Sangat di sarankan untuk membaca kisah sebelumnya, Wanita Mantan Narapidana Vol 1.
Setelah 20 tahun mendekam di balik jeruji tahanan, Lembayung Senja akhirnya bisa menghirup udara kebebasan di luar penjara.
Tapi, waktu yang berlalu, masa yang telah lama berganti, masih meninggalkan bekas luka yang begitu dalam di hati Ayu.
Hingga dendamnya pun kian membara, tekadnya semakin kuat untuk menghancurkan dua orang yang membuatnya terkurung selama 20 tahun lamanya.
Berhasilkah Lembayung Senja membalaskan sakit hatinya?
Lantas bagaimana hubungannya dengan Biru putranya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ultimatum Gunawan
#27
“Apa maksud Anda, Pak?” gumam Giana dengan suara nyaris samar.
“Putra Anda mengalami kecelakaan tunggal, karena berusaha menghindari truk yang melaju tak terkendali.”
Pletak!
Ponsel di tangan Giana jatuh begitu saja, tubuhnya luruh terduduk di lantai karena lemas serasa kehilangan tenaga.
Mahar langsung mengambil alih ponsel sang atasan, “Kak! Kenapa? Ada apa? Siapa yang menelepon?” tanya Ayu panik.
Tatapan Giana kosong, “Biru—”
“Biru kenapa?” Ayu semakin Takut.
Giana menoleh pada Ayu, kedua matanya berkaca-kaca. “Biru kecelakaan, motornya terguling dari tepi jalanan di perbukitan.”
Tak jauh beda dengan Giana, tubuh Ayu pun terasa seperti disengat aliran listrik, wajahnya pucat pasi, “Biru— Biru—” gumamnya dengan air mata bersimbah.
Apakah ini hukuman? Karena Biru sudah menyakiti hati ibunya?
Atau murni kecelakaan? Entahlah,
Yang jelas, tak sedikitpun Ayu merasa marah, atau berdoa yang jelek untuk putranya. Walaupun kemarin-kemarin Biru meminta merahasiakan hubungan darah diantara mereka.
Mahar kembali ke ruangan, wajahnya pun tak kalah gelisah dari Ayu dan Giana. “Bu, kita harus ke rumah sakit, mereka butuh tanda tangan Anda sebagai wali, karena kepala Biru terluka parah, dan harus segera di operasi.”
Di Ibu Kota, yang tertulis dalam surat perwalian Biru, adalah Giana, jadi polisi langsung menghubungi Giana setelah mendapat informasi dari kampus tempat Biru menimba ilmu.
Pahitnya berita perselingkuhan Restu di masa lalu, tak sepahit berita kecelakaan yang menimpa Biru. Dulu Ayu masih sanggup berjalan walau tertatih dan terseok, tapi kini, mendengar berita darah dagingnya mengalami kecelakaan, rasanya masa depan terlihat makin gulita dalam pandangan Ayu.
Ketiganya segera berangkat ke rumah sakit, dengan berbagai perasaan takut, tegang, cemas, yang menyelimuti.
Butuh waktu lama untuk tiba di rumah sakit, karena Biru sedang berada di lokasi yang agak menjauh dari Ibu Kota. Tapi, Giana sudah memberikan persetujuan via telepon, jadi saat ini Biru sedang menjalani tindakan di ruang operasi.
Waktu berjalan sangat lambat, sedetik saja Ayi rasakan bagai se abad penantian, begitulah rasanya menunggu di depan ruang operasi. Walau banyak juga yang berwajah sama dengan Giana dan Ayu, tapi tetap saja itu tak mampu menjadi pelipur lara.
Ayu mondar mandir gelisah, pikirannya resah, menerka-nerka, mulai merasa bahwa keadilan Tuhan tak pernah berpihak padanya. Apakah harus seberat ini? Kenapa hanya dia yang menjalani ujian hingga separuh usianya? Kenapa?!
Tapi tak lama, karena beberapa saat kemudian, Ayu kembali beristighfar, memohon ampunan. Serta memohon agar Biru diberi kesempatan untuk bisa kembali sehat seperti sedia kala.
•••
Sementara itu.
Miranda sedang berhadapan dengan Tian, pria muda itu datang ke rumahnya, sambil membawa hasil penyelidikan tentang latar belakang Biru.
Sepintas, Miranda memang terkejut, namun, ia tak serta merta terpengaruh. Walau kenyataan mengatakan Biru hanyalah anak seorang mantan narapidana.
Miranda melemparkan berkas-berkas pemberian Tian ke atas meja, “Maksudnya apa, nih?”
“Nggak ada, gue cuma pengen elo tahu, itu aja.” Tian mengedikkan kedua pundaknya santai, sambil menyesap juice buah yang disuguhkan ART untuknya.
Miranda berdiri sambil melipat kedua lengannya di dada, “Gue udah tahu, dan nggak ngaruh! Pulang sana, loe!” usir Miranda.
