Setelah membunuh Liu Sheng,pembunuh orang tuanya, Xu Hao justru menemukan teka-teki yang lebih besar: segel mematikan pada jiwa Liu Sheng. Segel serupa juga ia temukan pada musuh-musuh tingkat tingginya. Segala petunjuk mengarah ke Dataran Tengah, tempat asal Klan Xu yang perkasa. Dengan bakat aslinya yang dicuri, orang tuanya yang difitnah sebagai pengkhianat, dan pengusiran kejam dari klan, Xu Hao kini menyamar memasuki dunia yang jauh lebih berbahaya. Di sana, sebagai murid baru di Sekte Gunung Jati dengan identitas palsu, ia harus menyelidiki konspirasi gelap di balik pembunuhan keluarganya, menghindari deteksi kerabatnya sendiri yang mungkin adalah dalangnya, dan membangun kekuatan dari nol di tanah di mana Dao Awakening-nya saja hampir tak berarti. Siapa sebenarnya "Tuan dari Atas" yang memasang segel itu? Dan bisakah Xu Hao membalas dendam tanpa mengungkapkan identitas aslinya yang akan membuatnya jadi buruan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ombak Pemberani Menuju Mata Dewa Laut
Fajar masih berupa garis tipis cahaya abu-abu di ufuk timur ketika Xu Hao tiba di Dermaga Nomor Tujuh. Udara laut pagi itu dingin dan lembap, membawa kabut tipis yang menyelimuti kapal-kapal yang berlabuh seperti hantu raksasa. Suara burung camar dan gemuruh ombak yang tenang memenuhi suasana.
Kapal Ombak Pemberani sudah bersiap. Kapal kayu sepanjang sekitar dua puluh lima meter itu terlihat kokoh, dengan lambung biru tua yang sudah banyak goresan dan noda garam. Lambang matahari terbit di buritannya terlihat pudar tetapi masih jelas. Beberapa pelaut sudah sibuk di geladak, memeriksa tali-temali dan mengangkat perbekalan.
Kapten Lan berdiri di dekat papan, mengenakan jaket kulit tebal dan topi bundar. Dia sedang berbicara dengan seorang lelaki muda kurus yang terlihat sebagai anak buahnya. Saat melihat Xu Hao mendekat, dia melambaikan tangan.
"Tepat waktu. Naiklah. Kita berangkat saat air pasang mencapai puncak, sekitar setengah jam lagi."
Xu Hao mengangguk, melompat ringan ke geladak kapal. Kayu di bawah kakinya terasa padat dan terawat. Dia merasakan formasi-formasi sederhana yang tertanam di lambung kapal, mungkin untuk menstabilkan dan memberikan sedikit perlindungan terhadap benturan.
"Ini adalah kruku," kata Kapten Lan, menunjuk ke sekeliling. "Lao Chen, tangan kananku." Dia menunjuk lelaki tua berambut putih yang sedang memerikta kompas di dekat kemudi. "Xiao He, pengawas tali." Lelaki muda kurus tadi mengangguk. "Dan yang lain, kau akan kenal nanti. Semua adalah pelaut berpengalaman. Mereka tahu bahaya Lautan Tanpa Nama."
"Senang bertemu kalian semua," kata Xu Hao dengan suara datar. "Saya Han, seorang penjelajah."
Kapten Lan mengamatinya sekilas, lalu mengangguk. "Baik, Tuan Han. Kamarmu di bawah dek, kabin kecil di sebelah kiri. Letakkan barang-barangmu di sana. Setelah itu, kau bisa berada di geladak atau di kabin, tapi jangan mengganggu pekerjaan kru."
Xu Hao mengikuti petunjuk, turun ke bawah dek. Kapal ini sederhana namun bersih. Kabinnya kecil, hanya berisi tempat tidur susun, meja kecil, dan sebuah jendela bulat. Dia meletakkan tas kecilnya yang berisi pakaian cadangan (sekedar untuk penampilan) di atas tempat tidur, lalu kembali ke geladak.
