seorang gadis bernama kayla diculik oleh orang misterius saat sedang bereda di club malam bersama teman temannya. pria misterius itu lalu mengurung kayla di sebuah ruangan yang gelap bagaikan penjara. kayla bertanya tanya siapa pria yang menculiknya.
apa yang akan dilakukan oleh penculik itu kepada kayla yuk baca kelanjutan kisah dari tahanan obsesi.
mencari ide itu sulit gusy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celyzia Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RENCANA KAYLA
Malam itu, di dalam kamar mewah yang terisolasi dari dunia luar, Aris benar-benar kehilangan sisa kemanusiaannya. Di bawah pengaruh obsesi gelapnya terhadap sosok Maya, ia tidak lagi memedulikan keadaan Kayla yang sedang dalam pengaruh obat penenang. Dengan kejam dan tanpa belas kasihan, ia menodai tubuh Kayla yang tak berdaya dan terborgol itu berulang kali sepanjang malam. Bagi Aris, ini bukan lagi tentang eksperimen sosial; ini adalah tentang kepemilikan mutlak yang sakit dan menyimpang.
Sinar matahari pagi yang pucat menembus sela-sela tirai otomatis yang mulai terbuka, menyinari kamar yang dingin itu. Kayla mengerang pelan saat kesadarannya perlahan kembali. Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa sakit yang luar biasa menjalar di seluruh tubuhnya—rasa perih yang menusuk di area sensitifnya, pegal yang amat sangat di punggungnya, dan pergelangan tangan yang lecet akibat borgol.
Ia mencoba bergerak, namun setiap inci kulitnya terasa seperti terbakar. Saat matanya terbuka sepenuhnya, ia menyadari borgolnya sudah dilepaskan. Ia sendirian di atas tempat tidur besar yang kini tampak berantakan. Ingatan samar tentang apa yang terjadi semalam mulai muncul di kepalanya, membuat perutnya mual karena rasa jijik yang luar biasa.
"Aris... bajingan..." bisiknya dengan suara yang hilang, air mata keputusasaan mengalir deras di pipinya. Ia merasa sangat kotor, seolah kulitnya telah dicemari oleh sentuhan pria itu selamanya.
Di atas meja nakas, terdapat secarik kertas dengan tulisan tangan Aris yang rapi:
"Mandilah. Tubuhmu butuh kesegaran. Aku sudah menyiapkan pakaian baru untukmu di kamar mandi. Aku menunggumu di meja makan dalam tiga puluh menit. Jangan mencoba melakukan hal bodoh."
Dengan sisa tenaga yang ada, Kayla menyeret tubuhnya menuju kamar mandi yang luas dan mewah. Setiap langkah yang ia ambil terasa menyakitkan, membuatnya harus berpegangan pada dinding agar tidak jatuh.
Di dalam kamar mandi, uap panas mulai memenuhi ruangan saat Kayla menyalakan shower. Ia berdiri di bawah kucuran air, membiarkan air hangat membasahi tubuhnya yang penuh dengan memar kebiruan—tanda kekasaran Aris semalam. Ia menggosok kulitnya dengan sabun berkali-kali sampai memerah, mencoba menghapus jejak tangan Aris, meski ia tahu rasa jijik itu sudah meresap jauh ke dalam jiwanya.
Di sana, di atas meja marmer kamar mandi, Aris telah meletakkan sebuah gaun sutra berwarna biru pucat—warna kesukaan Maya. Di sampingnya terdapat pakaian dalam yang mahal dan sebotol parfum. Semuanya sudah diatur dengan sangat teliti, seolah Kayla adalah sebuah boneka yang sedang dipersiapkan untuk pertunjukan berikutnya.
Kayla menatap pantulan dirinya di cermin besar yang kini beruap. Matanya cekung, bibirnya pecah, dan semangatnya seolah telah direnggut paksa. Namun, di tengah kehancuran itu, ada sebersit api kebencian yang masih menyala.
"Kamu ingin aku menjadi Maya?" bisik Kayla pada bayangannya sendiri dengan tatapan yang mulai berubah dingin. "Aku akan menjadi apa pun yang kamu mau, Aris... sampai aku menemukan saat yang tepat untuk merobek jantungmu."
Setelah selesai mandi, Kayla mengenakan gaun biru itu. Gaun itu sangat pas di tubuhnya, menonjolkan kecantikan yang kini tampak tragis. Ia menyisir rambutnya, menutupi lebam di lehernya dengan rambut panjangnya, dan melangkah keluar dari kamar mandi.
Ia tahu, di balik pintu kamar ini, Aris sudah menanti. Pria itu bukan lagi pelindungnya, bukan lagi rekannya, melainkan monster yang paling ia benci di dunia ini. Dan hari ini, Kayla memutuskan untuk berhenti menangis. Ia akan mulai memainkan peran sebagai "wanita penurut" untuk pria gila itu di dalam rumah mewahnya sendiri.