Ketika Perbedaan status menjadi penghalang hubungan.
"Ethan, bisakah kita hanya akan menjadi Anna & Ethan, tanpa harus nama keluarga mengikuti kita?" tanya Anna berkca-kaca, dia merasa terancam akan kehilangan Ethan setiap saat.
Ethan menyadarkan dagunya, dan memeluk Anna, "aku akan berusaha untuk itu, hanya ada Anna & Ethan...."
"Tetapi Ruan darah dagingmu...."Anna terisak.
"Tetapi kau adalah Jantungku, Anna!"
"...."
Anna Su sadar, kehidupan miskinnya hanyalah debu kotor untuk sepatu Tuan muda Ruan, apalagi kepercayaan Anna Su terhadap cinta Ethan, sangat di uji, berkali-kali Anna dan Ethan harus mengalami tarik ulur kasih sayang.
Ketika, mereka sepakat menjalin hubungan, kembali keluarga besar Ruan, dengan berbagai cara mengakhiri hubungan Anna dan Ethan.
Sanggupkah hubungan perbedaan status ini, tetap berakhir bahagia?
***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eouny Jeje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjadi Batu Cadas
Michael menahan napasnya, dan kembali jatuh ke sofa. Saat ini mungkin Ethan pandai berkata, tetapi keluarga Ruan bukanlah emas yang akan melebur dengan batu kerikil. Michael menyerah, di lain pihak dia sangat mendukung apapun keputusan Ethan dan Anna, di lain pihak, dia telah menebak, hubungan dua orang ini tidak akan mencapai puncak, pasti kan saling tersakiti. Apalagi Nana Su, terlihat seperti harimau betina, yang tidak akan membiarkan anak gadisnya di lukai oleh siapapun.
Baru satu kalimat mengutuk Anna, Nana sudah menghajar Henny hingga terpincang-pincang, bagaimana dengan Ethan yang membawa masuk Anna menerima siksaan keluarga Ruan. Tentu saja, satu pihak di jeruji besi, satu pihak akan berdarah-darah. Membayangkan itu, Michael, dengan waras menentang hubungan ini.
Terlihat makin serius, Michael menarik Ethan lagi, membujuk bodoh, "kita bermain game cacing lagi, aku—"
Ethan tidak tertarik lagi, telah kehilangan minatnya bermain game, dia meninggalkan kamarnya, tetapi di garis pintu, ada Joe yang telah berdiri dengan sangat posisi tegak, seakan-akan dia telah mencuri dengar semua. Tangan pria pengecut itu, tekepal dalam genggaman.
'Bagaimana bisa Tuan muda Ruan, ingin menjadi kerikil penghalang antara diriku dan Anna kembali?' —telan Joe pahit dalam hatinya, empedu kali ini, akan sangat sulit diatasi, jika membiarkan Tuan muda Ruan kembali bertemu dengan Anna yang telah bimbang satu hari, memikirkan wajah suram dan kesedihan adegan tadi pagi. Anna tidak boleh luluh terhadap Tuan muda Ruan.
Dengan tekad, Joe merentangkan tangannya, menghalangi jalan Ethan, seakan-akan Joe sudah tidak bisa menahan silet dalam genggamannya selama ini, dia sudah begitu lama makan hati, cemburu, mengalah dan menyerah. Bisakah dia lebih berani, tidak menjadi pengecut di depan bayang Tuan muda Ruan.
"Pergi! Kenapa kau malah berdiri di pintu? tanya Ethan mengendus-ngendus musuh hati dalam selimut, yang telah di besarkan dalam rumah tangga keluarga Ruan.
"Anda tidak boleh di ijinkan pergi menemui Anna." Joe berkeras menghalang. Dadanya, dia busung ke depan, seakan meminta Ethan boleh bebas memukulnya.
"Kau ingin mati?" tabrak Ethan dengan amarah seperti asap yang akan sebentar lagi memercikan api, sejaka kapan Joe si pengecut, memiliki tatapan berani seperti ini.
Joe linglung sebentar, seakan banyak memiliki pertimbangan, siapa yang harus dipilih, Anna yang jadi wanita yang diinginkan di masa depannya, atau Yuna, ibu kandungnya yang telah berdiri di belakangnya, yang selalu mendorong Joe untuk mengalah kepada Tuan muda Ruan, demi makan.
Pelan, dan rasa gentir, dia membuka mulut ,"Tuan muda Ruan, menjadi batu kerikil adalah sesuatu kebodohan, karena banyak di antara kami, ingin melompat menjadi emas, lebih baik anda pertimbangkan kembali."
Setiap sisi mulut Ethan berkedut, matanya seakan menangkap iris lain dengan arti yang berbeda di mata Joe, dia menangkap leher Joe, membenturkan tubuh pria berkacamata itu menabrak dinding, "katakan yang jelas, jangan berbelit-belit denganku!"
Hentak Ethan Ruan, marah. Michael pergi ke sisi Joe, menahan dan menangkap tangan Ethan, memberi tatapan jangan melukai orang lain, berusaha melerai, menurunkan tekanan api mendidih teman baiknya, Michael sangat mengenal Ethan, bukanlah pria yang mudah mengendalikan emosi, dia pria muda yang mudah terbakar. Apalagi sorot mata Ethan serat kebencian mendengar hal itu—'menjadi batu kerikil adalah sesuatu kebodohan.'
