Di kantor, Cyan Liani (28 tahun) seorang atasan perempuan yang tegas, rapih, kaku, dan jutek. Netizen biasanya manggil pake julukan lain yang lebih variatif kayak; “Singa Ngamuk”, “Atasan Dingin” , “Ibu Galak”, dan “Perawan Tua”.
Sementara Magenta Kusuma (25 tahun) adalah anggota tim Cyan yang paling sering bikin suasana rapat jadi kacau. Pria ceroboh yang doyan ngeluarin celotehan humor, bikin seisi ruangan ketawa dan terhibur.
Hubungan mereka yang kayak dua kutub magnet itu nggak mungkin dimulai dari ketertarikan, melainkan dari kesialan-kesialan kecil yang mampir. Diskusi sering berakhir debat, sindiran dibalas sindiran, bertengkar adalah hal umum.
Kehidupan semerawut itu tambah parah ketika keluarga ngedorong Cyan ke pinggir jurang, antara dijodohkan atau memilih sendiri.
Terdesak dikejar deadline perjodohan. Cyan milih jalan yang paling nggak masuk akal. Yaitu nerima tawaran konyol Magenta yang selalu bertengkar tiap hari sama dia, untuk pura-pura jadi calon suaminya.
Cover Ilustrasi by ig rida_graphic
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Tring … Treng … Trong!!!
Ah, sial. Suara alarm ponsel Cyan yang sangat nyaring itu membuatnya terjaga seketika. Membuyarkan mimpi indahnya yang segera terlupa sepuluh menit sejak terbangun. Keningnya berkerut menahan kantuk. Matanya masih berat, ditambah hawa dingin karena AC ini membuat tubuhnya terasa lengket di kasur lipat lantai, tempat mereka ketiduran pas nonton semalem.
“Udah sahur aja,” batin Magenta lirih.
Di sebelahnya, Cyan menggeliat malas. Antara sadar dan tidak, Cyan seolah enggan bangun karena masih lelah. Matanya masih terpejam, tapi tangannya refleks meraba-raba udara seolah mencari sesuatu. Ya, alarm itu, sumber penderitaannya. Harus dibungkam sebelum melayang hancur berserakan di lantai.
Namun, karena posisi mereka terlalu dekat, Cyan malah tak sengaja meraba masa depan Magenta. Sontak saja pria itu bergeser posisi, takut burungnya lepas dari sangkar dan liar ke mana-mana.
“Eh? Hadeuh bisa-bisanya, Syan!” batin Magenta menahan tawa. Ia hendak bergeser lebih jauh, tetapi niatnya urung ketika melihat Cyan kembali terlelap. Bibir pink natural itu seolah menggoda hasrat nakalnya.
Kepala Magenta mendekat, mengikis jarak semakin menipis. Hingga ujung batang hidung mereka bersentuhan, sedikit lagi ia berhasil mencium Cyan. Namun, ia menahan diri, berhasil mengendalikan. Ia tersenyum tipis, lalu memilih mendaratkan kecupan itu di pipi kanan Cyan saja.
Sementara Cyan yang menyadari sentuhan basah dan hangat itu mendadak terbangun. Ia menelan ludah, lalu buru-buru sadar kayak ada bencana besar datang. Keadaan rambut yang berantakan tak lagi ia pedulikan. Cyan meraba pipinya sendiri, lalu berteriak histeris dan menjauh.
“GENTA!”
“Kenapa sih?” tanya Genta masih setengah mengantuk. Ia berpura-pura mengucek mata agar terkesan tidak tahu apa-apa.
“Kamu cium aku lagi?”
Genta terkesiap, menggeleng cepat.
“Oh, shit,” batinnya nggak mau mengakui.
Refleks ia hendak mundur, tapi sebelum benar-benar menjauh, wajahnya malah menghianati kehendak dan ingin makin dekat. Cyan menutup mata rapat. Sudah siap dengan rasa merinding disko sebadan-badan.
Tapi…
“GEN …!”
Cup!
