Pernikahan Adrian dan Hanin Kirana menginjak 5 tahun, tapi mereka belum juga dikaruniai anak, sementara mertua Hanin membencinya dengan masalah itu.
Adrian dan Hanin akhirnya bercerai, Hanin berusaha bangkit dari keterpurukannya dengan menata hidup lebih baik dan menjadikannya seorang pebisnis yang sukses.
Segala hal yang terjadi dalam hidupnya membuatnya lebih tegar, dan menciptakan kesan bahwa perempuan single bisa mandiri dan meraih kekayaan yang luar biasa.
Bagaimana kisah selanjutnya? , apakah Hanin tetap menjanda? atau menemukan pasangan hidupnya yang baru?
Yuuk kita ikuti ceritanya .....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yance 2631, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berkenalan
Hanin kemudian terlihat berbaur bersama keluarga besar bapak Ibrahim ayahanda Salman, ibunda Salman sangat menyukai sikap Hanin yang rendah hati ini,
"Nak, boleh ibu berkunjung ke rumah kamu?' tanya ibu Aisyah.
"Tentu bu, tentu boleh.. saya bahagia jika ibu mau berkunjung ke rumah saya," ujar Hanin dengan hati-hati dan sopan.
"Insya Allah, sesudah acara ini ibu ingin ke rumah kamu nak.. mampir sebentar" ujar ibu Aisyah tersenyum.
"iya bu,.. mau pergi sama-sama bareng saya bu?" tanya Hanin.
"Mm, iya .. iya boleh nak" ujar ibu Aisyah dengan sangat ramah. Hanin tersenyum, ia bahagia calon ibu mertuanya mau mengunjungi rumahnya.
Setelah berganti pakaian, Hanin bersiap untuk pulang ke rumahnya bersama ibunda Salman yang seolah ingin mengenalnya lebih jauh.
"Mari ibu.. "ujar Rima dengan sopan sambil membuka pintu belakang mobilnya. Ibu Aisyah pun duduk di baris kedua sementara Hanin mengemudikan mobil bersama Amel di sampingnya.
Di dalam mobil,
"Mbak, untung ya keburu beli mobil ini kayak firasat aja bakalan ada tamu istimewa yang datang" ujar Amel tertawa kecil.
"Mm, iya Mel alhamdulillah.. brandnya juga lumayan, jadi bisa antar tamu-tamu, mobilnya juga nyaman banget kan?, memang dari dulu cita-citaku pengen punya 1 Mercedes Benz seperti ini ya aku bersyukur aja" ujar Hanin sambil mengemudikan mobilnya.
"Bu, mohon ijin saya mampir ke toko kue dulu ya atau nanti ibu barangkali mau ikut?" ujar Hanin kepada ibu Aisyah.
"It's okay, I will go with you my dear.." ujar ibu Aisyah sambil tersenyum, Hanin pun mengangguk.
Tiba di toko kue terkenal di Bandung, Hanin lalu memarkirkan mobilnya, mereka bertiga pun turun dan masuk ke toko kue Primarasa di jalan kemuning itu,
Ibu Aisyah tampak takjub melihat begitu banyak pilihan kue kering dan kue basah,
"Silahkan ibu, mau pilih kue apa?" ujar Hanin lembut. Ibu Aisyah tersenyum, kemudian memilih kue-kue yang dia suka. Amel pun dengan setia mendampinginya.
"Ada lagi Bu?" tanya Hanin.
"This is enough for me, thanks.. terima kasih Hanin" ujar ibu Aisyah yang belum terbiasa dengan bahasa Indonesia.
"Mel, kue brownies dan bolu yang itu tambah 10 box lagi ya, ini sandwich Picnic Rollnya juga Mel masing-masing 5 atau 6, minta di potongin sekalian sama mbaknya" ujar Hanin. Amel pun mengangguk.
"Hanin, seems you're buying everything.." ujar ibu Aisyah heran dengan belanjaan Hanin yang banyak menurutnya.
"iya Bu, sekalian untuk pegawai saya yang nggak bisa hadir di acara tadi" ujar Hanin. "Ooh, that's good dear.." ujar ibu Aisyah sambil mengelus kepala Hanin.
Tiba di rumah Hanin yang sekarang sudah berlantai 2 dan tidak terlalu besar dengan aksen taman kecil di sudut, serta kolam koi yang memanjang rumah Hanin terlihat lebih asri,
Hanin kemudian menggandeng lengan ibu Aisyah masuk ke halamannya dan menuju pintu ruang tamunya yang luas,
"Well, ini rumah saya bu.. this is my home" ujar Hanin tersenyum. Ibunda Salman pun tersenyum sambil mengangguk.
Hanin kemudian mengajak ibu Aisyah duduk di ruang tamunya yang cozy, "silahkan bu di minum" ujar Hanin bersamaan dengan Amel yang membawakan 2 gelas es jeruk.
"Thank you dear" ujar ibu Aisyah sambil meneguk minuman yang disuguhkan Amel tadi. Hanin tampak membuka beberapa kue yang dibelinya tadi di toko.
"Bu, ini namanya kue lapis legit dan ini lapis Surabaya kue tradisional indonesia" ujar Hanin menjelaskan satu persatu. Ibu Aisyah pun tertarik lalu mencobanya.
"Mm, this is delicious dear.. seems a lot of eggs inside" ujar ibu Syakila sambil mencoba kue lapis legit dan lapis Surabaya.
"Betul bu, kue ini memang bahannya dari telur dan rasanya manis, di coba juga bu yang lain silahkan" ujar Hanin mengerti apa yang di katakan ibu Syakila.
