NovelToon NovelToon
Dicintai Ugal-Ugalan Oleh Suami Amnesia

Dicintai Ugal-Ugalan Oleh Suami Amnesia

Status: tamat
Genre:Berbaikan / Suami amnesia / Perjodohan / CEO / Tamat
Popularitas:29.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Empat tahun menikah tanpa cinta dan karena perjodohan keluarga, membuat Milea dan Rangga Azof sepakat bercerai. Namun sebelum surat cerai diteken, Rangga mengalami kecelakaan hebat yang membuatnya koma dan kehilangan ingatan. Saat terbangun, ingatannya berhenti di usia 22 tahun. Usia ketika ia belum menjadi pria dingin dan ambisius.

Anehnya, Rangga justru jatuh cinta pada Milea, istrinya sendiri. Dengan cara yang ugal-ugalan, manis, dan posesif. Di sisi lain, Milea takut membuka hati. Ia takut jika ingatan Rangga kembali, pria itu bisa kembali menceraikannya.

Akankah cinta versi “Rangga 22 tahun” bertahan? Ataukah ingatan yang kembali justru mengakhiri segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter — 8.

Lalu tiba-tiba, Milea mulai menyadari satu hal yang mengganggu beberapa hari kemudian.

Rangga terlalu tenang.

Pria itu tak lagi banyak bertanya seperti hari-hari sebelumnya, tak mengikutinya ke dapur. Tak memanggil-manggil hanya untuk memastikan Milea masih ada di rumah.

Rangga hanya duduk di ruang kerja ruangan yang katanya dulu jarang ia masuki, menatap laptop yang tak menyala seolah pikirannya melayang entah ke mana.

Milea memperhatikan dari kejauhan, perasaan tak enak menyusup pelan.

“Rangga?” panggilnya akhirnya.

Laki-laki itu menoleh. Senyumnya muncul, namun tak sampai ke mata. “Kenapa?”

“Kepalamu masih sakit?”

“Sedikit, tapi nggak parah.” Jawabnya ringan seperti biasa.

Itu bohong.

Milea tahu, ia pun mendekat. “Kamu minum obat belum?”

Rangga menggeleng. “Nanti aja.”

“Nanti kapan?” Milea mendesah. “Dokter bilang—”

“Mil,” potongnya pelan. “Kamu kelihatan capek.”

Milea terdiam.

Rangga berdiri, ia lebih tinggi dari dekat. Tatapannya lembut, tapi mengandung sesuatu yang membuat dada Milea sesak.

“Kamu istirahatlah, aku nggak apa-apa.”

Kini, Rangga bahkan selalu peduli dengan lelahnya. Akhirnya, Milea mengangguk singkat. “Aku ke kamar duluan...”

Namun saat berbalik, tangannya ditahan. Pegangan itu tidak kuat, justru terkesan penuh kehati-hatian. “Jangan pergi dulu.”

Milea menoleh. “Ada apa?”

Rangga menatap tangannya sendiri yang masih menggenggam lengan Milea, lalu perlahan melepaskannya. “Aku mimpi.“

“Mimpi?”

“Iya.” Ia menarik napas pelan. “Tentang kamu.”

Jantung Milea berdegup lebih cepat. “Apa mimpinya?”

Rangga terdiam cukup lama. “Kamu pergi. Aku panggil-panggil, tapi kamu nggak nengok sama sekali.”

Itu bukan mimpi, mungkin itu masa depan yang sudah Milea rencanakan jika Rangga kembali dingin padanya seperti dulu.

“Cuma mimpi, jangan dipikirkan.” Ucap Milea menenangkan.

“Tapi rasanya nyata,” Rangga menatap lurus ke mata Milea. “Kayak pernah kejadian.”

Milea memalingkan wajah. “Sebaiknya kamu juga istirahat, agar pikiranmu nggak macam-macam.”

Lalu Milea melangkah pergi sebelum dirinya sendiri goyah, Rangga menatap punggung istrinya yang berbalik pergi dengan raut wajah ketakutan.

Siang itu, hujan turun deras. Langit menggelap, angin berdesir dingin. Milea berdiri di jendela kamar, menatap halaman yang basah, pikirannya kacau.

