Novel ini sekuel dari novel pertamaku yang berjudul Mencintai Kekasih Sahabatku. Jadi alangkah lebih baik membacanya terlebih dulu sebelum membaca Cinta Sang Mantan Cassanova.
"Aku baru sadar kalau cintaku padamu begitu dalam setelah aku kehilanganmu. Mungkinkah janin yang tak sempat berkembang itu membuat ikatan kita semakin kuat? aku berjanji akan membuatmu kembali lagi padaku" Dewangga Surya Wijaya.
Kehilangan 3 orang sekaligus dalam hidup Angga membuat hidupnya terpuruk. Mamanya meninggal karena serangan jantung, Viviane pergi entah kemana setelah keguguran janinnya.
Hal itu membuat seorang Angga kini menjadi pribadi yang sangat dingin. Bahkan gelar cassanova yang melekat pada dirinya sudah ia tanggalkan.
Dapatkah Angga menemukan Viviane?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dee_K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 28
“apa kamu sudah mengenal Angga sebelumnya?” sekali lagi Edwin menanyakan pertanyaan yang sama pada Viviane karena sejak tadi Viviane terdiam.
“ini sudah siang lho mas, ayo buruan kita berangkat” bukan menjawab pertanyaan Edwin, Viviane justru menghindari pertanyaan itu.
“semakin kamu mengalihkan pertanyaanku, semakin jelas jawabannya kalau kamu memang pernah mengenal Angga sebelumnya. Katakan!!” ucap Edwin dengan suara yang meninggi.
Viviane tersentak saat baru kali ini mendengar Edwin berbicara dengan suara meninggi. Padahal pria yang saat ini sedang duduk disampingnya selalu berkata lembut pada orang yang dicintainya. Tapi kenapa tiba-tiba Edwin berubah seperti ini. Dan apa yang akan terjadi jika Viviane mengatkan yang sebenarnya. Tanpa terasa air mata Viviane sudah mengalir dari pelupuk matanya. Edwin yang menyadari akan ucapannya tadi mengusap wajahnya kasar. Dia terbawa emosi karena Viviane tak kunjung menjawab pertanyaannya.
“sudahlah. Lupain. Maafkan aku” ucap Edwin kemudian.
“iya aku memang sudah mengenal Angga sebelumnya” jawab Viviane tiba-tiba ketika Edwin akan menjalankan mobilnya. Seketika itu Edwin tidak jadi menjalankan mobilnya.
“dimana?”
“apa kamu yakin mas mau mendengar jawabanku?” Tanya Viviane dengan senyum sinis.
“apa maksud kamu?”
“baru saja kamu sudah membentakku karena aku tak kunjung menjawab pertanyaan kamu. Dan setelah kamu tahu jawabannya nanti apa kamu akan melakukan hal yang lebih selain membentakku?”
Seketika Edwin merasa bersalah. Dia tadi tidak sadar telah membentak Viviane.
“sayang maafin aku. aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Aku siap mendengar apapun jawaban kamu. Aku tidak akan marah”
“Angga adalah orang masa laluku. Dia anak dari Wijaya”
Deg
“Angga adalah mantan kekasihku. Puas kamu mas dengan jawabanku? Sekarang apa yang akan kamu lakukan? Aku kembali bertemu dengan masa laluku. Tepat di kota ini juga. kota yang sudah menorehkan banyak luka di hatiku. Dan sekarang aku bertemu dengannya lagi” jawab Viviane dengan berderai air mata.
Edwin segera merengkuh tubuh Viviane ke dalam pelukannya. Dia tidak menyangka bahwa Angga adalah mantan kekasih Viviane. Pantas saja raut wajah Viviane berubah saat bertemu dengan Angga. Ini memang sulit bagi Viviane mengingat masa lalunya yang begitu pahit. Edwin berjanji dalam dirinya akan melindungi Viviane dari Angga. Dia tidak mau wanita yang dicintainya terlihat bersedih. Edwin juga tidak akan membiarkan Angga berbuat macam-macam pada Viviane.
“maafkan aku sayang. Kamu tenang ya. Kamu jangan khawatir. Aku akan selalu menjagamu. Aku akan selalu ada disampingmu. Aku tidak akan membiarkan kamu bersedih lagi hanya mengingat masa lalu kamu pada Angga” ucap Edwin menenangkan kekasihnya.
Viviane segera melepaskan diri dari pelukan Edwin. Dia tidak menyangka akan respon yang diberikan oleh Edwin setelah mengetahui fakta bahwa Angga adalah mantan kekasihnya. Dia mengira Edwin akan marah. Namun ternyata tidak. Edwin justru menenangkannya.
“kamu nggak marah mas?”
“apa kamu mau aku marahin?” Tanya balik Edwin pada Viviane dengan tersenyum. Kemudian dia menjalankan mobilnya menuju kantor.
“ihh… suka ya marahin aku?” jawab Viviane dengan cemberut
“buat apa sih sayang aku marah. Lagian Angga itu kan masa lalu kamu. Dan orang yang kamu cintai sekarang sekaligus masa depan kamu adalah orang yang saat ini sedang duduk disamping kamu” jawab Edwin panjang lebar.
