Clara Nagendra, siswi berprestasi dengan senyum tempelan sempurna, hidup dalam rumah dingin yang hanya memuja adiknya, Thea. Di balik nilai 98 dan piala emas, ia menyembunyikan gagal ginjal kronis stadium 4 dalam diary biru lusuhnya. Hanya Nenek Kamila dan tiga sahabatnya yang melihat lukanya. Pertemuannya dengan Kim Seokjin, ketua geng motor yang ditakuti, mengubah segalanya. Dari musuh jadi rumah. Dari taman belakang yang bersih hingga janji rumah kecil bernomor 7 di Lembang, Clara akhirnya menemukan tempat pulang — bukan gedung, melainkan pelukan yang tidak menuntutnya sempurna. Sebuah kisah tentang luka yang tak terlihat, cinta yang menjadi tempat istirahat, dan rumah yang tertinggal namun tetap menyala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 — Tunggu Gue, Ma
Brak!
Suara itu keras banget di aula yang hampir kosong.
Baru aja kepeluk, ujung kebaya biru Clara nyangkut di mata kakinya sendiri yang masih bengkak. Kainnya ketarik, kaki yang sejak pagi udah berat itu akhirnya gak kuat nahan.
Clara oleng.
Mama Vania yang lagi meluk dia juga ikut kehilangan keseimbangan.
Dua-duanya jatuh ke lantai aula yang dingin.
"CLARA!"
Piala yang dari tadi ditaruh di pangkuan di kursi roda ikut terpental. Jatuh. Kepentok lantai.
PRAK!
Kaca akrilik di pinggir pialanya pecah. Serpihannya nyebar ke mana-mana. Satu keping kecil mental sampe deket kaki bangku kayu.
Satu aula yang tadinya mau bubar langsung hening lagi.
Nenek Kamila yang dari tadi berdiri di samping kursi roda langsung lari, lututnya hampir jatuh juga karena panik.
"Clara! Sayang!"
Mama Vania masih meluk Clara di lantai. Posisi mereka berantakan. Kebaya Mama kusut, kebaya Clara ketarik ke atas.
"Clara, liat Mama. Liat Mama dulu," kata Mama, suaranya gemeter banget. Tangannya gemeter megang pipi Clara.
Clara buka mata sedikit. Napasnya pendek-pendek. Kayak orang abis lari jauh.
"Ma..." suaranya kecil. Hampir gak kedengeran.
Di pintu aula, Seokjin yang tadi udah jalan mau keluar karena liat mobil yang klakson tadi ternyata cuma ngerem mendadak, langsung balik badan.
Dia lari.
"Jangan digerakin dulu! Jangan digerakin dulu!" teriaknya. Suaranya keras sampe beberapa guru yang masih beresin panggung noleh.
Seokjin berlutut di samping Clara. Napasnya juga ngos-ngosan. Hoodie-nya berantakan.
Matanya langsung turun. Bukan ke muka Clara dulu, tapi ke tangan kanannya.
Perban putih tebal yang dipasang pagi tadi di RSUD buat akses persiapan cuci darah, udah rembes merah. Merah segar. Darahnya ngalir pelan tapi jelas, netes ke lantai aula yang putih.
"Anjir... perbannya..." gumam Seokjin pelan, tapi semua orang di sekitarnya denger.
Mama Vania langsung panik pas liat darah itu.
"Faizan! Faizan, sini! Perbannya berdarah lagi! Banyak!" Mama teriak ke Papa Faizan yang masih berdiri agak jauh, lagi gendong Thea.
Papa langsung naruh Thea ke Nenek, lari ke mereka.
"Pak! Pak guru, tolong panggil medis! Panggil UKS! Cepet!" Papa teriak ke guru yang lagi di panggung.
Guru-guru langsung lari keluar aula, ada yang nelpon.
Di luar, mobil yang klakson kenceng tadi ternyata emang cuma ngerem mendadak karena ada anak kelas 7 nyebrang sambil bawa balon. Gak nabrak siapa-siapa. Satpamnya udah ngomong "Aman, aman, cuma kaget!" Tapi di dalem aula semua orang udah terlanjur panik duluan.