Ia lelah, bukan secara fisik melainkan batin. Rangga yang sekarang terlalu berbeda dari Rangga yang ia kenal, terlalu… manusia. Dan itu berbahaya, karena Milea sudah membangun dinding agar tak lagi berharap.

Ketukan pelan terdengar di pintu.

“Masuk,” ucap Milea tanpa menoleh.

Rangga masuk dengan langkah hati-hati. “Kamu belum makan.”

“Nanti.”

Rangga mendekat. “Aku bikin sup.”

Milea menoleh cepat. “Kamu?”

“Iya.”

“Kamu seharusnya nggak—”

“Aku cuma potong-potong sayuran,” sela Rangga, setengah defensif. “Nggak lakuin hal yang berat...”

Milea terdiam.

Ia duduk di tepi ranjang, Rangga menyodorkan mangkuk. “Nih, cicipi.”

Milea menatap sup itu lama, lalu mengambil sendok. Sup itu hangat, rasanya sangat sederhana. Namun entah kenapa… rasanya seperti rumah.

“Enak,” gumam Milea pelan, dia menaruh mangkuk sup di atas nakas.

Rangga tersenyum puas. “Syukurlah.”

Ia duduk di lantai, menyandarkan punggung ke ranjang di dekat kaki Milea. Diluar, hujan semakin deras.

“Aku inget satu hal lagi,” kata Rangga tiba-tiba.

Milea menegang. “Apa?”

“Dulu aku sering pulang malam.”

Milea menunduk. “Iya.”

“Kamu nunggu?”

“Iya.”

Rangga tertawa kecil, getir. “Bodoh ya.”

Milea menggeleng. “Itu pilihan.”

Rangga menatap ke depan. “Aku pasti nyebelin.”

Kata itu menghantam Milea.

“Kenapa kamu nggak marah?” tanya Rangga pelan. “Kalau aku di posisi kamu, aku pasti benci.”

Milea memejamkan mata, karena marah itu sudah habis. Yang tersisa hanya... lelah.

“Karena marah nggak mengubah apa-apa,” jawab Milea lirih.

Rangga berdiri, ia berdiri tepat di depan Milea sekarang.

“Kalau aku minta maaf sekarang…” katanya ragu. “Terlambat ya?”

Milea membuka mata, pandangan mereka bertemu.

“Maaf nggak bisa mengembalikan rasa yang hilang,” jawab Milea jujur.

Rangga mengangguk pelan. “Aku ngerti.”

Ia melangkah mundur, memberi jarak. Namun tiba-tiba… tubuhnya limbung.

“Rangga!”

Milea berdiri spontan saat Rangga terhuyung, tangannya langsung menopang tubuh laki-laki itu.

“Pusing,” gumam Rangga.

Tanpa sadar, Milea memeluk suaminya agar tidak jatuh. Itu bukan pelukan romantis, hanya pelukan refleks. Namun detik itu… segalanya berhenti.

Tubuh Rangga hangat, beratnya nyata. Napas pria itu terdengar di dekat leher Milea, dan Rangga tidak menarik diri. Ia justru memeluk balik Milea, dengan pelan dan setengah ragu... seolah takut Milea menghilang.

“Jangan pergi dariku,” bisik Rangga.

Kalimat itu sederhana, namun Milea merasa dadanya runtuh. Ia berdiri kaku, tangannya gemetar di punggung Rangga.

“Rangga…”

“Aku nggak ingat masa lalu,” lanjut Rangga, suaranya serak. “Tapi aku tahu satu hal.”

“Apa?”

“Aku butuh kamu.”

Itu bukan permintaan, itu pengakuan. Milea menutup mata, air matanya jatuh tanpa izin. Pelukan Rangga semakin erat. Bukan nafsu, melainkan ketakutan. Dan kebutuhan untuk tidak sendirian.

Beberapa detik… atau menit… Milea tak tahu. Namun akhirnya ia mendorong tubuh Rangga perlahan.

“Cukup,” katanya dengan suara bergetar.

Rangga langsung melepaskan.

“Maaf, aku—”

“Bukan itu,” potong Milea, ia mengusap air mata. “Aku yang nggak siap.”

