NovelToon NovelToon
Cinta Di Tapal Batas

Cinta Di Tapal Batas

Status: tamat
Genre:Idola sekolah / Romansa pedesaan / Diam-Diam Cinta / Cintamanis / Tamat
Popularitas:56.2k
Nilai: 5
Nama Author: Buna Seta

Dini Kirana yang masih kelas dua SMA dijual oleh ayah tirinya kepada pria kaya yang sudah banyak istri untuk melunasi hutang. Dini memilih kabur dari rumah dan akhirnya kesasar ke salah satu Desa. Di tempat itu, Dini bertemu Aksa yang sudah berusia 28 tahun.

"Mas, boleh ya saya tidur di rumah kamu? Tolong Mas, saya butuh tempat tinggal."

"Kamu bukan siapa-siapa saya Dini, saya tidak mau digerebek warga Desa."

Bagaimana kisah selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Semua guru yang awalnya berjajar rapi serentak berjongkok, mencoba membangunkan Lusi yang jatuh pingsan. Guru paling galak itu kini pucat tak berdaya.

"Guru laki-laki, tolong angkat Lusi ke uks" titah kepala sekolah.

Semua guru pria saling pandang tampak keberatan mungkin ingat istrinya di rumah.

"Pak Aksa, tolong bantu angkat," Kepala sekolah seolah tahu apa yang guru-guru pikirkan, hanya Aksa satu-satunya guru pria yang masih lajang.

"Saya..." Aksa yang tidak punya niat untuk mengangkat pun menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal, tentu saja perasaan Dini harus dia jaga.

"Cepat Pak Aksa. Dimana rasa kemanusiaan kalian?" Kepala sekolah marah, padahal dia sendiri pun tidak mau melakukan itu.

Bukan hanya kepala sekolah, guru-guru wanita pun mendesak Aksa. "Kalau saya kuat tidak akan menyuruh, Pak Aksa" ucap salah satu guru. Mereka takut terjadi sesuatu dengan Lusi karena sudah 10 menit temannya itu belum sadar dari pingsan.

 Tidak ada pilihan lain, Aksa membungkuk lalu mengangkat tubuh Lusi keluar dari lapangan.

"Lah, lah. Dini pasti cemburu tuh" bisik teman satu kelas Dini.

"Iya, kenapa juga Pak Aksa mau gendong gitu," yang lain pun ikut komentar.

"Aaagghhh... bikin orang iri saja" teman sekelas Marini pun berbisik di samping telinga Marini.

"Sudah... jangan dibahas" Marini melirik Dini yang tidak jauh darinya tampak sedih, ia kasihan tapi tidak bisa berbuat apa-apa.

"Ya, biar saja sih, kok kalian pada usil. Pak Aksa kan belum punya istri" salah satu siswa wanita tampak puas melihat Dini cemburu.

Kusak kusuk para siswa pun semakin santer, ada yang pro Aksa bersama Lusi, ada juga yang pro Dini bersama Aksa. Kecuali yang pria tampak cuek saja kecuali Handoko. Entah senang atau sedih yang pria itu rasakan tapi bibirnya tersenyum tipis melihat adegan yang dilakukan Aksa.

Sementara dada Dini terasa berdetak terlalu cepat, tapi tidak mampu mengalihkan pandangannya dari Aksa yang menggendong Lusi. Rasa cemburu pun mengalir mengisi ruang dadanya hingga penuh dan sesak. Dia telan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Seharusnya Aksa tidak harus menggendong begitu. Bisa digotong bersama guru yang lain.

"Tenang Dini, aku yakin, Pak Aksa sebenarnya juga tidak mau melakukan itu" bisik Lestari.

"Sudahlah, Ri!" Dini minta Lestari untuk tidak membahasnya. Jujur ia kecewa, tapi tidak ada gunanya juga saat ini marah-marah, toh yang bersangkutan tidak mendengar.

