Alana, seorang wanita yang sedang memulihkan luka hati, mengasingkan diri ke rumah tua peninggalan kakeknya di puncak bukit terpencil. Kehidupannya yang sunyi berubah sejak ia menemukan surat-surat misterius bertinta perak di dalam sebuah kotak pos kuno yang konon hanya menerima kiriman "dari langit".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Residu Cahaya yang Padam
Dunia tidak berakhir dengan ledakan indigo yang megah atau simfoni kosmik yang memekakkan telinga. Bagi Alana, dunia berakhir dengan aroma disinfektan yang menyengat paru-paru dan suara detak jam dinding yang membosankan di sebuah ruangan bercat putih pucat.
Saat Alana membuka matanya, hal pertama yang ia rasakan adalah beban. Tubuhnya terasa berat, seolah-olah setiap inci ototnya telah diganti dengan timah. Ia mencoba memanggil pendaran cahaya di ujung jarinya sebuah refleks yang selama bertahun-tahun datang sealami tarikan napas namun yang ia temukan hanyalah kulit pucat yang dingin dan jemari yang gemetar karena lemas. Guratan emas yang dulu menjalar di lengannya seperti sirkuit dewa kini telah sirna sepenuhnya, menyisakan bekas luka putih tipis yang samar, persis seperti ingatan yang dipaksa dihapus dari benaknya.
"Pelan-pelan, Mbak. Jangan langsung bangun," sebuah suara perempuan yang asing menyentak kesadarannya.
Seorang perawat dengan wajah lelah namun ramah berdiri di samping tempat tidurnya, sedang mengatur tetesan infus. Alana menatap botol plastik di atasnya. Cairan bening di dalamnya tidak berpendar, tidak membawa energi langit. Itu hanya larutan garam dan glukosa biasa. Sangat fana. Sangat manusiawi.
"Di mana... aku?" Alana mencoba bicara, namun suaranya terdengar asing di telinganya sendiri parau, kering, dan kecil. Tidak ada lagi gema frekuensi yang biasanya membuat suaranya terdengar seperti melodi.
"Rumah sakit darurat di pesisir, Mbak. Tim SAR menemukan Mbak terdampar di antara karang Pantai Parangtritis dua hari lalu. Sejujurnya, keajaiban Mbak bisa selamat. Ombak dan badai malam itu... orang-orang bilang itu badai paling aneh dalam sejarah. Seperti laut sedang berperang dengan langit," perawat itu bercerita sambil memeriksa tekanan darah Alana.
Alana terdiam. Parangtritis. Nama itu memicu denyut tajam di belakang kepalanya, sebuah nyeri yang seolah ingin menarik keluar sebuah gambar, namun tidak ada apa pun yang muncul selain kegelapan. Ia mencoba mengingat sebuah menara, aroma pohon pinus, atau sesosok pria dengan mata yang selalu menatapnya seolah ia adalah pusat semesta. Namun, pikirannya seperti sebuah perpustakaan yang baru saja dilalap api; hanya ada abu dan rasa hampa yang menghimpit dada.
Di Ujung Koridor – Taman yang Menghadap Laut
Elin duduk di kursi roda, tubuhnya dibalut selimut rumah sakit yang kasar. Ia ditempatkan di teras taman yang menghadap langsung ke arah Samudera Hindia. Matanya yang kini berwarna biru gelap pekat dan dalam seperti warna air di palung ribuan meter menatap ombak yang pecah di kejauhan dengan tatapan yang kosong namun penuh selidik.
Ia tahu namanya Elin. Ia tahu ia selamat dari sebuah kecelakaan laut yang hebat. Namun, setiap kali ia mencoba merangkai kejadian sebelum ia terbangun di atas tandu medis, kepalanya terasa seperti dihantam palu godam. Ia merasa seperti kehilangan separuh dari nyawanya, namun ia tidak tahu rupa atau nama dari bagian yang hilang itu.
