Raisa Swandi harus menghadapi kenyataan di gugat cerai suaminya Darma Wibisono, 11 tahun pernikahan mereka sirna begitu saja. Dia harus menerima kenyataan Darma yang dulu sangat mencintainya kini membuangnya seperti sampah. Tragedi bertubi-tubi datang dalam hudupnya belum sembuh Raisa dari trauma KDRT yang dialami dia harus kehilangan anak semata wayangnya Adam yang merupakan penyandang autis, Raisa yang putus asa kemudian mencoba bunuh diri locat dari jembatan. Tubuhnya terjatuh ke dalam sungai tiba-tiba saja fazel-fazel ingatan dari masalalu terlintas. Sampai dia terbangun di kosannya yang dulu dia tempati saat masih Kuliah di Bandung di tahun 2004
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengejar Cinta Yang Lalu
"Hallo... masa mudaku, aku kembali," kata-kata itu begitu saja keluar dari mulutnya.
Raisa bergegas membuka pintu kamarnya dan keluar. Ia berjalan dengan cepat, tampak terburu-buru.
"Kali ini aku tak akan membuang waktuku," ucap Raisa pelan sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Digta, tunggu aku," ucap Raisa lagi. Senyuman manis tampak terukir di wajahnya.
Tanpa ia sadari, Mutia sedang memperhatikannya dari kejauhan.
"Gila, nih anak," ucap Mutia pelan sambil menggelengkan kepalanya.
"Mau kemana, Cha?" Kata Mutia lagi. Seketika, Raisa tersadar dari lamunannya.
"UTB!" (Universitas Teknologi Bangsa) Raisa langsung menjawab dengan lugas sambil bergegas pergi.
"Hah, ngapain kamu kesana? Kamu kan lagi UTS," Mutia masih mengingatkannya.
"Aku ikut semester pendek aja," Raisa menoleh sejenak sambil terus berlalu. utia.
"Kayaknya otaknya udah geser, nih anak," kata Mutia masih bengong memperhatikan Raisa sampai akhirnya Raisa keluar dari pintu ruang tamu dan menghilang dari pandangannya.
Sedangkan di luar sana, Raisa tampak bersemangat. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Akh, indahnya masa muda," ucap Raisa tersenyum cerah menatap langit. Kedua tangannya terangkat ke atas, seolah ingin meraih semua kebahagiaan yang ada di dunia ini.
"Terima kasih untuk kesempatan kedua ku ini," ucapnya lagi tanpa ia sadari orang-orang mulai memperhatikan tingkahnya yang aneh.
Raisa sepertinya tidak menyadarinya. Kelakuannya mengundang perhatian orang-orang di sekitarnya. Ia terlalu bahagia untuk mempedulikan apa yang orang lain pikirkan tentangnya.
Raisa mengambil ponsel dari dalam tasnya. Ia hendak memesan ojek online untuk pergi ke tempat tujuannya.
Dia menyentuh layar ponselnya beberapa kali, namun tampaknya tak ada perubahan. Layar ponselnya tetap gelap.
"HP-ku rusak apa?" gerutu Raisa. Ia termenung sejenak dan menatap ponselnya dengan tatapan bingung.
"Sepertinya, ada yang salah," gumamnya.
"Wait, wait, ini tahun 2004," sambung Raisa sambil tertawa kecil.
Hehehehe
Orang-orang yang tanpa sengaja melintas sekarang menatap Raisa dengan tatapan aneh. Mereka menganggap Raisa adalah orang gila yang sedang berbicara sendiri.
"Aku nggak bisa pesen ojek online di masa sekarang, terus aku harus ngapain?" Pikir Raisa. Ia mulai bingung.
"Angkot!" Seru Raisa tiba-tiba. Wajahnya kembali sumringah penuh semangat. Ia teringat akan transportasi umum yang menjadi andalan pada masa itu.
Raisa segera bergegas berjalan menyusuri jalan di sepanjang gang Lengkong Besar.
Setelah sampai di jalan raya, tepatnya di Jala Melong, Raisa berdiri memandangi setiap angkot yang lewat.
"Kira-kira naik angkot jurusan apa ya?" Raisa berpikir sejenak. Ia mencoba mengingat rute angkot yang melewati UTB.
"Hmm, kayaknya angkot Kelapa-Dago deh," ucap Raisa sangat yakin dengan ingatannya kali ini.
Dengan bersemangat, Raisa melambaikan tangannya menghentikan angkot yang tampak mulai mendekat. Tak lama, angkot berwarna hijau jurusan Kelapa-Dago berhenti persis di hadapannya.
"Yuhuu!" seru Raisa senang. Ia merasa seperti mendapatkan jackpot.
Raisa langsung bergegas masuk ke dalam angkot berwarna hijau itu. Ia mencari tempat duduk yang kosong.
