Kanara, enam tahun, memilih diam dan takut pada cermin.
Nura datang hanya untuk menolong, tapi malah terikat pada Elang, ayah Kanara, duda kaya yang menyimpan luka dan penyesalan.
Di antara tangisan dan kasih yang tumbuh perlahan, cinta hadir tanpa rencana. Namun saat masa lalu mulai terkuak, Nura harus memilih, pergi untuk melindungi diri atau bertahan mencintai dua hati yang sama-sama terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wajah di balik cermin
Elang jarang mengingat hari itu secara utuh. Selama ini, ia sengaja memotong memori itu menjadi bagian-bagian kecil agar cukup pendek untuk diingat tanpa sesak, dan cukup samar untuk membuat lukanya kembali menganga. Namun malam ini, setelah kejadian di taman, potongan-potongan tajam itu kembali menyatu.
Di luar, langit mulai memburatkan warna kemerahan. Matahari terbit perlahan, mengusir sisa dingin malam. Elang membuka jendela ruang kerjanya, membiarkan udara pagi masuk. Namun, saat ia melihat pantulan dirinya di kaca jendela, tubuhnya mendadak kaku. Kenangan itu datang menghantam bak ombak besar.
Flashback On
Lebih dari satu tahun lalu, rumah ini penuh suara.
Tari, Mentari, wanita yang memberikan Kanara padanya, kerap berdiri lama-lama di depan cermin kamar. Bukan untuk berdandan, melainkan menatap pantulannya sendiri, seolah sedang mencari seseorang di balik kaca.
“Tari… kamu capek?” tanya Elang suatu malam, hampir tengah malam saat ia baru pulang. “Berhenti menatap kaca.”
Tari tersenyum sangat tipis, jenis senyum yang membuat hati perih. “Aku hanya ingin memastikan kalau aku masih ada, Mas.”
Saat itu, Elang menganggapnya angin lalu. Sekarang, kalimat itu terasa seperti lonceng peringatan yang ia abaikan.
Hari terakhir itu dimulai dengan sangat biasa. Elang ingat hari itu sabtu pagi yang cerah. Kanara bermain boneka di lantai kamar, sementara Elang tengah mengikat dasi, terburu-buru seperti biasa. Tari berdiri di depan cermin dengan tangan gemetar, dan mata yang merah.
“Mas…,” panggilnya lirih.
“Hmmm…,” Elang menyahut tanpa menoleh, tangannya sibuk menata laptop ke dalam tas.
“Aku tunggu Mas pulang saja ya, baru kita ke rumah mama,” ucap Tari. Ada nada memohon yang bergetar dalam suaranya.
“Duluan saja. Kamu dan Kanara tunggu di sana. Kalau aku harus pulang dulu, jalannya Memutar, malah jadi lama. Aku usahakan tidak lama-lama di kantor,” jawab Elang praktis. Ia tidak menyadari kerapuhan dalam suara istrinya.
Tari menunduk, meremas ujung bajunya.
“Jangan lama-lama di depan cermin,” tegur Elang ketika melihat istrinya kembali terpaku pada pantulannya. “Kanara melihat.”
Tari justru malah berjalan semakin dekat ke arah cermin. “Justru karena Kanara melihat,” bisiknya. Ia menoleh ke arah Kanara sambil tersenyum. Senyum yang tidak pernah sampai di mata.
Elang tidak mengerti. Ia hanya menepuk bahu Tari sekilas, dan mencium kening Kanara. Sentuhan yang terasa cukup saat itu. Ia lalu pergi.
Hari sudah gelap, hujan gerimis turun. Tadi Elang sudah sampai ke rumah orang tuanya, namun Tari dan Kanara tidak kunjung datang. Ia harus menelan ocehan mamanya sepanjang malam, karena anak istrinya tidak hadir saat malam penting.
Telepon itu masuk saat ia sedang memacu mobil pulang dengan emosi. Suara Bu Yati di ujung sana terdengar kacau dan datar sekaligus, “Pak, cermin pecah.”
Elang menginjak rem dengan kasar di depan rumah. Ia berlari masuk, membiarkan pintu mobil terbuka lebar. Aura rumah terasa ganjil, dingin dan hampa. Ia memanggil nama Tari, namun hanya hening, tidak ada yang menjawab.
Dengan langkah lebar, Elang naik ke lantai dua. Di sana, ia menemukan para stafnya mematung di koridor. Beberapa terisak tanpa suara. Jantung Elang berdegup kencang, firasat buruk mencekik lehernya.
“Pak…,” Bu Yati keluar dari kamar Tari dengan wajah sembab, tangannya gemetar.
Elang melangkah masuk dengan kaki berat. Hal pertama yang ditangkapnya adalah serpihan kaca yang berserakan di lantai. Dan di antara pecahan itu, ia melihat wajah Tari.
Dunianya runtuh seketika.
Elang memejamkan mata. Namun wajah Tari dengan mata terbuka dan mulut menganga tergambar jelas di kepalanya. Tidak ada air mata, tidak ada darah, hanya tatapan kosong yang abadi.
Elang memberanikan diri memasuki kamar lebih dalam.Tari terbaring di sana, di lantai kamar. Pergelangan tangannya masih mengalirkan darah dengan deras.
