Maximilian Hoffmann, CEO raksasa otomotif Jerman yang dingin, memiliki satu tujuan: menghancurkan sisa-sisa keluarga Adler yang ia yakini sebagai penyebab kehancuran ayahnya. Kesempatan itu datang saat Sophie Adler melamar menjadi sekretaris pribadinya dengan identitas tersembunyi demi membiayai pengobatan ayahnya. Max yang sudah mengetahui rahasia Sophie, sengaja menjebaknya dalam lingkungan kerja yang toksik dan penuh tekanan di kantor pusat mereka di Berlin. Namun, di balik dinding kaca yang kaku, ketegangan benci mulai berubah menjadi obsesi posesif. Di tengah sandiwara cinta dan dinginnya musim dingin Eropa, mereka menemukan bahwa musuh yang sebenarnya bukanlah satu sama lain, melainkan rahasia kelam yang terkubur jauh di masa lalu keluarga mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The First Meeting
Apartemen kecil di Neukölln itu masih gelap saat Sophie Adler menyesap kopi hitamnya yang pahit. Di luar jendela, langit Berlin di bulan November berwarna abu besi, seolah-olah awan rendah sedang mencoba menelan gedung-gedung tua di distrik itu.
Sophie menatap satu-satunya cermin retak di kamarnya. Di atas meja rias kayu yang sudah mengelupas, tergeletak sebuah bros perak berbentuk burung elang—lambang keluarga Adler yang tersisa. Ia tidak memakainya. Hari ini, ia bukan seorang Adler.
Hari ini, ia adalah Sophie Miller.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Sophie menyisir rambut pirang gelapnya dan mengikatnya menjadi sanggul yang sangat rapi—begitu kencang hingga sudut matanya tertarik ke atas. Ia mengenakan kemeja putih yang sudah disetrika dan setelan blazer hitam yang ia beli di toko barang bekas. Meski murah, potongan itu membungkus tubuhnya dengan sempurna, memberikan kesan elegan dan profesional.
"Sophie? Kau sudah bangun?" sebuah suara parau memanggil dari kamar sebelah.
Sophie segera meletakkan sisirnya dan melangkah masuk ke kamar ayahnya. Bau obat-obatan dan kelembapan langsung menyambutnya ketika sampai disana.
Hans Adler, pria yang dulunya pernah memimpin salah satu bank investasi terbesar di Frankfurt, kini hanya bayangan dari dirinya yang dulu. Tubuhnya kurus, matanya cekung, dan semangatnya telah padam sejak tuduhan penggelapan dana sepuluh tahun lalu yang menghancurkan segalanya.
"Aku akan berangkat wawancara, Ayah," ucap Sophie sambil membenarkan letak selimut Hans.
"Wawancara? Ke mana?" tanya Hans dengan suara lemah.
Sophie terdiam sejenak. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa ia melamar ke Hoffmann Motors. Terutama memberitahunya bahwa ia akan bekerja untuk putra dari pria yang telah menjebloskan ayahnya ke penjara.
"Hanya sebuah firma logistik kecil," bohong Sophie. "Istirahatlah. Aku sudah menyiapkan bubur di dapur."
Hans Adler mengangguk pelan, memercayainya kebohongan putrinya. Mata itu menatap langit-langit kamar yang menguning, lalu kembali pada Sophie.
“Jangan pulang terlalu malam,” katanya lirih.
Sophie tersenyum tipis. Senyum yang ia latih selama bertahun-tahun—tenang, menenangkan, dan penuh kebohongan kecil yang bertujuan melindungi.
Ia mengecup kening ayahnya. “Aku akan pulang cepat,” ujarnya.
Ia kembali ke kamar, mengambil tas kerjanya, lalu berhenti sejenak di depan meja rias. Bros elang itu masih tergeletak di sana, dingin dan berkilau redup di bawah lampu neon yang berkedip. Sophie menutup matanya sesaat, lalu memasukkan bros itu ke dalam laci—menguncinya bersama nama, masa lalu, dan semua yang pernah ia banggakan.