Tian pun panik, sikap Miranda tak sesuai ekspektasi yang ia harapkan, tentunya pria itu pun tak rela bahwa usahanya akan berakhir sia-sia seperti ini. “Tunggu! Loe—”
“Gue nggak apa-apa, nggak masalah dengan latar belakang Biru. Semua akan gue terima andai Biru anak seorang pengemis sekalipun!” ucap Miranda lantang. Namun ia senang, bisa membuat Tian kesal. “Karena, nantinya, yang menjalani hidup, adalah gue sama Biru. Bukan gue sama orang tua Biru.”
Miranda kembali melanjutkan langkahnya, hatinya kesal hanya karena melihat kedatangan Tian. Ditambah pria itu ternyata sejalan dengan sang mami, yang ingin dirinya berpisah dengan Biru. Makin meradang amarah Miranda.
“Eh, ada Tian,” Sapa Anjani yang baru keluar kamar.
“Apa kabar, Tante,” balas Tian ramah sembari cari muka.
“Udah lama?”
“Udah, Mi. Usir aja dia,” dengus Miranda dengan ekspresi jutek maksimal.
“Kok di usir, gak sopan sama tamu,” sahut Anjani lembut, tak seperti sikapnya pada hari-hari biasanya ketika tak ada tamu penting seperti Tian.
“Ya, udah, Mami aja yang ngobrol sama dia, aku mau tidur lagi.”
Miranda hendak berbalik kembali ke kamarnya, namun lengannya ditahan oleh Anjani. “Eh, disini saja, mau kemana?”
Miranda menepis tangan Anjani dengan kasar, “Apaan, sih, Mi? Jangan coba-coba ngatur ya?!” elak Miranda.
“Mami nggak ngatur, kok. Tapi apa salahnya kamu kasih kesempatan untuk Tian,” bujuk Anjani, dan jangan dikira Miranda akan nurut begitu saja.
“Never!” tolak Miranda. Segera berlari ke kamar sebelum Anjani kembali menarik lengan tangannya.
Tiba di kamar, ia melihat rentetan pesan masuk ke ponselnya, gadis itu mengerutkan kedua alis dan keningnya. “Ada apa ini?”
Laman grup chat Miranda dan teman-teman satu circlenya, sebuah broadcast berita terkirim, tentang kecelakaan tunggal yang menimpa seorang pengemudi motor.
—Mir, pacar Loe kecelakaan—
—Yakin ini Biru yang kita kenal?—
—Kayaknya, kalau dilihat dari ciri-ciri motornya, sih, iya—
Kedua tangan Miranda mulai dingin dan bergetar, lekas ia menghubungi Biru, barangkali berita tadi hanya hoax semata.
Miranda mondar-mandir gelisah di kamarnya, “Biru, please— jawab, jangan bikin gue gelisah.”
Beberapa kali melakukan panggilan, Miranda tak mendapat jawaban, walaupun ponsel Biru masih aktif.
“Papi, pasti Papi tahu di mana Biru.”
Miranda hendak menghubungi Gunawan, namun, yang hendak ia hubungi sudah di depan pintu kamarnya.
“Papi, tolong bilang, kalau Biru sedang di kantor Papi.” Dengan perasaan panik dna penuh harap, Miranda berucap.
“Jangan pikirkan dia lagi, dan anggap dia tak pernah hadir di hidupmu!” ultimatum Gunawan dengan wajahnya yang dingin.
“A-apa maksud Papi?” gumam Miranda, suaranya pun gemetar.
“Tetap di rumah dan jangan pernah pernah pergi kemanapun.”
“Tidak!” Miranda menolak tegas. “Papi tak berhak mengatur hidup dan keinginanku!”
Gunawan berbalik, rupanya di belakangnya sudah ada semua pegawai serta ART yang bekerja di rumah mewah tersebut.
“Dengar semuanya! Mulai sekarang, Miranda tak boleh meninggalkan rumah! Jika dia sampai pergi dari rumah, maka kalian semua akan menerima hukuman dariku!”
“Papi jahat! Papi nggak bisa seenaknya, denganku!”
Brak!
Pintu kamar Miranda ditutup dari luar kemudian di kunci. Miranda berteriak, meraung, menangis, rasa sedihnya karena berita tentang Biru yang masih simpang siur. Kini bertambah dengan turunnya ladangan sang papi yang turun tanpa alasan jelas.
“Papi, buka!”
Brak!
Brak!
Sia-sia saja Miranda menggedor pintu, karena di luar pintu sudah ada dua pengawal yang berjaga, begitupun di depan balkon kamar Miranda.
“Awasi Miranda, jangan sampai lengah!”
Tak hanya Miranda dan seluruh pegawai yang bekerja di rumah, Anjani pun menerima ultimatum yang sama.
“T-tapi ada apa ini, Mas?”
“Turuti perkataanku bila ingin hidupmu tetap terjamin dengan aman!”