Sandra berjalan cepat ke arah IGD yang sudah tampak ramai, pemandangan wajah cemas dan juga tangis haru sudah menjadi gambaran di IGD kota kecil itu.
Di balik sikap profesionalnya, nyatanya Sandra menyimpan lukanya sendiri yang bahkan bertahun-tahun tak bisa dia sembuhkan.
Hingga akhirnya seseorang yang tak sengaja dia temui malah merubah seluruh dunia yang sudah membuatnya nyaman, memaksanya untuk kembali percaya akan cinta, tapi sayangnya jurang perbedaan mereka besar dan masa lalu yang mulai kembali menghantui Sandra.
Bisakah Sandra mengeluarkan diri dari traumannya dan menerima pria yang bahkan tak pernah dia bayangkan akan hadir dalam hidupnya? ataukah dia tetap tak bisa melupakan masa lalunya dan kembali menerimanya?
Pernyataan: Novel ini ditulis tidak untuk menyudutkan atau menjelekkan seseorang, kalangan tertentu, atau pun profesi tertentu, semua yang ditulis hanya untuk pengetahuan dan hiburan semata, cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27.
Satu jam lebih Sandra menunggu akhirnya dia bisa mendengar suara mobil masuk ke dalam halaman rumahnya. Mobil yang sama dengan mobil yang dikemudikan oleh Devan tempo lalu.
Sandra mengintip mobil sejenak memastikan, perasaannya yang dari tadi tak karuan semakin tak tenang saat dia melihat sosok pria itu keluar, tampak rapi dengan kemeja semi formal dan celana jean hitamnya yang selalu rapi. Kulitnya yang cukup putih sedikit berkilau dibawah matahari.
Sandra segera membuka pintunya bahkan sebelum Devan menekan bel rumahnya membuat Devan sendiri kaget melihatnya. Namun dia segera menaikkan sudut bibirnya, dia tahu Sandra menunggunya.
"Sudah siap?" Tanya Devan yang melihat Sandra membuka tralis besinya.
"Iya," kata Sandra sedikit menunduk, tak berani berlama menatap wajah pria yang sebenarnya tersenyum padanya.
Sandra keluar dengan perlahan sambil membawa tas koper kecilnya, dia akan menginap di rumah ibunya hari ini karena 2 hari ke depan dia sudah mengambil jatah liburnya karena dia pernah menggantikan dokter-dokter yang lain.
"Sini, biar aku bawain," kata Devan lembut seolah tak ada kecanggungan setelah 4 hari tak bersua.
"Enggak apa-apa, gua bisa," kata Sandra yang sejujurnya gugup setengah mati.
"Memang tahu cara membuka bagasinya?" Kata Devan lagi menyipitkan mata karena silau matahari.
"Enggak," kata Sandra dengan jawaban yang menurutnya bodoh sekali.
"Kunci saja rumahnya," kata Devan mengambil koper Sandra tanpa lagi meminta persetujuan, dia memggiringnya ke belakang mobil, Sandra kali ini menurut saja, selain punya salah dia juga mau apa? dibantu saja sudah bersyukur.
Selesai meletakkan koper kecil itu, Devan memutari mobilnya, membukakan pintu untuk Sandra terlebih dahulu.
"Yuk," kata Devan.
Sekali lagi Sandra cukup kikuk melihat tingkah dari Devan ini, Sandra saja sudah bingung bagaimana dia harus bersikap selama kurang lebih 1.5 jam nantinya bersama dengan Devan. Memang mereka sudah pernah pergi bersama selama itu, tapi waktu itu keadaan berbeda, Sandra masih tak punya rasa dengan pria ini, tapi sekarang, memandangnya saja dia tak sanggup.
Devan masuk ke dalam mobil itu, melirik Sandra yang tampak kaku duduk di sampingnya, dia menaikkan sudut bibirnya namun tak berbicara apapun, memundurkan mobilnya dari halaman rumah itu dan segera pergi dari sana.
Perjalanan cukup hening di awal pertama, hanya suara AC yang terdengar dengan sesekali gerakan dari Devan. Sandra sebenarnya ingin mengucapkan kata permintaan maaf, sudah dirankainya bagus di dalam pikirannya tapi entah kenapa, bibirnya seolah terlem dan jadinya satu pun tak berhasil meluncur keluar dari bibirnya.
"Rumah kamu di daerah mana?" Ujar Devan yang akhirnya memecah hening, melihat wanita yang biasanya cukup cerewet itu hanya diam di sampingnya sambil memainkan tangannya.
"Eh? Di daerah selatan, nanti setelah itu aku beritahu kok," kata Sandra sedikit kaget Devan berkata-kata padanya, padahal dia kira pria ini akan hening selamanya.
"Ehm? Masih jauh, tadi jaga kan? Tidur dulu saja," kata Devan lagi menoleh sekilas pada Sandra dengan wajah senyumnya, mencoba menenangkan Sandra yang dia tahu gugup di sampingnya.