Para pelaut sibuk dengan rutinitas mereka. Suasana tegang namun teratur. Xu Hao berdiri di buritan, memandangi Kota Pelabuhan Timur yang perlahan-lahan semakin kecil. Sinar matahari pagi mulai menerpa menara-menara dan atap-atap kota, memberikan kilau keemasan.
"Pertama kali ke laut dalam?" tanya sebuah suara di sampingnya. Lao Chen, si tangan kanan kapten, mendekat sambil mengisap pipa tanah liat. Wajahnya penuh kerut, mata kecilnya tajam.
"Ke Lautan Tanpa Nama, iya," jawab Xu Hao. "Tapi saya pernah berlayar di perairan lain."
"Lautan ini berbeda," gumam Lao Chen, menghembuskan asap. "Dia punya wataknya sendiri. Kadang tenang seperti danau, kadang mengamuk seperti ribuan iblis. Dan dia punya ingatan. Ingat setiap kapal yang berani melintasinya, setiap nyawa yang dia ambil."
"Kau percaya laut ini hidup?"
"Tidak hidup seperti kita. Tapi... ada sesuatu di sini. Kekuatan tua. Mungkin dari zaman leluhur kita bahkan belum ada." Lao Chen menatap ke arah timur, di mana lautan membentang tak berujung. "Kapten bilang kau ingin pergi ke 'Mata Dewa Laut'. Itu tempat paling berbahaya. Bahkan monster-monster laut menghindarinya."
"Kenapa?"
"Karena itu bukan pusaran biasa. Airnya berputar, tapi tidak menarik kapal ke bawah. Sebaliknya... kadang-kadang dia memuntahkan sesuatu. Potongan kapal kuno, tulang-tulang raksasa, bahkan... cahaya-cahaya aneh." Lao Chen menurunkan suaranya. "Ada yang bilang itu adalah lubang nafas dunia lain. Dan kadang-kadang, dunia lain itu bernafas ke dunia kita."
Xu Hao mendengarkan dengan seksama. "Pernah ada yang mencoba menyelidiki?"
"Seperti yang kukatakan, banyak yang mencoba. Sedikit yang kembali. Yang kembali... sering tidak utuh pikirannya. Berceloteh tentang cahaya pelangi dan kota di bawah air." Lao Chen menggeleng. "Aku tidak ingin tahu. Aku hanya seorang pelaut tua. Tugasku adalah membawa kapal ini selamat pergi dan pulang."
"Kapten Lan berani membawaku ke sana. Itu keberanian besar." Puji Xu Hao.
"Kapten punya alasan sendiri. Dia butuh kristal untuk memperbaiki kapal ini dan menghidupi anak buahnya. Dan... dia percaya pada nalurinya. Nalurinya bilang kau bukan orang jahat, dan mungkin membawa keberuntungan." Lao Chen tersenyum tipis, menunjukkan gigi yang kuning. "Aku harap nalurinya benar."
Percakapan mereka terputus oleh teriakan Kapten Lan. "Pasang mencapai puncak! Lepaskan tali! Angkat jangkar! Semua ke posisi!"
Kru bergegas. Tali-tali dilepaskan, jangkar ditarik dengan gemerincing rantai. Ombak Pemberani perlahan-lahan mulai bergerak, meninggalkan dermaga yang aman, menuju lautan terbuka.
Perjalanan hari pertama relatif tenang. Laut biru kehijauan, langit cerah dengan awan-awan putih berarak. Xu Hao menghabiskan waktu dengan mengamati para pelaut bekerja, sesekali bertanya tentang hal-hal teknis pelayaran yang tidak dia ketahui. Dia juga memeriksa peta yang dibelinya, mencocokkan dengan tanda-tanda alam yang dilihatnya.
Malam harinya, saat makan malam bersama di kabin bawah dek (makanan sederhana ikan asin, biskuit keras, dan air tawar), Kapten Lan duduk di hadapan Xu Hao.