 Upacara dilanjutkan, tapi Dini tidak bisa menangkap isi pidato yang disampaikan kepala sekolah. Sebab, ia tidak fokus mendengarkan. Bayangkan Aksa menggendong Lusi terus saja mengganggu.

Upacara selesai, lanjut belajar. Dini dan juga siswa yang lain kaget karena jam mengajar Aksa diganti oleh guru piket. Padahal semua tahu jika Aksa pagi ini hadir di sekolah.

"Pasti Pak Aksa mengurus Bu Lusi" ucap Dini dalam hati. Ia semakin kesal, kenapa juga harus dia padahal banyak guru wanita.

"Anak-anak, karena Pak Aksa sedang mengantar bu Lusi ke rumah sakit, saya yang akan menggantikan beliu."

Deg.

Dini kaget tapi tidak boleh egois karena niat Aksa baik menolong teman. Tetapi yang mengganggu pikiran Dini, apakah ketika sadar nanti Lusi tidak mencari kesempatan untuk bermanja kepada Aksa.

"Ibu Lusi sakit apa, Pak?" Tanya anak-anak.

"Kami belum tahu, semoga bu Lusi tidak mengalami penyakit serius," Guru pria itu mengajak anak-anak berdoa. Selesai berdoa dilanjutkan sesi mengajar dan belajar hingga tiba waktu istirahat.

"Tari, bekal aku kamu saja yang makan ya..." Dini memberikan bekal kepada Lestari.

"Terus, kamu? Kita makan berdua ya" Lestari yakin Dini masih kesal kepada pak Aksa hingga tidak selera makan.

"Kamu saja," Dini meninggalkan Lestari ke toilet.

"Dini... Hari ini kamu membawa bekal tidak?" Tanya Handoko yang sudah satu bulan cuek kali ini mengajak Dini ke kantin.

"Tidak" Dini tidak mau cerita jika bekalnya ia berikan kepada Lestari.

"Kita makan di kantin yuk, aku traktir" Handoko bersemangat. Dia tahu jika uang Dini banyak, tapi pria itu ingin ambil hati Dini selagi kesal dengan Aksa. "Witing Tresno Jalaran Seko Kulino" Gumamnya tanpa ia tahu jika Dini masih mendengar.

 "Kamu bicara apa Han?" Dini mengerutkan kening.

"Emmm... tidak-tidak, aku mau traktir kamu sekali ini saja. Mau ya, ya..." paksa Handoko. Dia tidak tahu jika Aksa memperhatikan mereka dari koridor.

Lain halnya dengan Dini, dia tahu jika Aksa tengah memperhatikan dirinya. Tetapi Dini segera berpaling. "Oke Han, aku mau," Dini menerima tawaran Handoko hanya untuk memanasi Aksa.

"Yes."

Handoko mengangkat tangannya lalu mengikuti Dini yang sudah berjalan lebih dulu.

"Han, kenapa kamu ninggalin aku sih..." ucap Bejo, napasnya naik turun mengejar Handoko.

Seeettt... Handoko berhenti meletakkan jari di mulut. "Sebaiknya hari ini kita masing-masing dulu," Handoko hanya ingin berdua bersama Dini.

"Lah, terus..." Bejo mengusap perutnya. Setiap hari ia hanya mengharap ditraktir Handoko, padahal perutnya sudah keroncongan.

"Nanti aku bawain makanan. Sana-sana," Handoko mendorong badan Bejo, kemudian mengejar Dini.

Tiba di kantin, ternyata Dini sudah memesan es teh manis.

"Lah, kamu sudah pesan teh, terus makanannya apa? Mie ayam, bakso, soto, atau..." Handoko absen makanan di kantin, tapi segera di potong Dini.

"Aku minum saja Han, masih kenyang" jujur Dini. Sebenarnya ia memang tidak mau ke kantin. Niatnya ke sini hanya karena kesal sama Aksa.

Handoko sebenarnya kecewa, tapi tidak bisa memaksa, kemudian memesan minuman yang sama. Ada kesempatan ngobrol berdua bersama wanita yang ia cintai pun sudah senang. Namun, upaya nya gagal, karena sudah diajak ngobrol ini itu, Dini tidak begitu tertarik.