Melihat senyum tipis dari Devan, bukannya merasa nyaman, perasaan Sandra makin tak enak jadinya. Dia membuang pandangnya, menatap pohon-pohon dan desa-desa kecil yang mereka lewati, tandus karena sekarang musim kemarau.
Sandra menggigit bibir dalamnya, rasanya tak benar jika keadaannya seperti ini, dia akan terus tertekan oleh sikap Devan, rasa bersalah itu ternyata jauh lebih parah menggerogoti dirinya.
Baru saja Sandra ingin mengumpulkan kembali keberaniannya yang entah hilang kemana, Devan menepikan mobilnya, tentu langsung membuat Sandra bingung.
Sandra langsung menolehkan wajahnya ke arah Devan, betapa kagetnya saat dia melihat Devan begitu dekat dengannya karena dia sedang menggapai sesuatu di jok mobil belakang bagian tempat duduk Sandra. Wajah Sandra langsung memanas, wangi lembut tubuh pria itu langsung lebih kuat masuk ke indera penciumannya, apalagi sekarang terpampang jelas leher kekar dan putih Devan, membuat Sandra menahan napasnya dan matanya membesar.
Devan segera mengambil bantal leher yang biasanya digunakan untuk tidur di mobil. Sandra yang masih saja terpaku karena pemandangan tadi hanya bisa melihat Devan bahkan saat dia sudah kembali ke posisinya.
"Ini, lelah pasti bekerjanya," ujar Devan memakaikan bantal leher itu ke leher Sandra yang masih saja kaku, semakin kaku ketika diperlakukan seperti itu oleh Devan. Dia sudah mau pingsan rasanya karena kesusahan bernapas, apalagi sekarang jantungnya lebih cepat hingga seolah menggetarkan dinding dadanya. Sandra benar-benar tak bisa melakukan apa-apa.
"Sudah nyaman?" Tanya Devan yang sebenarnya ingin menyibakkan rambut Sandra yang masih menyelip diantara leher dan rambutnya itu, tapi dia takut terlalu lancang melakukannya, karena itu urung dia lakukan dan hanya bertanya.
"Ya, udah, terima kasih," ujar Sandra yang akhirnya sadar, dia segera kembali ke posisinya, merasa sedikit risih dengan rambutnya yang terurai, dia memperbaiki rambutnya lalu menyandarkan dirinya.
"Kalau mau kursinya.…" Kaya Devan lagi memastikan kenyamanan Sandra.
"Ya, aku bisa sendiri kok, ini masih mau lihat pemandangan," kata Sandra cepat, tak ingin mati kutu lagi jika nantinya Devan melakukan hal yang lebih dari ini, bisa benar-benar pingsan dia, ini saja dia masih belum bisa bernapas normal.
"Panas ya?" Ujar Devan lagi yang melihat Sandra beberapa kali menghela napas panjangnya.
"Enggak, enggak, enggak panas, ih, jalan ayo!" Kata Sandra yang akhirnya sedikit kesal melihat hal ini, Devan seperti tahu dia sedang gugup dan terus ingin menganggu nya.
Devan tertawa kecil sambil mulai menjalankan mobilnya.
"Begitu dong, jangan lemas, dokter Sandra yang aku kenal itu seperti ini," kata Devan langsung.
Sandra mendengar itu memajukan bibirnya, ternyata pria ini memang sengaja mengganggunya. Sial, kenapa bukannya kesal, Sandra malah suka Devan melakukannya.
"Aku minta maaf ya," kata Sandra pelan.
"He? Apa?" Kata Devan yang memang kurang mendengarnya, kalau tidak salah dia dengar Sandra meminta maaf, tapi dia ingin memastikannya.
"Masa gak denger sih?" Kata Sandra yang langsung sewot, dia butuh keberanian yang sangat hanya mengucapkan kata itu dengan pelan.
"Benaran gak denger, kan lagi fokus nyetir," ujar Devan dengan wajah senyumnya yang cenderung ingin tertawa melihat wajah protes Sandra, suka dia melihat Sandra begini.
"Iya, aku bilang aku minta maaf!" kata Sandra jatuhnya malah setengah berteriak.
Devan tak menjawab langsung, hanya memandang sambil tersenyum tipis, dia hanya melihat wajah Sandra yang tampak gugup dan malu. Tak disangkanya Sandra bisa minta maaf juga, padahal dia kira Sandra tak akan melakukannya karena mendengar sifat Sandra dari Joshua juga kenyataan dia tak lagi menghubunginya beberapa hari ini.
ah... akhirnya happy ending
😍😍😍
aku juga gitu
wkwkwkwk
Jo... ica ae...
Sandra...
Abang datang Neng...
Devan kejepit pintu mobil
😂😅😆