Cyan terbelalak, matanya membulat sempurna dengan satu tarikan nafas menyentak kaget, membuat Magenta terkekeh gemas. Bukan di bibir seperti yang ia kira, melainkan pipi kirinya.
“GENTA?!”
“Hei, Syan! Kendalikan diri kamu. Aku cuma cium pipi aja, lho. Reaksinya kayak mau diapain aja,” balas Magenta selalu santai, menganggap apa saja sepele baginya.
“Cium pipi doang? Tapi kanan kiri, ‘kan? Ngaku kamu, Gen. Ada bekasnya ini basah iler kamu,” protes Cyan.
“Ya … kan biar adil gitu. Nanti si pipi kiri cemburu karena cuma pipi kanan yang dapet ciuman orang ganteng,” balas Genta menaikkan sebelah alisnya.
“Kamu gila ya?! Ini bulan puasa!”
“Kan bukan bibir,” bela Genta.
“YA TETEP AJA!”
“Maaf refleks. Kamu terlalu deket tadi tidurnya,” lanjut Genta tetap tidak merasa bersalah.
“Dasar cowok abnormal,” gerutu Cyan sambil bangkit dari kasur. Ia melipat selimut dan merapikan bantal sambil sesekali melirik tajam. Walau mulutnya marah, pipinya malah makin merah.
‘Sial. Kenapa jadi deg-degan gini, sih?’ batin Cyan.
Setelah merapikan kasur, Cyan bergegas ke dapur untuk memanaskan makanan. Ada rendang dan ikan kuah kesukaan Cyan. Magenta ingin membantu, tetapi sepertinya Cyan terbiasa mandiri selama ini.
“Masak apa?” tanya Genta berbasa-basi.
“Aku cuma masak rendang sama ikan semalem. Takutnya gak cukup buat kita berdua, jadi aku masak nasgor juga,” balas Cyan sambil mengocok telur.
“Oke, Pemirsa. Mari kita saksikan penampilan Chef Cyan! Beri tepuk tangan meriah!”
“Berisik. Kamu bantu motong bawang. Jangan numpang makan doang,” celetuk Cyan masih tidak mood bercanda. Tak apalah, Magenta sudah terbiasa dengan suasana hati para cewek yang mudah berubah seperti cuaca.
“Siap, Bos.”
Ia terlihat percaya diri dan bisa, tetapi nyatanya baru beberapa irisan, matanya langsung perih. Air mata mengalir cukup deras, membuat Magenta menjauh dari irisan bawang itu.
“Syan, tolong! Pedih banget! Panggil damkar cepat!” teriak Magenta mendramatisir.
“Lemah banget, sih. Baru juga bawang,” sindir Cyan terkekeh sedikit.
“Ini bawang, bukan mantan kamu.”
“Emang mantanku pedih?” Cyan melirik.
“Enggak. Kan kamu jomblo sejak lahir.”
“BERANI KAMU YA!”
“Ampun, Syan! Haha!” Magenta berlari menjauh, lalu berinisiatif mengambil dua piring untuk mereka.
Wajan mulai panas, aroma bawang tumis memenuhi dapur. Cyan mengaduk nasi dengan cekatan, sementara Genta sibuk mencicipi.
“Enak gak?” tanya Cyan.
“Belum matang, tapi udah enak banget. Dah cocok nih jadi istri idaman,” goda Magenta membuat jidatnya jadi sasaran empuk penjitakan brutal dari Cyan.
“Awww, sakit… KDRT\~”
“Ya, lagian.”
“Hehe, bercanda.”
Masakan pun matang, mereka sahur tanpa mengeluarkan sepatah kata. Menikmati setiap suapan dan tak lupa minum segelas air sebelum menghadapi puasa seharian nanti. Duduk berhadapan, sesekali tersenyum kecil, lalu salah tingkah.
***
“Syan? Awas telat. Ini mau jam tujuh,” panggil Magenta.
“Iya, ini udah selesai,” balas Cyan setengah berteriak. Ia berjalan keluar dari kamar sambil mengibas pelan anak rambut ke belakang telinga. Hari ini seperti ada yang berbeda, membuat Magenta ternganga beberapa saat.
