Alya, seorang mahasiswi berusia 21 tahun yang tengah menempuh pendidikan di Universitas ternama di semarang. Tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah begitu drastis, di usia yang seharusnya di penuhi mimpi dan kebebasan. Dia justru harus menerima kenyataan menjadi ibu sambung bagi dua anak kembar berusia enam tahun, lebih mengejutkan lagi. Anak-anak itu adalah buah hati seorang CEO muda yang berstatus duda, tanpa pengalaman menjadi seorang ibu. Alya di hadapkan pada tanggung jawab besar yang perlahan menguji kesabaran, ketulusan dan perasaannya sendiri. Mampukah dia mengisi ruang kosong di hati si kembar yang merindukan sosok ibu, dan di tengah kebersamaan yang tak terduga. Akankah perasaan asing itu tumbuh menjadi benih cinta antara Alya dan sang papa si kembar, atau justru berakhir sebagai luka yang tak terusap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Sinar matahari sore menembus jendela kamar rumah sakit, menyinari Romeo yang duduk di samping ranjang Alya. Kebahagiaan terlihat jelas di matanya Alya, istrinya, yang sempat tak sadarkan diri, kini sudah bangun dan diperbolehkan dokter untuk makan.
Romeo duduk menatap Alya dengan lembut, memperhatikan setiap suap yang masuk ke mulutnya. Alya, yang menangkap tatapan itu, merasa sedikit canggung karena lapar yang terlihat jelas di wajahnya.
“Santai aja, nggak usah buru-buru makannya.” canda Romeo sambil tersenyum hangat.
“Maaf…” ucap Alya pelan.
“Gak apa-apa, Alya makan aja, kamu butuh tenaga.” ucapnya lembut.
Setelah mengangguk, Alya melanjutkan makanannya dengan tenang, tak terburu-buru. Sesekali mereka berbincang, mengisi ruangan dengan kebahagiaan yang lama tak dirasakan Romeo. Ia terus mengamati Alya, rasa syukur membuncah melihat istrinya bisa makan dan tersenyum kembali.
“Dimana anak-anak, Tuan?” tanya Alya, matanya bergerak mencari kedua putrinya di sekitar kamar.
“Sebelum kamu sadar, aku sudah minta mereka pulang bareng sahabatku. Aku nggak mau anak-anak mengganggu istirahatmu.” ujar Romeo serius.
“Gak akan ganggu kok, tuan.” gumam Alya pelan.
“Sebenarnya, aku yang terganggu sama mereka.” ucap Romeo pelan tapi santai.
“Kok sama anak sendiri aja bisa begitu?” kata suara itu lirih tapi mengandung sindiran.
“Kalau anak-anak ada di sini, pasti bakal ribut. Aku nggak mau itu terjadi. Kamu harus istirahat, karena aku yang bakal menjaga kamu sampai keluar rumah sakit.” kata Romeo tegas.
Alya terdiam sejenak, antara senang dan malu. Romeo yang berada di sampingnya selama di rumah sakit membuatnya canggung, namun di saat yang sama, hal itu menunjukkan kepedulian suaminya padanya.
Bibir Alya maju seakan menuntut sesuatu, tanpa suara. Romeo mengamati, geli melihat tingkahnya yang lucu, tapi enggan menyatakan perasaannya.
“Kalau bosan, bisa nonton. Atau mau cemilan? Katakan saja, nanti aku minta Satria belikan.” ujar Romeo sambil tersenyum melihat istrinya diam.
“Serius? Boleh?” gumam Alya penuh semangat saat mendengar Romeo menawarkan cemilan.
“Tentu saja boleh. Uang aku banyak, bahkan pabrik cemilan itu juga bisa dibeli kalau kamu ingin.” kata Romeo sombong tapi bercanda.
“Beli pabrik? Nggak perlu. Saya nggak butuh itu, dan saya juga nggak punya cukup uang untuk urusan begitu.” kata Alya sambil menggeleng.
“Ini kan uang saya sendiri, nggak pakai uangmu. Jadi, mau beli pabrik makanan apa?” ujar Romeo penasaran.
Terkejut, Alya menatap suaminya. Otaknya kenapa bisa berubah begitu mendadak.
“Gak ada sih. Aku cuma mau lumpia basah, sempol ayam, dan somay.” kata Alya ceria.
“Tadi minta apa aja, sih? Lumpia basah, sempol ayam, sama siomay?” tanya Nya ulang sambil menatap Alya dengan polos.
Alya mengeja perlahan, satu huruf demi satu huruf, karena Romeo tidak mendengar permintaannya. Romeo menahan tawa melihat ekspresi Alya yang lucu, mulut terbuka lebar dan wajah bengkak, takut jika ia tertawa Alya akan berhenti makan.
“Tenang, aku sudah minta orang kepercayaanku buat mencarikan semuanya.” ujar Romeo, senyumnya tertahan
“Terima kasih banyak, Tuan.” kata Alya sambil tersenyum lembut.
“Hmm…” gumamnya pelan.
Saat menatap layar ponselnya, Romeo baru ingat bahwa masih ada rapat dan urusan kantor yang menunggu. Akhirnya, ia memutuskan mengerjakan semuanya terlebih dahulu.
“Alya, aku izin sebentar. Ada urusan kerjaan dan meeting yang harus aku urus.” kata Romeo pelan.
“Tenang saja, Tuan. Saya nggak apa-apa ditinggal sebentar. Silakan urus pekerjaanmu.” ucap Alya percaya diri.
