Ketika teman baiknya pergi ke Korea untuk menjadi seorang idol, Sena mengantarkan kepergiannya dengan senang hati. Menjadi penyanyi adalah impian Andy sejak kecil, maka melepasnya untuk menggapai mimpi adalah sebuah keputusan terbaik yang bisa Sena ambil.
Setelah kepergian Andy ke Korea, mereka kehilangan kontak sepenuhnya. Sependek pengetahuannya, persiapan menjadi idol berarti merelakan waktunya banyak tersita untuk berlatih banyak hal. Jadi hari-hari Sena lalui tanpa rasa keberatan. Malah, tak lupa selalu diselipkannya doa untuk teman baiknya, semoga kelak berhasil debut dan menggapai cita-citanya.
Namun siapa sangka, kerelaan hati Sena itu pada akhirnya membawa jalannya sendiri untuk kembali bertemu dengan Andy sang teman baik. Di pertemuan setelah sekian lama, akankah Sena menemukan Andy masihlah sama dengan Andy yang dikenalnya sejak masa kanak-kanak?
Masihkah mereka menjadi perfect partner bagi satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nowitsrain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Movie Date
Joana:
Aku terjebak macet macet
Tapi tinggal sekitar 10 menit lagi
Sena:
Okaayyy, aku tunggu di depan gedung ya
Hari ini pun, untuk kesekian kalinya, Andy mengundang Sena untuk hang out. Dan karena Joana memang sudah lebih dulu berencana menemui Jeremy, mereka akhirnya memutuskan untuk berkumpul berempat. Joana mampir ke apartemen Sena dalam perjalanan menuju asrama, jadi mereka bisa pergi bersama. Dengan begitu, berjalan melewati para sasaeng yang berkeliaran di depan gedung asrama tidak akan lagi terasa menakutkan.
Tak lama kemudian, Sena sudah berdiri di luar gedung apartemennya, dengan sabar menunggu Joana menjemput. Saat sebuah mobil membunyikan klakson beberapa menit kemudian, Sena langsung mengenali gadis itu dan buru-buru masuk ke dalam mobil agar mereka tidak menghambat lalu lintas.
Setibanya di depan gedung asrama Andy, sudah terlihat beberapa sasaeng yang bergerombol di sana. Sering berkunjung membuat Sena mulai mengenali wajah-wajah yang familier di antara mereka. Ia sampai berpikir, apa orang-orang itu tidak punya pekerjaan lain? Karena tidak peduli kapan pun Sena datang--pagi, siang, sore, malam--dia tetap akan menemui paling tidak setengah dari mereka berkeliaran di sana.
Sena dan Joana bersiap di dalam mobil, mengenakan topi dan masker, lantas turun dan segera bergegas masuk lift. Kali ini mereka akan nongkrong di unit lantai 7. Hal itu diputuskan dengan pertimbangan bahwa penghuni lantai 7 lebih teratur, sehingga tempat tinggal mereka pun lebih rapi dan tertata. Berbeda dengan penghuni lantai 6 yang lebih yolo, hidup semaunya dan tidak terlalu memusingkan harus sebersih apa lingkungan tempat tinggal mereka. Prinsipnya yang penting tidak ada sampah makanan yang tertinggal sehingga menimbulkan bau tidak sedap, maka yang lain masih bisa dibicarakan baik-baik.
Kedua gadis itu bergegas masuk ke dalam asrama. Jeremy yang membukakan pintu, langsung menutupnya kembali sebelum menarik Joana mendekat dan mengecup bibirnya. Sena menggeleng pelan, lalu menyelinap melewati keduanya untuk memberikan privasi pada pasangan dimabuk asmara itu. Enam langkah dirajut, tampak olehnya eksistensi Andy di atas sofa. Sena menerjang sisa jarak, duduk di sebelah Andy, dan menepuk kakinya keras hingga membuat pria itu meringis.
"Man!" protesnya. Dengan defensif, dia menjauhkan kakinya dari jangkauan Sena.
"Hai juga, teman."
Andy menatapnya tajam, tapi hanya bertahan selama beberapa detik. Sebab mata berbinar Sena yang berkedip-kedip lucu tidak pernah gagal membuatnya luluh.
"Damn it, kau tahu betul aku tidak bisa marah."
Kalimat itu tak urung membuat Sena terbahak. Andy mengatakannya seperti sedang merajuk, tapi senyumnya terbit tanpa bisa ditahan. Sebuah kontras yang membuat perut Sena seperti tergelitik.
Jeremy dan Joana muncul, keduanya tampak mesra. Jeremy melingkarkan tangan di pinggang kekasihnya, sementara Joana balik menggelayut manja di lengannya. Mereka terlibat percakapan bisik-bisik selagi kaki mereka melangkah maju. Selesai Joana membisikkan sesuatu, Jeremy tertawa renyah dan mengecup kening Joana sampai terdengar bunyi cup cukup keras.
"Get a room, you two," dengus Andy, alisnya terangkat tinggi.
Jeremy menyipitkan mata. "That's why I told you to get a girl. Supaya tidak iri melihat percintaan orang lain," balasnya tajam.
