NovelToon NovelToon
Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa

Status: tamat
Genre:Romansa-Percintaan bebas / Diam-Diam Cinta / Cinta Murni / Tamat
Popularitas:295.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mirna Samsiyah

"Apa itu mahabbah?"

Ketika mendapat pertanyaan itu Khalisa tidak bisa mendapat jawabannya hanya dengan berpikir satu atau dua hari, meski telah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk memahami apa itu mahabbah ia tak akan bisa betul-betul mengerti.

Namun ada satu orang yang membuat Khalisa merasa jika dekat dengannya maka ia juga dekat dengan sang pencipta—dekat pula pada arti dari mahabbah.

Suatu hari di pertengahan bulan suci ramadhan, ia mengungkapkan perasaannya berharap mereka memiliki rasa yang sama dan mau menjalani ibadah paling lama yakni pernikahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirna Samsiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27

Rindang terkejut bukan main ketika membuka pintu apartemen dan mendapati tulisan pada kertas di atas lantai. Ia menoleh ke kanan dan kiri seolah mencari keberadaan si pengirim surat aneh tersebut yang tentu saja sudah tidak ada.

The day!

Rindang segera meremass kertas tersebut sebelum Jason atau Khalisa mengetahuinya. Ia tidak tahu apa motif orang tersebut melakukan semua teror ini. Namun hari ini Rindang akan melaporkannya pada polisi, ia tidak bodoh untuk tak melaporkan ini apalagi orang tersebut sudah keterlaluan sampai mendatangi apartemennya. Dulu Rindang merasa ini adalah tempat paling aman untuknya tapi sekarang tidak lagi. Rasanya Rindang tak ingin tinggal disini lagi tapi sejauh ini Casey Avenue adalah apartemen paling strategis karena dekat dengan kampus Khalisa dan dirinya.

"Rindang."

Rindang terkesiap mendengar suara Jason, ia memasukkan kertas yang sudah berbentuk menjadi gumpalan ke dalam saku piyamanya dan membalikkan badan. Tadinya Rindang ingin membeli sarapan untuk Jason dan Khalisa di bawah tapi setelah melihat surat itu ia jadi takut untuk keluar sendirian.

"Kamu mau kemana?" Tanya Jason yang baru bangun bahkan matanya masih setengah terbuka. Ia tidur di kamar tamu sementara Khalisa tidur dengan Rindang.

"Nggak kemana-mana." Rindang segera menutup pintu dan menarik tangan Jason agar duduk di sofa. "Masih ngantuk kok udah bangun?"

"Ini jam berapa?"

"Baru setengah 6." Rindang melangkah masuk ke kamarnya, ia melihat Khalisa masih duduk di atas sajadahnya. Rindang tidak tahu berapa lama Khalisa berada di posisi itu sejak ia baru bangun tadi.

Khalisa menekan-nekan tasbih digital di tangannya. Rindang penasaran apa yang Khalisa bisikkan sambil menekan tasbih tersebut.

"Mau sarapan apa, aku mau ajak Jason keluar." Rindang mengambil karet gelang di meja riasnya dan menguncir rambutnya asal.

Khalisa menoleh pada Rindang, "nasi kuning Bu Dhe Lasmi aja di depan pasar, tahu kan?"

"Oke."

"Ada banyak kunciran disitu kenapa pakai karet gelang bekas nasi pecel?" Khalisa heran melihat Rindang menggunakan karet gelang untuk menguncir rambutnya padahal ia memiliki banyak tali rambut di meja rias.

"Cinta Indonesia."

Khalisa manggut-manggut, "emangnya karet gelang itu buatan Indonesia?"

"Iya." Kata Rindang yakin. Kenapa mereka harus berdebat tentang karet gelang dipagi yang cerah ini. "Kamu dari tadi baca apa sih?"

"Macem-macem." Khalisa beranjak dari atas sajadah dan melipatnya. "Baca shalawat, tasbih, istighfar."

"Mmm kalau baca itu kamu pasti dilindungi kan sama Tuhan kamu?"

Khalisa mengangguk, "Aku berdoa seperti itu, kenapa emangnya?"

