Judul: White Dream With You
Sinopsis:
Sarendra selalu merasa dirinya tidak cukup menonjol. Dengan postur yang sedikit bungkuk dan rambut belah tengahnya yang rapi, ia lebih suka tenggelam dalam deretan angka di jurusan Akuntansi SMK Pamasta daripada harus berurusan dengan keramaian. Namun, sebuah insiden tali rafia yang putus di bawah terik matahari Surabaya mempertemukannya dengan Vema—gadis TKJ yang aromanya seperti sabun bayi dan keberaniannya setinggi langit.
Apa yang dimulai dari bantuan kecil di bawah pohon kersen, tumbuh menjadi rasa yang perlahan namun pasti. Butuh waktu tujuh bulan bagi Rendra untuk mengumpulkan keberanian, dan bagi Vema untuk membuka pintu hatinya. Mereka adalah dua kutub yang berbeda, namun saling menguatkan di tengah rintangan yang datang silih berganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cokocha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Limitasi Kekuatan Merah
Sarendra berdiri di pinggir lapangan, mengenakan rompi merah bernomor punggung dua belas yang sedikit kebesaran di tubuhnya. Ia bisa merasakan tatapan tajam Netta dari tribun—tatapan yang antara cemas dan tidak percaya melihat temannya yang biasa berkutat dengan kalkulator kini bersiap melakukan kontak fisik.
"Ren, ingat! Jangan terlalu dekat sama Riko kalau dia lagi dribble," bisik Bagas yang menjadi pemain inti. "Dia mainnya pake sikut, bukan cuma kaki."
Rendra mengangguk pelan. Namun, matanya tidak pada bola. Matanya tertuju pada Vema yang duduk di bangku cadangan lawan. Vema tampak tidak tenang. Ia terus-menerus meremas ujung handuknya, dan sesekali matanya melirik ke arah tas hitam yang tergeletak di bawah kursinya.
Pertandingan berjalan panas. Anak-anak TKJ mendominasi dengan kecepatan dan kekuatan fisik. Riko, sang kapten, bergerak seperti badai. Ia mencetak angka demi angka dengan mudah. Saat pergantian pemain di kuarter kedua, pelatih Akuntansi memberi kode pada Rendra untuk masuk menggantikan pemain yang cedera ringan.
Langkah Rendra masuk ke lapangan disambut sorakan-sorakan dari siswi Akuntansi, tapi dibalas dengan tawa ejekan dari tribun TKJ.
"Eh, ada anak buku besar masuk lapangan," sindir Riko saat mereka berpapasan di garis tengah. "Hati-hati, Dek. Di sini nggak ada penghapus kalau kamu salah langkah."
Rendra tidak menjawab. Ia mengatur napas, mencoba meluruskan postur bungkuknya semaksimal mungkin. Saat permainan kembali dimulai, Rendra sengaja membuntuti Riko. Ia tidak peduli pada bola; ia hanya ingin berada cukup dekat untuk mendengar apa pun.
Keanehan itu muncul saat terjadi time-out singkat. Riko berjalan ke pinggir lapangan, menghampiri Vema. Rendra yang berpura-pura membetulkan tali sepatunya di dekat sana, menajamkan pendengarannya.
"Vem, tasnya. Sekarang," perintah Riko, suaranya rendah tapi menekan.
Vema menggeleng cepat. "Belum waktunya, Ko. Ibumu bilang nanti malam, bukan sekarang. Di sini terlalu ramai."
"Aku nggak peduli! Stamina aku habis. Kasih bungkusan yang di dalam itu sekarang, atau aku bilang ke Ibuku buat batalin pesanan bulan depan," ancam Riko.
Vema tampak gemetar. Dengan gerakan sangat pelan dan sembunyi-sembunyi, ia merogoh tas hitam itu. Ia mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan berwarna merah pekat yang sangat gelap—hampir hitam. Riko menyambarnya, mencampurnya ke dalam air mineralnya, lalu meminumnya dalam sekali tegak.
Seketika, Rendra melihat sesuatu yang mustahil.
Saat cairan itu masuk ke tubuh Riko, suhu di sekitar mereka seolah turun beberapa derajat. Bayangan di bawah kaki Riko tampak memanjang dan bergetar, padahal matahari sedang tepat di atas kepala. Mata Riko yang tadinya lelah, mendadak berkilat dengan warna kemerahan yang tipis.