Mutiara baru balik dari UKS bawa tas Clara yang ketinggalan. Dia baru masuk pintu aula, liat Clara di lantai, Mama nangis, Seokjin berlutut dengan tangan berdarah.
Tas yang dia bawa langsung jatuh.
BRUK.
Isinya berhamburan. Buku tulis, tempat pensil kayu, botol minum, dan satu buku yang paling penting.
Diary biru.
Diary itu kebuka, halamannya ngelipet kena angin. Pas kebuka di halaman tengah, yang ada tulisan "Rumah gue adalah kamu - Clara".
Mutiara langsung lari, bukan ngambil buku pelajaran, tapi langsung ngambil diary biru itu. Dipeluk ke dada. Erat banget. Kayak kalau dilepas diary itu bakal hilang.
"Clara!" Mutiara jongkok di sebelah Nenek.
Clara masih di pelukan Mama. Matanya setengah kebuka, ngeliatin Mama.
"Mama..." bisik Clara.
"Iya, Sayang, Mama di sini. Mama di sini," jawab Mama Vania, suaranya udah pecah. Air matanya netes ke pipi Clara. "Jangan merem ya. Liat Mama."
Clara nyoba senyum. Senyum yang udah gak bisa ditahan jadi senyum tempelan lagi. Senyum beneran, tapi lemah banget.
"Tunggu gue, Ma," bisik Clara. Pelan banget. Cuma Mama sama Seokjin yang denger karena mereka paling deket.
Mama langsung ngeremas tangan Clara yang gak diperban.
"Tunggu gimana? Mama di sini, Ra. Mama gak kemana-mana. Mama tunggu kamu."
"Bukan..." Clara tarik napas pendek. Dadanya naik turun cepet. "Tadi... di panggung... Mama pergi lagi. Kayak biasa."
Mama Vania langsung diem. Kata-kata itu nusuk.
Nenek yang denger dari samping langsung nangis pelan.
Mama ngelus rambut Clara yang udah berantakan karena jatuh.
"Maafin Mama, Ra. Maafin. Mama tadi panik liat Thea. Bukan ninggalin kamu."
Clara geleng pelan. "Gue tau. Thea butuh Mama. Tapi... sekali aja... tunggu gue dulu, Ma. Jangan langsung lari ke Thea."
Kalimat itu bikin Mama Vania pecah. Dia meluk Clara lebih erat di lantai aula itu. Gak peduli kebayanya kotor, gak peduli orang-orang ngeliatin.
"Iya. Mama tunggu kamu. Sekarang Mama tunggu kamu. Jangan pergi dulu, ya? Tunggu Mama juga."
Seokjin yang dari tadi nahan biar gak nangis di depan banyak orang, tangannya masih nahan perban Clara biar darahnya gak makin banyak. Tangannya sendiri sekarang belepotan darah Clara.
"Clara, denger gue," kata Seokjin pelan, suaranya berat. "Tahan dulu ya. Jangan tidur dulu. Lo janji mau ke rumah kecil kan? Inget gak? Kopi sama Susu belum dibeli."
Clara ngelirik ke Seokjin. Matanya berkaca-kaca.
"Jin..."
"Gue di sini. Gue tahanin."
Mutiara yang masih meluk diary, ikut ngomong sambil nangis.
"Cla, lo jangan ngomong gitu dong. Lo kan baru dapet piala. Piala lo pecah dikit, tapi masih bisa diperbaikin. Kayak lo. Bisa diperbaikin."
Clara ketawa kecil. Ketawanya sesak.
"Piala... pecah ya?"
"Iya, pecah pinggirnya," jawab Nenek sambil ngusap air mata. "Nanti Nenek benerin. Nenek lem lagi."
Papa Faizan akhirnya balik bawa dua guru UKS bawa tandu lipat kecil.
"Minggir dulu, minggir dulu, kasih ruang," kata salah satu guru.
Seokjin gak mau minggir.
"Perbannya rembes, Pak. Tadi abis tindakan di RS pagi ini," kata Seokjin ke guru UKS. Jelas. Padahal biasanya kalau sama guru dia diem aja.
