sekte terbesar nomor satu) sedang berkumpul.
"Pemuda berambut putih itu... dia menyimpan sesuatu yang berbahaya di dalam kristal itu," ucap seorang pria bertopeng emas, pemimpin murid Lembah Api Suci. "Siapkan rencana cadangan. Di babak 4, kita tidak akan melawan muridnya. Kita akan menyerang 'jantung' dari sekte itu. Cari tahu siapa gadis yang selalu berada di sampingnya."
Mata Ye Fan berkilat tajam ke arah koridor gelap tersebut. Dengan Mata Penghakiman, ia sudah tahu ada yang sedang mengincar Xiao Mei.
“Mencoba menyentuh miliku?” batin Ye Fan dengan senyum yang sangat mengerikan hingga membuat murid di sebelahnya menggigil. “Sepertinya babak selanjutnya akan menjadi hari pemakaman bagi kalian semua.”