Dua puluh kavaleri elit musuh terus bergerak mendekati lokasi persembunyian Aslan tanpa menyadari maut yang menanti. Pangeran itu telah menyiapkan jebakan mematikan melalui perhitungan sistem yang menjamin kemenangan mutlak bagi dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HUUAALAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Aslan duduk di atas dipan kayu yang keras di dalam sebuah tenda kecil. Matanya menatap kosong ke depan, namun di sudut penglihatannya, sebuah antarmuka transparan terus memperbarui grafik status mental Jenderal Elara.
"Sistem, berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai tingkat kepercayaannya mencapai lima puluh persen?" bisik Aslan nyaris tak terdengar.
[Estimasi: Bergantung pada bukti fisik pertama. Tanpa bukti nyata, tingkat kepercayaan akan stagnan pada tiga puluh lima persen.]
Tiba-tiba kain tenda tersingkap. Seorang prajurit wanita masuk membawa nampan berisi roti gandum dan air. Ia meletakkannya dengan kasar di atas meja kayu.
"Makanlah, Pangeran. Jenderal tidak suka tawanan yang mati kelaparan sebelum bisa diinterogasi lagi," ucap prajurit itu dengan nada ketus.
Aslan tidak menyentuh makanan itu. Ia berdiri dan menatap ke arah dinding tenda sebelah barat. "Sampaikan pada Elara, mata-mata Paman Kael sudah berada dalam radius lima kilometer dari kamp ini."
Langkah prajurit itu terhenti. Ia berbalik dengan kerutan dalam di dahinya. "Apa maksudmu? Penjaga kami tidak melaporkan adanya pergerakan apa pun."
"Instingku tidak pernah salah soal ini. Aku bisa merasakan kehadiran mereka dari arah lembah," jawab Aslan dengan nada meyakinkan.
[Peringatan: Enam tanda panas terdeteksi mendekati perimeter barat. Pola pergerakan menunjukkan Unit Elit Penunggang Harimau Putih.]
Aslan melangkah maju hingga berdiri tepat di depan prajurit tersebut. "Jika kalian tidak segera bertindak, kamp ini akan terbakar sebelum fajar menyingsing. Beritahu Jenderal kalian untuk memeriksa lereng bukit sekarang juga."
Prajurit itu tampak ragu sejenak. Namun, melihat sorot mata Aslan yang sangat tenang dan dingin, ia akhirnya berlari keluar untuk melapor. Tidak lama kemudian, Jenderal Elara masuk ke dalam tenda dengan langkah terburu-buru.
"Dari mana kau mendapatkan informasi soal penyusupan itu?" tanya Elara sambil memegang hulu pedangnya.
"Aku mengenal taktik mereka. Mereka selalu menyerang dari titik buta di sisi barat saat kabut turun," sahut Aslan dengan wajah datar.
Elara menatap Aslan selama beberapa detik, mencoba mencari tanda-tanda kebohongan. Ia kemudian memberikan instruksi kepada ajudannya. "Kirim tim dua ke perimeter barat. Segera!"
"Apa rencanamu setelah mereka benar-benar ditemukan, Jenderal?" tanya Aslan.
Elara tersenyum tipis. "Jika prediksimu benar, aku akan memberimu kesempatan untuk memimpin serangan balik. Aku ingin membuktikan sendiri apakah kau memang sehebat yang dikatakan orang-orang."
[Status: Tingkat kepercayaan Jenderal Elara meningkat menjadi empat puluh persen. Misi Taktis baru tersedia: Pertahanan Kamp Serigala Perak.]
Aslan mengencangkan sabuk senjatanya tanpa suara. Ia tahu bahwa satu kesalahan kecil dalam memberikan informasi akan membuat kepalanya terpisah dari pundaknya.
Tak lama berselang, suara terompet peringatan menggema di seluruh kamp. Seorang pengintai berlari masuk dengan napas tersengal. "Jenderal, laporan pangeran benar. Enam penunggang Harimau Putih terlihat di kaki bukit barat!"
Elara segera menoleh ke arah Aslan. "Kau benar. Sekarang tunjukkan bagaimana caramu menghentikan mereka tanpa memicu perang terbuka dengan Kael."
"Kita tidak perlu memicu perang. Kita hanya perlu memastikan mereka tidak pernah kembali," jawab Aslan sambil melangkah keluar tenda.
Di luar, pasukan Serigala Perak sudah bersiaga dengan senjata mereka. Aslan memejamkan mata sejenak, membiarkan sistem memetakan rute penyergapan yang paling efisien di kepalanya.
"Gunakan pemanah di posisi tinggi, tapi jangan lepaskan anak panah sebelum aku memberi aba-aba," perintah Aslan kepada komandan regu terdekat.
"Siapa kau berani memerintah kami?" hardik salah satu prajurit besar.
