Riko Permana, demi gadis yang dicintainya, rela meninggalkan cita-cita menjadi seorang polisi. Melepas beasiswa yang diberikan negara. Ia mundur, sengaja mengalah. Sengaja membiarkan nilainya menjadi buruk demi memuluskan jalan calon kakak iparnya.
Profesor pembimbing kecewa dan ia merasa bersalah. Hanya satu yg membuat ia bahagia: bisa menikah dengan wanita yang sangat dicintainya.
Akan tetapi, apa yang terjadi kemudian? Dirumah mertua ia diperlakukan layaknya budak, dihina dan dipermalukan. Istri yang dicintai tidak membela malah ikut merendahkan.
Puncaknya adalah ketika ia mengetahui bahwa sang istri berselingkuh secara terang-terangan di hadapannya.
Pria yang menertawakan kebodohannya sendiri. Istri yang selama satu tahun pernikahan tidak mau disentuh, kenapa dia tidak sadar sama sekali?
"Cukup sudah! Seluruh cintaku sudah habis. Aku akan tunjukkan pada semua, aku bukan orang yang bisa mereka hina begitu saja. Mereka yang telah menghinaku, akan bertekuk lutut di hadapanku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Bertemu Tuan Bastian
.
“Ya, atau tidak?" tanya Tuan Bastian memberikan pilihan secara tegas. “Papa juga tidak ingin memaksa tapi masalahnya Papa juga tidak memiliki lowongan pekerjaan lain saat ini. Jadi, jika kamu ingin menolong temanmu, itu satu-satunya jalan."
Anya terdiam membisu, sorot matanya meredup. Pilihan yang harus ia putuskan saat ini, tanpa sadar membuka kembali trauma masa lalu yang ia simpan seorang diri. Kenangan pahit itu kembali menghantuinya, membuatnya merasa tidak nyaman dan ketakutan.
Kenangan itu masih sangat jelas — saat ia masih di tahun pertama kuliah, Rio yang kala itu dianggapnya sebagai teman dekat. Anya akhirnya mencoba memberikan kesempatan pada Rio untuk mengejar dirinya setelah cowok itu berusaha sejak jaman putih abu-abu. Karena Rio saat itu tampak benar-benar telah berubah. Tak lagi menjalin hubungan dengan cewek manapun.
Suatu sore, setelah mengunjungi pameran seni bersama, Rio secara tiba-tiba menghentikan mobil di sisi jalan yang sepi.
“Rio, kenapa berhenti? Apa ada masalah dengan mobilnya?" tanya Anya yang tak paham situasi.
"Anya," panggil Rio dengan suaranya yang lembut.
Anya menoleh dan menatap Rio dengan tatapan bingung.
"Aku sayang sama kamu," ucap Rio sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Anya.
Anya terkejut dan mencoba menjauh. "Apa yang akan kamu lakukan?!" bentak Anya panik.
Rio sama sekali tak menjawab. Tanpa izin, ia memegang wajah Anya dan mencoba memaksanya untuk menciumnya. Anya berusaha melepaskan diri, menangis dan meminta tolong hingga akhirnya Rio melepaskannya dengan marah, menyatakan bahwa Anya terlalu sok suci.
"Keluar!” Anya menekan suaranya agar tak berteriak.
"Kamu gila, ya? Ini jalan sepi, tak akan ada taksi yang lewat, bagaimana caranya aku pulang?!” teriak Rio marah.
"Itu bukan urusanku. Keluar sekarang maka aku akan menganggap masalah tadi tak pernah terjadi, atau aku akan meminta papa memutuskan hubungan kerja dengan papamu?!” Anya menatap Rio tajam. Matanya menyala oleh amarah dan kekecewaan.
Rio menggerakkan giginya. Jika itu terjadi, maka bisa dipastikan papanya akan murka. Dengan marah Rio keluar dari mobil lalu menutup pintu dengan kasar. Cowok itu bahkan mengumpat marah sambil menendang body mobil.
