Zivaniel Maxton de Luca adalah sosok yang ditakuti dunia bawah. Di balik wajah tampannya, ia menyimpan darah dingin dan tangan yang tak pernah ragu menumpahkan nyawa. Dengan topeng penyamaran, ia membantai musuh-musuhnya tanpa ampun, menegakkan hukum versinya sendiri dalam lingkaran mafia kelas kakap yang diwariskan padanya sejak lahir.
Tak seorang pun mengetahui identitas aslinya. Bagi dunia luar, Zivaniel hanyalah pria biasa dengan aura dingin yang sulit ditembus. Namun bagi mereka yang mengenalnya di dunia gelap, namanya adalah teror—legenda yang hidup, bengis, dan tak pernah gagal.
Hingga satu nama mampu meretakkan kekokohan hatinya.
Cherrin.
Gadis yatim piatu yang tumbuh dalam kesederhanaan setelah diadopsi oleh sang nenek. Lembut, polos, dan jauh dari dunia hitam yang melingkupi hidup Zivaniel. Sejak kecil, Cherrin adalah satu-satunya cahaya dalam hidupnya—alasan mengapa ia masih mengenal rasa ragu, takut dan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31
Lorong di antara kontainer itu seperti tenggorokan raksasa yang menelan cahaya. Lampu-lampu tinggi di kejauhan menciptakan bayangan panjang yang saling bertumpuk, memotong tubuh kontainer menjadi garis-garis gelap dan terang yang tak beraturan. Bau karat dan air laut menyatu, menusuk hidung, lengket di tenggorokan.
Zivaniel tetap diam.
Topeng Black Wolf menempel rapat di wajahnya—hitam matte, tanpa kilap, dengan garis rahang tajam yang memberi ilusi ekspresi buas. Di baliknya, matanya bergerak pelan, menghitung. Bayangan di ujung lorong itu tidak terburu-buru. Ia tahu sedang diawasi, atau setidaknya… ia tidak peduli ketahuan.
Satu detik. Dua. Tiga.
Zivaniel memberi isyarat kecil lewat kanal komunikasi—klik pendek. Tidak ada jawaban.
Alisnya berkerut tipis di balik topeng.
Itu kesalahan pertama malam ini.
Ia melangkah mundur setengah langkah, menempelkan punggung ke sisi kontainer. Logam dingin menyentuh rompinya. Tangannya turun perlahan ke gagang pistol—tidak ditarik, hanya siap.
Langkah itu semakin dekat.
Bukan satu pasang kaki.
Dua.
Tiga.
Empat—tidak. Terlalu teratur untuk empat orang. Terlalu sunyi untuk patroli biasa.
Zivaniel menahan napas.
Lalu, suara itu berhenti.
Hening jatuh seperti kain tebal yang menutup telinga. Bahkan mesin derek di kejauhan terdengar seolah ditelan jarak.
“Black Wolf,” sebuah suara terdengar dari balik bayangan. Rendah. Tenang. Terlalu tenang.
Bahasa yang digunakan bukan bahasa lokal. Aksen asing, terlatih.
Zivaniel tidak menjawab.
Nama itu bukan panggilan. Itu umpan.
“Kami tahu kau di sini,” lanjut suara itu. “Dan kami tahu kau tidak datang sendirian.”
Zivaniel menekan rahangnya.
Ia menggeser sedikit posisi kakinya, nyaris tak terdengar. Sudut tembak diperhitungkan. Jika ia bergerak sekarang, ia bisa menjatuhkan satu—mungkin dua—sebelum mereka bereaksi.
Namun instingnya menjerit: jangan.
Ada yang salah dengan keheningan ini.
Dari sudut matanya, ia melihat gerakan cepat di atas kontainer—bayangan melompat, lalu menghilang. Terlalu ringan untuk orang sembarangan. Terlalu terlatih.
Mereka sudah mengurungnya.
Klik.
Suara sangat halus. Seperti logam bersentuhan dengan logam.
Pisau.
Zivaniel bergerak.
Ia memutar tubuh ke samping tepat saat sesuatu meluncur dari belakang. Bilah pisau melewati udara, nyaris mencium topengnya. Ia membalas dengan siku, menghantam sesuatu yang lunak—perut, mungkin—disertai dengusan tertahan.
Namun sebelum ia sempat mengamankan posisi, rasa panas menyambar sisi tubuhnya.
Sayatan.
Tidak dalam. Tapi cepat. Presisi.
Zivaniel mendesis pelan.
Pisau itu menarik kulitnya dari balik rompi, menyayat sisi perutnya tepat di bawah tulang rusuk. Darah hangat langsung merembes, terasa lengket, mengalir perlahan.
