Deanada Kharisma, hampir 3 tahun menjalani kehidupan remaja diantara toxic circle. Memiliki teman yang toxic, menindas, bertindak sesukanya, dan melakukan diskriminasi.
Namun siapa sangka di balik itu, sebenarnya ia menyimpan rahasia bahkan dari teman-temannya sendiri, hingga Tuhan mempertemukannya dengan Rifaldi yang merupakan pemuda broken home sekaligus begundal sekolah dan naasnya adalah musuh bebuyutannya di sekolah.
Bagaimana Tuhan membolak-balikan perasaan keduanya disaat faktanya Dea adalah seorang korban victim blaming?
Conquer me ~》Taklukan aku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 🩷 Efek domino perundungan (prolog)
Begini saja, hanya perlu berkumpul dengan anak-anak yang memiliki panggungnya, berpenampilan menarik setelah nilai plus wajah dan badannya yang bagus, berhaha-hihi, turut andil dengan menunjukan jika ia adalah sosok yang dominan, menguasai cukup memberikan tempat untuk Dea diantara mereka.
"Aturan tadi Inggrid jangan ditahan buat jambak, De." Gibran terkekeh saat berjalan berdua ke arah tata usaha demi mengisi tinta spidol. Dea mendengus tertawa, "masih punya hati gue. Lagian di depan banyak orang, ada Bu Eva...ntar Tante Anya dipanggil lagi ke sekolah, kasian. Toh sama aja kan, kata-kata gue langsung bikin perih."
Gibran membuka tutup belakang spidol lalu Dea yang menuangkan tinta itu ke dalamnya dari pipet. Tak sabar, Gibran langsung menuangkan dari bibir botol, sehingga tintanya itu mengucur kemana-mana termasuk ke atas sepatunya, "an jing. Sin ting, kena spokat dong."
Dea tertawa, bergegas mengambil tissue yang ada disana untuk mengelap sepatu Gibran, namun pemuda itu menahannya, "Lo ngapain an jir De, mental Lo sekarang mental Jo ngos?"
Acara membungkuknya tertahan di udara, "hooh lah, ngapain juga gila!" keduanya tertawa bersama. Kebetulan sekali, Naila yang baru saja dari kamar mandi bersama Samanta ia temukan, "hey, Lo!! Sini!"
Awalnya Naila mencoba menulikan diri bersama Samanta, namun kemudian.
"Lo pura-pura budeg, gue pastiin baliknya ntar magrib."
Naila mau tak mau menghampiri, "kenapa De?"
"Tolongin gue dong, bersihin sepatu gue kena tinta. Tangan gue sama Dea sibuk." pinta Gibran sudah menendang-nendang tissue ke arah Naila.
Mereka kembali bersama berempat, tentu saja guru di kelas cukup jengah, "loh...loh, kok pas banget ya kompak berempat begini? Habis janjian ya?"
"Saya sama Dea kan abis ngisi spidol, Bu?" tunjuk Gibran.
"Lah, ini Naila sama Samanta..."
"Tadi..." Jelas Naila menatap Dean dan Gibran dengan wajah keruh siap menerkamnya. Hingga akhirnya Naila urung melapor.
Inggrid berbisik saat Dea sudah masuk ke bangku, "ngapain sih, tangan si Nai banyak tintanya begitu?"
"Gue suruh bersihin sepatu gue kena tinta, njirr." jawab Gibran dari belakang.
...****************...
Dea sampai di rumahnya selalu tepat waktu belakangan ini, kecuali di hari kamis sebab harus mengikuti ekskul pemandu sorak, melepas sepatu dan menaruhnya di rak. Menanggalkan tas saat mencium aroma masakan yang menggugah selera, "emhhh wangi!"
Mama baru saja keluar dari kamar, "ganti baju dulu, abis itu solat. Baru makan."
Dea mengangguk sempat mencomot terlebih dahulu bakwan jagung mama seiring dengan mama yang mencubit pipinya.