"Nggak apa-apa, aku berangkat dulu." Rindang menyambar tas kecil di atas meja riasnya dan keluar dari kamar. "Eh nanti Azfan tampil ya?" Rindang ingat sesuatu bahwa hari ini lomba MTQ akan dimulai di kampus Khalisa.

"Sepertinya gitu, aku belum tanya sih sama Azfan dia dapat nomor berapa." Khalisa mengganti mukenah dengan jilbab berwarna hitam. "Kamu mau lihat?"

"Nonton di YouTube aja." Rindang melangkah ke ruang tamu menghampiri Jason yang telah selesai mencuci muka, ia pikir Jason akan kembali ke kamar dan tidur.

Khalisa membuka gorden kamar Rindang, ia langsung disajikan pemandangan gunung Merapi yang terlihat jelas karena langit sedang cerah.

Khalisa memutuskan untuk kembali ke apartemennya sendiri setelah ingat bahwa pagi ini akan ada petugas laundry yang mengantar pakaiannya. Lihatlah, Renata benar-benar memanjakan Khalisa sampai baju pun ia menggunakan jasa orang lain untuk mencucinya. Khalisa hanya mencuci pakaian dalam dan kadang beberapa jilbab.

Khalisa melirik ponselnya yang bergetar karena ia mengaturnya ke mode diam. Tertulis nama Koko Levin pada layar datar ponsel tersebut. Khalisa meraih ponselnya di atas nakas untuk menjawab telepon dari Levin. Khalisa penasaran ada apa Levin meneleponnya pagi-pagi begini.

"Assalamualaikum, Koko ada apa?" Khalisa membuka gorden kamarnya, itu adalah aktivitas yang setiap hari ia lakukan.

"Waalaikumussalam, selamat ulang tahun Khalisa."

Khalisa membelalak, bahkan ia lupa kalau ini adalah hari ulang tahunnya. Khalisa melangkah ke dapur, ia mengatur telepon menjadi loud speaker dan meletakkan ponselnya di atas meja makan agar ia dapat mendengar suara Levin sementara ia membuka kulkas untuk mengambil beberapa buah.

"Apakah aku orang pertama yang mengucapkannya?"

"Iya, terimakasih Ko." Meski menjadi orang pertama itu tidak lantas membuat Khalisa senang lagi pula ia sudah pernah bilang kalau ia tidak pernah merayakan hari ulang tahun. Bahkan orangtua Khalisa dan Rindang pun tidak pernah memberi ucapan selamat seperti itu.

"Kamu mau hadiah apa?"

"Wah dapat hadiah juga?" Khalisa mengambil dua buah apel untuk dibuat menjadi jus, "nggak usah Ko, doain aja semoga nilai ujian aku tinggi."

"Enggak-nggak aku harus kasih kamu hadiah."

Khalisa berpikir, ada kah sesuatu yang ia inginkan sekarang? tidak ada. Khalisa tidak menginginkan apapun tapi ia harus tetap menghargai Levin yang telah berbaik hati hendak memberinya hadiah.

"Ayo makan bersama dengan para anggota komunitas mualaf Minggu depan."

"Boleh, mau makan apa?"

"Makanan mahal boleh ya?" Canda Khalisa.

"Boleh banget, lagian sebentar lagi aku udah nggak di Jogja."

"Kalau gitu aku harus sering minta traktir makan dong." Khalisa tertawa. Sebentar lagi Levin harus mengikuti koas dan rencananya cowok itu akan pergi jauh ke Banyuwangi untuk melakukan itu.

"Setiap hari juga nggak apa-apa."

"Sekali lagi terimakasih Ko."

"Sama-sama, aku tutup dulu ya nanti kita ketemu di kampus."

"Iya assalamualaikum." Khalisa memutus sambungan setelah mendengar jawaban salam Levin.

Khalisa mencuci apel itu sebelum memotongnya menjadi lebih kecil. Ia tidak tahu apakah nasi kuning dan jus apel adalah kombinasi yang pas untuk sarapan. Ia hanya ingin mengosongkan kulkas sebelum pergi belanja ke pasar besok pagi.