"Dia yang akan memastikan kalian tetap hidup malam ini," potong Elara dengan suara tegas. "Ikuti perintahnya."
Aslan bergerak menuju perbatasan kamp yang gelap. Ia memposisikan dirinya di balik rimbun semak-semak, menunggu musuh masuk ke dalam jebakan yang sudah ia susun berdasarkan analisis kecepatan kuda lawan.
[Target terdeteksi. Jarak lima puluh meter. Kecepatan angin rendah. Peluang keberhasilan penyergapan total: sembilan puluh dua persen.]
"Sekarang," bisik Aslan saat bayangan pertama muncul dari balik kabut.
Hujan anak panah meluncur tanpa suara dari arah tebing, tepat mengenai kuda-uda para penyusup. Dalam sekejap, kekacauan pecah di lereng bukit tersebut.
Aslan berlari keluar dari persembunyiannya dengan kecepatan yang ditingkatkan oleh sistem. Pedangnya berkilat di bawah cahaya bulan, menebas musuh pertama bahkan sebelum pria itu sempat mencabut senjatanya.
"Tangkap pemimpin mereka hidup-hidup," teriak Aslan sambil menghindari sabetan pedang lawan dengan gerakan yang sangat presisi.
Pertempuran itu berlangsung singkat namun mematikan. Unit elit yang dikirim Kael tidak menyangka akan menghadapi taktik pertahanan seakurat itu di wilayah perbatasan yang seharusnya tidak terjaga.
Elara berjalan mendekati Aslan yang sedang membersihkan darah di pedangnya. "Aku harus mengakui, kau bukan sekadar pangeran manja yang melarikan diri."
"Ini baru permulaan, Jenderal. Masih banyak yang harus kita lakukan jika kau benar-benar menginginkan wilayah utara itu," balas Aslan tanpa ekspresi.
[Status: Tingkat kepercayaan Jenderal Elara mencapai lima puluh lima persen. Aliansi sementara telah terbentuk.]
Beberapa jam setelah pertempuran berakhir, Elara mengundang Aslan ke tenda pribadinya. Sebuah papan catur kayu dengan bidak-bidak perak dan hitam sudah tersaji di atas meja.
"Kemenangan di lereng bukit tadi membuktikan instingmu tajam, tapi perang sesungguhnya melibatkan lebih dari sekadar penyergapan," ucap Elara sambil menggerakkan pion putihnya. "Mari kita lihat bagaimana kau mengelola kekuasaan."
Aslan duduk di hadapan Elara. Ia memindahkan bidak kudanya tanpa ragu. "Catur adalah tentang pengorbanan yang tepat untuk hasil yang mutlak. Sama seperti aliansi ini."
[Sistem: Analisis gaya permainan Jenderal Elara. Tipe: Agresif dan ekspansif. Menunggu jebakan di baris belakang.]
"Kau mengorbankan keamananmu sendiri dengan datang ke sini," sahut Elara sambil memakan pion Aslan. "Kenapa kau begitu yakin aku tidak akan menyerahkanmu kepada Kael setelah kita menghancurkan unit tadi?"
"Karena kau tahu Kael tidak akan berhenti pada kepalaku. Setelah aku mati, Serigala Perak adalah target berikutnya untuk dibersihkan agar tidak ada saksi sejarah," jawab Aslan sambil memindahkan menterinya ke posisi menyerang.
Elara terdiam, matanya terpaku pada papan catur. Ia menyadari bahwa Aslan telah mengunci pergerakan bentengnya dalam tiga langkah ke depan. "Kau bicara seolah-olah sudah melihat masa depan."
"Aku hanya membaca pola. Kael adalah orang yang takut pada siapa pun yang memiliki kekuatan militer mandiri. Termasuk kalian," tambah Aslan.
[Sistem: Detak jantung subjek Elara sedikit meningkat. Dia mulai mempertimbangkan poin Anda secara serius.]
Elara menggerakkan raja untuk menghindari skakmat. "Jika aku membantumu, aku butuh jaminan bahwa utara akan tetap menjadi milik Serigala Perak secara hukum saat kau naik takhta nanti."
"Kau akan mendapatkan lebih dari sekadar utara. Kau akan menjadi jenderal besar di bawah pemerintahan baru," Aslan menggerakkan bidak terakhirnya. "Skakmat, Jenderal."
Elara menatap papan catur yang kini tidak menyisakan ruang baginya untuk bergerak. Ia menyandarkan punggungnya dan menatap Aslan dengan pandangan baru. "Kau sangat berbahaya untuk seseorang yang bahkan belum genap berusia dua puluh tahun."
"Dunia tidak memberiku pilihan untuk menjadi orang baik, Jenderal. Hanya pilihan untuk menjadi pemenang," jawab Aslan sambil berdiri.
[Status: Tingkat kepercayaan Jenderal Elara mencapai enam puluh lima persen. Komitmen aliansi diperkuat.]