Proses Revisi!
Dia berada di posisi yang rumit, tumbuh dengan kasih sayang berat sebelah dari keluarganya dan kebetulan mencintai laki-laki yang sama membuat Rain menumbuhkan sebuah keraguan di dalam hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Hernawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CAMS-Ep 29
Diam, aku hanya menundukkan kepalaku tidak berani menatap ataupun membalas ucapannya. Kata-kata yang keluar dari bibirku hanya permohonan maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
Jauh di dalam hatiku, ingin sekali aku bertanya kepadanya bahwa jangan terlalu memaksakan diri di dalam pernikahan ini atau bila bisa aku ingin mengajukan perpisahan dengannya. Toh, ini hanyalah pernikahan siri bukan pernikahan sah yang membutuhkan banyak proses untuk berpisah.
Aku ingin sekali mengatakannya tapi hatiku menolak karena keinginan egois ku sendiri. Aku ingin memanfaatkan waktu-waktu ini untuk dekat dengannya walaupun hanya sebatas melihat saja, aku tidak akan meminta banyak.
"Cek, dasar bodoh." Sungutnya masih marah.
"Tolong maafkan aku." Pintaku memohon seperti robot statis yang dirancang khusus untuk mengeluarkan kata-kata yang sama.
Dert
Dert
Dert
Deon mendapatkan telpon dari seseorang. Aku diam-diam mengintip ke arahnya, dengan malas dia melihat layar ponselnya. Seketika wajah kerasnya karena emosi meluap entah kemana digantikan dengan ekspresi lembut yang sarat akan kasih sayang.
"Iya sayang, maaf hari ini aku tidak bisa ke rumah sakit untuk menjenguk mu."
Ini adalah telpon dari adikku, kekasihnya.
Aku tersenyum getir, meremas kain selimut ku menahan cemburu di dada.
"Tidak ada yang penting. Hari ini aku harus mengurus 'sampah' yang telah membebani pikiran ku selama beberapa hari ini. Tidak... semuanya sudah beres, aku adalah orang yang bersih jadi bagaimana mungkin aku mengotori rumah kita? Jangan khawatir..." Dia berbicara seraya keluar dari kamarku, menutup pintu depan kasar tanpa menoleh sedikitpun.
Aku akhirnya berani mengangkat kepalaku, menatap pintu korban dari kekerasan Deon. Pintu itu kini tertutup rapat, menghalangi dunia luar masuk ke dalam kamarku yang sunyi.
Tersenyum tipis, aku menarik selimut dan bersembunyi di dalamnya. Menenggelamkan kesedihanku dalam diam. Padahal aku tidak ingin menangis tapi...tapi aku sudah tidak bisa menahan semuanya lagi.
Hatiku sakit, Tuhan.
Hatiku rasanya seperti diremas-remas oleh tangan tidak kasat mata, sesak dan perih.
Aku tidak tahan menanggungnya jadi aku memukul-mukul dadaku sambil berharap rasa sakitnya menghilang. Tapi...tapi kenapa sakitnya masih belum menghilang?
Kenapa sakitnya masih belum pergi, Tuhan?
Aku lelah merasakan semua kesakitan ini. Aku ingin menyerah saja rasanya.
"Tuhan, mengapa...aku masih hidup di dunia ini jika tidak ada seorangpun di dunia ini yang menerimaku?" Adalah pertanyaan yang selalu memenuhi kepalaku selama ini.
Kenapa?
Tidak ada orang yang menyayangi dan mencintai ku, tapi kenapa aku masih hidup?
Aku...
Lelah, Tuhan. Aku ingin hidup bahagia seperti ciptaan Mu yang lain, tapi kenapa aku tidak bisa mendapatkannya?
Dert
Dert
Dert
Ponselku berbunyi. Aku meraihnya di dekat bantal dan melihat yang menelpon adalah Mama. Ragu, aku menggigit bibirku menahan jari jempol ku untuk mengangkat telpon dari Mama.
Aku takut Mama memarahiku lagi. Aku takut Mama melontarkan kata-kata kejam kepadaku, aku sungguh takut, Tuhan.
Lama ku terdiam. Dering ponselku tidak bisa berhenti selama apapun aku mendiamkannya. Aku tersenyum kecut, memutuskan untuk menjawab telpon Mama.