Riko kembali ke lapangan dengan energi yang meledak-ledak. Ia menabrak siapa pun yang menghalanginya. Rendra mencoba menghadang, namun saat bahu mereka bersentuhan, Rendra merasakan sensasi dingin yang menyengat, seolah ia baru saja menabrak balok es yang dialiri listrik. Rendra terpental jatuh ke semen lapangan.
"Rendra!" teriak Netta dari tribun.
Vema berdiri dari bangkunya, wajahnya penuh ketakutan. Ia menatap Rendra dengan tatapan "pergi dari sana!".
Rendra berusaha bangkit, lututnya berdarah, tapi matanya tetap fokus pada Riko yang kini tertawa puas setelah melakukan slam dunk yang sangat keras. Rendra menyadari satu hal yang mengerikan: Tas-tas yang dijahit ibu Vema bukanlah sekadar wadah. Itu adalah kedok untuk mendistribusikan "suplemen gaib" kepada siswa-siswa tertentu yang haus akan kekuatan.
Di tengah sorakan penonton yang buta akan apa yang terjadi, Rendra berdiri tegak. Ia tidak lagi peduli pada skor pertandingan. Ia melirik ke arah tribun, memberi kode pada Bagas dan Netta.
Permainan yang sebenarnya baru saja dimulai.
...****************...
Pertandingan menyisakan kurang dari sepuluh menit. Di papan skor, XII TKJ 2 masih unggul tipis, tapi atmosfer di lapangan sudah tidak lagi terasa seperti pertandingan olahraga biasa. Suhu udara di sekitar area ring lawan terasa turun drastis, sementara Riko bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal bagi manusia seukurannya.
Rendra, yang napasnya sudah tersengal-sengal dan paru-parunya terasa terbakar, menyadari sesuatu. Kalkulasi. Setiap kali Riko melakukan gerakan eksplosif, otot-otot lengannya bergetar hebat.
"Suplemen" merah itu memang memberi kekuatan, tapi tubuh Riko mulai menolak beban gaib yang terlalu besar.
"Gas! Jangan kasih dia napas! Paksa dia lari terus!" teriak Rendra pada Bagas.
Bagas, meski bingung melihat Rendra yang biasanya pendiam jadi begitu vokal, tetap menurut. Selama tujuh menit sisa waktu, Rendra mengatur strategi "kucing dan tikus". Ia tidak mencoba merebut bola secara kasar, melainkan memancing Riko untuk terus berlari zig-zag, memaksanya melakukan manuver-manuver tajam yang menguras energi.
Sisa tiga menit, wajah Riko mulai membiru. Keringat yang menetes dari dahinya berwarna keruh. Saat Riko hendak melakukan dribble terakhir untuk mengakhiri pertandingan, Rendra berdiri diam tepat di jalur lintasan Riko—posisi charging yang sempurna.
Brak!
Riko yang kehilangan kendali karena sarafnya sudah "terbakar" energi merah itu, menabrak Rendra hingga keduanya terpental. Peluit wasit melengking nyaring. Offensive foul kelima untuk Riko. Sang kapten TKJ harus keluar lapangan di menit-menit krusial.
Tanpa Riko, tim TKJ kehilangan arah. Rendra memanfaatkan sisa waktu dengan operan-operan akurat yang membuahkan angka. Saat peluit panjang berbunyi, tim Akuntansi menang tipis. Tribun Akuntansi meledak dalam sorakan kemenangan yang mengguncang gedung, namun Rendra tidak ikut melompat. Matanya langsung menangkap sosok Vema yang menyelinap pergi dengan tas hitamnya menuju belakang Lab TKJ.
Tanpa memedulikan teriakan kemenangan Netta, Rendra lari mengejar.
Langkah kaki Rendra menggema di selasar sunyi belakang Lab TKJ. Di sana, di antara tumpukan besi tua dan lilitan kabel yang tak terpakai, ia menemukan Vema. Gadis itu sedang berjongkok, mencoba menyembunyikan botol kecil yang tadi diberikan pada Riko ke dalam jahitan rahasia di tasnya.
"Vem, berhenti," napas Rendra memburu, sikutnya berdarah karena jatuh tadi.
Vema terjengit, ia berdiri dengan wajah ketakutan. "Dra, aku sudah bilang... pergi dari sini. Tadi itu cuma... Riko cuma kelelahan."