/
Hufftt! Ada helaan nafas berat dari Dea. Setiap hari, kenapa pembalasan pun tak pernah meninggalkan kesan damai di hatinya, seolah....ia sedang mengorek dendam lama. Ia mencuci tangan lalu...
Lembaran tipis nan rapuh softlens ia geser dari matanya hingga itu terlepas kemudian ia taruh di wadahnya. Mengerjap merasakan lelah, dirinya seolah baru saja melepas topeng.
Alih-alih melakukan apa yang mama suruh, ia justru menjatuhkan badannya terlebih dahulu ke atas kasur. Menjadi sosok berbeda itu menguras tenaga rupanya, tapi menjadi sosok di masa lalu lebih membuatnya menderita.
Efek perundungan memang sedahsyat ini, bukankah orang jahat itu terlahir dari orang baik yang disakiti terus menerus? Dan sekarang ini, ia menjadi sosok itu sekarang.
Hampir 3 tahun belakangan ia menjalani kehidupan remaja yang menurut jalan pikirannya benar-benar, namun salah menurut hati. Memiliki teman toxic, Dea akui itu....tapi dengan Inggrid, Willy dan Gibran lah ia bisa menyebut teman. Mereka yang merangkulnya, mereka yang justru memberi Dea panggung, meski pada akhirnya hatinya yang ribut, dan ia hanya bisa menulikan pendengaran dari suara hatinya. Dea, menjadi sosok yang selalu ia gumamkan dalam keadaan emosi acap kali dirinya menjadi korban perundungan.
Matanya terpejam nyaman, bukan lagi sikap semena-menanya pada Naila dan kawan-kawan lagi yang ia mimpikan, melainkan....
Degup jantungnya berdetak seirama dengan nada musik yang---jedag-jedug, sementara Inggrid di lantai dansa sama sudah tertawa sambil berjoget-joget ria memanggil namanya, "De, buruan turun!"
Dea tersenyum, Gibran mendorongnya untuk ikut turun, "turun. Jangan disini, seenggaknya di lantai dansa ngga bau rokok. Ntar yang ada asma kamu kambuh."
Dan benar, Dea ikut hanyut dalam euforia lampu warna-warni dan musik ajojing.
Willy tertawa, ikut turun bersama Dea dan Inggrid. Namun mendadak diantara kesenangannya itu tiba-tiba mama datang dengan membawa sapu lidi panjang, "Deaaaa! Pulangg!"
Matanya terbuka refleks, tidur yang sebentar itu seolah terasa nyata karena memang----terjadi. Minggu kemarin, ia dan yang lain clubing di salah satu club malam ternama, meski tidak sampai di samperin mama. Namun mama cukup marah, saat tau ia pulang lewat dari pukul 10 malam.
"Astaghfirullah!" lirihnya tersentak membuka matanya. Dea meraih kacamatanya lantas bergegas mengganti pakaian dan ke kamar mandi.
Dea mendorong kacamata bulat itu diantara rambut yang telah dicepol asal juga.
Suara deru mesin motor masuk ke dalam carport rumah, saat Dea sedang menyendok makan siangnya, lalu...
"Assalamualaikum." sosok pemuda dengan tas yang sudah turun dari pundak seorang mahasiswa semester akhir menghampiri, usil....ia lantas meraih wajah Dea dan menahan jidatnya dengan telapak tangan besar, "nih, jidat lebar persis lapangan bola."
"Mass Elokkkk!" jeritnya membuat mama berdecak karena kelakuan anak-anaknya itu.
"Mas aku mau makannn, awas ih! Mamah, mas Elok sin ting!"
Dan semakin saja Elok mencubit kedua pipi adiknya itu, "ngomong apa barusan hemmm?!"
Berujung dengan Dea yang mengumpat kembali diantara rambut yang telah acak-acakan karena mas keduanya itu menguyel-uyelnya.
