Tama datang dengan satu tujuan: menjaga Lengkara.
Bukan untuk dimiliki, apalagi diperebutkan—cukup memastikan gadis itu baik-baik saja.
Namun mendekati Lengkara tak sesederhana rencananya.
Saat Tama sibuk mencari cara supaya selalu ada di dekat Lengkara, justru Sasa muncul tanpa aba-aba. Terlalu berisik, terlalu berani, dan terlalu sering menyebut namanya seolah mereka sudah sedekat itu.
Ironisnya, Sasa adalah adik dari laki-laki yang terang-terangan disukai Lengkara.
“Bang, 831 gimana? Yes or no?” Sasa menatapnya penuh harap.
Tama mendengus, menahan senyum yang tak seharusnya ada. “Apaan sih, nggak jelas banget!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prestasi
Semula niatnya masuk rumah, gara-gara rumah tetangga terlihat lebih ramai, Sasa memilih masuk kesana. Rupanya kedua orang tuanya nampang serius entah sedang membicarakan apa. Sasa menyalami semua yang ada di ruang tamu. Penasaran tapi memilih duduk di pojokan bersama Ridwan yang seperti biasa sibuk dengan ponselnya.
"Heboh banget pada ngebahas apa sih? kenapa bawa-bawa BK segala?" tanya Sasa.
"Biasa, masalah kakak gue sama kakak lo." jawab Ridwan singkat.
"Kenapa lagi mereka?"
Ridwan hanya mengedikkan bahunya.
Belum selesai mengintrograsi Ridwan, Sasa dibuat kaget oleh bentakan mami Jesi. Sasa makin mepet duduk ke Ridwan. Matanya menatap lekat kakak dan calon kakak iparnya yang baru saja pulang. Keduanya langsung mendapat omelan panjang lebar.
"Mi, kenapa rame banget? Kok pada ngumpul di sini? Ada Om Karak juga, padahal ulang tahun Kara kan besok." Tanya Kara bingung. "Om tahun ini jangan ngasih kado kaktus lagi yah, tujuh belas tahun kadoin black card dong biar Kara nggak miskin lagi." Lengkara bersikap santai saja meski maminya sudah ngomel.
"Kara jangan pengalihan isu kamu yah. Nggak ngerasa salah kamu sama Mami?" Sela Jesi "Kamu juga Dirga! Bisa-bisanya!" Lanjutnya.
"Tadi aku ada tugas dari sekolah dulu, Mi. Makanya pulangnya kesorean, Kara udah aku suruh pulang duluan tapi nggak mau, malah main di rumah Selvia." Jawab Dirga yang mengira Mami Jesi marah karena anaknya pulang teramat telat.
"Mommy juga kecewa sama kamu, Dirga." Sambung Mommy Miya. "Daddy juga kecewa, iya kan?" Lanjutnya pada Ardi yang hanya menghela nafas panjang. Sejak siang tadi Ardi sudah ketularan Rama yang sebentar-sebentar menghela nafas panjang karena sikap istrinya. Usai mengetahui jika anak mereka di panggil BK gara-gara masalah vidio nyatakan cinta.
"Sasa juga kecewa sama Kak Dirga, Mom." Sambung Sasa yang duduk di pojokan tak mau ketinggalan ikut nimbrung, bibirnya tersenyum sinis mengejek kakaknya meski tangannya terus aktif menyentuh layar ponsel Ridwan hingga anak lelaki itu pun menghela nafas panjang.
"Maaf karena udah bikin Mommy masuk ruang BK. Aku lepas kontrol." Jawab Dirga. "Mami juga jangan nyalahin Kara, semuanya salah aku." Lanjutnya pada Mami Jesi.
"Salah kalian berdua! Bisa-bisanya kalian baikan nggak bilang sama Mami?" Ucap Jesi. "Kara juga kenapa di telepon nggak ngangkat? Kesel mami sama kalian!"
"Kara kira Mami mau marah gara-gara Kara bohong, jadi sengaja nggak Kara jawab teleponnya." Jawab Kara. "Mami nggak marah sama kita?"