"Masya Allah, this is so good.. "ujar ibu Aisyah mulai menyukai kue asli Indonesia ini. Hanin pun tersenyum.
"Hanin, you should go to Qatar dear.. then we all go on Umroh to Mecca, it's not far from Doha to Mecca" ujar ibu Aisyah tersenyum.
"Insya Allah ibu.. "ujar Hanin sambil tersenyum, lalu Hanin juga bercerita tentang karyawannya yang di berangkatkan umroh akhir bulan ini.
Ibu Aisyah tersentuh mendengar cerita Hanin, lalu mengusap kepala Hanin dengan lembut..
"You have a wonderful heart my dear, Masya Allah Tabarakallah.. may Allah bless you" ujar ibu Aisyah yang sekarang mengusap pipi Hanin yang mulus dan glowing itu.
Kemudian ibu Aisyah tampak membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah kotak,
"This is for you my dear.." ujar ibu Aisyah sambil tersenyum sambil memberikan sebuah kotak perhiasan yang indah kepada Hanin.
"Masya Allah, apa ini bu?" tanya Hanin dengan tangan yang bergetar.
"My dear Hanin, this a set of jewelry, this is also a gift from Salman's grandmother and must be given to her granddaughter in law and that is her mandate.. "ujar ibu Aisyah.
Hanin pun mengangguk,
"Terima kasih ibu.. ini harganya sangat mahal, kemarin juga kak Salman memberi saya 1 set perhiasan" ujar Hanin.
"Never mind dear, it's all yours now.. "ujar ibu Aisyah yang semakin menyayangi calon menantunya ini.
Hanin sangat terharu dengan perlakuan ibunda Salman yang begitu menyayanginya.
"Ayo coba di buka nak, terus di coba.. ibu ingin melihat" ujar ibu Aisyah (dalam bahasa inggris). Hanin pun mengangguk.
Hanin mulai membuka kotak perhiasan itu yang berisi giwang emas, kalung emas yang indah, 2 buah gelang emas, 2 buah cincin emas di lapisi berlian dan 1 gelang emas untuk kaki.
"Masya Allah ibu.. banyak sekali, terima kasih banyak bu jazakallah khairan" ujar Hanin sambil mencium punggung tangan calon mertuanya.
Ibu Aisyah juga tampak terharu, tersenyum. "Waiyyaki nak.. "ujarnya.
Terlihat Hanin sudah memakai pemberian tadi, "Masya Allah, look at you.. you looks more beautiful dear, hoping you like it" ujar ibu Aisyah melihat Hanin yang semakin cantik itu. Hanin pun tersenyum.
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan jam 14:00 siang, ibu Aisyah pun hendak berpamitan. Hanin lalu mengantar kembali calon ibu mertuanya ke hotel untuk beristirahat.. dan setelah itu rencananya Hanin akan kembali melanjutkan perjalanannya menuju kantor,
"Hanin, terima kasih sudah mengantar ibu ya, habis ini mau kemana?" ujar Salman di lobby hotel, "aku mau terus ke kantor kak ada yang harus dikerjakan," ujar Hanin tersenyum.
"Oh I see, aku ikut ya sayang.." ujar Salman yang sudah tidak canggung lagi memanggil Hanin dengan sebutan sayang. Hanin pun mengangguk dan mereka pun berjalan menuju mobil.
"Wow, kamu sudah pandai menyetir sekarang sayang" ujar Salman tersenyum.
"iya kak, terpaksa.. akhirnya jadi bisa deh sekarang" ujar Hanin tersipu sambil mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang, sementara Salman duduk di sampingnya dan Amel setia duduk di belakang.
------
Sore ini, tampak Sita dan Bimo akan pergi ke Jogja.. mereka sudah berada di bandara Husein Sastranegara di jalan Pajajaran Bandung.
"Nanti kita menginap dimana sayang?" tanya Sita sambil memegang lengan Bimo yang kekar. "Kamu menginap di rumah orang tuaku dong" ujar Bimo tersenyum. Sita pun terdiam.
"Mm, mas.. kalau nanti aku nginap di rumah aku nggak bisa dong tidur sama mas" ujar Sita yang sudah ketagihan bercinta ini.
"Haduh kamu ya Sit, udah pengen lagi yaa.. kita harus menikah cepat kalau seperti ini, soalnya kamu bawaannya kepengen terus hmm.." ujar Bimo tertawa kecil.
"Ya gitu deh mas, soalnya mas pintar bikin aku puas terus, jadi bikin aku ketagihan iih!" ujar Sita tanpa rasa malu lagi. Bimo lalu mencium singkat pipi Sita.
Tak lama mereka sudah berada di pesawat, dan terbang menuju Jogjakarta.
Tiba di Jogja, mereka pun segera menuju keluar area bandara Adi Sucipto lalu menumpang sebuah taksi menuju hotel untuk check-in, Bimo berpikir karena membawa Sita menginap di rumah sangat tidak mungkin oleh peraturan yang ketat dan Sita terus memaksa ingin tidur dengan dirinya.
Setelah mereka sampai di sebuah hotel dekat kota Sleman tempat orang tua Bimo tinggal mereka beristirahat sejenak, dan rencananya jam 20:00 malam Bimo akan membawa Sita menemui keluarganya.
Mereka berdua saat ini sudah berada di dalam kamar hotel yang sangat bernuansa jawa,
"Sayang, mau mandi dulu nggak?" tanya Sita sambil menatap Bimo yang sedang membuka baju dan celana jeansnya, lalu hanya memakai boxer kotak-kotak.
"Mmm.. mandi nggak ya?" ujar Bimo menggoda Sita yang matanya memandangi terus celana boxer yang di pakainya.
****