Lin Feng, pendekar tampan berilmu tinggi, menjadi buronan kekaisaran setelah difitnah membunuh seorang pejabat oleh Menteri Wei Zhong. Padahal, pembunuhan itu dilakukan Wei Zhong untuk melenyapkan bukti korupsi besar miliknya. Menjadi kambing hitam dalam konspirasi politik, Lin Feng melarikan diri melintasi samudra hingga ke jantung Kerajaan Majapahit.
Di tanah Jawa, Lin Feng berusaha menyembunyikan identitasnya di bawah bayang-bayang kejayaan Wilwatikta. Namun, kaki tangan Wei Zhong terus memburunya hingga ke Nusantara. Kini, sang "Pedang Pualam" harus bertarung di negeri asing, memadukan ilmu pedang timur dengan kearifan lokal demi membersihkan namanya dan menuntut keadilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaenal 1992, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Hati dengan Sang Naga
Kapal jung besar itu membelah ombak Samudra Hindia dengan gagah. Di ujung haluan kapal, Lin Feng berdiri tegak, membiarkan angin laut yang kencang menerpa jubah luriknya. Matanya menatap lurus ke cakrawala, ke arah selatan di mana tanah Jawa berada.
Ia meraba hulu pedang besar di punggungnya, lalu berbisik pelan, "Ki Ageng Bang Wetan, Joko... tunggu aku. Aku kembali dengan membawa jawaban atas takdir ini."
Sebulan kemudian, suasana pasar di ibu kota Trowulan tetap ramai dan penuh warna. Ki Ageng Bang Wetan dan Joko sedang berjalan-jalan di antara kerumunan. Joko, seperti biasa, sedang sibuk menawar ubi madu kesukaannya.
"Mbah, sepertinya ubi musim ini lebih manis, ya?" tanya Joko sambil menyengir.
Namun, Ki Ageng tidak menjawab. Langkah kaki pendekar tua itu terhenti di depan sebuah warung makan sederhana di sudut pasar. Matanya yang tajam menatap seorang pemuda yang duduk membelakangi mereka, sedang tenang menyantap hidangan dengan sebuah bungkusan panjang di sampingnya.
Joko yang bingung ikut menoleh. Sesaat kemudian, matanya membelalak, ubi di tangannya nyaris jatuh. "Mas... Mas Lin?!"
Pemuda itu menoleh. Senyum tipis mengembang di wajahnya yang kini tampak lebih dewasa dan penuh wibawa. "Joko. Ki Ageng."
"Waduh! Mas Lin beneran kembali!" teriak Joko kegirangan sambil berlari memeluk sahabatnya itu. "Aku kira Mas Lin sudah jadi pejabat tinggi di sana dan lupa sama ubi goreng Jawa!"
Setelah suasana haru mereda, mereka duduk bersama di pojok warung yang sepi. Lin Feng mulai menceritakan perjalanannya yang luar biasa. Ia berkisah tentang bagaimana namanya dibersihkan, namun juga tentang bahaya baru yang muncul.
"Kabar tentang Pedang Naga Bumi ini telah menyulut keserakahan di daratan utara, Ki Ageng," ujar Lin Feng serius. "Banyak pendekar yang mencoba mencegatku, ingin merebut pusaka ini karena menganggapnya kunci kekuatan mutlak. Aku harus melewati banyak pertarungan sebelum mencapai pelabuhan."
Lin Feng kemudian menceritakan tentang pertemuannya dengan Guru Lu Yang, sang Dewa Pedang Tanpa Bayangan. "Guruku mengujiku di detik terakhir. Dan saat pedang kami beradu, sesuatu yang ajaib terjadi. Aku ditarik masuk ke dalam dimensi lain..."
Suara Lin Feng merendah, dipenuhi rasa takjub. "Aku bertemu dengan penghuni pedang ini. Awalnya aku ketakutan, aku mengira dia adalah Naga Shenlong, dewa penguasa cuaca dari negeriku. Aku sampai terduduk karena mengira telah membuat dewa murka."
"Lalu?" tanya Joko dengan mata melotot penasaran.
"Dia berkata dia bukan Shenlong, melainkan Sang Hyang Antaboga. Dia menjelaskan bahwa dia adalah penjaga inti bumi Jawa yang memilihku karena aku adalah pengelana tanpa kepentingan, seorang asing yang memiliki hati yang bersih untuk menjaga keseimbangan."
Mendengar nama itu disebut, Ki Ageng Bang Wetan menghela napas panjang, wajahnya menunjukkan rasa hormat yang mendalam. Ia mengelus jenggot putihnya sambil menatap Pedang Naga Bumi.
