Rani, seorang pembalap motor berjiwa bebas, menentang keras perjodohan yang diatur ayahnya dengan seorang ustadz tampan bernama Yudiz. Meskipun penolakan itu tak digubris, pernikahan pun terjadi. Dalam rumah tangga, Rani sengaja bersikap membangkang dan sering membuat Yudiz kewalahan. Diam-diam, Rani tetap melakoni hobinya balapan motor tanpa sepengetahuan suaminya. Merasa usahanya sia-sia, Yudiz akhirnya mulai mencari cara cerdik untuk melunakkan hati istrinya dan membimbing Rani ke jalan yang benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Pagi harinya, cahaya matahari menyelinap masuk melalui celah gorden kamar rumah sakit.
Rani baru saja selesai dibantu perawat membersihkan diri saat pintu kamar diketuk perlahan.
Yudiz membuka pintu dan tertegun melihat siapa yang datang.
Bukan Umi Salmah atau ayahnya, melainkan Kyai Mansyur.
Wajah pria tua itu tampak sangat layu, matanya sembap, dan bahunya merosot seolah memikul beban yang sangat berat.
"Kyai?" Yudiz menyapa dengan nada hormat namun tetap waspada.
Kyai Mansyur melangkah masuk dengan ragu. Di depan ranjang Rani, pria yang sangat dihormati di kalangan pesantren itu tiba-tiba menunduk dalam, bahkan hampir bersimpuh jika Yudiz tidak segera menahannya.
"Nak Yudiz, Nak Rani. Saya datang ke sini bukan sebagai Kyai, tapi sebagai seorang ayah yang gagal," suara Kyai Mansyur bergetar hebat.
"Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya atas perbuatan keji putri saya, Laila. Saya tidak pernah menyangka dia akan senekat dan selalim itu."
Rani menatap Kyai Mansyur dengan tatapan sayu.
Ia merasa iba melihat pria saleh itu harus menanggung malu akibat ulah anaknya.
"Saya sudah menghukumnya di pondok," lanjut Kyai Mansyur sambil menghapus air matanya. Namun, kalimat berikutnya membuat suasana kamar kembali tegang.
"Tapi, Yudiz,sebagai ayahnya, hati saya hancur melihatnya terus menjerit histeris. Dia mengakui kesalahannya dan berjanji akan bertaubat nasuha."
Kyai Mansyur menatap Yudiz dengan pandangan memohon yang sangat memilukan.
"Bisakah kamu memberikan satu kali lagi kesempatan? Bukan sebagai istri utama, tapi biarkan dia tetap dalam perlindunganmu untuk menebus dosanya pada Rani. Saya takut dia akan hilang akal jika benar-benar kamu ceraikan sekarang."
Yudiz terdiam, rahangnya mengeras. Ia melirik Rani yang juga tampak terkejut.
"Kyai, saya sangat menghormati jenengan," jawab Yudiz dengan suara rendah namun tegas.
"Tapi Laila bukan hanya melakukan kesalahan kecil. Dia mencoba meracuni istri saya. Memberinya kesempatan lagi berarti saya membiarkan nyawa Rani terancam untuk kedua kalinya."
Rani menarik napas panjang, ia menggenggam tangan Yudiz, mencoba memberikan kekuatan sekaligus mencari ketenangan.
"Kyai," panggil Rani pelan.
"Maaf sebelumnya, tapi pernikahan kami bukan tempat untuk rehabilitasi perilaku seseorang. Saya hampir kehilangan nyawa semalam."
Yudiz langsung tersentak melihat seorang ulama besar yang sangat dihormatinya itu bersimpuh di lantai rumah sakit.
Ia segera turun dari tepi ranjang dan ikut berlutut untuk mengangkat bahu Kyai Mansyur, tidak tega melihat orang tua itu merendahkan diri sedemikian rupa.
"Kyai, tolong jangan begini. Bangun, Kyai... Jenengan adalah guru saya, orang tua saya," ucap Yudiz dengan suara yang bergetar karena rasa hormat yang bertabrakan dengan amarah.
Kyai Mansyur menggeleng, air matanya menetes di lantai.
"Yudiz, saya tahu permintaan saya ini tidak masuk akal. Saya tahu Laila sudah melampaui batas. Tapi sebagai ayahnya, saya melihat dia sudah seperti orang kehilangan arah. Dia terus memanggil namamu dan memohon ampunan. Berikan dia satu kali saja kesempatan untuk memperbaiki diri di bawah bimbinganmu. Jangan lepaskan dia dalam keadaan hancur seperti ini."
Yudiz terdiam mematung. Pikirannya berkecamuk.
Di satu sisi, ia sangat menghormati Kyai Mansyur dan merasa berhutang budi pada jasa-jasa beliau terhadap keluarganya. Namun di sisi lain, bayangan Rani yang pucat pasi dan nyaris kehilangan nyawa terus menghantui pikirannya.
Rani yang menyaksikan itu dari atas ranjang hanya bisa terdiam dengan mata berkaca-kaca.
Hatinya yang lembut merasa tersayat melihat seorang ayah memohon demi anaknya, namun logikanya berteriak bahwa Laila adalah ancaman nyata.
Yudiz menarik napas panjang, lalu menatap tajam ke arah Kyai Mansyur.
"Kyai, jika saya menerima dia kembali, itu bukan lagi sebuah pernikahan, tapi penjara. Saya tidak bisa menjanjikan kasih sayang, bahkan saya tidak bisa menjanjikan akan menatap wajahnya lagi. Apakah Kyai sanggup melihat putri Kyai hidup sebagai istri yang diabaikan sepenuhnya?"
"Asalkan dia tetap menjadi istrimu dan bisa bertaubat di sisimu, itu sudah cukup bagiku daripada melihatnya gila karena penyesalan," lirih Kyai Mansyur.