"Kopinya, Nak. Biar badanmu sedikit hangat." Seorang pria tua dengan kursi roda di sampingnya menyodorkan sebuah gelas plastik berisi cairan hitam yang mengepulkan uap.
Elin menerima gelas itu dengan tangan yang kaku. Ia menyesapnya perlahan. Rasa pahit yang tajam dan aroma yang menusuk mendadak membuat matanya memanas tanpa alasan yang jelas. Aroma kopi ini... ia merasa seolah-olah aroma ini adalah satu-satunya jembatan menuju sebuah rumah yang tidak bisa ia temukan di peta mana pun. Sebuah rumah yang seharusnya berbau seperti ini setiap pagi.
"Terima kasih, Pak," bisik Elin pelan.
"Kau tampak seperti orang yang sedang mencari bintang di siang bolong, Nak," pria tua itu terkekeh pelan, matanya yang keriput menatap laut dengan bijaksana. "Namaku Surya. Aku relawan di sini, sesama pasien tua yang bosan. Kau mau berbagi beban? Biasanya cerita bisa meringankan luka yang tidak terlihat."
Elin menoleh cepat. Nama itu Surya terasa seperti guntur yang menyambar ingatannya, namun wajah pria di depannya bukanlah wajah kakek yang ia cari dalam samar-ingatannya. Pria ini hanyalah relawan biasa yang kesepian. Elin menggeleng lemah. "Aku tidak punya cerita untuk dibagikan, Pak. Aku... aku bahkan tidak ingat siapa diriku sebelum air laut menyeret ke pantai."
Pertemuan yang Terhapus
Sore itu, dengan bantuan tiang infus sebagai penyangganya, Alana memaksakan diri untuk berjalan-jalan di koridor. Ia merasa perlu keluar dari kamar yang pengap itu, perlu menghirup udara yang tidak berbau obat. Ia melangkah perlahan, menyeret kakinya yang masih terasa seperti milik orang lain, menuju taman rumah sakit.
Ia sampai di taman dan melihat sosok pemuda yang duduk di kursi roda, membelakanginya, sedang menatap cakrawala yang mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan.
Langkah kaki Alana terhenti mendadak. Jantungnya yang tadi berdetak lambat dan rapuh, tiba-tiba berdegup kencang dengan irama yang kacau. Ada sebuah tarikan magnetis yang sangat kuat, sebuah rasa rindu yang meluap dari balik jeruji ingatannya yang terkunci. Tanpa sadar, dengan mata yang mulai berkaca-kaca, Alana berjalan mendekat ke arah pemuda itu.
"Permisi..." ucap Alana dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Elin memutar kursi rodanya. Saat mata biru gelap itu bertemu dengan mata cokelat bening milik Alana, seluruh udara di taman itu seolah-olah tersedot habis.
Tidak ada indigo yang meledak dari tubuh mereka. Tidak ada pendaran cahaya perak yang menyilaukan. Hanya ada dua manusia biasa, dua raga yang hancur, yang saling menatap dalam kebingungan yang menyakitkan. Alana melihat pemuda itu dan merasakan dorongan luar biasa untuk memeluknya, untuk menangis di bahunya, namun logika manusianya berteriak bahwa ia sama sekali tidak mengenal siapa pria ini.
"Ya? Apa... apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Elin bertanya. Suaranya rendah dan memiliki getaran yang membuat bulu kuduk Alana berdiri.
Alana menatap wajah Elin lama sekali, mencari setiap lekuk dan bayangan di wajah itu. Ia mencari sebuah nama, sebuah tempat bernama Nagasari, sebuah menara kayu, atau sebuah janji yang dibuat di bawah hujan meteor. Namun, perjanjian dengan kakek Surya di "ruang antara" itu sangat absolut. Ingatan Alana telah dikunci dengan gembok yang kuncinya telah dibuang ke dimensi lain.
"Aku... aku tidak tahu," jawab Alana, air mata mendadak jatuh membasahi pipinya tanpa ia sadari. "Maafkan aku. Aku hanya merasa... sepertinya aku berhutang sebuah surat yang sangat penting padamu."
