"Saya tidak menuntutmu untuk langsung mencintai saya, Hannah. Saya hanya memintamu mengizinkan saya menjadi imammu."
Hannah Humaira (20) baru saja ingin menikmati masa mudanya usai lepas dari asrama pesantren. Sayangnya, skenario hidupnya berubah total saat ia dijodohkan dengan Muhammad Akbar (28).
Akbar itu kaku, dewasa, dan terlalu serius. Sangat berbeda dengan Hannah yang ceria dan masih ingin bebas. Tapi, siapa sangka di balik sikap tenangnya, Akbar menyimpan berjuta cara manis untuk memuliakan istrinya.
Ini bukan tentang cinta pada pandangan pertama. Ini kisah tentang Hannah yang belajar menerima, dan Akbar yang tak lelah menunggu. Akankah hati Hannah luluh oleh kesabaran suaminya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 : Tiga Kursi Di Barisan Tengah
Gedung Aula Fakultas Ilmu Budaya terlihat seperti lautan manusia. Ribuan mahasiswa baru berkumpul untuk acara pengenalan jurusan, menciptakan dengung suara obrolan yang memekakkan telinga. Pendingin ruangan sentral bekerja keras melawan hawa panas dari ribuan tubuh, namun bagi Hannah, udara di ruangan itu terasa membekukan.
Hannah berdiri mematung di dekat pintu masuk auditorium. Tangannya mencengkeram erat tali tote bag kanvasnya hingga buku-buku jarinya memutih. Sifat pemalunya kumat.
Selama di pesantren, Hannah terbiasa hidup komunal. Ia punya teman sekamar yang sama selama bertahun-tahun. Ia tahu siapa yang tidur di sebelah kanannya, siapa yang suka meminjam sabun, dan siapa yang paling rajin bangun malam. Tapi di sini? Di aula raksasa ini? Semuanya adalah wajah asing.
Gadis-gadis di sekitarnya tampak begitu percaya diri. Ada yang sibuk membenahi riasan dengan cermin kecil, ada yang tertawa keras sambil membuat konten video singkat untuk media sosial, dan ada yang sudah bergerombol akrab seolah mereka kenal sejak bayi.
Hannah merasa kecil. Gamis tunik dan sepatu kets putihnya yang tadi dipuji Akbar, kini terasa salah kostum di matanya sendiri.
"Permisi, jangan halangi jalan dong," tegur seseorang yang lewat di belakangnya.
"Ah, maaf... maaf," Hannah buru-buru menyingkir, wajahnya memerah.
Ia harus mencari tempat duduk. Matanya menyapu deretan kursi merah berjenjang itu. Hampir semuanya penuh. Jantung Hannah berdegup kencang. Ketakutan terbesarnya adalah harus duduk sendirian di pojok, terpisah dari kelompok, dan terlihat menyedihkan.
Di barisan tengah, Hannah melihat satu celah kosong. Dua kursi tersisa di antara dua orang gadis yang duduk terpisah. Hannah menarik napas panjang, mengumpulkan sisa keberanian yang tadi diberikan Akbar di mobil.
Ia melangkah menaiki anak tangga, menyelip di antara lutut-lutut mahasiswa yang sudah duduk, sambil terus bergumam "permisi".
Sampai di kursi kosong itu, Hannah berhenti.
"Boleh... boleh duduk di sini?" tanya Hannah pelan pada gadis di sebelah kirinya.
Gadis itu mendongak. Ia berambut pendek sebahu dengan gaya bob yang trendi, mengenakan kemeja flanel yang digulung sesiku dan celana jeans. Wajahnya terlihat jutek saat diam, tapi begitu melihat Hannah, ekspresinya berubah ramah.
"Kosong kok. Duduk aja," jawab gadis itu santai sambil menggeser tas punggungnya dari kursi.
"Makasih," desah Hannah lega. Ia menghempaskan tubuhnya ke kursi empuk itu.
Aman. Satu masalah selesai.
Namun, keheningan di antara orang asing adalah musuh kedua bagi Hannah. Ia mengeluarkan botol minumnya, berpura-pura sibuk agar tidak terlihat canggung.
"Lo anak Sastra Indonesia juga?"
Suara itu datang dari sebelah kanan. Hannah menoleh. Gadis di sebelah kanannya yang bertanya. Penampilannya berbeda seratus delapan puluh derajat dari gadis berambut pendek tadi. Gadis ini berjilbab rapi sepertinya, mengenakan kacamata bulat bergagang tipis, dan memangku sebuah novel tebal. Wajahnya teduh dan keibuan.
"Eh? I-iya. Aku ambil Sastra Indonesia," jawab Hannah gagap.
"Wah, sama dong!" seru gadis berkacamata itu, matanya berbinar di balik lensa. "Kenalin, aku Sinta. Asal dari Bandung."
Sinta mengulurkan tangan. Hannah menyambutnya dengan ragu namun senang. "Aku Hannah. Asli sini kok, cuma kemarin sempat sekolah di luar kota."
"Sekolah di mana?"
"Di... di Jawa Timur. Pesantren," jawab Hannah jujur, sedikit takut akan reaksi mereka.
Tiba-tiba, gadis berambut pendek di sebelah kiri Hannah ikut mencondongkan tubuh. "Serius lo anak pesantren? Santriwati dong?"
Hannah mengangguk pelan, bersiap menerima tatapan aneh.
