Jayamantingan adalah seorang pengembara muda miskin yang tetap melanjutkan pengembaraannya meski tidak memiliki tujuan sama sekali. Dirinya terasing akibat penampilannya yang sangat buruk. Ia lebih mirip pengemis tanpa kasta ketimbang pengembara.
Namun, segalanya berubah setelah perjumpaannya dengan seorang wanita aneh yang membuat dirinya harus menemukan sebuah bunga ajaib bernama Kembangmas. Kendati bunga tersebut hanya ada di kisah dongeng semata, Jayamantingan tetap menerimanya mengingat dirinya tidak lagi memiliki tujuan hidup.
Pengembaraan mencari kemustahilan itu lambat-laun menuntunnya menemui takdir menjadi salah satu Pemangku Langit, pendekar terkuat di atas segala pendekar yang menguasai dunia persilatan.
Mampukah Jayamantingan membawakan Kembangmas kepada Kenanga? Ataukah justru kematian menjemputnya terlebih dahulu di belantara persilatan, yang jumlah kematiannya bagaikan guguran daun diterpa angin badai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WestReversed, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arkawidya
Mereka berdua turun ke bawah melalui tangga dan melewati lorong-lorong yang di kedua sisinya adalah pintu-pintu kamar. Sunyi dan gelap jelas tergambarkan di tempat ini, atau memanglah sengaja dirancang sedemikian rupa agar mampu menyerap segala suara hingga tak terdengar hingga keluar? Nyatanya derap langkah Mantingan dan Rara seakan terserap habis oleh lantai hingga mereka hanya seperti mendengar gesekan kain saja.
Pencahayaan yang kurang dengan lorong bernuansa merah seperti semakin menjelaskan akan sesuatu hal. Mantingan salah masuk tempat!
“Rara, maafkan aku yang sepertinya telah membawamu ke tempat seperti ini, aku benar-benar tidak tahu ....”
Rara menoleh ke arah Mantingan dengan gurat wajah yang teramat sulit terkatakan. “Aku ... aku kira kau sudah mengetahuinya sejak awal dan malah sengaja pergi ke penginapan ini untuk menyewa wanita, tetapi aku benar-benar bersangka buruk kepadamu.” Rara tersenyum masam. “Daku yang seharusnya memohon ampunan maaf darimu, Mantingan, tidak seharusnya aku berburuk sangka terhadap dirimu, dan sesegera mungkin mengabarkan bahwa penginapan seperti ini adalah tempat bersarangnya bunga raya.”
Mantingan menghela napas panjang, kali Rara benar-benar berbuat salah, tetapi tidak ada salahnya jika diterima maafnya. Segala urusan menjadi rumit, terlebih wanita penerima tamu itu meminta dirinya sendiri untuk disewa. Arkawidya, itu namanya, dari raut wajahnya terpampang jelas bahwa dirinya meminta pertolongan. Lebih dari sekadar minta disewa untuk mendapatkan uang.
Mantingan tidak keberatan untuk membantu. Ia bisa menyewa Arkawidya, dan perempuan itu akan mengatakan pertolongan apa saja yang dibutuhkannya. Mereka dapat pula melangsungkan perundingan di dalam kamar sewaannya.
Mantingan merasa bahwa tempat ini adalah sumber dari kemaksiatan, siapa pun yang hendak kembali ke jalan yang terang harus segera dikeluarkan dari tempat ini sebelum jilatan api kemaksiatan membakar habis dirinya.
Mantingan berhasil menemukan kamar yang dipesan olehnya, ia membuka pintu dan langsung kembali menguncinya kembali setelah dirinya dan Rara telah masuk ke dalam.
Betapa Mantingan menjadi terkejut. Kamar ini benar-benar dikhususkan untuk bunga raya. Terdapat sebuah ranjang lebar yang dihiasi kelambu merah di tengah kamar. Dengan pelita di setiap sisi ruangan. Terlihat pula beberapa dedaunan khusus yang dibakar di pojok ruangan, mengeluarkan asap beraroma wangi yang patut diwaspadai.
“Tunggu di sini dan pegang tongkatku untuk berlindung jika terjadi sesuatu,” kata Mantingan sembari melepaskan bundelan dan dari badannya, terkecuali pundi-pundi yang berisi keping uang.
“Aku sudah punya belati yang lebih berguna ketimbang tongkat,” jawab Rara berwaspada.
Mantingan terhenti sejenak gerakannya. “Kau dapatkan dari mana belati itu?”
“Pajangan di penginapan.”
Mantingan menepuk dahinya. “Apa semua benda yang ada di penginapan kauambil, Rara?”
“Tidak semua, sudah kukatakan tadi. Yang kubawa hanyalah yang diperlukan saja.”
Pantas memang jika isi bundelan Rara besar, entah ada barang apa lagi yang berhasil dibawanya dari penginapan di Cikahuripan itu. Tetapi tidak ada cukup waktu untuk mempermasalahkannya, Mantingan perlu menemui Arkawidya dan menjalankan rencananya secepat mungkin.
Rencananya sendiri sebenarnya tidak terlalu bagus sebab dibuat dalam waktu yang sangat singkat, tetapi rencana itu cukup sederhana, di mana ia akan berpura-pura sebagai tamu yang baru saja bergabung ke dunia bunga raya, dan dengan begitu polosnya meminta Arkawidya agar datang ke kamarnya untuk mengajarinya akan "sesuatu". Selama ia mampu menunjukkan keping emas, maka pihak penginapan pasti memperbolehkan Arkawidya disewa.
“Jaga dirimu, aku akan kembali secepatnya.”
“Tunggu! Kauhendak pergi ke mana?”
