Kita Sama sebagai seorang Abdi Negara, mengabdi untuk Negara tercinta. Dimana dengan seragam yang kita kenakan di baliknya ada sebuah tanggung jawab.
Di balik seragam kita, ada Cinta yang tulus selain untuk Negara , Cinta untuk kamu Abdi Negara pujaan hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puspa Herliyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Perasaan Dan Kenyataan
" Lagian Abang ngapain tanya - tanya masalah hati Saya ke Bang Arka bagaimana. Sekarang Saya tanya sama Abang, apakah masih sayang dan sama rasa nya sama Siska."
" Ya jelas masih sama, terus kamu mau apa?"
" Ya nggak apa - apa, Saya hanya balik tanya saja."
" Arka koruptor, apa kamu akan tetap setia sama Arka? "
Annisa menatap Dimas dengan tatapan tajam, dan Dimas seolah ingin suatu jawaban yang jujur dari mulut Annisa.
" Hanya Bang Arka yang mencintai Saya, di saat Saya rapuh Bang Arka hadir membawa Cinta, walau dia koruptor tapi hatinya baik, dia perhatian tak pernah kasar sekali pun. Dia selalu perlakukan Saya dengan lembut."
Dimas terdiam dan terus menatap ke arah Annisa, diri nya memang tak pernah lembut dan perlakukan Annisa kasar.
" Apakah kata - kata itu untuk Abang?"
" Saya nggak akan pernah lupa malam pertama yang indah itu, Saya jujur terbuai walau permainan Abang kasar, lantas setelah puas Abang buang Saya. Saya tanya sama Abang, sekarang kita sudah cerai, Abang merasakan hilang tidak, ada hanya penyesalan yang sering Abang ucapkan pada Annisa."
Dimas terdiam saat kata - kata Annisa menyudutkan nya, dan menatap tajam ke arah Annisa.
" Kalau Abang katakan jujur kamu mau apa?"
" Tidak ingin apa - apa, tapi sudah lah jangan di bahas Saya sudah tahu kita ini sama - sama lega, Saya bahagia dengan pasangan yang sekarang, Abang juga sama."
*****
" Arka, apa tidak banyak kamu transfer ke rekening Bunda." Ucap Ibu Septi saat melihat notifikasi M - Banking.
" Itu cukup kan untuk tabungan Bunda."
" Lebih dari cukup."
" Uang segini kamu usaha apa sih, kamu punya sampingan ya? "
" Bunda tinggal nikmati saja, Saya dapat uang dari mananya itu tak penting."
" Iya Ibu percaya, yang penting jangan uang haram."
" Kalau sudah di tangan Bunda, yang haram jadi harum."
*******
" Ini boneka Barbie sayang." Ucap Arka sambil menuntun tangan Shakira untuk meraba boneka yang di belikan oleh Arka.
" Pasti cantik." Ucap Shakira sambil meraba wajah boneka Barbie nya.
" Cantik nya seperti Shakira."
" Masa sih Pah? "
" Iya sayang, cantik nya seperti Shakira."
Annisa memandangi kedua nya yang tampak akrab, Arka yang menyayangi Shakira, begitu pun juga Shakira sangat sayang pada Arka.
" Kamu kenapa memandangi seperti itu terus sih Yank?" Tanya Arka.
" Senang aja lihat kalian akrab seperti itu." Jawab Annisa.
" Masa idah kamu sudah lewat, kita tentukan tanggal pernikahan kita? "
Annisa tersenyum ke arah Arka, dan menggenggam tangan Arka dengan menatap lekat kedua mata calon suaminya.
" Saya ingin di hari pernikahan nanti Shakira sudah bisa melihat Bang, bisa ikut bahagia. Kita tunggu sampai mendapatkan donor mata yang cocok untuk Shakira."
" Baik sayang, Abang juga sambil mencari - cari, Abang akan cari donor mata untuk Shakira, walau ke luar negeri pun. "
" Makasih sayang."
*******
Annisa hadir dalam rapat yang di adakan Kepala Desa Patra, di hadiri juga oleh Dimas yang saat itu Dimas sedang berbicara di tengah rapat.
Annisa menatap Dimas yang sedang berbicara, tatapan Annisa sangat bangga melihat mantan suaminya. Tatapan mata Annisa tak lepas dari sorot mata Pak Bowo, yang menatap ke arah Dimas.
" Itu saja pengarahan dari Saya, terima kasih." Ucap Dimas .