Dan di sudut ruangan, Kanara yang kala itu baru berusia lima tahun, duduk bersimpuh. Tubuhnya gemetar hebat, matanya terbuka lebar menatap pecahan kaca yang berserakan. Sejak detik itu, Kanara tidak pernah berani melihat pantulan, karena di balik kaca, ia selalu melihat tatapan terakhir ibunya.
Flashback off
Elang terduduk di kursi kerjanya, menangkup wajah dengan kedua tangan.
“Aku seharusnya tetap tinggal di hari itu,” bisiknya parau. Entah pada siapa penyesalan itu ditujukkan. Kepada wanita yang tidak akan pernah kembali, atau pada gadis kecil yang terjebak dalam pantulan terakhir ibunya.
Dari balik pintu, terdengar langkah kaki kecil mendekat.Elang bergegas mengusap wajahnya cepat dan membuka pintu. Kanara berdiri di sana, memeluk bantalnya erat-erat.
Elang berjongkok, mencoba memasang senyum terbaiknya. “Selamat pagi, Kanara.”
Gadis kecil itu melangkah maju, menatap mata ayahnya dalam-dalam. Elang menunggu dengan sabar. “Kanara mau sa–.”
Grep.
Kanara tiba-tiba melingkarkan lengan kecilnya ke leher Elang.
Untuk sesaat tubuh Elang membeku. Ini pertama kalinya sejak kejadian itu Kanara memeluknya dengan inisiatif sendiri. Ia bisa merasakan hembusan hangat napas Kanara di lehernya.
Dada Elang sesak dengan emosi yang membuncah. Ia memejamkan mata, membalas pelukan itu seerat mungkin, seolah takut jika ia melepasnya, Kanara akan ikut menghilang seperti ibunya.
Di balik pelukan itu, ada satu penyesalan yang akan selalu ia bawa, bahwa pada hari itu, ia pergi terlalu cepat, meninggalkan dua orang yang sebenarnya tidak siap ditinggalkan sendirian.
**********
Setelah pelukan pagi itu, suasana rumah terasa lebih mencair. Ada sesuatu yang runtuh antara Elang dan Kanara, dinding kokoh dan dingin yang selama ini memisahkan mereka.
Pagi itu, Elang tidak langsung pergi ke kantor. Ia justru duduk di lantai ruang TV, tepat di samping Kanara yang sedang merapikan balok-baloknya.
Nura hanya memperhatikan dari kejauhan, membiarkan anak dan ayah itu kembali menemukan frekuensi mereka.
“Boleh Ayah bantu?” tanya Elang ragu.
Kanara menoleh, tidak mengangguk, tapi menyerahkan sebuah balok berwarna merah ke arah Elang. Itu adalah undangan.
Elang tersenyum tipis, menyusun balok-balok itu dengan hati-hati. “Ayah sudah lama tidak main begini. Terakhir kali… kita membuat istana, kan?”
Gerakan tangan Kanara berhenti, lalu ia melanjutkan. Memorinya tentang ‘istana’ itu mungkin bercampur dengan bayangan pecahnya cermin, tapi kehadiran Elang yang duduk di lantai, sejajar dengannya, memberi rasa aman yang berbeda.
Sore harinya, Elang membatalkan semua pertemuan kantor. Ia mengajak Kanara ke halaman belakang. Nura datang membawa cemilan, lalu sengaja menjaga jarak agar mereka berdua saja.
Elang duduk di rumput, membiarkan Kanara mengejar capung. Saat Kanara lelah, ia mendekat dan duduk di samping Elang.
“Kanara,” panggil Elang lembut. “Ayah mau minta maaf.”
Kanara menatap ayahnya dengan mata bulatnya yang jernih.
“Dulu Ayah sering pergi. Ayah pikir dengan bekerja keras akan membuat Kanara bahagia. Tapi, Ayah salah. Ayah membiarkan Kanara sendirian saat Kanara paling takut,” suara Elang bergetar, tidak sanggup menyimpan penyesalan lagi.
Kanara terdiam. Ia meraih ujung kemeja Elang, meremasnya kecil.
“Ayah tidak akan pergi lama-lama lagi. Kalau Kanara takut, pegang tangan Ayah. Kalau Kanara melihat ‘sesuatu’ di kaca, panggil Ayah. Kita pecahkan ketakutan itu sama-sama, ya?”
Kanara menatap mata Elang. Untuk pertama kalinya, ia tidak membuang muka. Gadis kecil itu mengulurkan tangan mungilnya, menyentuh pipi Elang yang kasar karena belum sempat bercukur, lalu menyentuhkan bibirnya di kening ayahnya.
Dada Elang seperti dihantam benda tumpul. Ia langsung menarik Kanara dalam dekapannya, mencium puncak kepalanya berkali-kali. “Terima kasih, Sayang,” lirihnya dengan air mata yang mengalir deras.
Mentari Dealova, 32 tahun
kasian kl tiba2 histeris
Aku seneng bacanya, aku seneng membaca cerita yg seolah nyata tdk terlalu terasa Fiktif. Semoga Karya Author terus bisa kami nikmatii ... 😍😍