“Aku akan pergi ke lantai atas dan menemui Arkawidya, wanita penerima tamu itu, kau mendengarnya sendiri bukan?”
“Ap— ... apa kau benar-benar ingin menyewa bunga raya itu?” Rara mundur beberapa langkah dengan gurat wajah tidak percaya.
Mantingan berdecak sebal. “Tidak, Rara ... aku melihat Arkawidya membutuhkan pertolongan dan aku merasa berkewajiban untuk menolongnya.”
Hilang sudah raut ketidakpercayaan di wajah Rara. Gadis itu terlihat berpikir sejenak. Menimbang-nimbang keadaan. Lalu katanya, “Mantingan, jangan terlibat dengan masalah yang tidak perlu. Cukup sampai di sini saja, atau kau hanya akan menambah musuh.”
“Rara, aku melihat bahwa Arkawidya benar-benar membutuhkan pertolongan. Mohon jangan tahan aku untuk menjadi manusia baik.” Mantingan berkata tegas.
Rara mengembuskan napas perlahan sambil menggeleng. “Aku tidak bisa menahanmu. Harap berhati-hati, yang terpenting adalah nyawamu sendiri.”
Mantingan mengangguk dan membuka pintu kamar sebelum Rara menguncinya dari dalam.
***
“Wahai, Jangkrik Tampan, kaukembali.”
Mantingan tersenyum sekilas, kini dirinya tepat berada di depan meja penerimaan tamu. “Aku ingin menyewamu, datanglah ke kamarku sekarang juga. Aku ingin belajar.”
“Tidak bisa dikau memesanku di sini, Jangkrik Tampan, pergilah ke lantai atas dan temui petugas ada di sana, cukup sebut namaku, dia akan langsung mengerti.”
Mantingan mengangguk pelan. “Namaku adalah Mantingan, panggil aku dengan nama itu mulai sekarang. Dan persiapkan dirimu.”
Mantingan berlalu menaiki anak tangga menuju lantai atas. Sesampainya di sana, terlihat sebuah meja panjang yang mirip dengan meja penerimaan tamu di lantai bawah. Namun, meja itu memiliki guratan aksara khusus badannya. Mantingan merasa bahwa itu adalah tempat di mana ia bisa menyewa Arkawidya, sehingga melangkahlah dirinya ke sana. Segera disambut dengan seorang wanita dengan dandanan yang hampir serupa dengan Arkawidya, bedanya wanita itu melayaninya dengan malas.
“Siapa yang akan kaupesan akan menentukan harganya,” katanya tanpa berbasa-basi.
Maka Mantingan tak ada alasan untuk berbasa-basi pula, ia langsung berkata pada intinya.
“Arkawidya.”
“Lima keping emas, kau bisa memilikinya hingga besok siang.”
Mantingan menelan ludahnya. Jika ia harus mengeluarkan lima keping emas untuk menyewa Arkawidya, maka uangnya hanya akan tersisa sekitar 14 keping emas. Tetapi tidak apalah, masalah uang ia bisa cari nanti, mesti ada yang diselamatkan terlebih dahulu. Maka dirogohnya pundi-pundi berisi keping uang dan segera meletakkan lima keping emas di atas meja.
“Padahal ada yang jauh lebih cantik dan mulus daripada gadis kampungan itu.” Sambil mencibir, wanita itu mengeluarkan sebuah potongan lontar yang bertuliskan nama Arkawidya. “Berikan itu padanya, itu sama saja perintah mutlak baginya untuk melayanimu. Laporkan pada kami jika dia menolak.”
Mantingan meraih lontar itu dan berlalu pergi tanpa memusingkan perkataan si wanita. Lekas-lekas dirinya menemui Arkawidya di lantai bawah, menunjukkan lontar itu padanya.
“Baiklah, tunggu sebentar.” Wanita muda itu pergi sebentar ke salah satu ruangan dan kembali dengan satu kawan yang akan menggantikannya di meja tamu. “Ke mana dikau akan membawaku, Tuan Jangkrik Tampan?”
“Tentu saja ke kamarku, mari ikuti daku.” Mantingan mulai berjalan ke arah tangga, Arkawidya tiba-tiba berlari mendekat.
“Agar tidak ada yang curiga, kauharus merangkulku,” bisiknya tepat Mantingan.
“Aku tidak bisa melakukan itu!” Mantingan turut berbisik, tetapi memberi penekanan untuk menegaskan bahwa dirinya tidak mau melakukan hal tercela seperti itu! Boleh dikata, ia tidak pernah memeluk wanita lain selain ibunya!
“Ada yang mengawasi kita, cepat peluk saya atau saya akan melakukan sesuatu yang tak akan dikau duga!”
Mantingan menelisik ke sekitar sebelum merangkul pundak Arkawidya. Memang ada yang mengawasinya, Mantingan tak bisa melihat sosok orang yang memantaunya itu, tetapi ia bisa merasakan tatapan yang begitu tajam mengawasi ia dan Arkawidya.
Arkawidya menyandarkan kepalanya di bahu Mantingan sambil senyum menggoda, pelan ia berbisik, “Terus lakukan ini sampai kita tiba kamarmu.”
Ada suatu hal yang aneh. Yaitu saat Mantingan telah berhasil menuruni tangga dan berada satu lantai di bawah lantai tempat orang yang mengawasinya itu berada, tetapi Mantingan tetap merasa diawasi. Bahkan ada sebuah aura yang secara tidak langsung menimpanya hingga menyulitkan jalan napas. Mantingan mengikuti saran Arkawidya, ia akan terus merangkul gadis muda itu hingga mereka masuk ke dalam kamarnya.