Menikah karena kemauan sendiri dan dengan pilihan sendiri tidak selamanya berbuah kebahagiaan.
Benazir adalah buktinya.
Menikah selama beberapa tahun dengan pria yang berusaha diperjuangkannya, malah menimbulkan luka dan kecewa berkepanjangan. Suaminya bahkan menganggapnya istri yang memalukan dan tak pantas dihargai.
Haruskah Benazir bertahan atau pergi.
Kisah ini akan sedikit menguras air mata.
Berminat ?
ikuti kisahnya yuk...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28 ( Ga Berhasil )
Dua orang security berdiri gagah di depan pintu gerbang. Mereka menatap iba kearah Arjuna.
" Lo salah nyinggung orang Bang...," kata seorang security yang telah mengenal Arjuna.
" Maksudnya apa ya...?" tanya Arjuna tak mengerti.
" Emang Lo ga tau siapa itu Pak Sapto. Dia itu Kepala Divisi Marketing. Orangnya emang sederhana dan low profile, jadi orang lain ga bakal nyangka kalo dia salah satu pejabat penting di kantor ini...," sahut sang security.
" Kalo emang orang penting, kenapa dia ga naik mobil pribadi aja. Kok malah langganan ojol Saya...?" tanya Arjuna tak percaya.
" Lo jangan nilai orang dari luarnya aja Bang. Pak Sapto ga pake mobil karena abis kecelakaan yang bikin kaki kanannya patah. Dan sejak itu keluarganya ngelarang dia pake mobil meski pun disupirin. Karena Pak Sapto pernah ketauan nyupir sendiri dan supirnya malah disuruh duduk di belakang...," sahut sang security sambil tersenyum simpul.
" Tapi mulai sekarang Lo ga punya akses masuk lagi ke kantor ini. Nama dan plat kendaraan Lo udah diblack list...," kata security lainnya dengan sinis.
Arjuna hanya diam dan segera berlalu. Para security masih membicarakan Arjuna setelah kepergiannya.
" Ga percaya Gue kalo orang picik kaya dia pernah jadi Suaminya Bu Benazir...," kata seorang security.
" Iya, Gue juga. Masa orang yang sukanya ngeremehin orang lain bisa bersanding sama Bu Benazir yang baik kaya gitu...," sahut security lain sambil mencibir.
" Makanya sama Allah langsung dipisahin kan. Karena orang jahat ga mungkin bersanding sama orang baik, iya ga...," kata seorang security sambil berlalu.
" Bener juga...," sahut para security bersamaan sambil menganggukkan kepalanya.
Sementara itu di loby kantor para karyawan dan karyawati menatap iba kearah Benazir. Ia terlihat shock karena ulah Arjuna tadi. Benazir nampak duduk di kursi sambil menatap lurus ke depan. Di sampingnya Atik dan Silvi sibuk menenangkannya.
" Udah Naz ga usah dipikirin lagi. Dia ga berhasil menghasut semua karyawan kantor ini buat benci sama Lo...," bisik Atik.
" Tapi Gue malu Tik. Gue diselingkuhi sampe viral di medsos...," sahut Benazir sambil melirik sekilas kearah Atik.
" Ngapain jadi Lo yang malu. Kan dia yang bikin aib, ya dia lah yang harusnya malu. Udah ga usah dibahas lagi, ga penting...!" kata Silvi galak.
" Bu Atik dan Bu Silvi benar. Ga seharusnya Bu Benazir malu sama ulah laki-laki itu. Dia sengaja mempermalukan Bu Benazir karena dia merasa ga puas. Dia melihat Bu Benazir bahagia, sedang dirinya terpuruk setelah Kalian bercerai. Dan itu yang bikin dia marah lalu berniat mempermalukan Bu Benazir tadi...," kata Sapto sambil mendekat kearah Benazir.
" Pak Sapto, makasih ya Pak...," kata Benazir sambil menoleh kearah sumber suara lalu tersenyum.
Pak Sapto balas tersenyum dan mengangguk lalu melanjutkan ucapannya.
" Sama-sama Bu. Saya setuju Bu Benazir telah mengambil langkah tepat dengan menceraikan laki-laki breng**k kaya dia. Iya ga Pak, Bu...?" tanya Sapto sambil menoleh kearah para karyawan dan karyawati yang masih ada di tempat itu.
" Betul Pak...," sahut mereka bersamaan sambil tersenyum.
" Makasih atas suportnya teman-teman. Saya yakin Saya ga sendirian dan akan baik-baik saja setelah ini...," kata Benazir dengan mata berkaca-kaca.
" Tenang aja Bu Benaz, Kita semua ga percaya kok sama omongan orang tadi. Kalo gitu Kami duluan ya...," kata seorang karyawati sambil menepuk pundak Benazir lembut diikuti teman lainnya.
Benazir menghela nafas lega setelah mendapati kenyataan bahwa rekan sekantornya mendukungnya dan tak mempercayai fitnah yang dilancarkan Arjuna tadi.