"Begitulah adanya, Lin Feng," ucap Ki Ageng pelan. "Kau sangat beruntung, sekaligus memikul beban yang sangat berat. Sang Hyang Antaboga bukan sekadar makhluk mistis. Dalam kepercayaan kami, dialah sang naga purba yang menopang tujuh lapis bumi. Ia adalah simbol kesabaran namun juga kekuatan yang tak terlukiskan jika keseimbangan alam dirusak."
Ki Ageng menatap Lin Feng dengan tajam namun bijak. "Alasan dia berkata kau terpilih karena kau 'orang asing' adalah karena Antaboga tidak ingin kekuatannya dipolitisasi oleh perebutan takhta di tanah ini. Dengan berada di tanganmu, kekuatan bumi ini tetap murni, tidak memihak faksi mana pun, hanya memihak pada kebenaran universal."
"Tapi ingat," lanjut Ki Ageng, "pertemuanmu dengannya di alam sukma adalah tanda bahwa kau bukan lagi sekadar pemegang pedang, tapi kau adalah utusan bumi. Ke mana pun kau melangkah, kau membawa beratnya gunung dan kedalaman samudra Nusantara di punggungmu."
Lin Feng terdiam sejenak, memandang cawan teh di depannya dengan tatapan yang sangat dalam. Ia menghela napas panjang, lalu menceritakan pergolakan batin yang ia alami di tanah kelahirannya.
"Ki Ageng, Joko... daratan Tiongkok tidak akan pernah tenang selama aku berada di sana membawa pusaka ini," ucap Lin Feng dengan nada berat. "Meskipun Kasim Wei telah jatuh, ribuan 'tikus' lainnya langsung muncul untuk memperebutkan posisinya. Mereka memandang Pedang Naga Bumi bukan sebagai penjaga keadilan, melainkan sebagai alat kekuasaan."
Lin Feng mengepalkan tangannya. "Jika aku menetap di sana, pedang ini hanya akan menjadi pemicu perang saudara yang tiada habisnya. Darah akan tumpah hanya demi memperebutkan baja ini. Aku menyadari bahwa pedang ini adalah titipan dari tanah suci Gunung Penanggungan, dan sudah saatnya sang naga kembali ke rumahnya yang sebenarnya."
Ia tersenyum tipis ke arah Joko. "Saat aku menatap samudra luas di pelabuhan utara, aku bergumam pada diri sendiri: 'Aku harus kembali'. Di sini ada seorang guru yang bijak dan seorang kawan yang menungguku dengan ubi hangatnya. Di tanah Jawa, Pedang Naga Bumi akan tetap menjadi penjaga kedamaian, bukan pemicu pertumpahan darah."
Mendengar penjelasan itu, Ki Ageng Bang Wetan mengangguk perlahan dengan sorot mata yang penuh pengertian. Beliau meletakkan tangannya di atas bungkusan pedang yang terletak di samping Lin Feng.
"Keputusanmu sangat bijak, Lin Feng. Kau telah mengalahkan egomu sendiri demi keselamatan orang banyak," ujar Ki Ageng dengan suara tenang. "Namun, ada satu hal yang harus kau pahami tentang pusaka yang membawa jiwa Antaboga ini."
Ki Ageng menatap Lin Feng dengan tajam namun lembut. "Pedang Naga Bumi ini sudah memilihmu. Ia bukan lagi sekadar benda mati yang bisa ditinggalkan begitu saja. Karena sukmamu dan sukma Antaboga telah menyatu dalam peristiwa di alam sukma itu, maka pedang ini tidak akan pernah bisa jauh darimu."
"Sekalipun kau mencoba membuangnya ke dasar samudra atau meninggalkannya di puncak gunung tertinggi," lanjut Ki Ageng, "ia akan kembali kepadamu di mana pun kau berada. Ia telah menemukan rumahnya, dan rumah itu bukan lagi Gunung Penanggungan, melainkan hatimu. Kau dan pedang ini adalah satu kesatuan yang ditakdirkan untuk menjaga keseimbangan di tanah ini."
Joko yang mendengarkan dengan mulut terbuka akhirnya bersuara. "Waduh! Jadi kalau Mas Lin pergi mandi pun, pedang ini bisa tiba-tiba muncul di sampingnya? Hebat benar!"
Lin Feng tertawa kecil, rasa sesak di dadanya perlahan sirna. "Jika memang begitu takdirnya, maka aku tidak akan lagi mencoba lari. Aku akan menjaga amanah Antaboga di sini, di tempat di mana keadilan dijunjung tinggi tanpa harus menumpahkan darah saudara."
Ki Ageng berdiri, mengajak mereka kembali ke lereng gunung. "Mari kita pulang. Gunung Penanggungan merindukan napas naganya, dan kita punya banyak hal yang harus dipersiapkan untuk menjaga rahasia ini."