"Kita sekarang sudah memasuki perairan berbahaya," katanya, suaranya serius. "Mulai besok, kita akan mulai melihat tanda-tanda. Kabut aneh, arus yang berubah-ubah tiba-tiba, dan mungkin penampakan makhluk-makhluk. Aku butuh kau untuk patuh pada perintahku tanpa pertanyaan. Jika aku bilang turun ke bawah, kau turun. Jika aku bilang diam, kau diam. Mengerti?"
"Mengerti, Kapten." Jawab Xu Hao.
"Bagus." Kapten Lan meneguk airnya. "Dan sekarang, katakan padaku yang sebenarnya. Kau mencari apa sebenarnya di 'Mata Dewa Laut'? Pengetahuan tua? Harta karun? Atau... seseorang?"
Xu Hao menatap mata Kapten Lan yang tajam. Dia mempertimbangkan sejenak. "Seseorang. Keluargaku yang hilang. Dia terakhir terlihat di area itu, bertahun-tahun yang lalu."
Kapten Lan mengangguk pelan, seolah sudah menduga. "Keluarga. Itu alasan yang kuat, dan bodoh." Dia berdiri. "Istirahatlah. Besok kita akan memasuki wilayah kabut abadi."
Hari kedua, tepat seperti yang dikatakan Kapten Lan, sebuah kabut tebal berwarna abu-abu kebiruan mulai menyelimuti kapal. Visibilitas turun drastis hingga hanya beberapa meter. Suara klakson kabut kapal berbunyi secara teratur, suaranya teredam dan aneh di dalam kabut. Suasana menjadi sangat sunyi, menegangkan.
Para pelaut bergerak dengan hati-hati, berbicara dengan bisikan. Beberapa dari mereka memegang jimat-jimat kecil di leher atau lengan.
"Kabut Hantu," bisik Xiao He pada Xu Hao saat mereka berdiri di dekat kemudi. "Kadang-kadang di dalam kabut ini, kita bisa mendengar suara-suara. Suara orang yang kita kenal, panggilan dari laut... Tapi jangan pernah merespons. Itu bukan manusia."
Xu Hao mengangguk. Dia juga merasakan keanehan di dalam kabut ini. Ada sisa-sisa energi spiritual yang kacau dan tua. Seperti ada banyak peristiwa di tempat ini yang meninggalkan bekas di alam.
Tiba-tiba, dari kejauhan di dalam kabut, terdengar suara lonceng kapal. Lalu suara tertawa anak-anak. Jelas, seperti ada sebuah kapal besar yang penuh anak-anak di dekat mereka.
Beberapa pelaut memutihkan wajahnya. Lao Chen menggeram, "Jangan dengarkan! Tutup telinga kalian! Itu Penipu Kabut!"
Tapi suara-suara itu semakin dekat. Sekarang terdengar seperti ada seorang wanita sedang menyanyi lagu pengantar tidur yang lembut dan sedih.
Xu Hao merasakan tarikan halus pada pikirannya, sebuah usaha untuk menembus pertahanan spiritualnya. Tapi tingkat kultivasinya terlalu tinggi untuk dipengaruhi oleh ilusi tingkat rendah seperti ini. Dia melihat sekeliling. Beberapa pelaut yang kultivasinya rendah (beberapa di level Qi Refining) mulai terlihat bingung, mata mereka kosong.
Dengan gerakan halus, Xu Hao menginjakkan kakinya ke geladak. Sebuah gelombang energi spiritual yang tenang dan menenangkan menyebar dari kakinya, membersihkan pengaruh ilusi di sekitarnya. Pelaut-pelaut itu berkedip, lalu tersadar, wajah mereka penuh ketakutan dan terima kasih.
Kapten Lan, yang berdiri di kemudi, melirik ke arah Xu Hao. Matanya berbinar penuh pertanyaan, tapi dia tidak berkata apa-apa.