Rangga menatap penuh penyesalan. “Aku bikin kamu nggak nyaman?”

Milea menggeleng. “Kamu bikin aku bingung.”

Rangga terdiam.

“Aku takut, kalau aku terbiasa sama kamu yang sekarang… lalu suatu hari kamu kembali jadi kamu yang dulu, aku akan hancur.” Jujur Milea.

Kalimat itu membuat Rangga menunduk.

“Kalau aku berubah lagi kayak dulu…” katanya pelan. “Kamu bakal pergi?”

Milea tidak menjawab, karena itu jawabannya. Rangga mengangguk pelan, seolah memahami.

Malam itu, mereka tidur terpisah. Namun Milea tak bisa memejamkan mata, sentuhan itu masih tertinggal. Hangatnya pelukan Rangga masih terasa. Dan hatinya… mulai berkhianat pada logika.

Milea menyadari satu hal yang menakutkan, ternyata dia masih mencintai Rangga. Dan itu adalah kesalahan terbesar yang ia buat.

1
Aditya hp/ bunda Lia
wah ... tamat yah happy ending si Ares sadar bisa menerima dan si Tasya nyeraaah ..
Rita
lega,gpp lbh enak gini to the point happy ending pula 🥰🥰🥰🥰trmksh thor sukses sllu
Rita
yg dengernya ikut plonk gemesh
Rita
g ada yg g mungkin
Rita
jgn kyk Ares jgn lgsg percaya nih pasti ada yg hasut
Nadiyah1511
syukurlah ga ada dendam yg perlarut2...happy ending 💜

semangat berkarya ka💪💜
Nadiyah1511
aaahhhh senangnya udh plong ya bang langit..masalah d bales ga'y urusan belakangan yg penting jujur dlu👍💜
Desyi Alawiyah
Aaahhh happy ending... Akhirnya, Nara dan Langit akan memiliki baby...

Makasih kak, ceritanya bagus banget... Sukses terus yah Kak, aku tunggu karya kak Re selanjutnya... 😇😇😇
Desyi Alawiyah
Wah, salting brutal sih ini... Coba kamu ngomongnya dari dulu, Lang ke Nara.. 🤭

Tapi oke lah, sekarang kalian udah nikah.. dan sah secara hukum dan agama.. ☺
Wulan Sari
ceritanya bagus banget ada rasa harunya dan greget sedih nano2 deh tapi akhir cerita ini happy end bahagia ,.. semangat 💪 Thor salam sukses selalu ya Thor 👍❤️🙂🙏
Tiara Bella
tamat jg akhirnya dan happy ending....semua bahagia...
Tiara Bella
akhirnya terbuka dngn perasannya sndiri dan langit ternyata gk bertepuk sebelah tangan
Miss Typo
happy ending 👏👍
aku senang bahagia melihat mereka berdua bahagia 😍
huaaaaaa dah tamat l, aslinya belum rela pisah dgn mereka, tapi ada pertemuan pasti ada perpisahan.

terimakasih thor ceritanya luar biasa, sukses terus dgn karya-karyanya di novel 💪
Miss Typo
huaaaaaa seneng banget rasanya akhirnya Langit ngungkapin perasaan nya, tapi kok aku mlh nangiss 😭
cengeng bgt deh aku, sedih seneng terharu nangis 🙈
Rita
makanya kmu yg ngelepasin sndri kmu yg nyesel
Rita
ekhem ada yg mulaii😜😁
Yuli Yulianti
percuma juga kembali kerana melibatkan ortu yg punya masalah masa lalu yg tidak bisa di abai kan yg ad malah banyak masalah ..Nara mending jalani masa depan hidup mu dgn langit kerana dia suami mu
Tiara Bella
gk ush mw Nara km udh nikah sm langit klu km balik sm Ares ribet mmh km gk akur sm vino.....
Tiara Bella
km sudah terlambat Ares....heh....
Miss Typo
mana bisa begitu? Nara dah milik Langit selamanya gak ada tawar menawar mereka dah sah 🤣
lagian hati Nara dah buat Langit kok, dia dah mulai cemburu gitu, apalagi cintanya Langit dari dulu hanya untuk Nara 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!