Guru UKS langsung cek perbannya. "Oke, jangan diangkat dulu. Kita tekan dulu."
Mama masih meluk Clara. Gak mau lepas.
"Bu Vania, kita harus bawa ke UKS dulu ya, terus langsung ke IGD RS. Biar deket," kata guru itu.
Mama angguk, tapi masih meluk.
"Clara, kita ke UKS dulu ya, Sayang. Mama gendong. Mama temenin," bisik Mama.
Clara angguk pelan. Tangannya yang gak berdarah megang tangan Mama erat banget.
"Mama jangan lepas lagi ya?"
"Gak. Mama gak lepas lagi. Mama tunggu kamu. Kamu juga tunggu Mama, ya?"
"Iya."
Mereka akhirnya ngangkat Clara pelan-pelan ke tandu. Seokjin yang angkat bagian kepala, Papa bagian kaki. Hati-hati banget biar perbannya gak ketarik lagi.
Pas diangkat, serpihan piala yang pecah tadi kesenggol kaki Seokjin. Seokjin ngeliat tulisan di piala itu yang masih kebaca: CLARA NAGENDRA.
Dia pungut satu keping kecil pecahan emas itu, masukin ke saku celananya.
Mutiara jalan di belakang tandu, masih meluk diary biru. Diary itu sekarang ada bercak darah kecil di ujung sampulnya. Darah dari perban Clara tadi.
Nenek jalan sambil tuntun Thea yang mukanya pucet liat kakaknya berdarah.
Sepanjang jalan dari aula ke UKS, yang jaraknya cuma 50 meter, Clara terus manggil pelan.
"Ma..."
"Iya, Sayang, Mama di sini. Di samping kamu."
"Tunggu gue..."
"Iya, Mama tunggu."
Di UKS, perawat sekolah udah siapin kapas sama perban baru. Tapi perawat itu liat darahnya agak banyak, langsung bilang.
"Ini harus ke IGD RS Harapan lagi, Bu. Aksesnya yang tadi pagi kayaknya kebuka jahitannya karena jatuh."
Mama Vania langsung lemes. "Ya Allah..."
Seokjin yang berdiri di pintu UKS, kepalan tangannya gemeter. Bukan karena marah. Karena takut. Takut yang sama kayak waktu pertama kali liat Clara pingsan di taman belakang.
Clara yang udah di atas kasur UKS, ngeliat Seokjin di pintu. Dia ngulurin tangan yang gak diperban.
"Jin..."
Seokjin langsung masuk, genggam tangan Clara.
"Gue di sini."
"Diary..."
Mutiara langsung maju, ngasih diary biru ke pangkuan Clara. Clara ngusap sampulnya yang udah ada darahnya.
"Jangan hilangin ya, Mut," bisik Clara ke Mutiara.
"Gak bakal, Cla. Gue jaga sampe kapan pun."
Ambulans mini sekolah akhirnya dateng. Suaranya wiu wiu pelan karena jarak RS cuma 5 menit dari sekolah.
Clara dipindahin ke ambulans. Mama ikut naik. Nenek sama Thea sama Papa naik mobil di belakang. Seokjin sama Mutiara naik motor ngikutin dari belakang.
Sebelum pintu ambulans ketutup, Clara ngeliat aula yang udah kosong. Piala pecahnya masih di lantai, belum ada yang beresin. Bangku kayu taman belakang keliatan dari jauh lewat jendela ambulans.
Dia senyum tipis ke arah itu.
Rumah kecilnya masih nunggu.
Pintu ambulans ketutup.
"Ma, tunggu gue ya. Jangan pergi dulu."
Mama meluk kepala Clara di dalem ambulans yang sempit itu.
"Iya. Mama di sini. Kita sama-sama tunggu. Kamu tunggu Mama, Mama tunggu kamu. Janji."
Di luar, sirine ambulans nyala. Pelan-pelan jalan ninggalin sekolah.
Di lantai aula, kepingan piala emas masih berserakan. Dan di bawah bangku kayu taman belakang, tulisan tip-ex CLARA & SEOKJIN — RUMAH KECIL masih ada, belum ada yang hapus.