“Wow, pemandangannya indah banget,” pujinya tanpa sadar.
Cyan menghentikan langkah, lalu memandang Magenta halus. “Apanya?” tanyanya sewot.
“Kamunya dong, Syan. Masa tembok yang aku puji? Yang bener aja,” jawab Magenta humor.
“Ck, oke. Hari ini ada yang beda gak?” tanya Cyan. Seketika Magenta menjadi ahli pengamat. Salah jawaban saja, bisa-bisa ia terlempar ke Palung Mariana.
“Ehm, ada. Apa, ya?” Ia balik bertanya.
“Ayo tebak. Kalau berhasil, siang ini aku yang traktir makan.”
“Cih… orang puasa. Sengaja kan kamu emang nggak mau kasih aku apapun! Setidaknya mah cium gitu? Pipi? Boleh. Bibir? Alhamdulilah banget!”
“Ngaco! Kamu yang bilang sendiri kan kita lagi puasa?! Jangan aneh-aneh Genta! Omongan cabul mu udah di catet malaikat! Dosa kamu!”
“Tsk, iya… maaf. Dasar, Bu Bos kikir.”
Magenta mulai mengamati dari atas ke bawah. Memang ada yang berbeda, tetapi apa? Tampaknya biasa saja, tapi memang auranya lebih cerah dan menyala-nyala. Jujur saja, Magenta lebih takut Cyan mengamuk seperti singa hutan daripada kehilangan traktir makan siang.
Otaknya berpikir keras, ia hampir tersedak liur sendiri.
“Rambut? Rambutnya deh kayaknya. Biasanya ‘kan lurus gitu, sekarang agak keriting di bawahnya. Jadi manis,” ucap Magenta akhirnya setelah terdiam beberapa menit.
Cyan mematung, bibirnya sedikit manyun. Jantung Magenta mulai tidak aman, apakah jawabannya salah? Oh, Tuhan, rasanya lebih sulit daripada pertanyaan ketika presentasi di depan banyak orang.
“Ya, betul juga itu,” balas Cyan membuat Magenta menghela napas lega, “tapi ….” Magenta menahan napas lagi, “sebenarnya lipstik aku yang beda. Biasanya pakai warna teracota, sekarang nude. Biar gak menor banget,” sambung Cyan.
“Ah … iya baru sadar. Ternyata bibir kamu yang beda.”
“Ck, dasar. Tandanya kamu gak bener-bener liat aku, ya?” tuduh Cyan.
“Aiisssh, buruan berangkat ayo. Dah jam berapa ini? Nanti telat! Biasanya kan kamu yang marahin aku, kalau kita berdua telat yang marahin atasan kamu lebih gawat lagi!” Magenta mengalihkan pembicaraan dan untung saja Cyan menerimanya kali ini. Setidaknya untuk sesaat jantung dan mental Magenta aman dari amukan singa betina.
Keduanya pun berangkat bersama menggunakan mobil Genta yang sudah diperbaiki. Sebelum pergi, ia berterima kasih dan memberi uang ke satpam tersebut. Perjalanan tak memakan waktu lama karena jalanan masih sepi. Sesampainya di kantor, Magenta dan Cyan disambut oleh senyuman tipis dari Raka dan Alya.
“Wuihh… Aduh senangnya pengantin baru, syalala lala lala\~” Terdengar seperti lagu sindiran, tetapi Magenta mencoba tak peduli.
Cyan memilih langsung duduk saja sebelum ia diinterogasi banyak hal. Sementara Raka berdiri di samping Magenta yang masih terdiam kaku.
“Bajunya kok masih sama kayak kemarin, Mas? Belum ambil di loundry, ya?” tanya Raka mengejek. Hal itu membuat Magenta mendesah kesal.
“Kenapa sih lo selalu merhatiin outfit gue?”
“Karena lo mencurigakan.” Raka menyeringai.
“Apanya mencurigakan? Muka gue emang keliatan kayak maling celana dalem?”