Sena terbahak mendengarnya, Joana pun ikut terkekeh, sementara mulut Andy sedikit ternganga karena komentar Jeremy yang menusuk.
"Man, tidak perlu sejauh itu," ucap Andy, suaranya mengecil.
"Aku hanya menyampaikan fakta," balas Jeremy sambil tersenyum polos ketika ia duduk dan menarik Joana lebih dekat ke sisinya.
Andy mendengus, bibirnya berkomat-kamit tanpa suara. Jeremy dan member Elements yang lain memang gemar menggodanya, karena reaksinya yang menurut mereka cukup menghibur. Tapi kan tidak harus di depan Sena, membahas soal pacar atau apalah itu.
Melupakan soal cek-cok kecil yang tadi, Joana meraih remote dan mulai menelusuri Netflix untuk mencari film yang bisa mereka tonton bersama. Ini adalah pilihan kegiatan yang paling pas untuk dilakukan sekarang. Sejak hari sudah sore, dan para pria ini terlalu lelah sehabis menjalani latihan seharian.
"Kalian mau nonton apa?" tanya Sena sambil terus menggulir pilihan yang ditawarkan layanan streaming itu.
"Entahlah..." sahut Andy sambil melirik ke arah Sena. "Kau punya ide?"
"Yang santai saja, yang bisa kita nikmati bersama. Jangan film action, aku sedang tidak ingin merasakan momen menegangkan." Sena memberikan usul, dan Andy setuju.
"Aku ikut saja," susul Jeremy. Baginya tidak teralu penting mau nonton apa, yang terpenting adalah berkumpul.
"Oke, yang santai..." Sena bergumam sambil menggulir deretan film romantis, sampai akhirnya berhenti di satu judul yang terasa familier. "Yang ini."
Sena menatap layar dan melihat poster yang sudah sangat ia kenal—Dirty Dancing. Joana tersenyum kecil saat mengklik film itu, bahkan tanpa menunggu pendapat yang lain. Ini salah satu film favoritnya, jadi mau tak mau yang lain harus menerimanya.
Jeremy menarik Joana lebih dekat hingga mereka bisa berbaring dengan nyaman bersama.
Andy memperhatikan tatapan Sena yang tertahan pada pasangan itu. Ia menepuk kaki gadis itu untuk menarik perhatiannya lalu membuka lengannya, mengundangnya mendekat. Awalnya Sena ragu, tapi pada akhirnya dia bergeser, menyandarkan kepalanya pada bahu Andy. Andy menyambut dengan melingkarkan lengannya di bahu Sena dengan santai.
Keempatnya lebih banyak diam sepanjang film. Percakapan hanya sesekali terdengar saat Joana dan Sena kompak mengomentari penampilan Patrick Swayze yang penuh karisma, atau Jeremy yang berkomentar tentang betapa anehnya alur cerita film itu. Sementara Andy hanya fokus menonton. Ia terlalu lelah untuk melakukan apa pun di tengah kegiatan ini.
Pada bagian akhir di film itu, Sena dan Joana menatap layar dengan antusias, terpukau oleh pesona Swayze, sambil ikut bernyanyi mengikuti lagu latar yang tengah diputar.
"Sepertinya, aku harus mulai belajar menari untuk pernikahan kita nanti," celetuk Joana, melirik Jeremy dengan tatapan yang jelas-jelas tidak memberinya ruang untuk menolah. Maka Jeremy hanya bisa mengangkat bahu dan tersenyum pasrah.
"Apa pun maumu, baby," katanya, mengutip dialog dari film yang mereka tonton. Joana terkikik lalu mengecup pipinya.
"Guys," keluh Andy.
Jeremy mengangkat alis ke arahnya, dan Joana mendorong dirinya menjauh dari Jeremy untuk melotot ke arah Andy. "Kenapa?" tanya Jeremy, Joana mendukung pertanyaan itu dengan menganggukkan kepala.
"Berhenti bermesraan di depanku," kata Andy, membuat Sena terkekeh.
Daripada siapa pun, Sena mungkin adalah yang paling mengerti bahwa Andy itu mudah canggung. Dia selalu kesulitan menentukan sikap ketika dihadapkan pada pasangan lovey-dovey seperti Jeremy dan Joana ini.
"Itulah kenapa tadi aku bilang, sebaiknya kau segera cari pacar," cetus Jeremy. Ia sempat melirik Sena sebentar, sebelum kembali menatap Andy. "Kau tidak akan canggung melihat orang lain bermesraan, kalau kau juga memiliki seseorang yang bisa bermesraan denganmu."
"What?"
"Iya, Andy," sambung Joana. "Kalau saja dulu kau menjadikan Elara kita yang manis ini sebagai pacar, kau pasti bisa bermesraan dengannya, seperti kami."
"Tunggu—kalian bicara apa sih?" tanya Andy bingung. Ia melirik Joana lalu Sena, sambil mengernyit seolah mencoba menyusun kepingan yang belum pas. Tatapannya akhirnya tertuju pada Sena, meminta penjelasan.
Sena terkekeh pelan lalu menggeser tubuhnya agar bisa menatap Andy. "Itu..."
Bersambung...