Beberapa jam kemudian, kabut tiba-tiba menghilang, seperti tirai yang dibuka. Mereka sekarang berada di sebuah wilayah laut yang sangat tenang, airnya berwarna biru tua hampir hitam. Langit di atas cerah, tapi sinar matahari terasa dingin. Dan di kejauhan, di cakrawala, terlihat sebuah garis putih yang besar, seperti air terjun raksasa yang melingkar.
"Mata Dewa Laut," kata Kapten Lan dengan suara hampa. "Kita masih berjarak sekitar satu hari pelayaran. Tapi dari sini, kita sudah bisa melihatnya."
Semua mata tertuju ke kejauhan. Bahkan dari jarak ini, pusaran itu terlihat mengesankan dan menakutkan. Sebuah lingkaran raksasa air yang berputar, dengan pusatnya yang gelap seperti mata yang menatap langit. Suara gemuruhnya yang rendah mulai bisa didengar, seperti dengungan raksasa yang tidur.
"Kita akan berlabuh di sini malam ini," perintah Kapten Lan. "Tidak aman mendekat di malam hari. Besok pagi kita akan lanjutkan, dan sampai di zona aman sekitar tengah hari."
Kapal berlabuh dengan jangkar khusus yang dirancang untuk perairan dalam. Malam itu, suasana di kapal sangat tegang. Hampir tidak ada yang berbicara. Semua mata sesekali melirik ke arah pusaran yang bahkan di malam hari terlihat seperti bayangan hitam raksasa yang menelan bintang-bintang di sekitarnya.
Xu Hao tidak tidur. Dia duduk di geladak, bermeditasi sambil menjaga kesadarannya tetap terbuka. Tengah malam, dia merasakan sesuatu. Bukan ancaman, tapi... panggilan. Sebuah getaran halus yang berasal dari darahnya, dari arah pusaran itu.
Kemudian, di kejauhan, di atas permukaan laut dekat pusaran, dia melihat kilatan cahaya lemah berwarna-warni. Pelangi malam. Hanya sebentar, lalu hilang.
"Kau juga melihatnya?" suara Kapten Lan tiba-tiba di sampingnya. Perempuan itu berdiri dengan tangan di pinggang, juga memandang ke arah pusaran.
"Ya. Cahaya pelangi."
"Itu pertanda. Menurut legenda, saat Mata Dewa Laut 'membuka matanya', dia memancarkan cahaya pelangi. Itu adalah saat dia paling aktif, dan paling berbahaya." Kapten Lan menatap Xu Hao. "Cahaya itu muncul tadi. Besok, saat kita mendekat, mungkin dia akan membuka matanya lagi. Apa pun rencanamu, Tuan Han, lakukan dengan cepat. Aku tidak akan menunggu lama."
"Saya mengerti. Terima kasih, Kapten."
Kapten Lan mengangguk, lalu kembali ke kabinnya, meninggalkan Xu Hao sendirian di geladak dengan gemuruh pusaran yang jauh dan panggilan misterius dari darahnya sendiri.
Esok paginya, mereka berlayar lagi mendekati pusaran. Semakin dekat, semakin jelas besarnya. Pusaran itu berdiameter mungkin beberapa li, dengan dinding air yang berputar cepat setinggi puluhan meter. Suara gemuruhnya sekarang menggema, menggetarkan kayu kapal. Udara penuh dengan percikan air asin dan energi kacau.
Ombak Pemberani berhenti pada jarak yang aman, sekitar lima li dari tepi pusaran, persis seperti janji Kapten Lan.
"Ini sejauh yang bisa kami temani, Tuan Han," kata Kapten Lan, wajahnya tegang. "Arus di sini sudah sangat kuat. Kapal ini tidak bisa lebih dekat."
Xu Hao mengamati pusaran itu. Dia bisa merasakan formasi ruang-waktu yang sangat kuat berdenyut dari pusatnya.