\=\=\=\=\=
Benazir sedang menonton televisi saat Ardhan mengetuk pintu rumahnya. Dengan malas Benazir melangkah kearah pintu dan membukanya.
" Ck, Lo lagi. Ngapain sih ke sini hari gini. Gue capek mau istirahat...," kata Benazir sambil cemberut.
" Ups sorry deh. Tapi Gue denger kejadian hari ini saat mantan Lo bikin keributan di kantor Lo...," kata Ardhan santai.
Benazir membulatkan matanya sambil menutup mulut Ardhan dengan telapak tangannya. Benazir kemudian menarik Ardhan menjauh dari pintu dan membawanya ke teras rumah.
" Ssstt. Lo tau dari siapa, awas ya jangan sampe Ibu sama Kakak Gue tau soal ini. Please jangan bilang sama mereka ya...," pinta Benazir.
" Mm, mm...," sahut Ardhan sambil menunjuk telapak tangan Benazir yang masih ada di wajahnya.
" Eh, sorry...," kata Benazir sambil menarik tangannya dari wajah Ardhan dengan cepat.
" Gimana mau jawab kalo mulut Gue dibekap kaya tadi Non...!" kata Ardhan.
" Ssstt...!" kata Benazir lagi.
" Iya Gue usahain. Tapi Lo ceritain dulu kejadiannya kaya gimana, biar Gue tau yang mana yang harus Gue tutupin...," kata Ardhan santai.
" Semuanya lah. Masa cuma sebagian aja...!" kata Benazir galak.
" Berarti bayarannya juga mahal lho...," sahut Ardhan sambil tersenyum penuh makna.
" Hah, udah tau Gue. Pasti ada udang di balik batu. Ya udah buruan, mau makan di mana...?" tanya Benazir sebal.
" Ga usah jauh-jauh. Makan nasi goreng sea food yang di depan komplek juga boleh...," sahut Ardhan sambil nyengir kuda.
" Iya sebentar, Gue ambil dompet dulu...," kata Benazir sambil masuk ke dalam rumah.
Tak lama kemudian Benazir keluar setelah meminta asisten rumah tangga mengunci pintu rumah.
Dengan menggunakan mobil milik Ardhan, mereka berdua pun langsung menuju tempat yang dimaksud. Terlihat kios penjual nasi goreng dipadati pembeli. Ardhan dan Benazir harus sedikit bersabar menunggu pesanan mereka selesai dibuat.
Sambil menunggu Benazir dan Ardhan memilih duduk di bawah pohon dekat penjual minuman dingin. Mereka membeli teh botol dan meminumnya di tempat.
" Tau darimana soal kejadian tadi...?" tanya Benazir.
" Ada dehhh...," sahut Ardhan sambil tersenyum.
" Ga asik Lo...," gerutu Benazir disambut tawa Ardhan yang menggelegar.
Semua orang menoleh kearah Ardhan yang masih tertawa. Menyadari dirinya menjadi pusat perhatian, Ardhan pun menghentikan tawanya.
" Tapi provokasi mantan Lo itu ga berhasil kan...?" tanya Ardhan.
" Iya, Alhamdulillah...," sahut Benazir sambil tersenyum.
" Makanya buruan Lo cari gantinya biar mantan Lo tuh ga gangguin Lo terus...," saran Ardhan sambil menerima piring berisi nasi goreng sea food dari sang penjual.
" Emang nyari manusia yang lebih baik dari dia tuh gampang. Enak aja Lo kalo ngomong...," sahut Benazir sambil menyuap nasi goreng ke dalam mulutnya.
" Oh iya. Susah ya. Kalo gitu kenapa Lo ga nyoba sama Gue aja...?" tanya Ardhan sambil menaik turunkan alisnya dan itu membuat Benazir tertawa hingga terbatuk-batuk.
" Hadeehh. Ga ngaca ya Lo. Bukannya lebih baik, yang ada Gue malah makin dibully sama mantan Gue karena dapat pengganti yang ga setara sama dia...," sahut Benazir sambil menggelengkan kepalanya.
" Sia*an Lo. Gini-gini banyak lho yang ngantri mau jadi pacar Gue. Lo doang yang nolak pake plus ngatain Gue...," kata Ardhan dengan wajah memerah.
" Masa...?" tanya Benazir dengan mimik lucu.
" Iya. Lo ga percaya...?" tanya Ardhan gemas.
" Ga...," sahut Benazir cepat.
" Lo tuh emang ga pernah mau ngakuin kelebihan Gue. Iya kan...?!" kata Ardhan emosi.
Benazir tertawa mendengar ucapan Ardhan. Tawa yang tulus yang telah lama tak hinggap di wajahnya. Dan tanpa sepengetahuan Benazir, sepasang mata milik seorang pria tengah memperhatikan kebersamaannya dengan Ardhan. Pria itu mengepalkan tangannya seolah menahan kemarahan di dalam dada.
bersambung