Mata Anya menatap nanar punggung Rio yang mulai menjauh dan kemudian menggeser pinggulnya pindah ke kursi kemudi. Beberapa saat lamanya gadis itu menelungkupkan wajah di atas setir. Air matanya tumpah tanpa bisa dicegah. Perasaan kecewa dan terluka. Kepercayaan yang coba ia berikan pada Rio malah disia-siakan.
Sejak saat itu, Anya merasa tidak nyaman berada di dalam ruang tertutup bersama pria yang tidak ia percayai, termasuk ketika menggunakan sopir. Itulah mengapa ia selalu lebih suka mengemudi sendiri — merasa lebih aman dan memiliki kendali penuh atas dirinya.
Anya menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir kenangan buruk itu. Ia tidak ingin Rio kembali menghantuinya. Ia tidak ingin mengalami kejadian yang sama lagi.
"Anya?" panggil Tuan Bastian dengan nada khawatir. "Kenapa diam saja? Apa kamu tidak setuju?"
Anya tersentak kaget dan kembali fokus pada percakapan dengan kedua orang tuanya. Ia menatap papanya dengan tatapan takut.
Anya menghela napas panjang dan menatap kedua orang tuanya dengan tatapan sendu, bergulat dengan hatinya. Kenangan pahit tentang Rio terus menghantuinya, membuatnya ragu dan ketakutan. Namun, di sisi lain, ia juga teringat akan kebaikan Riko, mahasiswa baru yang dengan tulus menawarkan bantuan kepadanya. "Riko tidak akan seperti Rio, kan?" batin Anya.
Anya mencoba mengingat kembali setiap interaksi yang terjadi antara dirinya dan Riko. Ia ingat bagaimana Riko bersikap sopan dan menghormatinya. Ia ingat bagaimana Riko menatapnya dengan tatapan tulus dan penuh perhatian. Ia tidak melihat adanya tanda-tanda niat buruk pada diri Riko.
"Mungkin Riko bisa menjadi teman yang baik," pikir Anya. "Mungkin dengan menerima tawaran Papa, aku bisa lebih mengenal Riko dan menghilangkan rasa takutku."
Setelah mempertimbangkan segala hal, Anya akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran papanya. Ia menarik napas dalam-dalam dan menatap Tuan Bastian dengan tatapan mantap.
"Baiklah, Pa," ucap Anya dengan nada tegas. "Anya setuju. Riko akan menjadi sopir pribadi Anya."
Tuan Bastian tersenyum lega mendengar keputusan Anya. Akhirnya ia tak lagi perlu mencemaskan keamanan putrinya.
"Ya sudah," ucap Tuan Bastian sambil mengusap rambut Anya dengan lembut. “Kalau begitu, sebaiknya kamu hubungi temanmu sekarang," pinta Tuan Bastian dengan nada antusias. "Papa ingin bertemu dan berbicara langsung dengannya."
Anya terkejut mendengar permintaan papanya. Ia merasa gugup dan tidak siap untuk memperkenalkan Riko kepada kedua orang tuanya.
"Sekarang, Pa?" tanya Anya sedikit ragu. "Apakah tidak terlalu mendadak? Aku belum sempat memberitahu Riko tentang hal ini."
Tuan Bastian menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Tidak apa-apa," jawab Tuan Bastian dengan nada meyakinkan. "Justru lebih baik jika kamu memberitahunya sekarang. Mumpung Papa di rumah. Papa ingin bertemu dengan teman yang kamu bilang pintar itu, supaya Papa bisa melihat dan menilai kepribadiannya secara langsung. Papa ingin memastikan bahwa dia adalah orang yang tepat untuk menjadi sopirmu."
Anya menghela napas pelan dan mengangguk pasrah. Ia tahu bahwa ia tidak bisa menolak permintaan papanya.
"Baiklah, Pa," ucap Anya dengan nada pasrah. "Anya akan menghubungi Riko sekarang."