"Keren banget, gila!" seru gadis itu heboh, membuat Hannah terlonjak kaget. "Berarti lo jago bahasa Arab dong? Gue Rere, by the way. Panggil aja Re. Gue masuk Sasindo karena gue mau jadi penulis skenario film, tapi nilai bahasa gue ancur semua. Lo harus ajarin gue ya nanti!"
Hannah melongo. Reaksi Rere yang blak-blakan dan antusias sungguh di luar dugaan.
"Salam kenal, Rere," ucap Hannah sambil tersenyum canggung. "Insya Allah, kalau aku bisa bantu."
"Nah, gitu dong senyum," Rere menyenggol bahu Hannah akrab, seolah mereka sudah kenal lama. "Daritadi gue liatin lo berdiri di pintu kayak anak kucing ilang. Bingung ya mau duduk di mana?"
Wajah Hannah memerah lagi karena ketahuan. "Iya. Rame banget soalnya. Aku nggak biasa."
"Tenang aja, Han," Sinta menimpali dengan suara lembutnya. "Kita juga sama kok. Aku juga nggak kenal siapa-siapa di sini. Rere ini baru aku kenal lima menit lalu gara-gara dia pinjam pulpenku terus lupa balikin."
"Ya ampun, Sin. Kan udah gue balikin!" protes Rere sambil tertawa.
Hannah mendapati dirinya ikut tersenyum. Tawa Rere yang renyah dan ketenangan Sinta entah bagaimana membuat benteng pertahanan Hannah runtuh. Rasa takut yang tadi mencekiknya perlahan menguap. Ternyata, mahasiswa lain juga sama manusianya dengan santri di pondok. Mereka juga bingung, mereka juga mencari teman.
Acara pembukaan dimulai. Dosen-dosen bergantian memberikan pidato. Di sela-sela materi yang membosankan, mereka bertiga mulai berbisik-bisik, bertukar cerita receh.
Hannah mengetahui bahwa Rere adalah anak Jakarta yang "diasingkan" orang tuanya kuliah di sini karena terlalu bandel, sedangkan Sinta adalah kutu buku sejati yang bercita-cita menjadi editor penerbit mayor.
Saat sesi istirahat tiba, Rere tiba-tiba mengeluarkan ponselnya.
"Eh, bagi nomor WA dong! Kita bikin grup trio ubur-ubur... eh, jangan deh, jelek. Trio Sastra aja. Biar kalau ada tugas atau info KRS, kita bisa saling kabarin. Males banget kalau harus nanya di grup angkatan yang isinya ratusan orang itu, tenggelam mulu chat-nya."
"Boleh," jawab Sinta antusias.
Hannah merogoh tasnya, mengambil ponsel pintar miliknya ponsel yang dulu jarang ia pegang saat di pondok. Ia membuka kunci layar.
"Nomornya berapa?" tanya Hannah.
Mereka pun saling bertukar nomor. Rere dengan sigap langsung membuat grup WhatsApp baru.
Ting!
Sebuah notifikasi masuk ke ponsel Hannah.
[Anda telah ditambahkan ke grup "Ciwi Ciwi Sasindo"]
Rere: Welcome, Guys! Jangan lupa save nomor gue. Rere Cantik Calon Penulis FTV.
Sinta: Nama grupnya alay banget, Re.
Rere: Biarin, biar membawa hoki.
Hannah menatap layar ponselnya sambil terkekeh pelan. Ada perasaan hangat yang menjalar di dadanya. Perasaan diterima.
Ia teringat ketakutannya pagi tadi. Ia takut sendirian. Ia takut tidak punya teman makan siang. Tapi Allah Maha Baik, Dia mengirimkan dua teman yang, meskipun baru dikenal satu jam, rasanya sudah sangat klop.
Di tengah keasyikan itu, Hannah teringat seseorang. Seseorang yang pasti sedang menunggu kabar darinya dengan cemas di kantornya yang dingin.
Hannah membuka kontak bernama "Mas Akbar" nama kontak Akbar di ponselnya.
Hannah: Assalamualaikum, Mas.
Tidak sampai satu menit, status Akbar berubah menjadi Typing....
Mas Akbar: Wa’alaikumsalam. Gimana, Dek? Sudah istirahat? Lancar?
Hannah mengetik balasan dengan senyum lebar.
Hannah: Alhamdulillah lancar, Mas. Hannah sudah dapat teman duduk. Namanya Rere sama Sinta. Mereka baik, lucu. Kita satu jurusan. Mas jangan khawatir ya.
Mas Akbar: Alhamdulillah. Mas lega dengarnya. Bersenang-senanglah, Humaira. Nanti cerita lengkapnya di rumah ya.
Hannah menutup ponselnya dan memasukannya kembali ke dalam tas. Ia menoleh ke kanan dan kiri. Rere sedang mengunyah permen karet sambil mengomentari outfit kakak tingkat panitia, sementara Sinta sedang membaca ulang brosur jadwal kuliah.
"Han, kantin yuk? Laper nih," ajak Rere.
"Ayuk," jawab Hannah mantap.
Hari pertama kuliah ternyata tidak menakutkan seperti bayangannya. Dengan dua teman baru di sisi kiri dan kanannya, Hannah merasa siap menghadapi dunia kampus yang luas ini. Dan untuk sementara waktu, ia memutuskan menyimpan rahasia kecilnya bahwa ia sudah menikah rapat-rapat. Biarlah ia menjadi Hannah si mahasiswa biasa dulu hari ini, menikmati masa mudanya bersama teman-teman sebayanya.