"Mami sama Mommy justru bangga banget sama kalian, Kaleng." Sasa yang sudah puas membuat Ridwan kesal beranjak bangun dari tempatnya dan ikut duduk lesehan dengan Kara dan Dirga di bawah.
"Terutama sama Kak Dirga, Mommy bangga banget." Sasa mengacungkan kedua jempolnya untuk Dirga.
"Sasa juga mau ngikutin kayak Kak Dirga ah. Mau nembak cowok, di vidioin biar di panggi guru BK dan bikin mommy sama daddy bangga." Lanjut gadis itu yang langsung dihadiahi sentilan kening oleh Dirga.
"Nggak boleh ditiru!" Ucap Dirga.
"Tapi kan Sasa juga pengen bikin Mommy sama Daddy bangga." Protes gadis itu.
"Sasa mau nembak dia tapi udah di tolak, ntar coba lagi deh. Eh tapi Sasa nggak satu sekolahan sama dia jadi nggak bisa dipanggil sama guru BK dong." Sasa mengangguk sendiri memahami kesulitannya dalam rangka membanggakan kedua orang tua, namun bukan Sasa namanya jika tak punya solusi instan.
"Rid, besok kita mengukir prestasi bersama yuk! Besok Sasa nembak di kantin yah."
Ridwan hanya bergidig ngeri mendengar ocehan Sasa. Sementara Ardi memilih keluar dan berpindah mengobrol di taman belakang saja bersama Rama dan Raka dari pada terlalu lama di ruang tamu malah membuat mereka bertiga menghela nafas panjang berjamaah.
Obrolan mereka berakhir saat Jesi memanggil semuanya untuk makan malam. Selama makan malam Rama terus memperhatikan anak dan calon mantunya saling melempar senyum malu-malu dan membuatnya kembali menghela nafas panjang.
"Kara besok ultahnya di cafe mommy aja, boleh undang semua temen-temen sekolah kamu. Sama besok kasir voucher makan gratis ke bu Irma supaya di bagiin ke guru-guru. Siangnya acara makan-makan guru kalian, malemnya acara ultah sama temen-temen kalian." Ujar Mommy Miya.
"Set loveware jangan lupa kirim ke cafe kak Miya besok yah, Karam." Sambung Jesi.
Rama hanya mengangguk setuju, mau bagaimana lagi kalo ibu ratu sudah mengeluarkan perintah tak bisa dibantah dari pada nggak dapat jatah.
"Mau sekalian bagi-bagi kaktus nggak, aqua gelas? Ntar gue minta my baby ngirim kaktus ke cafe Miya." Tawar Raka.
"Wah boleh banget itu, Om Karak. Guru-guru Kara yang perempuan pada suka kaktus mini yang dari toko tante Ale-ale." Timpal Kara.
"Oke besok Om kirim. Itung-itung sovenir hari jadian kalian." Balas Raka.
"Kalo gitu daddy juga nggak mau kalah." Ardi mengeluarkan dompetnya dan mengambil black card kemudian memberikannya pada Kara. "Calon mantu daddy bebas beli apapun. Spesial ulang tahun Kara, bebas pake black card daddy dua puluh empat jam."
Kara langsung menerima black card itu dengan senyum merekah, "Wah Kara jadi sultan sekarang." Ucapnya seraya memamerkan black card milik Ardi.
"Daddy, Sasa juga mau pinjem black card daddy dong." Rengek Sasa yang sudah tak lagi duduk di tempatnya, gadis itu berdiri di samping Kara dan ikut memandangi benda sultan itu.
"Bocil jajan kinder joy aja, jangan pengen pake black card segala. Ntar gue kasih gocap dah buat lo, Cin." Ledek Kara.
"Jomplang bener dah, Kaleng dipinjemin black card masa Sasa cuma mau dikasih lima puluh ribu doang!" Sasa makin cemberut merasa terdzalimi. Didalam hatinya makin tertanam kuat niat untuk mengukir prestasi sama seperti Kakaknya, supaya membanggakan mommy Miya dan kali aja dapat black card juga.
beat aja dah bagus micin
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