Disarankan untuk membaca novel sebelumnya "Jodoh Sang Dokter Duda" karena disana ada silsilah seluruh keluarga ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon harsupi fakihudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Kaki Alana naik ke dek kapal
Hanan buru buru menarik Alana "Mau ngapain?"
Alana berbalik masih berpegangan dek "Pingin bergaya, terus foto foto"
"Nggak usah gaya gayaan. Ntar jatuh" Hanan berdiri tepat dihadapannya, lalu mendongak
Mereka saling berhadapan. Alana menunduk, Hanan mendongak
Tangan Alana seperti Imran yang minta digendong "Angkat"
Dengan sengaja, Hanan membungkuk dan mengalung dibawah pantat Alana, lalu mengangkatnya
Alana langsung menutupi perkakasnya. Bagaimana tidak, miliknya pas dengan wajah Hanan
"Kenapa, ditutupin"
"Malu kak"
"Malu kenapa? "
"Bau"
"Bau?? Apa kali ini kamu menstruasi lagi?" Tanya Hanan sedikit kecewa
Alana menggeleng "Tidak, minggu depan"
"Jadi, malam ini aman"
Alana mengangguk cepat
"Yess"
Bukk
Alana dijatuhkan oleh Hanan, dilantai balkon kapal
"Kakak nggak mau... Kakak kejam.." Alana menghentak hentakkan kakinya sambil duduk, tapi Hanan tidak mau membantunya. Ia justru berjalan masuk kekamar "Awas kamu kak" Alana berdiri dan menyerang Hanan
Hanan didorong dari belakang dengan kuat oleh Alana
Hanan berbalik "Iya ya maaf.. Kamu berat sih"
Alana tidak menjawab, ia justru membabi buta menyerang Hanan. Hingga Hanan kehilangan keseimbangan, akhirnya terjatuh dikasur sambil berusaha mencari pegangan yang terdekat, dan ternyata baju Alana yang ketarik
Pukk
Alanapun menimpahi tubuh Hanan "Kakaaak, tadi aku kan minta digendong, kenapa dijatuhin" Protes Alana nggebukin dada Hanan yang sudah dibawahnya
"Iya iya iya, yang sakit mana, sebelah mana" Hanan susah susah memeriksa Alana
"Semua !!!" Teriak Alana tak terima
Hanan tersenyum menyeringai "Jadi sekarang impas dong"
Alana bengong "Kapan aku membalasnya"
"Ini" Hanan menunjuk Alana menimpahi tubuhnya
Alana spontan mau turun dari atas tubuh Hanan. Namun sayang, terlambat sudah. Karena Hanan sudah membalikkan badan Alana. Dan sekarang gantian, Hanan yang menimpah Alana
"Mau apa kamu, mau lari kemana?" Hanan tersenyum menggoda
"Kakaaaak... Kenapa aku yang kalah terus hiks hiks" Alana kesal dan ingin menangis
"Kita bikin anak sore sorean mau?" Ajak Hanan
"Enggak mau !!" Tolak Alana
"Nggak bisa, kau kalah. Kau banyak hutang padaku. Kau harus bayar sekarang!!"
"Enggak mau !! Kakak curang!!"
Mereka diam saling tatap
"Kakak.. Menyingkir !! aku beraaaaatttt" Teriak Alana kesal
Hanan menyingkir, tapi kakinya masih menindih Alana
"Kaki kakak, beraaattt ...!!!"
"Bohong. Kau pasti mengada ada"
"Baik, baiklah. Aku tidak mau masalah kita berlarut larut. Daripada lama kelamaan kita berantem tak ada ujung. Kita suit"
"Oke siapa takut"
"Kalau aku yang menang, malam ini kita libur"
Hanan sedikit berfikir, karena ada kata libur, jadi langsung fikiran Hanan kolabs. Tapi daripada berantem terus, iyain saja "Oke" Jawabnya oke, tapi hatinya berontak.
Masa, judulnya saja bulan madu. Kenapa tidak berlayar
Kembali Alana yang sudah melebarkan telapak tangan kanannya "Kakak ikutin aku oke"
"Oke"
Tangan mekar Alana digoyangkan kekanan kekiri "Hompimpa alaium gambreng"
"Suit kan, kenapa hompimpa. Nggak bisa nyanyinya" Protes Hanan
"Makanya kakak ngikutin aja, jangan protes melulu. Hidup diplanet mana sih dulu, sampai nggak tau hompimpa"
"Hidupku dikota sayang, kawanku hanya ketiga saudara kembarku saja. Jadi nggak ngerti bahasa kamu. Apa itu hompimpa"
"Dih, mentang mentang hidup dikota. Tapi kekurung. Mending aku, bebas"
"Sudah sudah, katanya mau suit. Kenapa nggak jadi jadi"
"Hompimpa alaium gambreng..." Alana menang "Hore... Malam ini kita libuuuuurrrrr" Tangan Alana mengepal dan menaikkannya keatas. Lalu, tak lama kemudian, Alana jungkir balik dikasur
"Yihaaaa"
Hanan mendelik tak percaya "Kau sering melakukan salto begitu?"