Hingga bel pelajaran terakhir berbunyi, Dini belajar seperti biasanya hingga waktu pulang. Hari itu Dini pulang sendiri, karena Lestari giliran belajar kelompok.

"Dini..." panggil seorang pria. Langkah kaki yang terdengar tenang berjalan mendekat. Dini tidak harus menoleh untuk tahu siapa orang itu, aroma parfum familiar menyeruak di antara aspal parkiran.

 Bunyi kunci motor yang Dini masukkan ke lubang kontaknya terdengar kasar, seirama napasnya yang memburu. Bayangan Aksa menggendong bu Lusi tadi pagi terus berputar di kepalanya.

"Tunggu Dini... kita perlu bicara," Suara Aksa terdengar rendah mencoba menjaga wibawa meskipun matanya menyapu sekitar, memastikan tidak ada siswa dan guru melihat dan mendengar.

Dini berbalik cepat, matanya yang memerah menancap tajam langsung ke manik mata Aksa. "Mau bicara apa, Pak? Tentang teknik menggendong yang benar?"

"Jangan begitu dong Dini..." Aksa masih berbicara lembut, kakinya maju menghalangi motor Dini yang tinggal berjalan.

"Permisi Pak, ketabrak nanti!" Ketus Dini dengan wajah kesal.

"Tabrak saja, kalau aku mati hati kamu pasti pindah ke hati Handoko yang masih muda dan tampan," Aksa berbalik menyerang walaupun dengan nada candaan.

"Jangan menyalahkan orang lain hanya untuk menutupi kesalahan sendiri, Pak," Sindir Dini ketus.

"Ya Allah... begini ini kalau punya calon istri masih bocah, harus banyak sabar" gumam Aksa. Niat hati ingin minta maaf tetapi belum apa-apa sudah didamprat.

Dini mendengar gumaman Aksa, mendelik gusar. Walaupun yang Aksa katakan memang benar.

"Pak Aksa, ayo... katanya mau ikut ke rumah sakit menjenguk bu Lusi," seorang guru memanggil Aksa, menyebabkan lokasi parkir seketika hening.

...~Bersambung~...

1
momiie
karyamu bagus thor, cerita nya singkat ga harus banyak bab tapi alurnya jelas... saya sudah membaca semua karya mu dan tidak mengecewakan, sangat puas... 👍👍👍
Erina Munir
mendusin tuh si lusi
Erina Munir
untuung sja bpk biologisnya.muncuul
Erina Munir
aksa nih yg berkorban ginjalnya datu buat lusi
Erina Munir
aksaa hati luuh kelembekaan...udh ga usah mohon2 lgi sm dini...luh udh susah d bilangin
Erina Munir
jngn mau turun dini biarin aja d bengong situ... suruh urusin s ludi aja sonooh
Erina Munir
adaaa ajaahh
Erina Munir
mampoos looh lusi preeet
Erina Munir
mending begitu dini
..dri pd nskan hati tiap hari
Erina Munir
waduuh tambah mpreet deh dini denger guru ngomong gitu
Erina Munir
😟😟
Erina Munir
waduuhh main dor doran niih
Erina Munir
waddiuuhh hebooh dunia perkampungan..😄😄😄
Erina Munir
mewek luh marini...makanya jngn somboong
Erina Munir
waduuh marini jngn sombong dulu.klo luh kalah yg malu siapaa
Erina Munir
ya ampuun aksaa pada ngantri ternyata yaa😄😄😄😄
Erina Munir
hadeeh lusii...luh cuma manfaatin aksa doang..
buat anyer k sono k sini...nyr juga klonudh bosrn d gepak aksanya
Erina Munir
hayyo dini...ngakuu sja....buat kesalah
Bariah Bariah
jangan jangan,Aksa dan Lusi kakak adik ini
satu ayah lain ibu
Reni Setia
makasih untuk novelnya ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!