Anya kemudian mengambil ponselnya dan membuka aplikasi pesan. Ia mencari nama Riko di daftar kontaknya lalu mengetik pesan. "Riko, kamu ada di mana?”
Dalam hitungan detik balasan datang: "Aku ada di rumah kost. Ada apa, Anya? Apa ada masalah?”
"Tidak, bukan ada masalah. Aku hanya ingin menyampaikan kabar baik untukmu. Papaku setuju memberikan kamu pekerjaan.”
"Benarkah? Alhamdulillah?” Di seberang sana Riko terdengar terkejut dan gembira. Tentu saja itu hanya pura-pura. Riko jelas tahu bahwa Tuan Bastian pasti akan menerimanya.
“Iya, Riko,” jawab Anya. "Kamu akan jadi sopir pribadiku, dan sekarang Papa ingin kamu datang. Apa bisa?."
"Tentu saja. Aku senang akhirnya bisa dapat kerjaan. Shareloc ya, aku akan segera datang.”
“Baiklah, aku tutup telponnya," ucap Anya kemudian memutuskan panggilan dan mengirim alamat rumahnya pada Riko. Padahal sebenarnya, tanpa dikirim pun Riko jelas sudah tahu alamat rumah Anya. Tapi, tentu saja Riko harus bersandiwara.
Setelah mengirimkan alamat pada Riko, hanya mengatakan pada Papanya bahwa Riko sebentar lagi akan datang.
“Baiklah, Papa akan tunggu dia. Kalau begitu, Papa mau ganti baju dulu. Gerah rasanya pakai jas seperti ini," ucap Tuan Bastian lalu berdiri dari duduknya. Nyonya Safina
Tak lama kemudian, Tuan Bastian dan nyonya Safina kembali ke ruang tamu dan kembali duduk bersama dengan Anya yang masih menunggu di sana. Baru beberapa saat mereka berbincang, dengan Anya yang menceritakan tentang Riko selama di kampus, seorang pelayan mendekat dengan Riko berjalan di belakangnya.
"Maaf, Tuan, Nyonya. Ada tamu yang katanya sudah ada janji bertemu dengan Tuan dan Nona Anya,” lapor pelayan itu.
"Dia temanku, Bi. Bibi boleh kembali ke pekerjaan Bibi. Terima kasih, ya," ucap Anya.
“Sama-sama, Nona. Kalau begitu saya undur diri.” Pelayan paruh baya itu membungkukkan sedikit badannya lalu pergi.
Riko yang melihat interaksi antara Anya dan pelayan merasa terkesan. Bahkan pada pelayan pun, Anya bersikap se-santun itu.
"Selamat sore, Tuan, Nyonya,” sapa Riko seraya menunduk sopan.
"Selamat sore. Duduklah!” Tuan Bastian mengarahkan telapak tangannya di salah satu sofa.
Setelah Riko duduk, Tuan Bastian yang sejak kedatangan Riko mulai memindai penampilan dan pembawaan pria itu mulai berbicara.
"Kamu Riko Permana ya? Anya sudah banyak cerita tentangmu. Aku sangat berterima kasih karena sudah membantu putri ku di kampus."
"Itu terlalu berlebihan, Tuan. Saya hanya melakukan apa yang bisa saya lakukan untuk teman," jawab Riko merendah.
Tuan Bastian mengangguk. "Lalu, tentang pekerjaan yang kamu minta," lanjut Tuan Bastian. "Kami sepakat bahwa kamu akan menjadi sopir pribadi untuk Anya. Apa kamu setuju?"
Riko mengangguk singkat. "Tentu saja, Tuan. Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini.”
Tuan Bastian tak bisa mengalihkan pandangan dari Riko. Cukup terkesan dengan pemuda di hadapannya. "Data yang diberikan oleh profesor Rahmat pemuda ini berusia 30 tahun. Apa benar? Aura pemuda ini memancarkan wibawa yang begitu kuat dan dominan. Penampilannya yang sederhana bahkan tak bisa menyembunyikan semua itu.”
Riko kenapa bodoh sekali ya 🤦