******

Tangan kiri Azfan begitu terampil menggoreskan tinta hitam pada kanvas, ia hampir menyelesaikan kaligrafi basmalah yang ia kerjakan selama seminggu ini. Ia menggunakan kombinasi warna hitam dan emas untuk membuat bacaan basmalah itu.

"Indah sekali." Azfan memuji bacaan basmalah tersebut, ia tidak bermaksud memuji dirinya sendiri karena keterampilannya membuat kaligrafi adalah semata-mata anugerah dari Allah.

Seharusnya Azfan berlatih untuk persiapan lomba nanti malam tapi ia justru menyelesaikan kaligrafi ini untuk menenangkan diri. Membayangkan dirinya tampil di depan banyak orang saja membuat Azfan gugup. Apalagi banyak peserta lain yang jauh lebih baik darinya.

Azfan akan memberikan kaligrafi itu pada Khalisa. Meski itu tidak bisa membalas semua kebaikan Khalisa pada Azfan tapi hanya itu yang bisa Azfan berikan. Ia tidak dapat membeli barang mahal untuk Khalisa.

"Mas." Suara seorang perempuan mengalihkan perhatian Azfan diikuti suara ketukan beberapa kali.

Dari suaranya Azfan sudah bisa tahu kalau itu Ayu, ia beranjak dari duduknya untuk membuka pintu.

"Kenapa Yu?" Azfan melihat Ayu berdiri di depan pintu tentu saja tidak dengan kosong karena setiap kali kesini Ayu pasti membawakan makanan untuknya. Entah itu masakan ibu Ayu atau makanan yang Ayu beli di pasar. Berkali-kali Azfan bilang bahwa Ayu tidak perlu memberi makanan seperti ini karena itu membuatnya tidak enak. Namun Ayu tak pernah mengindahkannya dan tetap memberi Azfan makanan.

"Mas Azfan belum sarapan kan, nih aku bawain getuk, Ibu bikin sendiri lo." Ayu menyodorkan sepiring getuk yang telah dibaluri kelapa parut.

"Terimakasih ya, sampaikan terimakasih juga sama Ibu." Azfan mengulas senyum pada Ayu, senyum yang membuat Ayu tidak ingin segera pergi dari sana.

"Sama-sama Mas, oh iya nanti Mas ikut lomba MTQ itu ya?"

"Iya, kalau mau lihat boleh datang ke kampus."

"Aku pengen deh kuliah di UII biar ketemu mas Azfan eh maksudnya—" Ayu melirik ke kanan dan kiri karena kelepasan bicara.

"Maksudnya?"

"Maksudnya kan UII bagus tuh jadi aku pengen kuliah disana, tapi tes masuknya susah ya?"

"Kalau mau berusaha kamu pasti bisa kok kuliah disana."

Suara nada dering ponsel Azfan terdengar nyaring mengalihkan perhatian si pemilik.

"Sekali lagi makasih untuk makanannya, aku masuk dulu." Azfan masuk untuk melihat seseorang yang meneleponnya.

Raut wajah Ayu berubah kecewa setelah Azfan masuk padahal ia masih ingin mengobrol lebih lama tapi Azfan tak pernah mengajaknya masuk. Mereka hanya mengobrol sebentar di depan pintu. Itulah alasannya kadang Ayu mengunjungi Mangan Gelato agar bisa melihat Azfan lebih lama.

"Assalamualaikum Khalisa ada apa?" Azfan menempelkan ponsel di telinga menjawab telepon dari Khalisa. Entah kenapa jika Khalisa menelepon ia selalu teringat pada kejadian malam itu dimana Khalisa dan Rindang mengalami pelecehan seksual. Untungnya mereka tertangkap sehari setelah kejadian itu, Azfan berharap tak ada lagi kejadian serupa yang menimpa siapapun.

"Waalaikumussalam, Azfan aku ganggu kamu nggak?" Suara Khalisa menyambut di seberang sana.

"Enggak kok." Sudut bibir Azfan terangkat dengan sendirinya membentuk senyum manis, ia memutar kaligrafi di tengah ruangan yang hampir jadi.

"Aku cuma mau tanya nanti lombanya kamu dapet nomor berapa?"