"Saya akan pergi dari sini," katanya. "Terima kasih atas bantuannya, Kapten Lan. Bayaran tambahan untuk keselamatan kru." Dia melemparkan sebuah kantong kecil berisi sepuluh kristal menengah ke tangan kapten.
Kapten Lan menangkapnya, lalu mengangguk. "Semoga dewa laut memberkatimu. Aku akan menunggu di sini selama satu hari. Jika kau tidak kembali... kami akan pergi."
"Mengerti."
Xu Hao lalu berjalan ke pinggir kapal. Semua pelaut memandanginya, campuran rasa takjub, takut, dan kasihan di mata mereka. Seorang pria akan pergi sendirian ke mulut neraka laut.
Dia tidak melompat ke air. Sebagai gantinya, dia melangkah ke udara, berjalan di atas permukaan laut yang bergelora menuju pusaran raksasa itu. Langkahnya tenang, stabil, seperti berjalan di taman.
Dia mendengar desis terkejut dari belakangnya. Tapi dia tidak menoleh.
Saat dia semakin dekat, kekuatan tarikan pusaran mulai terasa. Angin kencang menariknya, dan air di bawah kakinya berputar cepat. Tapi dia tetap stabil, menggunakan pemahaman Dao Ruang-nya untuk 'menempel' di ruang itu sendiri, bukan di air atau udara yang bergerak.
Pada jarak sekitar satu li dari tepi pusaran, dia berhenti. Dia mengeluarkan lukisan warisan pamannya dari cincin penyimpanan. Saat lukisan itu terbuka, peta dan diagram formasi langsung bersinar, bereaksi terhadap lingkungan sekitarnya.
Sekarang, waktunya mengaktifkan Formasi Penusuk Lapisan Realita. Dia mengambil seribu kristal hukum tingkat tinggi, menyusunnya dalam pola tertentu di udara mengikuti diagram, lalu dengan segera, mengalirkan Qi dan darahnya ke dalam pola itu.
Laut di sekelilingnya mulai bergolak lebih ganas. Cahaya pelangi tiba-tiba meledak dari pusat pusaran, membentuk sebuah terowongan cahaya berwarna-warni yang memanjang ke langit.
Dan di kejauhan, di arah yang berbeda, Xu Hao melihat kilatan cahaya lain. Kapal hitam dengan kelompok kultivator itu juga tiba. Mereka melihatnya. Dan mereka sedang menuju ke arahnya dengan cepat.
Tidak ada waktu lagi. Xu Hao menarik napas dalam, dan melangkah masuk ke dalam terowongan cahaya pelangi, membawa lukisan dan sisa energinya.
Dia menghilang dari pandangan, tertelan oleh Mata Dewa Laut.
Di atas Ombak Pemberani, Kapten Lan dan krunya menyaksikan dengan mulut ternganga. Mereka melihat pria misterius itu menghilang ke dalam cahaya, dan kemudian, cahaya itu sendiri meredup, dan pusaran kembali ke keadaan semula, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
"Semoga kau menemukan apa yang kau cari, Tuan Han," bisik Kapten Lan, lalu berbalik. "Angkat jangkar! Kita pergi dari sini. Kita sudah selesai."
Sementara itu, di kapal hitam, Si Senior Chen berdiri di geladak, matanya menyipit.
"Seseorang... menggunakan formasi tingkat tinggi untuk masuk ke dalam pusaran. Siapa dia? Dan kenapa... darahku bereaksi melihatnya?"
Dia tidak tahu bahwa darahnya bereaksi karena mereka berdua adalah keturunan Klan Xu. Dan bahwa pria yang baru saja menghilang itu adalah orang yang sedang dicari oleh para tetua klan mereka.
Di dalam terowongan cahaya, Xu Hao merasakan tubuhnya ditarik melalui lapisan-lapisan realitas. Dia melihat gambaran-gambaran aneh melintas.
Dunia di bawah laut. Dia hampir sampai.
up up up