"Aku bukan anak kecil, Vem! Aku lihat bayangannya bergetar!" seru Rendra. Ia melangkah maju,
memojokkan Vema ke dinding beton yang lembap. "Katakan, apa yang sebenarnya ada di dalam tas-tas itu? Kenapa kamu harus melakukan ini?"
Vema menunduk, air mata mulai mengalir. "Aku nggak punya pilihan, Dra. Ibu bilang ini cara kita bertahan hidup. Tas-tas ini... mereka pembawa 'janji'. Riko dan anak-anak lain itu, mereka yang minta sendiri!"
"Tapi itu ngerusak mereka, Vem!"
"Memang," sebuah suara berat dan serak menyela dari kegelapan pintu lab.
Riko berdiri di sana. Seragamnya berantakan, dan yang mengerikan, urat-urat di lehernya menonjol berwarna kehitaman seperti akar pohon yang mati. Pengaruh cairan merah itu belum hilang; ia justru terlihat makin beringas karena harga dirinya hancur dikalahkan anak Akuntansi.
"Kamu terlalu banyak bicara buat ukuran anak yang cuma jago hitung angka, Sarendra," geram Riko. Setiap pijakannya ke lantai semen seolah meninggalkan hawa dingin yang menusuk.
Vema langsung pasang badan di depan Rendra. "Riko, berhenti! Nanti malam pengaruhnya hilang, tolong jangan sekarang!"
"Tenang?" Riko tertawa, suara tawa yang terdengar seperti dua suara yang bertumpuk. "Aku baru saja dipermalukan oleh si bungkuk ini. Berikan botol satunya, Vem. Sekarang! Aku tahu masih ada satu di tas itu!"
"Nggak ada lagi, Ko!" teriakan Vema pecah.
Riko tidak peduli. Ia menerjang maju dengan kecepatan yang sama seperti di lapangan tadi. Rendra mencoba menarik Vema menjauh, namun tangan Riko yang besar berhasil mencengkeram kerah baju Rendra, mengangkatnya hingga kakinya menggantung.
Di saat itulah, Rendra melihat dari jarak dekat: pupil mata Riko sudah lenyap, hanya tersisa kabut merah pekat yang memancarkan kebencian murni.
Cengkeraman Riko di kerah baju Rendra terasa seperti catut besi. Rendra bisa merasakan panas napas Riko yang berbau karat, kontras dengan kulit tangannya yang sedingin mayat. Di atas mereka, lampu selasar yang remang berkedip-kedip tidak stabil, seolah ikut terpengaruh oleh energi gelap yang meluap dari tubuh kapten basket itu.
"Lepasin, Ko! Kamu bisa bunuh dia!" jerit Vema. Ia mencoba menarik lengan Riko, tapi tenaganya tidak ada apa-apanya dibanding kekuatan gaib yang sedang merasuki pemuda itu.
"Dia... dia sudah ambil kemenangan aku, Vem," geram Riko. Suaranya kini bukan lagi suara manusia, melainkan geraman rendah yang menggetarkan dada. "Anak Akuntansi ini harus tahu rasanya kehilangan sesuatu yang berharga."
Rendra terbatuk, wajahnya mulai membiru karena kekurangan oksigen. Namun, di tengah kepanikannya, otaknya yang terbiasa dengan keteraturan mulai bekerja. Ia melihat ke arah saku celana olahraga Riko yang menyembul—ada botol plastik air mineral yang tadi dicampur cairan merah.
"Kalkulasi... kamu... kelebihan dosis," bisik Rendra terbata-bata, menatap tepat ke kabut merah di mata Riko.
Riko menggeram lebih keras, hendak melayangkan tinjunya ke wajah Rendra. Namun, sebelum pukulan itu mendarat, Vema melakukan sesuatu yang tidak terduga. Ia merobek tas hitamnya sendiri dengan paksa. Dari jahitan rahasia di dalamnya, ia mengeluarkan sebuah jarum jahit panjang milik ibunya yang sudah dililit benang hitam pekat.
"Riko, lihat aku!" teriak Vema.
Saat Riko menoleh, Vema menusukkan jarum itu ke bayangan Riko di lantai, bukan ke tubuh fisiknya.