Yudiz menoleh ke arah Rani, mencari jawaban di mata istrinya.
Ia tidak akan mengambil keputusan apa pun tanpa persetujuan wanita yang nyaris menjadi korban itu.
"Rani..." panggil Yudiz pelan, suaranya seolah meminta izin sekaligus perlindungan.
Rani menatap Kyai Mansyur dengan tatapan yang sangat sedih namun penuh ketegasan.
Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan kekuatan untuk bicara meskipun dadanya masih terasa sesak.
"Kyaiz maafkan Rani," ucap Rani lirih namun jelas. "Rani sangat menghormati Kyai, tapi Rani juga manusia yang punya rasa takut. Rumah tangga adalah tempat untuk merasa aman, dan saat ini, keberadaan Laila membuat rumah itu terasa seperti medan perang bagi saya. Saya tidak bisa memberikan izin itu."
Kyai Mansyur tertunduk lesu, bahunya semakin merosot mendengar penolakan jujur dari Rani. Namun, sebelum suasana haru itu berlanjut, pintu kamar dibanting terbuka dengan keras.
BRAAAKK!
Nyai Salmah masuk dengan wajah merah padam. Di belakangnya, beberapa santri pengawal tampak bingung tidak bisa menahan emosinya.
"Hebat sekali kamu ya, Rani! Sudah membuat ulama besar bersimpuh di kakimu hanya untuk membela egomu!" teriak Nyai Salmah tanpa mempedulikan pasien lain di ruangan sebelah.
"Umi! Ini rumah sakit! Kecilkan suara Umi!" bentak Yudiz sambil berdiri pasang badan di depan ranjang Rani.
Nyai Salmah tidak peduli. Ia menunjuk-nunjuk Rani dengan telunjuknya yang gemetar.
"Gara-gara kamu, Yudiz jadi anak durhaka! Gara-gara kamu, persahabatan keluarga kita dengan Kyai Mansyur hancur! Laila itu khilaf, dia cuma ingin perhatian suaminya! Kenapa kamu begitu pendendam, hah?!"
"Umi, Laila meracuninya! Itu bukan khilaf, itu kejahatan!" Yudiz mencoba memegang lengan ibunya agar tenang, tapi Nyai Salmah menepisnya kasar.
"Halah! Paling cuma salah masukin bumbu! Jangan dilebih-lebihkan! Kamu itu sudah dicuci otak sama pembalap ini, Yudiz!" Nyai Salmah kembali berteriak, suaranya melengking tinggi hingga seorang perawat masuk untuk menegur.
Rani hanya bisa memejamkan mata, air matanya jatuh tanpa suara.
Ia tidak menyangka mertuanya sendiri akan mengamuk di saat dirinya masih terpasang infus.
"Umi, cukup!" suara Yudiz kini merendah, sangat rendah dan dingin, pertanda amarahnya sudah di puncak.
"Kalau Umi terus menghina Rani dan membuat keributan di sini, Yudiz terpaksa meminta satpam untuk mengantar Umi keluar. Abi sedang sakit, dan Umi malah menambah bebannya!"
Nyai Salmah tertawa sinis, matanya melotot tajam ke arah Yudiz.
"Pilih sekarang, Yudiz! Rujuk dengan Laila dan bawa dia kembali, atau kamu tidak usah lagi menganggap aku sebagai ibumu! Aku tidak sudi punya anak yang lebih membela istri keras kepala ini daripada kehormatan keluarga dan ibunya sendiri!"
Yudiz terpaku. Wajahnya pias. Ancaman itu adalah senjata paling mematikan yang bisa dilontarkan seorang ibu kepada anaknya. "Umi... kenapa Umi setega ini?"
"CUKUP!!"
Teriakan itu bukan berasal dari Yudiz, melainkan dari Rani.
Suaranya yang serak namun menggelegar membuat seisi ruangan seketika senyap.
Rani mencoba bangkit, mengabaikan rasa perih di perutnya dan selang infus yang tertarik kencang.
"Rani, jangan bergerak!" Yudiz panik dan mencoba menahan bahu istrinya.
Rani menepis tangan Yudiz pelan, matanya yang basah oleh air mata kini menatap lurus ke arah Nyai Salmah, lalu beralih ke Yudiz.
"Abi, rujuklah dengan Laila," ucap Rani dengan bibir bergetar.
Yudiz membelalakkan mata. "Rani, apa yang kamu katakan? Kamu gila? Dia hampir membunuhmu!"
Rani menggelengkan kepalanya perlahan, air matanya jatuh semakin deras.
"Aku tidak mau gara-gara aku, hubunganmu dengan ibumu putus. Aku tidak mau menjadi istri yang menyebabkan suaminya menjadi anak durhaka. Jika harga kedamaian di rumah ini adalah keberadaan Laila, maka biarkan dia kembali."
"Rani, tidak! Abi tidak akan sudi!" bentak Yudiz.
"Lakukan, Abi!" Rani memegang tangan Yudiz erat, suaranya melemah.
"Tapi aku punya satu permintaan. Jika Laila kembali, biarkan aku pergi ke rumah orang tuaku di Bandung untuk sementara waktu. Aku butuh waktu untuk tidak merasa takut di rumahku sendiri. Tolong, Bi. Kalau Abi sayang aku, jangan biarkan Umi membuang Abi."
Nyai Salmah tersenyum penuh kemenangan, sementara Kyai Mansyur hanya bisa tertunduk dengan perasaan campur aduk.
Yudiz menatap Rani dengan tatapan hancur. Ia merasa seperti baru saja dipaksa menyerahkan istrinya ke dalam kandang singa demi ego sang ibu.