Di dalam tampak lengang, hanya ada Raisa dan dua orang penumpang lainnya. Angkot itu pun segera melaju. Raisa tampak memperhatikan setiap jalan yang ia lalui. Ia membuka sedikit kaca jendela, membiarkan angin meniup rambutnya.
Di sepanjang jalan itu, Raisa hanya tersenyum sambil sesekali menunjuk tempat-tempat yang tak asing baginya.
"Ooh, Gor Saparua," gumamnya.
"Heritage," ucapnya lagi.
Orang yang ada di dalam angkot pun sontak menatap ke arahnya. Raisa tampaknya menyadarinya. Ia hanya tersenyum sambil menghentikan tingkahnya yang absurd.
Tak terasa, ia sudah melintasi Jalan Riau, kemudian berbelok ke arah kiri menuju Jalan Dago. Tak sampai beberapa menit...
"Stop kiri, Pak," Kata Raisa spontan. Angkot itu pun berhenti seketika tepat di depan RS ST Borromeus.
Raisa memberikan uang Rp5.000 kepada sopir angkot.
"Ini, Pak," kata Raisa. Ia sedikit tercengang ketika sopir angkot memberikan kembalian uang Rp3.000.
"Ini kan tahun 2004," ucap Raisa pelan masih memandangi uang kembalian itu. Ia merasa kaget karena harga angkot pada masa itu sangat murah.
Tak mau buang waktu, Raisa langsung bergegas turun dari angkot. Ia harus menyeberang jalan terlebih dahulu untuk sampai ke UTB.
Dia menoleh ke sebelah kiri jalan, memperhatikan kendaraan yang berlalu lalang. Setelah dirasa lengang, Raisa segera melangkah menyeberangi jalan itu.
Jarak Universitas UTB tidak terlalu jauh dari sana. Ia hanya perlu berjalan beberapa meter saja. Tak lama kemudian, Raisa sampai di depan pintu universitas paling bergengsi di Bandung dan di Indonesia itu.
Awalnya, Raisa sedikit ragu. Ia cukup lama berdiri di tempat itu, memandangi gerbang UTB dengan tatapan kosong.
"Aku harus melihatnya, karena waktu tak akan terulang lagi," ucap Raisa meyakinkan dirinya. Ia mencoba menguatkan hatinya untuk melangkah masuk ke dalam kampus.
"Ayo, Raisa, semangat," ucap Raisa seraya melangkah masuk ke dalam kampus itu. Jantungnya mulai berdebar kencang. Ia merasa gugup dan takut.
Dia mulai celingak-celinguk kebingungan harus berjalan ke arah mana. Ia tidak tahu di mana letak fakultas teknik elektro.
"Kampusnya kok gede banget yaa, segede harapanku," ucap Raisa, lalu terkekeh mencemooh diri sendiri.
Tiba-tiba, Raisa melihat seseorang melintas di hadapannya. Dari penampilannya, jelas sekali bahwa dia adalah salah satu mahasiswa yang berkuliah di UTB.
"Permisi, Kak," sapa Raisa sopan.
Mahasiswa yang melintas itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Raisa. Perhatiannya kini tertuju pada gadis yang tampak kebingungan itu.
"Iya, ada yang bisa saya bantu?" sahut mahasiswa itu ramah.
"Maaf, Kak, Teknik Elektro di sebelah mana ya, Kak?" tanya Raisa gelagapan. Ia merasa gugup karena harus bertanya kepada orang yang tidak dikenalnya.
Orang itu tersenyum sambil menjelaskan, "Oh, Teknik Elektro. Dari sini lurus aja, nanti Teknik Elektro persis di belakang MIPA," ucap mahasiswa itu sambil menunjuk ke arah belakang.
"Terima kasih ya, Kak," sahut Raisa dengan senyum lega. Ia merasa sangat berterima kasih atas bantuan mahasiswa itu.
Tak mau buang waktu, Raisa langsung bergegas menuju ke tempat yang ditunjukkan mahasiswa itu. Ia mengikuti petunjuk yang dia dapatkan tadi dengan langkah cepat.
Namun, baru saja Raisa berjalan beberapa langkah...
"Hah, demi apa?" Raisa tampak terkejut dan menghentikan langkahnya tiba-tiba. Jantungnya berdegup kencang. Tak jauh di hadapannya, ia melihat sosok Digta.
"Terus, sekarang aku harus apa?" batin Raisa panik. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Lutut dan kakinya tiba-tiba terasa lemas saking gugupnya.
Dari arah depan, Digta tampak sedang berkelakar bersama beberapa orang temannya. Mereka tertawa dan bercanda dengan riang.
Dan saat ini, Digta berjalan semakin mendekat ke arah Raisa. Jarak mereka semakin dekat, membuat Raisa semakin gugup dan salah tingkah.