Elin mengerutkan keningnya, wajahnya menunjukkan rasa perih yang dalam. "Surat? Surat apa maksudmu?"
Alana menggeleng, ia menghapus air matanya dengan gerakan bingung dan canggung. "Aku tidak tahu mengapa aku mengatakannya. Maafkan aku, kepalaku mungkin masih kacau karena benturan."
Saat Alana hendak berbalik untuk pergi, Elin tiba-tiba meraih pergelangan tangan Alana. Sentuhan itu... meskipun Alana tidak lagi memiliki energi sang Navigator, ada sebuah getaran residu—sebuah sisa-sisa "listrik" dari masa lalu yang menyambar tulang belakang mereka berdua. Elin tertegun, ia menatap tangannya yang memegang tangan Alana dengan gemetar.
"Jangan pergi dulu," bisik Elin, matanya yang biru gelap kini tampak berkaca-kaca dan penuh permohonan. "Boleh aku tahu siapa namamu?"
"Alana," jawabnya singkat.
"Aku Elin. Nama itu... nama Alana... rasanya seperti melodi yang sudah sangat lama tidak kudengar, namun aku tahu persis bagaimana cara menyanyikannya."
Di Balik Bayangan Pesisir
Di parkiran rumah sakit yang gelap, sebuah jip hitam dengan kaca gelap yang pekat terparkir diam. Di dalamnya, Arthur Vance mengamati pertemuan di taman itu melalui teropong jarak jauh dengan ekspresi dingin. Di sampingnya, Arlo duduk dengan perban membungkus sebagian wajah dan lehernya bekas luka dari ledakan energi vakum di palung.
"Mereka benar-benar tidak ingat," gumam Arthur. "Eksperimen Surya bekerja dengan sempurna. Mereka sekarang hanyalah dua manusia fana yang tidak memiliki nilai strategis lagi bagi Konsorsium."
Arlo menatap tajam ke arah dua sosok yang kini tampak berbicara canggung di taman itu. "Jangan remehkan residu emosional, Arthur. Kunci yang sudah pecah sekalipun, jika disatukan kembali oleh perasaan yang sama kuatnya dengan sebelumnya, bisa membuka gerbang yang lebih besar daripada mesin mana pun. Kita biarkan mereka untuk sementara. Biarkan mereka jatuh cinta kembali sebagai manusia biasa tanpa beban dewa. Itu akan membuat frekuensi mereka jauh lebih matang dan lezat saat kita datang untuk memanennya nanti."
Arthur menyalakan mesin jipnya, suaranya menderu rendah. "Bagaimana dengan sisa-sisa Nagasari ? Penduduk desa mulai bertanya-tanya."
"Nagasari sudah menjadi debu dan abu. Tapi ingat, di mana ada debu, di situ ada benih yang hanya menunggu musim hujan untuk tumbuh kembali."
Saat Alana dan Elin sedang berbicara di taman, angin laut yang kencang bertiup, menerbangkan secarik kertas kusam dari kantong piyama Elin—sebuah kertas kosong yang ia temukan terselip di genggamannya saat ia diselamatkan oleh tim SAR. Alana membungkuk untuk mengambil kertas itu, dan tepat saat ujung jarinya menyentuh permukaan kertas yang kasar, sebuah tulisan muncul secara ajaib. Bukan dari tinta, melainkan dari sisa energi panas yang masih tertanam di sel tubuh Alana:
"Temui aku di koordinat yang tidak ada di peta, jika kau ingin tahu mengapa bintang-bintang menangis malam itu dan siapa yang memegang kuncinya."
Alana menatap Elin dengan napas yang tertahan, dan untuk pertama kalinya, sebuah kilatan cahaya indigo melintas di benaknya selama satu milidetik, membuat dunianya berputar hebat sebelum ia jatuh pingsan tepat di pelukan Elian yang panik.