Ia mundur satu langkah, lalu dua, menjaga keseimbangan. Napasnya tetap terkendali, tapi denyut di pelipisnya mengeras.
Satu dari mereka sudah menyentuhku.
Itu kesalahan kedua malam ini—dan yang paling berbahaya.
“Refleksmu masih tajam,” suara lain muncul. Lebih dekat sekarang. “Tapi kau melambat, Black Wolf.”
Zivaniel menajamkan pendengarannya.
Dua di depan. Satu di atas. Dan—
Belakang.
Ia berputar cepat, menembakkan satu peluru ke arah bayangan yang bergerak. Dentuman teredam oleh peredam suara, tapi cukup untuk memecah keheningan. Tubuh itu terjerembab, menghantam lantai beton dengan suara berat.
Tidak mati. Tapi cukup untuk menghentikannya.
“Kontak,” bisiknya ke alat komunikasi.
Hening.
Tidak ada respons.
Darahnya terasa lebih hangat sekarang. Sayatan itu kecil, tapi ia tahu betul: pisau seperti itu dirancang bukan untuk membunuh cepat—melainkan melemahkan. Membuat korban kehilangan fokus, sedikit demi sedikit.
Zivaniel bergerak menyamping, masuk lebih dalam ke labirin kontainer. Langkahnya senyap, meski setiap gerakan menarik kulit di sekitar lukanya. Ia menahan reaksi. Rasa sakit adalah informasi, bukan perintah.
Di balik topeng, matanya dingin.
Di mana timku?
Jawabannya datang bukan dari suara, melainkan dari pemandangan.
Ia melihat salah satu dari mereka—pria yang tadi berkata “siap”—tergeletak di antara dua kontainer hijau. Lehernya tertekuk pada sudut yang tidak wajar. Matanya terbuka, kosong, menatap lampu pelabuhan yang tak peduli.
Tidak ada darah berlebihan. Patah cepat. Profesional.
Zivaniel berhenti sesaat.
Bukan karena terkejut.
Karena ia sedang menghitung ulang segalanya.
Satu mati. Satu terluka—oleh pelurunya sendiri. Dua lainnya?
“Pengkhianat selalu terlihat paling setia,” suara asing itu terdengar lagi, kini lebih dekat, seolah berbicara tepat di belakang telinganya.
Zivaniel berbalik, menembak tanpa ragu.
Kosong.
Klik kering.
Ia mengumpat dalam hati.
Dalam sepersekian detik itu, sesuatu menghantam lengannya. Pisau lagi—kali ini menggores bagian luar lengan atasnya. Tidak dalam, tapi cukup membuat pistolnya terlepas, jatuh dan meluncur di lantai beton.
Zivaniel mundur, menabrak kontainer.
Bayangan itu muncul dari gelap—tinggi, ramping, berpakaian hitam seperti dirinya, namun tanpa topeng. Wajahnya terlihat sebentar di bawah cahaya lampu: pria dengan rahang tajam dan mata abu-abu yang tenang.
Terlalu tenang.
“Siapa kau?” tanya Zivaniel dingin.
Pria itu tersenyum tipis.
“Seseorang yang dibayar untuk memastikan kau tidak keluar dari pelabuhan ini.”
Gerakan berikutnya cepat.
Pisau beradu dengan pisau saat Zivaniel menarik bilahnya sendiri. Logam beradu, memercikkan bunga api kecil. Mereka berputar, saling menguji, kaki bergerak dalam pola mematikan.
Pria itu bagus. Sangat bagus.
Setiap serangannya diarahkan untuk melukai, bukan membunuh. Menguras stamina. Mengganggu ritme.
Zivaniel merasakan darahnya makin membasahi rompi.
Tidak bisa lama-lama.
Ia memanfaatkan satu celah kecil, menendang lutut lawan. Pria itu terhuyung setengah langkah—cukup bagi Zivaniel untuk menancapkan siku ke rahangnya.
Benturan keras.
Pria itu terlempar, menghantam kontainer dengan suara logam bergema.
Zivaniel tidak mengejar.
Ia tahu lebih baik.
Ia berlari.
Masuk lebih dalam ke area pelabuhan, menuju titik buta kamera yang tadi ia hafal. Nafasnya mulai terasa lebih berat sekarang. Bukan panik—kehilangan darah.
Di balik topeng, pikirannya berdenyut.
Pengkhianat. Tim dipreteli. Pembeli asing. Dan seseorang tahu persis bagaimana cara melukaiku tanpa membunuhku.
Ia melompat ke balik tumpukan peti kayu, berlutut, menekan sisi perutnya dengan tangan bersarung. Merah gelap menodai hitam.