Sikap Dea benar-benar bertolak belakang antara di rumah dan di sekolah, sampai-sampai orang rumahnya tak tau bagaimana sosok Dea di sekolah dan diluaran.
Jovanka
De, jalan yuk pulang les.
Dea gemas tak terkira, sosok pemuda yang sedang dekat dengannya itu, meski berbeda sekolah cukup dikenali sebagai pemuda idaman. Mereka bertemu saat pertandingan basket antar SMA, dan kebetulan sekali...Dea adalah anggota pemandu sorak, dimana tim basket SMA nya dan SMA Jovanka yang ketika itu merupakan anggota tim basket bertanding di sekolah Dea.
Bukankah sempurna?
/
"Ntar baliknya gue dijemput Jovanka, Will...jadi pada duluan aja."Gibran menoleh ke belakang dengan tatapan mendelik tak percayanya, "ngapain?"
"Serius?! Aahhhh, sweet....semoga cepet-cepet jadian ihhh! Gemes deh." seru Inggrid merengek.
Willy mengangguk, "les bareng, De?"
Dea mengangguk menatap ke arah luar kaca jendela, "iya. Abis itu jalan. Cuma makan sih..." jawab Dea ikut geli dan mesem-mesem sendiri, ia lantas melirik Gibran yang memasang tampang datar, "dia ngga lagi PHP kan, De?"
"Ah berburuk sangka deh, Lo Gib!" Inggrid mendorong punggung Gibran.
"Ya kali aja. Kaya yang udah-udah..." jawab Gibran.
Astaga!! Seru penghuni mobil.
Willy menginjak remnya tiba-tiba sampai membuat olesan liptin Inggrid keluar dari garis bibirnya, "ihhhh! Willyyy!"
"Woy an jing!" umpat Willy membuka jendela mobilnya ketika dari persimpangan itu beberapa motor menggunting jalannya.
Tatapan Dea lurus, melihat gerombolan MIPA 3 melintas dengan wajah tengil mereka, terakhir ada tatapan tajam nan menatap merendahkan dari sosok Rifal, brakk!
Ia bahkan menggebrak kap mobil Willy, "nyetir jangan sambil dandan plus rumpi." mereka terlihat tertawa mencibir, "haha, cowok cantik." Bahkan Yusuf terlihat membuat gerakan kedua tangan membentuk love ke arah mobil Willy.
"Bang sat." Umpat Gibran.
"Woyyy sin ting!!" teriak Inggrid, lihatlah ada Narasheila yang bahkan kemarin-kemarin justru dekat dan masuk ke dalam circle mereka, setelah gagal mereka raih.
Willy, adalah orang yang paling murka sebab, ia merasa dihina habis-habisan, bukan karena kelakuan pagi ini....namun, ia tau, hari ini mereka hanya ingin memvalidasi bahwa Nara tengah bersama mereka.
Yap! Willy mengakui menyukai Nara. Tetangga baru di komplek G. Gadis yang sempat berbaur dan menyatu sebentar dengan Inggrid, Dea, Willy, dan Gibran.
"Sabar Wil, gue tau Lo ngambek gara-gara kemaren Nara tolak Lo. Cewek masih banyak."
.
.
.
.
Dea ikut kalian aman, Dea kalian tahan, kalian gk selamat.
itu ketua Genk cuma lagi tatrum aja, bukan Maslah Gedhe kog
bukan Kirana kalian di halangi Genk motor tapi karena dea
jari nya di tahan, belum tau kenyataan nya kenapa Kirana memanfaatkan willy😁
aku yg nonton sambil nyemilin kacang
perlu kayak pernyataan.
kamu kan belum secara tega bilang Dea aku suka sama kamu, mau nggak kamu jadi pacarku.
cuma Hts, moro² cium paksa, tiba² ngajak jalan², tanpa diminta jadi donatur...
jangan salahkan Dea ,klo Dea nganggep kalian bukan siapa²
dari sini dea-rifal mulai landing 😁😁