Bukan salah Mika hadir dalam rumah tangga Naya sebagai orang ketiga. Karena hadirnya juga atas permintaan Naya yang tidak ingin punya anak gara-gara obsesinya sebagai model. Mika melawan hati dengan rela menerima tawaran Naya juga punya alasan. Sang mama yang sedang sakit keras menghrauskan dirinya untuk mendapatkan uang dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Sedangkan Naya sendiri, karena rasa bersalah pada suaminya, dia rela mencarikan istri untuk si suami.
Bukan salah orang ketiga. Ini murni kisah untuk Mika, Naya, dan Paris. Tidak sedikitpun aku terlintas di hati untuk membela orang ketiga. Harap memakluminya. Ini hanya karya, aku hanya berusaha menciptakan sebuah karya dengan judul yang berbeda untuk kalian nikmati. Mohon pengertiannya. Selamat membaca. Temukan suasana yang berbeda di sini. Dan, ambil pelajarannya dari kisah mereka. Bisakah cinta segitiga berjalan dengan bahagia? Atau malah sebaliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab*29
"Mika."
Satu panggilan Rama mengalihkan perhatian semuanya. Mika pun menoleh untuk melihat Rama yang baru saja muncul.
"Iya, Pak."
"Tempat kamu sudah siap. Kamu bisa pindah sekarang."
"Sekarang? Baiklah."
Mika pun pergi dengan berat hati. Tentunya, dengan tak lupa berpamitan pada rekan yang dia tinggalkan. Hanya pindah tempat duduk saja, tapi rasanya begitu tidak nyaman. Seolah, dirinya harus pindah kerja ke perusahaan yang lainnya saja.
Mika membawa kotak yang isinya barang-barang miliknya. Saat Rama melihat hal tersebut, si pria langsung menawarkan diri untuk membawakan barang bawaan Mika.
"Gak papa, Pak. Gak berat, saya bisa membawakannya sendiri." Tolak Mika lembut.
"Gak papa, Mika. Malu lho aku. Masa iya, aku jalan berlenggang, sedang wanita yang ada di dekatku jalan bawa barang. Habis martabat ku sebagai pria."
Rama merebut kotak yang Mika bawa. Si gadis tidak lagi bisa berkata-kata. Hanya terbengong sesaat, lalu kembali melanjutkan langkah kaki tanpa tahu harus berkata apa.
"Pak Rama."
"Ya?"
"Boleh nanya?"
"Silahkan."
"E ... sebelumnya, kenapa posisi sekretaris pak Paris dibiarkan kosong? Kenapa baru sekarang, posisi itu mau dia isi?"
Pertanyaan Mika bukan tanpa alasan. Sejak dia masuk pertama kali, dia cukup penasaran dengan posisi sekretaris pimpinan yang kosong. Kata rekan-rekannya, posisi itu sudah dikosongkan sejak lebih dari satu tahun lamanya.
Jadi, sekretaris pimpinan selalu di tempati oleh asisten pribadi. Alias, Rama lah yang sekaligus merangkap dari asisten sampai sekretaris. Cukup banyak pekerjaan yang harus Rama urus. Sudah jadi tangan kanan kepercayaan, harus mengerjakan urusan sekretaris lagi. Sungguh menyibukkan.
Pertanyaan Mika membuat Rama menoleh sesaat. Setelahnya, pandangan mata si pria kembali terarah ke depan. "Karena mungkin baru sekarang pak Paris menemukan orang yang cocok untuk menduduki posisi itu, Mika. Jadinya, baru sekarang posisi itu mau pak Paris isikan."
"Tapi .... " Rasa penasaran Mika masih sangat tinggi. Jawaban Rama barusan tidak cukup memuaskan hati Mika yang sangat penasaran akan suami yang baru saja menikahinya itu.
"Iya? Tapi apa, Mik?"
"Ah, gak. Gak ada apa-apa, Pak Rama. Lupakan saja."
Rama kembali menoleh ke arah Mika. Si paling peka itu tahu kalau lawan yang ia ajak bicara sedang merasa tidak puas dengan jawaban yang dia berikan. Namun, untuk bercerita hal yang terjadi di masa lalu pada Mika, itu bukan pilihan yang baik bagi Rama.
"Nah, kita sudah sampai." Rama berucap untuk mengalihkan perhatian Mika dari apa yang si wanita pikirkan. Dan usaha itu berhasil.
"Ah, iya. Biar saya yang ketuk pintunya, pak Rama."
"Oke."
Mika melakukan apa yang dia katakan dengan cepat. Suara khas milik Paris langsung terdengar. "Masuk!"
Pintu pun terbuka. Begitu pula dengan mata Mika yang langsung membulat saat dia melihat meja di samping Paris. Meja yang sebelumnya tidak ada. Sudah bisa dipastikan kalau itu adalah tempat duduk barunya.
"Ini .... "
"Kenapa, Mika?"
"Posisi mejanya?"
"Ah, itu posisi meja, pak Paris yang atur. Silahkan!" Rama berucap sambil tersenyum kecil.
Sungguh, Mika dibuat semakin dongkol akan ulah Paris. Sudah memindahkan posisi duduknya ke satu ruangan yang sama. Sekarang, malah duduk di samping meja kerjanya lagi.
'Sebenarnya, apa yang salah dengan ot*ak bos ku ini? Tidak, dia ... oh Tuhan, haruskah begini? Bos, sekaligus suami. Derita hidupku sudah sangat lengkap, ya Tuhan.' Mika mengeluh keras dalam hati.
"Mika." Paris memanggil Mika dengan tegas.
Eh ... yang di panggil sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Mana mungkin dia bisa langsung menjawab panggilan itu.
"Mikaila."
"Mikaila Adinda!"
"Ah, iy-- iya, Pak."
"Apa yang kamu tunggu? Kenapa malah melamun di sana? Tidak niat buat bekerja?"
Mika nyengir tak enak. "Maaf, pak."
"Rama. Kamu bisa pergi sekarang."
"Baik, Pak."
Setelah meletakkan kotak milik Mika ke atas meja, Rama pamit meninggalkan ruangan si bos. Setelah kepergian Rama, hawa tidak nyaman semakin kuat terasa. Dan benar saja, tatapan lekat Paris semakin terlihat.
"Pak ... Paris. Apa ... ada yang salah?"
"Di ruangan ini hanya ada kita berdua. Kamu ingat harus memanggil aku apa, bukan?"
"T-- tapi, Pak. Ini di kantor."
"Di kantor, tapi kita hanya berduaan saja, bukan? Jadi, kamu harus panggil aku dengan panggilan keluarga."
Mika melepas napas berat. Cukup menambah kesal dalam hati. Tapi Mika ingin tetap menahan rasa kesal itu. Paris yang tidak mudah untuk di tebak selalu saja membuatnya berada dalam dilema di manapun dia berada.
"Iya, baiklah." Mika berucap pelan dengan wajah pasrah.
"Hm."
"Oh ya, apakah kotak itu terlalu berat sampai Rama yang harus membawakannya?"
"Ha? Eh, tidak juga. Hanya saja ... pak Rama yang bersikeras untuk membantu."
"Hm. Lain kali jika butuh bantuan, bilang aku saja."
"Ha?"
"Tidak ada. Lanjutkan pekerjaan mu sekarang. Jangan banyak membuang waktu."