Alana berdiri diatas kasur "Tidak" Jawabnya cepat
"Terus, kenapa tadi kamu lakukan?"
"Saking gembira, karena malam ini, aku libuuuurr"
Alana turun dari ranjang dengan berlari
"Ya ampun Alana. Kalau kamu jatuh bagaimana??! "
"Nggak apa apa, kan ada dokternya" Alana menarik handuk yang masih lipatan, yang sudah disediakan dari sini
Hanan merebut handuk yang dipegang Alana
Alana terjatuh dipangkuan Hanan, karena mereka tarik tarikan handuk
"Dokternya nggak mau mengobati luka begituan" Wajah Hanan sangat dekat sekali dengan wajah Hanan
Alana mengalung dileher Hanan, dan tersenyum menggoda "Baiklaaah"
Alana bangun dari pangkuan Hanan, lalu berdiri melepaskan seluruh kancing kemejanya, dan melempar kemejanya kepangkuan Hanan
Hanan kembali tergoda dengan kemolekan punggung sang istri
Hanan tidak mau kalah dengan urusan ini
Dengan sigap, Hanan mengalung diperut Alana dari belakang, lalu tangannya menelusup masuk kedada Alana, tanpa membuka pengait BH
Tidak menunggu lama, pertarungan sore mereka terjadi sambil berdiri didepan kamar mandi
Hmmm dokter benar benar keterlaluan
-
Malam ini, mereka tidak dinner diluar. Mereka sengaja memesan makanan agar diantarkan kekamar saja
Makanan sudah datang sesuai pesanan mereka
"Kakak, Imran sedang apa ya sekarang?"
"Coba divideo call saja" Usul Hanan sambil sibuk mengiris beef untuk Alana
Alana mencoba menelpon Rasti.
Sesekali Alana disuapi daging tersebut dengan garpu oleh Hanan
"Bisa?" Tanya Hanan
"Nyambung, tapi tidak diangkat"
"Coba telpon mama, mama kan nginep dirumah"
"Oh iya"
Panggilan sudah tersambung
"Hallo..." Sapa Sifa yang sudah ada dikamar, beserta Ilham yang masih mengusap usap punggung Imran yang sedang ngedot susu formula
Sifa dan Ilham melihat mereka berdua masih sore sudah mandi basah "Kalian habis renang, apa kecebur laut hmm?" Pertanyaan konyol Sifa membuat Alana gelagapan
"Eng... Eng.. Disini panas ma, iya panas" Bohong Alana
Ilham yang tidak menyauti omongan menantunya sedikit geli mendengar alasan Alana
"Oh, mama baru tau kalau ditengah lautan panas. Oiya, Imran sudah 5 watt matanya, jadi jangan diganggu ya.. Bye"
Sifa memutuskan sambungan sepihak
"Ada ada... Siap siap nimang cucu lagi pa"
"Ahahaha" Ilham tertawa ngakak
"Is, papa kenapa?" Sifa melirik Ilham yang sedang tertawa terpingkal pingkal
"Ya biarin aja ma, mereka kan masih produktif. Apa mama mau kita bulan madu lagi"
"Mama sudah tua, takut hamil lagi"
"Ya nggak papa, kakaknya sudah pada dewasa ini"
"Kok"
"Yaiya, papa kan sudah tua, haha. Tapi lihat mereka mandi basah begitu, mengingatkan kita waktu kita jadi pengantin baru haha bikin adik lagi yuk" Goda Ilham
"Halla halla... " Sifa geleng geleng kepala, suaminya kambuh lagi urusan begituan
-
Alana dan Hanan mengintip keadaan dirooftop
Gemerlapnya lampu malam sudah menerangi gelapnya malam diatas kapal beratapkan langit. Dinginnya angin laut, membuat siapapun ingin segera menghangatkan diri dengan pasangan
Diperjalanan ini, mungkin hanya beberapa pasang suami istri yang melakukan bulan madu
Meskipun ditengah tengah mereka banyak orang yang berpasang pasangan, niatnya berbeda, yaitu berlibur dengan keluarga, karena kebanyakan mereka, membawa anak anak serta keluarga mereka
Kamarnyapun berbeda
Jika untuk pasangan berbulan madu, kamar kamar mereka pasti dipilihkan yang ada balkon dan ada tempat duduk romantis yang ada disana
Hanan dan Alana hanya melintas saja, karena diatas anginnya sangat kencang dan dingin
"Kakak"
"Hmm"
"Masuk kekamar aja yuk.. Dingin banget"
BERSAMBUNG.....
saya suka saya suka saya suka