“Lo habis nginep di rumah Bu Cyan, ya?”
Pertanyaan itu membuat orang-orang di ruangan ikut melirik sekilas. Magenta mengusap wajahnya, ia tak punya bantahan untuk masalah ini. Ah, dasar Raka sialan. Andaikata ia bisa diubah menjadi kertas, sudah habis diremas-remas.
“Ehm serius? Mas Genta sama Bu Cyan pacaran kah? Udah living together gitu?”
“Wah wah wah.”
“Gila, seru nih. Ngopi dulu kita.”
“Anjay, gelo banget. Baru tau Bu Cyan bisa pacaran juga. Eh, sama bawahan sendiri?”
Genta refleks berdiri, mencaplok mulut Raka yang asal muncrat itu.
“WOI, JAGA MULUT LO!” tegurnya membuat Raka terkekeh dan menghempas tangan Magenta.
“Kebiasaan amat kalau salting nyaplok mulut gue. Tangan lo bau kemenyan!”
“HAHAHA!”
“Diem lo cumi!” ucap Magenta serius.
“Tenang, tenang. Slow aja, Mas. Oke, gak papa yang ini Mas gak ngaku, tapi gimana ya soal ciuman kemarin?”
Genta membeku, lidahnya kelu. Alisnya bertaut sempurna, lengkap dengan kepalan tangan kuat yang siap menghajar Raka kapan saja.
“APA?”
“Ciuman?” tanya Cyan tiba-tiba muncul di belakang mereka, membuat perhatian Raka teralihkan ke wanita itu.
“Iya, Bu Cyan. Saya lihat jelas.”
“Raka, kamu salah liat! Itu karena magenta lagi ambil kecoak dibajuku, gausah ngaco!” ucap Cyan buru-buru klarifikasi. Magenta menghela napas, tumben sekali kosakatanya mendadak lenyap tak bersisa sekarang.
“Kecoak?” Raka mengangkat alisnya sebelah, lalu matanya memicing memandang dua orang itu bergantian. Sementara Magenta yang tidak ingin kabar buruk menyebar ke mana-mana ikutan menjelaskan kejadian sebenarnya.
“Masih nggak percaya? Lu udah denger atasan lu barusan,” ucap Magenta meyakinkan. Cyan pun mengangguk cepat.
“SUMPAH, Raka. Masalah Magenta nginep tuh kecelakaan karena mobilnya mogok. Kamu tanya aja ke satpam apart saya. Beliau yang memeriksa dan akinya memang lemah.” Cyan menambahkan.
“Serius?” tanya Raka masih tidak puas. “BTW, nama gue Raka Adi Saputra, bukan Mandragugana. Itu mah mantra lo pas dikejar LC kabupaten, Mas,” sambungnya membuat tawa seisi ruangan pecah.
“Berisik lo, Rak. Intinya yang gue ucapin tadi beneran, gak bohong.”
“Oooooh … okay. Kirain beneran cinlok,” pungkas Raka nyengir.
“Itu mah makanan, Rak.” Alya tiba-tiba menimpali.
“ITU CILOK, ALYA!” Cyan mulai frustrasi. Lama-lama karyawan di sini tertular virus receh Magenta.
“Ssssst, kenapa jadi bahas cilok? Fokus ke inti masalah, Guys!” tegur Raka.
“Gue masih belum puas, Mas. Soalnya kemarin kalian deketnya lumayan lama gitu, kayak menikmati. Itukah yang dinamakan cuma ngambil kecoak di baju?” Raka kembali membahas, membuat emosi Magenta mulai naik ke ubun-ubun.
“RAKAAA!” Cyan dan Genta pun teriak bersamaan, sementara Raka dan Alya tertawa ngakak.
“Oke oke, gue percaya. Tapi jujur aja sih, kalian cocok.”
Alya mengangguk setuju, “Yups, betul. Best of the bestt.”
“ENGGAK!” jawab mereka serempak.
“Eh? Kok barengan terus? Curiga jodoh, nih?”