Seketika, Riko mematung. Matanya membelalak. Sebuah teriakan tanpa suara keluar dari mulutnya saat tubuhnya mendadak lemas dan ia melepaskan cengkeramannya pada Rendra. Rendra jatuh terduduk, terengah-engah menghirup udara sebanyak mungkin.
Rendra terbatuk, wajahnya mulai membiru karena kekurangan oksigen. Namun, di tengah kepanikannya, otaknya yang terbiasa dengan keteraturan mulai bekerja. Ia melihat ke arah saku celana olahraga Riko yang menyembul—ada botol plastik air mineral yang tadi dicampur cairan merah.
"Kalkulasi... kamu... kelebihan dosis," bisik Rendra terbata-bata, menatap tepat ke kabut merah di mata Riko.
Riko menggeram lebih keras, hendak melayangkan tinjunya ke wajah Rendra. Namun, sebelum pukulan itu mendarat, Vema melakukan sesuatu yang tidak terduga. Ia merobek tas hitamnya sendiri dengan paksa. Dari jahitan rahasia di dalamnya, ia mengeluarkan sebuah jarum jahit panjang milik ibunya yang sudah dililit benang hitam pekat.
"Riko, lihat aku!" teriak Vema.
Saat Riko menoleh, Vema menusukkan jarum itu ke bayangan Riko di lantai, bukan ke tubuh fisiknya.
Seketika, Riko mematung. Matanya membelalak. Sebuah teriakan tanpa suara keluar dari mulutnya saat tubuhnya mendadak lemas dan ia melepaskan cengkeramannya pada Rendra. Rendra jatuh terduduk, terengah-engah menghirup udara sebanyak mungkin.
"Vem... apa yang..." Rendra menatap jarum yang tertancap di semen itu dengan ngeri.
"Lari, Dra! Tolong, pergi sekarang!" Vema memegang jarum itu dengan tangan gemetar, seolah ia sedang menahan beban yang sangat berat agar Riko tidak bisa bergerak. "Jarum ini nggak akan tahan lama. Dia bakal sadar sebentar lagi!"
Rendra tidak bergerak. Ia melihat betapa menderitanya Vema; wajah gadis itu kini sama pucatnya dengan Riko, dan keringat dingin membanjiri pelipisnya. Sifat people pleaser Vema telah berubah menjadi pengorbanan yang berbahaya
."Aku nggak akan ninggalin kamu sendirian sama monster ini!" seru Rendra. Ia berdiri, meski kakinya masih lemas. Ia menemukan botol bekas dan berisi sedikit air. Ia langsung mengambil botol bekas itu, lalu melantunkan beberapa doa ke air yang ada didalam botol bekas itu. Rendra menyiramkan air itu ke arah wajah Riko. Sesaat, kabut merah di mata Riko memudar, digantikan oleh ekspresi kesakitan yang manusiawi.
"Vem, cabut jarumnya! Sekarang!" perintah Rendra.
Vema mencabut jarum itu, dan Riko langsung jatuh pingsan tak sadarkan diri di lantai lab yang dingin. Suasana mendadak menjadi sangat sunyi. Hanya terdengar suara napas Rendra dan Vema yang tidak beraturan.
Di ujung koridor, terdengar suara langkah kaki cepat dan teriakan nyaring.
"Rendra! Vema! Kalian di mana?!" Itu suara Netta. Ternyata dia dan Bagas tidak tinggal diam dan berhasil melacak keberadaan mereka.
Vema menatap Rendra dengan tatapan hancur. "Kamu seharusnya nggak lihat ini, Dra. Sekarang kamu nggak akan pernah bisa lihat aku sebagai Vema yang biasa lagi."
Netta dan Bagas muncul di belokan koridor, mereka berhenti mendadak saat melihat Riko terkapar dan kondisi Rendra yang berantakan.
"Astaga, Rendra! Kamu habis baku hantam sama setan atau gimana?!" teriak Bagas panik.
Netta langsung menghampiri Vema, melihat tas yang robek dan jarum di tangannya. Netta tidak bertanya banyak; instingnya sebagai teman tahu bahwa ini bukan saatnya untuk menghakimi. Ia langsung melepas jaket Akuntansinya dan menyampirkannya ke bahu Vema yang gemetar.
"Kita keluar dari sini. Sekarang," ucap Netta tegas.
ada apa dgn vema
lanjuuut...