Dimas berjalan ke arah Pak Bowo, dan duduk di samping nya dengan posisi di tengah - tengah membatasi antara Annisa dan Pak Bowo.
****
" Bu Annisa bisa bicara sebentar empat mata?"
" Ada apa ya Pak, maaf kalau Mau bicara disini saja." Ucap Annisa
" Kenapa kamu seperti menghindar dari Saya, apa kamu tidak suka sama saya?" Ucap Pak Bowo.
" Maaf Pak Saya ini sudah punya tunangan."
" Apa seorang Koruptor seperti Camat Muda itu."
Annisa menatap ke arah Pak Bowo lalu tersenyum sinis ke arah nya.
" Kalau Bang Arka seorang koruptor, lantas Pak Bowo bukan nya seorang penjahat yang masih dengan leluasa berkeliaran tapi berlindung di bawah ketiak sang koruptor." Annisa pergi meninggalkan Pak Bowo yang mengepalkan kedua tangan nya.
Saat Dimas akan menaiki motor nya Annisa menahan Dimas, dan membuat Dimas terkejut.
" Saya ikut Bang, belikan Saya cokelat."
Dimas mengangguk pelan, dan Annisa langsung duduk di atas motor Dimas, kejadian itu tak lepas dari tatapan tajam pak Bowo.
" Mobil kamu bagaimana?"
" gampang."
Motor pun melaju menuju ke sebuah mini market, selama di perjalanan Annisa hanya dia dengan melipat kedua tangan nya di dada.
" Mau cokelat nya berapa?" Tanya Dimas saat sudah sampai di depan mini market.
" Terserah Abang, Saya lagi stres." Jawab Annisa.
Setelah beberapa menit membeli cokelat, Dimas pun menyerahkan kantong kresek pada Annisa.
" Sekarang mau kemana? "
" Ingin melihat pemandangan dari atas bukit."
" Ok, jalanan terjal pegangan ya." Ucap Dimas namun tak di hiraukan oleh Annisa.
*****
Annisa memakan cokelat nya hingga sudah habis 4 batang cokelat, yang berlapis kacang mete di dalam nya.
" Enak? " Tanya Dimas.
" Enak.' Jawab Annisa.
" Nggak gemuk?"
" Gemuk biarin."
Dimas tertawa saat mendengar ucapan Annisa, dan menatap mantan istri nya yang sedang memakan cokelat kesukaannya.
" Kamu kenapa? "
" Memang benar yang di katakan Pak Bowo, Arka koruptor dan dia pun mengetahui,dan Arka ingin segera menikah dengan Saya, tapi Saya takut saat bahagia dia akan pergi meninggalkan saya."
Hiks... hiks.. hiks...
Annisa menangis sejadi - jadi nya, Dimas yang melihat nya langsung menarik bahu Annisa menyandarkan kepalanya di dada Dimas.
" Menangis lah disini tidak ada siapa - siapa, anggap Saya adalah patung."
Hiks... hiks... hiks...
" Kenapa harus Arka Bang yang terlibat hiks... hiks.. "
" Arka mungkin khilaf tapi kamu pernah bilang dia sangat perhatian dan sayang sama kamu, apa kamu sekarang merasakan akan kehilangan nya, berarti kamu benar - benar mencintai nya."
Annisa memeluk tubuh Dimas dengan refleks, tangisnya pecah dengan di benamkan di dada milik Dimas.
" Apakah Saya tidak bisa bahagia Bang, cukup Saya tersakiti oleh Abang sudah sangat sakit Bang, Saya ingin selalu di cintai, di sayang setiap hari bukan untuk menikmati hari - hari bahagia untuk hitungan waktu."
Hiks... hiks... hiks...
" Maaf kan Abang, bila membuat kamu jadi seperti ini. Abang minta maaf."
Dimas mendekap tubuh Annisa yang masih menangis, Dimas pun merasa sangat bersalah atas diri nya dahulu hingga membuat Annisa merasa takut untuk mencintai dan hanya ingin di cintai untuk saat ini."
****
" Saya ingin tahu kenapa Aldo sama Jhoni bisa hilang? "
" Saya tidak tahu Bos, mereka hilang begitu saja."
" Kalian tidak menyelidiki ke kantor Polisi, mungkin mereka tertangkap."
Pak Bowo menatap ke arah Arka, dan Arka tersenyum sinis ke arah anak buah nya.
" Dasar otak lemot, seharusnya mikir ke arah Sana." Ucap Arka.