"Nomor—" Azfan melangkah ke meja belajarnya untuk melihat nomor peserta yang ia dapatkan kemarin, "78."

"Oh malem ya?"

"Kalau nggak ada halangan inshaa Allah sekitar jam 9, kamu mau lihat?"

"Inshaa Allah aku datang kan harus kasih kamu semangat, lagian kapan lagi aku bisa denger Qiraah kamu itu kalau nanti malam nggak datang."

Azfan tertawa, Khalisa memang ahlinya memuji orang lain. Meski ini bukan pertama kalinya tapi Azfan merasa dadanya bergemuruh dan menghangat kala mendengar pujian Khalisa.

"Ya udah aku cuma mau tanya itu."

"Eh Khalisa." Seru Azfan sebelum Khalisa menutup telepon.

"Ya?"

"Nanti aku mau kasih kamu sesuatu."

"Apa itu?"

"Aku bikin kaligrafi buat kamu."

"Oh ya? Ya ampun kamu baik banget sih bikinin aku kaligrafi."

"Enggak, justru selama ini kamu udah baik sama aku."

"Makasih ya Azfan, itu akan jadi pajangan dinding pertama di apartemen ku."

"Aku harap kamu suka, sampai ketemu nanti malam." Azfan mengucapkan salam lalu memutus sambungan setelah Khalisa menjawab salamnya.

Setelah mendapat telepon dari Khalisa, Azfan merasa memiliki energi lebih untuk menyelesaikan kaligrafi tersebut. Ia telah menyiapkan bingkai untuk kaligrafi itu sebelum nanti diberikan pada Khalisa.

1
Mirna
Luar biasa
Kamrah Azizah
kereeen bageet
Hr sasuwe
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Rochis Khikma
mksh kk akhirnya happy ending...oh ya ada kelanjutannya untuk anak2 mereka gk kk?
Mirna: Udah ga ada kayaknya, ga kepikiran bikin lagi 😁
total 1 replies
Nina
di tunggu cerita yang baru kak mirna
Marsha Andini Sasmita
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Marsha Andini Sasmita
👍👍👍❤️👍👍👍
Marsha Andini Sasmita
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Titin Erawati
sukses selalu Thor, ditunggu cerita yg lainya,jgn lupa jaga kesehatan ♥️♥️♥️♥️♥️
34. Tiara Atikah
bagus banget😘😘😘😍
Mirna: Wah makasih Kak Tiara Atikah, nama kamu mirip Mahira—Mahira Atiqah 😁
total 1 replies
Jauza Lesmono
sukses terus kak dan di tunggu karya karya selanjutnya,salam sehat
Mirna: Makasih Kakak 😍
total 1 replies
RINAWATI AZZA
buat crita azka dewasa donk mbk...
Mirna: Nggak bosen sama keluarga Alindra? 🤣
total 1 replies
૦ 𝚎 ɏ ꄲ 𝙚 ռ
kak Mirna... sayangku..
makasih jg udah kasih kita bacaan yg positif bgt.. aku tunggu karyamu yg lain kak.. sukses terus kaka sayang...😘😘
q bakal kangen ma mereka pasti..😥
૦ 𝚎 ɏ ꄲ 𝙚 ռ: insyaa Allah ka Mirna...
kpn launching karya baru nih..hehe
total 2 replies
Fat Tonah
terimakasih kasih telah update sebenarnya ndk terima cerita ni berakhir tp d tnggu novel dan cerita lain berikutnya love sekebon untuk authorx love love love
Mirna: Wah love dua kebon buat Kak Fat, makasih udah baca Mahabbah Cinta Khalisa
total 1 replies
૦ 𝚎 ɏ ꄲ 𝙚 ռ
Alhamdulillah... selamat Abi n umma. ...
Bundanya Abhipraya
hemm ga rela tamat dehhh
Bundanya Abhipraya
suka bgt persahabatan mereka...
Bundanya Abhipraya
selamat ya azka punya dede bayi cantikk... yg akur2.
Lusia
jangan tamat dulu ya kk, panjangin aja gak akan bosen
Mirna
yang pada nanya Zulaikha, fotonya ada di tengah-tengah Papa dan Mama nya ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!