"Halo, Ma?" Sapa selembut mungkin.
Kedua mataku telah mengering dan suaraku pun sudah kembali normal jadi Mama tidak bisa melihat kesedihan ku di sini.
"Mama?" Panggilku lagi karena Mama tidak menyahuti panggilan ku.
Lalu ku dengar sebuah isakan kecil di ujung sana. Hatiku berdenyut sakit. Mamaku sedang menangis.
"Rain," Panggil Mama dengan suara seraknya,"Mama kangen sama kamu."
Aku terkejut, pandangan ku seketika menjadi buram dan air mataku kembali meleleh membasahi wajahku.
Sudah lama sekali aku tidak mendengar Mama berbicara selembut ini kepadaku.
"Ayo kembali, Nak. Pulanglah ke rumah. Mama janji gak akan marah lagi sama kamu asalkan kamu mau kembali ke rumah. Mama hiks... Mama tidak suka kamu hidup dengan laki-laki itu...Mama tidak mau kehilangan kamu lagi hiks..." Mama menangis terisak di seberang sana membuat hatiku kian sesak.
Laki-laki itu...
Tidak mau kehilangan aku lagi,
Mama ternyata masih belum melupakan kejadian itu. Sudah bertahun-tahun berlalu tapi Mama masih dihantui oleh kejadian itu. Wajar rasanya menjadi trauma tapi tidak wajar menyalahkannya kepada Deon.
Deon... sampai dengan saat ini masih belum tahu apa-apa mengenai hari itu.
"Mama..." Aku tersenyum lega karena Mama nyatanya masih mencintaiku. Dia hanya takut, takut kejadian itu terulang kembali karena di mata Mama orang yang bersalah adalah Deon.
Tapi aku tahu betul bahwa Deon tidak bersalah. Dia hanya tidak tahu apa-apa.
"Kejadian itu sudah lama terjadi dan aku juga-"
"Pulanglah, Rain. Ayo pulang... kembali lah ke rumah. Mama kesepian tanpa kamu, Nak. Mama tidak rela kamu hidup bersamanya-"
"Dengan siapa Mama bicara?" Itu adalah suara Papa.
Srek
Ada suara berisik di seberang sana. Aku khawatir terjadi sesuatu kepada Mama. Aku ingin memanggilnya tapi perdebatan Mama dan Pap mematahkan keinginanku.
"Aku berbicara dengan Rain, Pa! Mama merindukannya! Aku ingin membawanya pulang, aku menyesal membiarkan dia pergi hiks.."
"Dia pasti kembali, Ma, tapi tidak sekarang." Nada suara Papa membujuk.
"Ini semua gara-gara, Papa! Aku kan sudah bilang tidak mengizinkan Deon menikahi Rain apapun alasannya tapi kenapa Papa malah merestuinya! Kenapa Papa membiarkan Rain kembali kepada laki-laki itu?!"
Aku meremat ponselku, menahan suara isak tangis ku agar tidak keluar.
Ya Tuhan, selama ini aku salah paham. Betapa bodohnya aku.
"Dia...dia mempermalukan putri kita, Pa! Dia menikahinya secara siri tanpa membawa tamu undangan! Coba pikirkan baik-baik, Pa, seberapa hancur hati Rain hari ini? Seberapa sakit hatinya!"
Rasanya sungguh sakit, Tuhan.
"Aku tahu, Ma, aku tau. Lantas apa yang harus akui lakukan?" Kudengar Papa bernafas berat di seberang sana.
"Aku tidak bisa melakukan apa-apa karena Deon bersikeras ingin menikahi Rain. Di hadapan keluarganya kita bukanlah apa-apa, Ma. Sama seperti kamu, Papa juga tidak mau membiarkan Deon menikahi Rain tapi...aku sungguh tidak berdaya-"
Aku tidak kuasa lagi menahan isak tangis ku. Sambungan telpon kami langsung aku putus. Setelah itu aku menekan kepalaku di atas bantal sambil menangis sekeras mungkin.
"Mama...Papa... Rain merindukan kalian. Rain ingin memeluk kalian lagi... Rain ingin pulang, hiks..."
sok polos...
masih penasaran 💪❤️