Viviane hanya tersenyum menanggapi perkataan Edwin. Sungguh dia merasa bahagia sekali bertemu dengan pria seperti Edwin yang mempunyai hati besar yang mampu memaafkan dan menerima masa lalu seseorang walau begitu pahit.
Beberapa saat kemudian mobil yang Edwin kendarai sudah sampai kantor. dia segera keluar dari mobil dan berjalan menuju ruangannya dengan diikuti oleh Viviane dari belakang.
Beberapa karyawan yang tanpa sengaja berpapasan bertemu dengan Edwin menganggukkan kepalanya hormat. Namun biasanya para karyawan khususnya karyawan wanita hanya menunduk pada bosnya saja, tapi tidak kali ini. Mereka juga menunduk hormat pada Viviane. Bahkan Viviane pun juga heran kenapa karyawan Edwin juga menunduk hormat padanya. Padahal dia hanya seorang sekretaris. Sama-sama karyawan.
Sesampainya di ruang kerjanya, Viviane segera duduk. Namun Edwinb berdiri di depan Viviane.
“iya tuan?”
“ck… kenapa para karyawan wanita tadi juga menunduk hormat pada kamu?”
“anda salah lihat mungkin tuan. Maaf saya akan mengecek beberapa berkas. Selamat bekerja tuan”
Akhirnya Edwin melangkah menuju meja kerjanya. Dia sedikit kesal dengan jawaban Viviane. Sedangkan Viviane sengaja tidak mengatkan apa yang sebenarnya terjadi pada beberapa karyawan Edwin tadi. Viviane tidak mau Edwin mengetahui kalau beberapa hari yang lalu dia sempat mendapatkan bullyan dari karyawannya. Viviane tidak ingin para karyawan yang telah membullinya dipecat oleh Edwin. Meskipun Viviane sudah mengatakan bahwa dirinya adalah calon istri bosnya.
***
Sedangkan hari ini Laura datang ke kantor Angga. Dia ingin mengajak Angga untuk makan siang. Dia akan meminta ganti rugi pada Angga karena semalam telah meninggalkannya saat sedang makan malam bersama Edwin dan Viviane. Meskipun Laura tahu akan jawaban Angga yang tidak pernah menyenangkan hatinya, namun dia tidak akan menyerah untuk berusaha mengambil hati Angga.
“maaf mbak, mas Angga ada?” Tanya Laura pada sekretaris Angga
“maaf nona, Tuan Angga sedang meeting”
“apa lama meetingnya?”
“mungkin tidak nona”
“ya sudah kalau gitu aku nunggu mas Angga di dalam ruangannya saja”
Sekretaris Angga hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum pada Laura. Dia menganggap Laura adalah kekasih dari bosnya, hingga dia mengijinkan Laura masuk begitu saja ke ruangan Angga.
Kini Laura sudah duduk di sofa yang ada di ruang kerja Angga. Laura duduk sambil mengamati ruang kerja Angga yang begitu luas dengan warna interiornya yang dominan dengan warna hitam dan abu-abu. Viviane berjalan ke arah jendela yang dapat memperlihatkan langsung pemandangan kota J dari gedung bertingkat yang telah ia pijak saat ini.
Kemudian Laura kembali duduk di sofa yang ia tempati tadi. Namun tanpa sengaja pandangannya mengarah ke meja kerja Angga. Disana ada sebuah figura kecil tapi posisinya terbalik hingga tidak kelihatan foto siapa yang ada di dalam figura itu. Karena penasaran, Laura menyentuh figura itu dan ingin melihat foto di baliknya. Saat tangan Laura sudah berhasil mengangkatnya dan tinggal membalikkannya tiba-tiba bersamaan dengan pintu ruangan itu terbuka.
“apa yang kamu lakukan??” Tanya Angga dengan suara tinggi
Seketika itu tanpa sengaja Laura menjatuhkan figura itu ke lantai karena terkejut.
Pyarrr
“cepat keluar dari ruangan saya!” usir Angga dengan suara pelan namun tajam
“maafin aku mas Angga” jawab Laura dengan mata berkaca-kaca. Baru kali ini dia melihat amarah Angga hanya karena sebuah foto.
“anda tahu jalan keluar bukan?”
Tanpa mengucapkan sepatah katapun Laura bergegas keluar dari ruangan Angga. Dia tidak ingin melihat kemarahan Angga yang semakin menakutkan.
Tadi stelah selesai meeting, Angga segera masuk ke ruangannya. Namun sekretarisnya menghentikan langkah kaki Angga dan mengatakan bahwa Laura sedang menunggunya di dalam. Angga teringat, tadi sebelum meeting dia sempat mengeluarkan foto Viviane dari dalam lacinya dan Angga lupa mengembalikannya. Tanpa menjawab sekretarisnya, Angga dengan cepat melngkah masuk ke ruangannya. Dan benar saja Laura sedang memegang figura foto Viviane. Dan untung saja dia cepat masuk, jadi Laura tidak sempat melihat foto siapa yang ada di dalam figura itu. Kini Angga sedang memunguti serpihan kaca dari figura yang telah pecah.
“Vi, maafkan aku sayang.” ucap Angga lirih
.
.
.
*TBC
udah end yak
semangat terus mama dee-k 💟💟