Kening Romeo berkerut tipis, kebingungan. Sepertinya Alya salah memahami perkataannya.
“Aku tetap di sini, Alya. Nggak ke mana-mana. Meeting nya online.Kamu pikir aku tega ninggalin kamu?” katanya menatap Alya tajam tapi penuh perhatian.
Alya sekadar menganggukkan kepalanya, memilih diam.
“Aku akan tetap menemanimu di ruangan ini sampai dokter mengizinkan kamu pulang.” ujarnya serius.
Alya tersenyum kecil, bahagia karena merasa dipedulikan. Meski begitu, kecanggungan tetap menyelip, mengingat Romeo akan terus bersamanya di ruangan itu.
“Kok kayaknya kamu pengen aku nggak ada di sini, ya?” ujar Romeo dengan nada menyelidik.
Lagi-lagi, Alya memilih mengangguk sebagai jawaban.
“Itu tidak akan terjadi, Alya. Aku paham kamu pasti punya rencana kalau aku tidak ada. Singkirkan semua pikiran itu, karena aku tidak akan membiarkan kamu melakukannya.” kata Romeo tegas.
Tak ada lagi jawaban dari Alya. Ia pasrah, bibirnya mengerucut lucu. Romeo melihatnya dan tersenyum dalam hati, tapi tetap enggan mengucapkannya.
Tanpa banyak bicara, Romeo beranjak dari tempatnya, mengambil laptop dari meja, dan duduk di sofa di sudut ruangan. Ia fokus memeriksa pekerjaan sebelum meeting dimulai.
Alya larut dalam drama Korea kesukaannya hingga tak terasa waktu berlalu. Beberapa saat kemudian, orang kepercayaan Romeo datang membawa semua pesanan Alya, membuat wajahnya langsung berseri-seri.
Romeo melirik Alya dari kejauhan, senyum kecil tersirat di wajahnya. Ia lega melihat Alya bisa merasa nyaman dan bahagia.
**********
Di Paris, Tania diam-diam merancang pelarian dari Akram. Ia mempersiapkan obat tidur berkekuatan tinggi, berniat melumpuhkan keadaan agar rencananya berjalan mulus.
Tak ada pilihan tersisa bagi Tania. Kenekatan menjadi satu-satunya cara, sebab ia sudah bulat menolak masa depan bersama Akram.
“Selesai sudah. Saat Akram meminumnya, aku akan pergi tanpa menoleh lagi. Aku capek. Aku nggak bisa hidup seperti ini mengorbankan masa depanku demi keinginan mereka. Nggak. Aku menolak.” bisik Tania penuh tekad.
Tania lalu menghampiri Akram yang berada di ruang kerjanya. Seperti biasanya, ia datang dengan balutan pakaian menggoda yang selalu berhasil menarik perhatian. Baik Tania maupun Akram sama-sama menganggap itu hal yang lumrah.
“Kamu cantik sekali, sayang.” bisik Akram lembut dan sedikit kecupan di tenguk leher Tania.
Kecupan itu hampir membuat Tania kehilangan kendali. Ia menahan napas, menekan semua reaksi, tak ingin terperangkap oleh permainan yang ia ciptakan sendiri.
“Aku bikinkan kopi favoritmu.” kata Tania lembut, menyodorkan cangkir itu dengan senyum yang tak pernah benar-benar sampai ke matanya.
Akram menahan pandangannya pada Tania lebih lama dari biasanya, seolah berusaha membaca sesuatu di balik sorot matanya. Setelah itu, matanya turun pada dua cangkir kopi yang dibawa wanita itu. Sudut bibir Akram terangkat samar, membentuk senyum tipis yang sulit ditebak. Tanpa banyak kata, ia meraih salah satu cangkir dan menyesap kopi pilihannya, sama sekali tak menyadari niat tersembunyi di balik suguhan itu.
Senyum Tania mengembang samar saat melihat Akram meneguk kopi itu tanpa ragu. Hanya tinggal menunggu waktu sebentar lagi pria itu akan mengeluh kepalanya terasa berat, kelopak matanya melemah, dan ketika momen itu tiba, Tania sudah siap melangkah dengan rencana yang telah ia susun rapi.
Tak butuh waktu lama untuk efeknya bekerja. Akram mulai mengucek kedua matanya, napasnya terasa berat, hingga beberapa menit kemudian tubuhnya lunglai. Kepalanya jatuh bersandar di atas meja kerja, dan pria itu pun terlelap tanpa sempat menyadari apa yang sebenarnya terjadi.
“Syukurlah,sekarang gue bisa pergi tanpa rasa khawatir. Selama dia terlelap, nggak akan ada yang bisa ngehentikan langkah gue.” gumamnya pelan.
Memastikan Akram benar-benar terlelap tanpa kesadaran, Tania lalu mengangkat cangkir di tangannya sendiri. Cairan kopi itu ia habiskan perlahan, seakan menutup rencananya dengan keyakinan penuh bahwa langkahnya tak akan terhalang lagi.
Tiba-tiba terdengar suara berat terjatuh keras ke lantai, memecah keheningan ruangan dalam sekejap. Tubuh Tania ambruk ke lantai dengan suara lirih, kesadarannya lenyap seketika sebelum ia sempat memahami apa yang sebenarnya terjadi.
“Kau pikir aku akan membiarkanmu pergi begitu saja, Tania?” ujar suara dingin itu penuh keyakinan.