Pintu apartemen ditutup perlahan agar tidak membangunkan tetangga. Tangga sempit berbau lembap dan rokok tua menyambutnya, suara langkahnya menggema pelan saat ia turun menuju jalan.
...****************...
Sambil berjalan menuju stasiun U-Bahn, pikiran Sophie melayang ke masa sepuluh tahun lalu.
Saat itu, mereka tinggal di vila mewah di kawasan Grunewald, dengan pelayan dan deretan mobil sport. Namun, dalam satu malam, semuanya lenyap. Ayahnya dituduh melakukan kecurangan yang ia tahu telah diatur sedemikian rupa oleh keluarga Hoffmann—saingan bisnis terberat mereka. Peristiwa itu membuat harta mereka disita, nama Adler dicoret dari daftar elit Berlin, dan mereka dibuang ke jalanan dalam kehinaan.
Kini, ayahnya sakit keras dan tagihan medisnya sudah menumpuk setinggi langit. Sophie tidak punya pilihan lain. Ia telah menghabiskan bertahun-tahun belajar secara mandiri, mengambil gelar master dengan beasiswa, dan memoles kemampuannya.
Ia butuh uang itu. Dan lebih dari itu, ia butuh akses.
Sophie menuruni tangga stasiun, langkahnya menyatu dengan denyut kota. Bau logam, ozon, dan kopi murahan bercampur di udara pagi. Kilasan masa lalu itu tak mau pergi—seolah Berlin sendiri mengingatkan betapa cepatnya kejayaan berubah menjadi pengasingan.
Ia teringat malam itu dengan kejelasan yang menyakitkan.
Lampu-lampu vila mereka masih menyala ketika pintu depan didobrak oleh petugas. Setelan mahal ayahnya kusut untuk pertama kalinya. Ibunya menangis tanpa suara di balik tirai, sementara Sophie yang masih remaja berdiri terpaku di anak tangga, memeluk lututnya sendiri. Nama Adler diucapkan seperti kata kotor. Tuduhan dibacakan tanpa jeda, tanpa ruang untuk membela diri. Keesokan paginya, koran-koran menampilkan wajah ayahnya di halaman depan—tersenyum dalam foto lama yang kini tampak seperti ejekan.
Sejak hari itu, Sophie belajar satu hal: kebenaran tidak pernah cukup jika kau tidak punya kuasa.
Gerbong datang dengan desis panjang. Sophie masuk dan berdiri, jemarinya mencengkeram tali pegangan. Ia menatap pantulan dirinya di jendela yang buram, melihat bayangan dirinya dulu yang takut dan tak berdaya. Ia bersumpah tidak akan pernah menjadi lemah lagi.
Dulu ia melewati malam-malam tanpa tidur, bekerja paruh waktu, belajar hingga pagi. Ia menulis proposal demi proposal, memburu beasiswa yang mengharuskan dirinya menyamarkan nama belakang ayahnya. Di dunia yang menutup pintu bagi Adler, Sophie menemukan jalan samping—sempit, licin, tapi cukup untuk membawanya maju. Gelar master di bidang manajemen dan keuangan kini tersimpan rapi, menjadi senjata yang tak terlihat.
Namun senjata saja tidak cukup.
Uang akan membeli waktu bagi ayahnya.
Akses akan membeli kebenaran.
Saat ia keluar dari stasiun Potsdamer Platz dan menatap gedung pencakar langit Hoffmann Motors yang berlapis kaca memantulkan cahaya matahari pagi yang dingin, Sophie menarik napas panjang. Gedung itu berdiri kokoh, angkuh, dan tak tertembus—persis seperti pemiliknya, Maximilian Hoffmann.
Sophie menyesuaikan letak tasnya, menegakkan bahunya, dan melangkah masuk ke sarang serigala.
Sophie melangkah masuk ke ruang wawancara yang berdinding kaca buram. Di hadapannya, tiga orang staf HRD duduk dengan ekspresi datar, memegang tablet yang berisi resume palsunya sebagai "Sophie Miller".