"Kau ingin menertawaiku, atau kau meremehkanku!" cekam Ethan, menghentakan dengan ketat lagi.
Joe tertelan empedu, kapan pengecut berakhir, jika selalu masuk dalam tempurung, diapun menyindir, "Tuan muda Ruan, apa kau tau, kehidupanmu adalah inspirasi banyak anak miskin, yang menginginkan hal sseperti dirimu, naik ke awan sangat sulit. Jadi saya hanya merasa hal ini terlalu munafik, jika Tuan muda Ruan, ingin jatuh ke tanah. Tuan muda Ruan, tidak akan bisa hidup karena punggung yang terinjak—"
Buk!
Ethan tidak mengijinkan Joe berkata lagi. Kacamata pria itu jatuh ke lantai, dan bunyi krek, ketika kaki Ethan menghancurkan dengan satu kali injakan.
"Apa kau menyukai Anna— Anna, milikku!"
Joe terkekeh di lantai. Kehidupan Tuan muda Ruan, adalah inspirasinya, sedangkan Anna adalah tujuan akhirnya. Joe lelah menjadi pengecut dan bersembunyi di belakang punggung Tuan muda Ruan. Masuk tempurung dan menangis, apalagi malam ketika Anna dan Ethan berada di hotel, Joe terpuruk pertama kalinya .
Joe mengutuk dirinya sendiri malam itu, meremas jantungnya yang selalu berdetak hancur. Kini, Tuan muda Ruan bersedia menjadi batu kerikil untuk Anna, itu terdebgar lelucon yang paling menyakitkan sekaligus konyol, "Tuan muda Ruan, anda mungkin bisa hidup tanpa Anna, tetapi anda tidak mungkin hidup tanpa emas dan kuasa telunjuk dan mulutmu... kau membuatku mual! Kau munafik!"
'Kau membuatku mual!kau munafik!'— Ethan turun berjongkok, mendapatkan satu kalimat terakhir, dan mendongakkan wajah Joe menghadap padanya, tetapi... Michael lebih dulu menegekang tubuh Ethan Ruan, menarik mundur pria itu, dengan sekuat tenaga menahan Ethan yang bergeliat dalam kukungan tangannya, tidak mampu menahannya, Michael hanya berbisik sebelum pria itu pergi melepas amarah, "jangan Ethan, jangan emosi! jangan sampai kau menjadikan Joe seperti kehidupan Eron—"
Ethan memejamkan matanya.
Eron!
Pria muda di sekolah S******, tanpa sengaja, pukulan tangannya membuka gerbang kematian yang berada, hal ini menjadi hal tercela, mengajarkan dirinya untuk berhenti meletup seketika. Jangan sampai ada Eron kedua.
Ethan menggelengkan kepalanya, kembali menatap mata Michael, awan sekitar matanya terlihat mendung, "aku tidak melukai Eron! Mengapa kalian selalu mengungkit, aku yang—"
Ethan tidak menyelesaikan kalimatnya. Eron, bukan mati di tangannya. Mengapa semua orang selalu menyebut dirinya?
Michael tercekat sebentar. Dia tanpa sadar membuka kisah hitam Ethan Ruan di kota S******, dia berusaha mengalihkan topik, "tetapi, jangan melukai orang lagi... Anna, tidak akan menyukaimu, jika kau seperti ini!" raih Michael yang perlahan merasakan napas Ethan turun perlahan kebawah, dan naik cepat.
Joe menghapus jejak darah di sudut mulutnya, dia mendesis, dengan tangan terkepal kuat, dia berdiri, dan berteriak lantang, membuat kejutan untuk Tuan muda Ruan, "Tuan muda Ruan, jika kau bersedia menjadi batu kerikil—maka— aku akan bersedia menjadi batu cadas, yang akan pergi melukai kakimu!"
Ethan berbalik, matanya telah menelan cuka, "kau menyukai Anna?"— Ethan mendekat, menangkap bahu Joe—"kau tidak diijinkan!"
Joe menelan pilihanya, menelan harga dirinya yang telah sekian lama menjadi pengecut, dan menjadi bayang-bayang Tuan muda Ruan, dia selalu sering memilih untuk menyimpan dan meremas jantung di siram cuka dalam tangannya, selalu melukai diri sendiri, setiap kali menjadi pengantar pesan untuk Tuan muda Ruan. Tidak, Joe ingin berjuang untuk hatinya sendiri, walau saat ini, kehidupannya bukanlah kehidupan emas, namun dia sanggup menjadi batu cadas.
"Anna sudah memilihku menjadi kekasihnya, setelah menolak Tuan muda Ruan!" teriak Joe terdengar polos dalam satu tembakan langsung memanah tepat jantung Tuan muda Ruan, dengan mata pria berani yang ingin berdiri di sisi Anna, walaupun harus meludahkan kebohongan tajam. Setidaknya, hal ini akan membuat persaingan status, berakhir.
Ethan tercekat, seakan kebohongan yang tampak nyata mengiris-ngiris nadinya, dan membuatnya jantungnya berhenti memompa darah, segenap panca inderanya tumpul sebentar.
"Kau berbohong padaku..." lirih Ethan tidak percaya. Bagaimana bisa Anna memilih Joe daripada dirinya?
(...)