"Kualifikasi Anda sangat mengesankan, Nona Miller. Lulusan terbaik dengan kemampuan empat bahasa," ujar kepala HRD, seorang wanita paruh baya dengan kacamata runcing. "Tapi, mengapa Anda memilih Hoffmann Motors? Dengan resume seperti ini, Anda bisa bekerja di kedutaan."
Sophie memberikan senyum tipis yang terlatih. "Karena Hoffmann Motors bukan sekadar perusahaan otomotif. Anda sedang bertransisi menuju teknologi energi terbarukan di pasar Nordik. Saya tidak ingin sekadar menjadi penerjemah; saya ingin menjadi bagian dari strategi ekspansi yang akan mengubah peta ekonomi Eropa Timur dalam lima tahun ke depan."
Ketiga HRD itu saling berpandangan, tampak terkesan dengan kedalaman riset Sophie. Sophie terus menjawab pertanyaan teknis tentang manajemen krisis dan diplomasi bisnis dengan ketenangan seorang veteran, meskipun jantungnya berdegup kencang.
Tiba-tiba, pintu kaca geser terbuka dengan suara desis yang tajam.
Langkah kaki yang berat dan berirama masuk ke ruangan. Suasana seketika menjadi dingin, seolah oksigen di ruangan itu baru saja tersedot keluar. Maximilian Hoffmann berdiri di sana, mengenakan setelan jas tiga lapis berwarna abu-abu gelap yang sangat pas di tubuh tegapnya. Ia tidak memakai masker seperti di jalanan, memperlihatkan rahang tegas dan mata yang setajam belati.
"Keluar," ucap Maximilian singkat. Suaranya rendah, namun memiliki otoritas yang tidak bisa dibantah.
"Tapi, Tuan Hoffmann, kami belum sele—"
"Keluar. Semuanya," potongnya tanpa menoleh.
Ketiga HRD itu segera merapikan barang-barang mereka dan meninggalkan ruangan dalam keheningan yang mencekam. Kini, hanya tersisa Sophie dan pria yang menjadi alasan kehancuran keluarganya.
Maximilian berjalan perlahan mengitari meja, lalu berhenti tepat di depan Sophie. Ia meletakkan satu tangan di sandaran kursi Sophie, menyudutkannya dalam jarak yang sangat intim sekaligus mengancam—persis seperti serigala yang telah memojokkan mangsanya.
"Sophie Miller," gumam Max, menekankan nama belakang palsunya dengan nada mengejek. "Katakan padaku, jika sebuah perusahaan dibangun di atas pondasi kebohongan yang sangat rapi, apakah kau akan tetap berinvestasi di sana, atau kau akan menghancurkannya sebelum ia tumbuh terlalu besar?"
Sophie terpaku. Pertanyaan itu bukan tentang bisnis; itu adalah serangan langsung terhadap identitasnya. Max tahu siapa dia. Lidah Sophie terasa kelu. Jika ia salah menjawab, ia tidak hanya kehilangan pekerjaan, tapi mungkin juga keselamatannya.
Keheningan menyelimuti ruangan selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya. Sophie menatap langsung ke dalam mata gelap Max, mencari celah.
"Saya akan melihat siapa yang membangun pondasi itu, Tuan Hoffmann," jawab Sophie dengan suara yang akhirnya stabil. "Jika kebohongan itu dibuat untuk melindungi sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar angka di atas kertas, maka perusahaan itu layak untuk dipertahankan. Karena di dunia ini, kebenaran sering kali hanyalah masalah siapa yang memegang kendali narasi."
Sudut bibir Maximilian terangkat sangat tipis—sebuah seringai yang lebih mirip ancaman daripada senyuman.
"Jawaban yang cerdik untuk seorang gadis yang sedang bermain api," bisik Max tepat di telinga Sophie. "Kau diterima. Besok, jam enam pagi di meja asistenku. Jangan terlambat satu detik pun, Nona Adler."